Tag Archives: bangkit

Bendera Kita (yang) Mana, Kawan?

When I get older, I will be stronger,

They’ll call me freedom, just like a Waving Flag,

And then it goes back, and then it goes back,

And then it goes back, And then it goes…

 

Pernah dengar cuplikan lirik tersebut? Lirik tersebut sering diperdengarkan saat hingar bingar piala dunia 2010. Sudah berlalu cukup lama memang, namun tidak ada salahnya kita sedikit melirik ke belakang. Bait syair itu sebenarnya adalah chorus sebuah lagu berjudul “Wavin’ Flag” yang kemudian digubah dan dipopulerkan oleh coca-cola sebagai salah satu sponsor piala dunia di Afrika Selatan. Bendera. Hanya selembar kain yang dikibarkan, namun penuh dengan makna. Kalau tidak percaya, cobalah untuk mengibarkan bendera berwarna putih dengan logo palang alias cross berwarna hitam sambil mengendarai motor ketika berangkat kuliah menyusuri jalan protokol. Pasti kita akan jadi pusat perhatian, setidaknya para pengendara yang lain akan memberi jalan, dikira ada rombongan pembawa jenazah. Atau cobalah untuk meletakkan bendera berwarna merah dan putih di atas paving jalanan kampus sehingga terlindas oleh setiap kendaraan yang lewat. Yakinlah, akan ada orang yang menyelamatkan bendera tersebut. Kalau orang-orang tahu pelakunya adalah kita, bisa jadi kita akan dihajar ramai-ramai. Syukurlah kalau orang-orang tadi tidak mengikat kita di tengah jalanan untuk menggantikan posisi bendera yang tadinya tergeletak dan terinjak-injak di sana. Meski hanya selembar kain dengan warna dan corak tertentu, namun bendera mampu berbicara untuk menunjukkan sebuah makna.

Kembali pada bait syair di awal tulisan ini. ”Wavin’ Flag”, sesuai dengan temanya, memang banyak meyoroti bendera kebangsaan yang dikibarkan oleh ribuan suporter selama pertandingan sepakbola. Dalam bait yang lain, sang penulis sekaligus penyanyi lagu tersebut, K’Naan, menegaskan:

Celebration its around us, every nations, all around us

Singing forever young, singing songs underneath that sun

Lets rejoice in the beautiful game.

 

Ketika sebuah pertandingan berlangsung, ribuan suporter hadir untuk mendukung tim nasionalnya masing-masing. Mereka mengibarkan bendera kebangsaan bersama-sama, menyanyikan lagu kebangsaannya dengan penuh bangga, bahkan ada pula yang rela melumuri tubuhnya dengan cat bercorak bendera. Meski Lionel Messi begitu berperan terhadap produktifitas Barcelona, namun suporter Spanyol tentu tidak akan mengibarkan bendera Argentina, apalagi menyanyikan lagu bersama para suporter Argentina ketika tim nasional negaranya berhadapan dengan Argentina. Sebaliknya, suporter Portugal juga tidak akan mengibarkan bendera apalagi mengecat tubuhnya dengan corak bendera Spanyol meskipun Christiano Ronaldo yang termasyur dengan julukan CR7 menggantungkan mata pencahariannya di Los Galacticos yang notabene merupakan klub ibukota Spanyol. Sungguh, saat-saat seperti itu adalah suatu saat dimana kebangsaan adalah segalanya dan bendera yang berwarna-warni itu dikibarkan untuk –lebih dari sekedar—menggambarkan kebanggaan, juga spirit suatu bangsa. Meski kota Bloemfontain terletak di benua afrika yang paling ujung, suporter Jepang rela untuk hadir di Vodacom Park, mengibarkan bendera hinomaru untuk mendukung tim nasionalnya bertanding melawan tim Kamerun. Bendera yang dulu juga pernah dikibarkan tahun 40-an ketika Jepang memaksakan romusha di Jawa dan menyerang pangkalan Pearl Harbour dibawah pimpinan Chuichi Nagumo.

Suasana yang sama juga dapat kita temui dalam Sea Games ke 26 di Palembang sepanjang november kemarin, khususnya pada even sepakbola yang dimainkan di atas lapangan yang luas dengan jumlah suporter terbesar bila dibandingkan dengan olahraga yang lain. Puluhan ribu orang rela berdesakan, mengantri selama berjam-jam demi menonton pertandingan final sepakbola Sea Games di Gelora Bung Karno. Mereka yang mengantri itu (barangkali termasuk beberapa orang di antara kita) sebenarnya harus menanggung resiko luka-luka bahkan meregang nyawa karena dorong-mendorong atau injak-menginjak untuk berebut masuk stadion. Reno Alvino, baru berusia 21 tahun, menghembuskan napas terakhirnya setelah berdesak-desakan dengan para suporter lain sebelum pertandingan. Sedangkan puluhan suporter ada yang pingsan, juga luka-luka. Innalillaahi wa inna ilaihi roji’uun. Toh, semua aktifitas itu tetap dilakukan dengan penuh keikhlasan oleh ribuan suporter yang lain demi memenuhi gelora kebangsaan yang menggelegak dalam jiwa mereka. Wajar kalau gelora itu begitu dahsyat, lawan timnas Indonesia di partai final saat itu bukan lawan sembarangan, Malaysia bung! Sudah berapa kali Malaysia memprovokasi dan menginjak-injak harga diri bangsa ini? Di mata banyak orang, dosa Malingsia (sebutan yang disematkan kepada negeri Jiran oleh sebagian anak bangsa) nampaknya sudah tak terhitung, tak terampuni. Nah, inilah salah satu kesempatan bagi masyarakat untuk membalas perlakuan yang menyakitkan dari tetangga yang usil dalam pandangan mereka. Puluhan bahkan ratusan ribu orang memerahkan-putihkan stadion yang telah berusia 49 tahun itu. Bukan hanya di dalam, mereka juga rela berdesakan di luar stadion demi menunjukkan dukungan meski hanya di temani televisi kecil. Bendera? Tak perlu ditanya. Ribuan bendera yang warnanya seragam merah-putih dengan berbagai ukuran mulai dari 10×15 sampai 600×900, terus saja dikibarkan sepanjang pertandingan oleh para suporter. Mereka tak kenal lelah. Timnas hampir menang, meski akhirnya kalah.

