Tag Archives: kampus

Catatan Ringan Kebangkitan

 

“Thoughts, in any nation, are the greatest fortune the nation gains in her life if the nation is newly born; and they are the greatest gift that any generation can receive from the preceding generation, provided the nation is deep-rooted in the enlightened thought.”

(The Economic System In Islam, Taqiuddin an-Nabhani)

 

Segala keterpurukan yang terjadi di negeri ini telah mendorong anak bangsa untuk berpikir tentang kebangkitan. Tidak perlu lah kita sebutkan satu per satu keterpurukan macam apa yang melanda negeri tercinta ini. Bikin muak saja. Dahlan Iskan menyebutkan hal yang kurang lebih sama ketika berbicara di hadapan 1600-an peserta Public Figure on Talk alias Pifot tanggal 5 Mei. Dalam agenda yang diselenggarakan departemen hublu BEM ITS itu Sang Menteri berusaha menebar optimisme. Katanya, optimisme rakyat Indonesia saat ini miris. Tayangan televisi cenderung memberitakan hal-hal yang membuat orang bersikap pesimis. Seolah-olah Indonesia akan hancur minggu depan. Tokoh yang dikenal dengan gerakan “Manufacturing Hope” tersebut membeberkan salah satu fakta yang jarang diungkap televisi. Kapitalisasi ekonomi Indonesia saat ini telah mencapai 800 milyar dolar, mengalahkan Belanda yang hanya 700 milyar dolar. Seharusnya Indonesia sudah menggelar pesta besar-besaran! Sang Menteri mengaku hanya dialah yang selama ini selalu membicarakan hal itu dimana-mana untuk menularkan optimisme. Dengan penuh semangat Dahlan menyebutkan bahwa dua tahun lagi, ekonomi Indonesia dapat mengalahkan Spanyol. Riuh applause sontak mewarnai hall Robotika siang itu. Ribuan peserta mulai dari mahasiswa, dosen, profesional, birokrat, guru besar, pejabat, hingga kiai terpukau oleh stand up show Sang Menteri. Sesuai titel acara, ”Menuju Indonesia Bersinar” semua  peserta siap untuk bangkit dengan optimisme! Inilah potret sebuah upaya anak-anak bangsa untuk meraih kebangkitan.

Berbicara kebangkitan, memang nampak lebih menyenangkan ketimbang berbicara keterpurukan atau buruknya penguasa dalam melayani rakyat. Berbicara kebangkitan lebih memunculkan optimisme dan gairah, berbuat sesuatu demi kemajuan negeri ini. Anak-anak bangsa pun tertantang untuk memunculkan kebangkitan. Yang kuliah di kampus teknologi, akan berusaha menciptakan teknologi-teknologi baru yang canggih, yang mampu menjadikan bangsa ini berjaya di dunia internasional. Memenangkan Kontes Robot, Shell Eco Marathon, Physics and Mathematics Olimpiade, dan kompetisi-kompetisi bergengsi lainnya diyakini akan mengharumkan nama bangsa. Penciptaan mobil surya, alat penghemat energi, bahan bakar dari urine, bioenergy, dan banyak lagi diyakini juga mendorong kebangkitan. Oh ya, tentu saja diperlukan jargon-jargon penuh semangat yang mampu mendorong untuk terus maju. Yang sudah disebutkan di atas adalah semboyan Dahlan Iskan, ”Manufacturing Hope” (entah apa beliau ingat kalau Jawa Pos dan JTV juga menampilkan kisah-kisah melodrama yang mengerikan, seolah-olah negeri ini mau hancur besok saja, anak bunuh ayah lah, suami bunuh istri lah, ibu ajak semua anak bunuh diri lah, na’udzubillah!) . Ada juga semboyan BEM ITS Transformation, “Indonesia Bersinar 2012”, atau yang dari ESQ, ”Indonesia Emas 2020”. Dari parpol MetroTV, “Restorasi Indonesia”. Mendikbud gak mau kalah, “Generasi Unas, eh, Generasi Emas 2045”. Itu masih belum semua, banyak lagi yang lainnya.

Baca lebih lanjut

7 Komentar

Filed under Opini, Pemikiran

Mahasiswa, Mau ke Mana?

bentrok mahasiswa

19 Juni 2010. Harian Tribun Timur memuat sebuah berita yang memprihatinkan. Dodo Risaldi (20), mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (UNM) yang dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Bhayangkara, Jl Mappaodang Makassar akibat luka tebasan senjata tajam akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Luka tersebut didapatnya ketika terjadi aksi tawuran antara mahasiswa Teknik dengan mahasiswa jurusan Seni dan Desain beberapa hari lalu. Meninggalnya Dodo tentunya semakin memperpanjang daftar korban tewas akibat tawuran mahasiswa. Sebelumnya pada bulan maret, seorang mahasiswa di Kupang juga tewas akibat tawuran. Sebagaimana yang diberitakan oleh tempointeraktif.com (16 Maret 2010), mahasiswa yang tewas tersebut terluka parah akibat terkena panah sehingga nyawanya tidak terselamatkan. Jauh hari sebelumnya, pada 6 November 2008, nasional.kompas.com juga memuat berita yang serupa. Tawuran mahasiswa yang terjadi di dalam kampus UMI Makassar telah mengakibatkan jatuhnya korban. Seorang mahasiswa teknik elektro bernama Fajar dikabarkan tewas setelah mengalami tebasan cukup parah di bagian leher.

