Tag Archives: gerakan

Mahasiswa, Mau ke Mana?

bentrok mahasiswa

19 Juni 2010. Harian Tribun Timur memuat sebuah berita yang memprihatinkan. Dodo Risaldi (20), mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (UNM) yang dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Bhayangkara, Jl Mappaodang Makassar akibat luka tebasan senjata tajam akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Luka tersebut didapatnya ketika terjadi aksi tawuran antara mahasiswa Teknik dengan mahasiswa jurusan Seni dan Desain beberapa hari lalu. Meninggalnya Dodo tentunya semakin memperpanjang daftar korban tewas akibat tawuran mahasiswa. Sebelumnya pada bulan maret, seorang mahasiswa di Kupang juga tewas akibat tawuran. Sebagaimana yang diberitakan oleh tempointeraktif.com (16 Maret 2010), mahasiswa yang tewas tersebut terluka parah akibat terkena panah sehingga nyawanya tidak terselamatkan. Jauh hari sebelumnya, pada 6 November 2008, nasional.kompas.com juga memuat berita yang serupa. Tawuran mahasiswa yang terjadi di dalam kampus UMI Makassar telah mengakibatkan jatuhnya korban. Seorang mahasiswa teknik elektro bernama Fajar dikabarkan tewas setelah mengalami tebasan cukup parah di bagian leher.

Jumlah korban tewas yang disebutkan tadi hanyalah segelintir dari jumlah korban secara keseluruhan. Belum termasuk korban luka, ringan ataupun parah, yang tidak pernah dapat dipastikan jumlahnya. Salah seorang alumni sebuah perguruan tinggi di Makassar pernah mengungkapkannya di kolom opini sosbud.kompasiana.com. Dia menyebutkan bahwa jumlah korban terluka, biasanya yang tercatat hanya yang sempat dirawat di Rumah Sakit Wahidin (RS dekat kampusnya), padahal jumlahnya bisa lebih dari itu karena tidak semua korban memilih ke RS, sebagian cukup dirawat oleh teman dengan obat seadanya.  Beberapa tahun belakangan, kasus tawuran yang melibatkan mahasiswa semakin meningkat.  Media Indonesia edisi 6 November 2008 mencatat, setidaknya di Makassar saja pada tahun tersebut telah terjadi 15 kali tawuran antar-mahasiswa. Belum lagi yang terjadi diluar Makassar, tentu akan lebih banyak lagi.

Tawuran hanyalah sedikit dari sekian banyak permasalahan yang menimpa dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Masalah-masalah lainnya seperti mahalnya biaya pendidikan, plagiarisme dengan menjiplak karya orang lain, demonstrasi yang berujung bentrok/kerusuhan, ataupun meningkatnya seks bebas di kalangan mahasiswa, senantiasa mewarnai ruang kehidupan kita. Masalah-masalah tersebut tak ayal mempengaruhi cara pandang masyarakat, juga birokrat terhadap aktifitas mahasiswa. Misalkan saja, Baca lebih lanjut

Iklan

2 Komentar

Filed under Opini, Pemikiran

Pluralisme dan Penyesatan Opini

Sejak meninggalnya Gus Dur pada akhir Desember 2009, isu pluralisme kembali marak diperbincangkan. Sejumlah kalangan menganggap, meninggalnya Gus Dur merupakan momen untuk kembali menguatkan pluralisme di Indonesia. Bahkan dalam sebuah kesempatan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjuluki Gus Dur sebagai ‘Bapak Pluralisme’ yang patut menjadi teladan bagi seluruh bangsa (Antara.co.id, 31/12/2009). Mantan ketua MPR Amien Rais pun menilai Gus Dur sebagai ikon pluralisme (Kompas.com, 2/1/2010). Kalangan liberal melalui salah seorang aktivisnya, Zuhairi Misrawi, menyatakan bahwa dalam rangka memberikan penghormatan terhadap Gus Dur sebagaimana yang dilakukan oleh Presiden SBY, akan sangat baik jika MUI mencabut kembali fatwa pengharaman terhadap pluralisme (Detik.com, 30/12/2009).

Di dunia akademis khususnya kampus, hingga tulisan ini dibuat, isu pluralisme masih mendapat tempat dalam berbagai forum. Di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya misalnya, pluralisme sempat dibahas dalam sebuah artikel berjudul “Isu Pluralisme, Pancasila Dipertaruhkan” dan diterbitkan dalam website resmi ITS, http://www.its.ac.id. Tulisan tersebut ditulis oleh Labib Fayumi, seorang jurnalis ITS Online yang kuliah di jurusan Teknik Informatika. Tulisan tersebut diawali dengan sebuah kutipan dari kitab Sutasoma yang salah satu isinya adalah konsep bhinneka tunggal ika. Menurut penulis, konsep pluralisme telah ada jauh sebelum pancasila lahir. Konsep tersebut telah diajarkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia dan harus dilestarikan. Dalam tulisannya, Labib kemudian memaparkan berbagai hal mengenai pluralisme. Dimulai dengan pemaparan bagaimana pluralisme telah menjadi latar belakang kelahiran Pancasila, dan ajakan untuk melestarikan pluralisme di Indonesia. Namun sayangnya tulisan tersebut sama sekali tidak menjernihkan pemikiran masyarakat. Bahkan pada akhirnya tulisan tersebut mengkaburkan pandangan kita tentang pluralisme itu sendiri.

Menjernihkan Bias Makna

Dalam tulisannya, Labib menyebutkan bahwa pluralisme telah ada jauh sebelum Pancasila lahir. Nenek moyang kita Baca lebih lanjut

15 Komentar

Filed under Ilmiah, Opini, Pemikiran