Baca lebih lanjut

Iklan

3 Komentar

Filed under Opini, Pemikiran

KEPADA PENEGAK KEBENARAN, KEADILAN, DAN KEMAKMURAN

Aku tahu bahwa engkau Pahlawan
Kau kumandangkan suaramu ditengah medan pertentangan
Suaramu bergetar membelah angkasa
Dengan kata-kata kebenaran
Tapi gema suaramu disambar geledek kebathilan
Ditengah kegersangan angkasa yang tak berawan

Kutahu ketabahanmu
Menegakkan kebenaran adalah perjuanganmu
Menegakkan keadilan adalah tujuanmu
Menegakkan kemakmuran adalah cita-citamu
Itulah hidup bagimu.

Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Puisi

FACEBOOK, Sebuah Perbincangan

Karya Ilmiah tentang Facebook, Jurnal tentang Facebooks …  itulah “wangsit” yang terus saya cari selama beberapa pekan ini. Saya ingin tahu, apakah di Indonesia sudah ada penelitian tentang Facebook.  Saya membutuhkan bahan untuk menyelesaikan karaya ilmiah saya yang berjudul “PEMANFAATAN FACEBOOK SEBAGAI PRODUK TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PERSPEKTIF PERADABAN ISLAM”. Karya ilmiah tersebut rencananya saya ikutkan dalam Musabaqoh Tilawatil Qur’an Mahasiswa tahun ini. Setelah nyuwun pirso ke mbah Google dengan berbagai percobaan kata kunci, eh ternyata saya tidak menemukannya. Saya baru menemukan karya ilmiah atau jurnal tentang Facebook bukan dari “laman” Indonesia, namun dari belahan bumi lain. Kebanyakan berasal dari Amerika. Salah satunya yang langsung saya gunakan sebagai referensi adalah:

Ellison, Nicole, dkk. The Benefits of Facebook ‘‘Friends:’’ Social Capital and College Students’ Use of Online Social Network Sites. Department of Telecommunication, Information Studies, and Media, Michigan State University, Michigan: 2007

Ada beberapa jurnal yang lain yang isinya juga kurang lebih sama dengan jurnal diatas. Kok sama? Lha wong jurnal yang lain juga menjadikan jurnal tersebut sebagai referensinya. Tapi itu tidak akan terjadi pada karya ilmiah yang saya buat. Isi karya ilmiah saya jauh berbeda dengan jurnal-jurnal tersebut. Minimal, karya ilmiah saya pake bahasa Indonesia.hehehe.

Setelah bekerja bermalam-malam, bahkan H-1 sebelum pengumpulan saya nggak tidur untuk menyelesaikan karya ilmiah tersebut, akhirnya karya ilmiah saya selesai tepat waktu. Alhamdulillah…. Langsung saja hari Ahad sore (31 Mei 2009) saya kumpulkan ke Fresa, sahabat saya yang menjadi panitia seleksi tingkat ITS. Berikut cuplikan kata pengantar karya tulis saya:

“Facebook telah menjadi sebuah trend yang mencakup berbagai belahan dunia. Ratusan juta orang telah terdaftar menjadi anggota dari situs jejaring sosial tersebut. Diperkirakan jumlah tersebut akan terus bertambah dan meluas penggunaannya di seluruh dunia.

Namun, muncul beberapa pertanyaan mengenai kebolehan umat Islam menggunakan dan memanfaatkan facebook. Sejumlah kontroversi pun bergulir disana sini. Penulis berharap agar karya tulis ini dapat membantu dan memberikan konsep praktis bagi semua kalangan tentang bagaimana pandangan Islam mengenai pemanfaatan dan penggunaan facebook sebagai suatu produk teknologi informasi agar mampu memberikan kemashlahatan, kejayaan, dan kemakmuran umat Islam sebagaimana yang terjadi pada masa kekhilafahan Islam.”

Ingin tahu lengkapnya? Silakan download disini

NB: Inilah posting pertama saya semenjak blog ini saya rekonstruksi. pembelaislam bangkit lagi! Allahu Akbar!

2 Komentar

Filed under Ilmiah, Pemikiran