Jumlah korban tewas yang disebutkan tadi hanyalah segelintir dari jumlah korban secara keseluruhan. Belum termasuk korban luka, ringan ataupun parah, yang tidak pernah dapat dipastikan jumlahnya. Salah seorang alumni sebuah perguruan tinggi di Makassar pernah mengungkapkannya di kolom opini sosbud.kompasiana.com. Dia menyebutkan bahwa jumlah korban terluka, biasanya yang tercatat hanya yang sempat dirawat di Rumah Sakit Wahidin (RS dekat kampusnya), padahal jumlahnya bisa lebih dari itu karena tidak semua korban memilih ke RS, sebagian cukup dirawat oleh teman dengan obat seadanya.  Beberapa tahun belakangan, kasus tawuran yang melibatkan mahasiswa semakin meningkat.  Media Indonesia edisi 6 November 2008 mencatat, setidaknya di Makassar saja pada tahun tersebut telah terjadi 15 kali tawuran antar-mahasiswa. Belum lagi yang terjadi diluar Makassar, tentu akan lebih banyak lagi.

Tawuran hanyalah sedikit dari sekian banyak permasalahan yang menimpa dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Masalah-masalah lainnya seperti mahalnya biaya pendidikan, plagiarisme dengan menjiplak karya orang lain, demonstrasi yang berujung bentrok/kerusuhan, ataupun meningkatnya seks bebas di kalangan mahasiswa, senantiasa mewarnai ruang kehidupan kita. Masalah-masalah tersebut tak ayal mempengaruhi cara pandang masyarakat, juga birokrat terhadap aktifitas mahasiswa. Misalkan saja, Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Opini, Pemikiran

Islamophobia di Kampus

Ketakutan akan Islam“Saat ini berkembang opini di tengah masyarakat untuk menjadikan syariah Islam sebagai solusi atas segala permasalahan yang ada. Bagaimana pendapat kedua calon mengenai hal tersebut? Apakah setuju atau tidak?” Demikianlah pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu mahasiswa yang hadir pada kampanye Capres BEM ITS 2010-2011. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab dengan sebuah ketidaksetujuan oleh calon nomor 1. Secara terang-terangan calon tersebut menyatakan merasa tersinggung dengan pertanyaan yang diajukan. Namun ketika tiba giliran calon nomor 2 untuk menjawab, moderator menyatakan untuk memotong pertanyaan dan membatalkan giliran bagi calon tersebut. Moderator dan KPU menganggap pertanyaan tersebut tidak sesuai dengan kriteria-kriteria pertanyaan yang diperbolehkan. Salah satu kriteria yang dilanggar menurut mereka adalah pertanyaan yang diajukan tidak boleh berbau SARA. Pertanyaan tersebut dianggap berbau SARA karena menyebutkan kata “syariah Islam” didalamnya. Si penanya kemudian melakukan crosscheck dengan mempertanyakan batasan “berbau SARA” yang tidak jelas, namun tidak lagi ditanggapi baik oleh moderator maupun kedua calon.

Itulah sekelumit fakta mengenai kondisi mahasiswa ITS saat ini. Ketika ada sedikit saja penyebutan kata “syariah Islam” atau kata-kata lain yang berkaitan dengan Islam, maka akan langsung dibungkam dan bahkan dihujat dengan berbagai alasan. Salah satu alasan, sebagaimana yang telah disebutkan di atas adalah karena “berbau SARA”. Kalau kita cermati, alasan tersebut sebenarnya bukanlah alasan yang konsisten. Mengucapkan syariah Islam di tengah-tengah khalayak ramai yang terdiri dari berbagai macam suku dan agama dianggap “berbau SARA” karena tidak dapat dimengerti oleh umat agama lain dan konon akan menyinggung perasaan mereka. Apabila ingin konsisten dengan alasan tersebut, maka ucapan salam “Assalamualaikum” yang biasa diucapkan sebagai opening speech juga bisa dianggap “berbau SARA”. Bahkan penyebutan “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” yang tertera di keputusan dan rekomendasi Mubes III juga bakal dianggap “berbau SARA” karena pada faktanya tidak semua mahasiswa ITS beragama Islam atau Nasrani. Dari sini nampak jelas bahwa alasan “berbau SARA” adalah alasan yang mengada-ada. Terlebih lagi, alasan tersebut bukanlah alasan utama yang mendasari pembungkaman terhadap mahasiswa yang mengopinikan Syariah Islam.

Alasan utama yang menyebabkan itu semua adalah Baca lebih lanjut

9 Komentar

Filed under Opini, Pemikiran