Bahaya Partai Terbuka

Gelombang sekularisasi yang dahsyat membuat partai-partai politik yang menisbatkan dirinya sebagai partai politik Islam seolah tak punya pilihan. Alih-alih mempertahankan identitasnya sebagai partai pengusung ideologi Islam, malah kian menjauhinya. Sedikit demi sedikit identitas itu tergerus. Baju Islam yang dikenakan selama ini dianggap sudah sesak. Eksklusivitas dianggap sebagai penghalang dalam pergaulan politik. Butuh baju baru yang dianggap longgar. Baju lama pun ditinggalkan. Sikap partai politik Islam ini semakin nampak jelas menjelang Pileg dan Pilpres pada 2009 yang lalu. Para aktifis partai yang sebelumnya getol menampakkan ke-Islaman kemudian mengatakan “Islam adalah masa lalu” atau “tidak sepatutnya di masa modern ini bicara syariah, tapi bicara yang lebih konkret”. Lebih parah lagi, syariah Islam kemudian dianggap sebagai komoditas politik yang tidak laku.

Ujung-ujungnya, ketika pilpres berlangsung, partai-partai politik yang menisbatkan dirinya sebagai partai politik Islam ini dengan rela hati berkoalisi dengan partai-partai sekular yang dulu dianggap sebagai rivalnya. Bahkan setelah capres dan cawapres yang mereka usung terpilih, mereka memutuskan untuk menjadi backbone yang mendukung dan melindungi pemerintahan. Sebagai imbalannya, partai-partai tersebut mendapatkan kedudukan dan berbagai macam jabatan di pemerintahan. Mereka sangat menikmati kondisi ini.

Sorotan pun tak terhindarkan. Banyak kalangan mendorong agar partai-partai tersebut melepaskan diri dari ideologi yang berusaha diembannya, yakni Islam. Salah satu penyebabnya adalah Baca lebih lanjut

7 Komentar

Filed under Opini, Pemikiran

Mahasiswa, Mau ke Mana?

bentrok mahasiswa

19 Juni 2010. Harian Tribun Timur memuat sebuah berita yang memprihatinkan. Dodo Risaldi (20), mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (UNM) yang dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Bhayangkara, Jl Mappaodang Makassar akibat luka tebasan senjata tajam akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Luka tersebut didapatnya ketika terjadi aksi tawuran antara mahasiswa Teknik dengan mahasiswa jurusan Seni dan Desain beberapa hari lalu. Meninggalnya Dodo tentunya semakin memperpanjang daftar korban tewas akibat tawuran mahasiswa. Sebelumnya pada bulan maret, seorang mahasiswa di Kupang juga tewas akibat tawuran. Sebagaimana yang diberitakan oleh tempointeraktif.com (16 Maret 2010), mahasiswa yang tewas tersebut terluka parah akibat terkena panah sehingga nyawanya tidak terselamatkan. Jauh hari sebelumnya, pada 6 November 2008, nasional.kompas.com juga memuat berita yang serupa. Tawuran mahasiswa yang terjadi di dalam kampus UMI Makassar telah mengakibatkan jatuhnya korban. Seorang mahasiswa teknik elektro bernama Fajar dikabarkan tewas setelah mengalami tebasan cukup parah di bagian leher.

Jumlah korban tewas yang disebutkan tadi hanyalah segelintir dari jumlah korban secara keseluruhan. Belum termasuk korban luka, ringan ataupun parah, yang tidak pernah dapat dipastikan jumlahnya. Salah seorang alumni sebuah perguruan tinggi di Makassar pernah mengungkapkannya di kolom opini sosbud.kompasiana.com. Dia menyebutkan bahwa jumlah korban terluka, biasanya yang tercatat hanya yang sempat dirawat di Rumah Sakit Wahidin (RS dekat kampusnya), padahal jumlahnya bisa lebih dari itu karena tidak semua korban memilih ke RS, sebagian cukup dirawat oleh teman dengan obat seadanya.  Beberapa tahun belakangan, kasus tawuran yang melibatkan mahasiswa semakin meningkat.  Media Indonesia edisi 6 November 2008 mencatat, setidaknya di Makassar saja pada tahun tersebut telah terjadi 15 kali tawuran antar-mahasiswa. Belum lagi yang terjadi diluar Makassar, tentu akan lebih banyak lagi.

Tawuran hanyalah sedikit dari sekian banyak permasalahan yang menimpa dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Masalah-masalah lainnya seperti mahalnya biaya pendidikan, plagiarisme dengan menjiplak karya orang lain, demonstrasi yang berujung bentrok/kerusuhan, ataupun meningkatnya seks bebas di kalangan mahasiswa, senantiasa mewarnai ruang kehidupan kita. Masalah-masalah tersebut tak ayal mempengaruhi cara pandang masyarakat, juga birokrat terhadap aktifitas mahasiswa. Misalkan saja, Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Opini, Pemikiran

JUSTICE, FACT OR FICTION?

Pernah nonton “Justice League”? Itu adalah film kartun yang mengisahkan perkumpulan para pahlawan pembela keadilan, versi amerika tentunya. Film tersebut dibuat berdasarkan versi komiknya yang telah muncul sejak tahun 1960. Komik tersebut dibuat oleh Gardner Fox, seorang komikus yang lahir pada 20 Mei 1911 di Brooklyn, New York. Selama beberapa dekade versi komik maupun filmnya telah merambah pasar hiburan di amerika dan beberapa negara lainnya. Selama itu pulalah “Justice League” mendapat sambutan hangat dari rakyat Amerika, terutama dari kalangan remaja dan anak-anak. Buktinya, berbagai macam award telah dimenangkan oleh DC Comic selaku pemegang trademark komik dan film tersebut. Sebut saja Alley Award pada 1961 sebagai penghargaan atas Komik Terbaik, atau Shazam Award pada tahun 1973 sebagai penghargaan atas penggambar terbaik. Nampak jelas, rakyat amerika dan dunia cukup merindukan keadilan alias “Justice” yang kemudian diwujudkan berupa kecintaan mereka terhadap komik-komik yang bertemakan superhero, pembela kebenaran dan keadilan. Namun, pada tulisan kali ini saya sama sekali tidak ingin membahas lebih lanjut mengenai komik ataupun film-film kartun yang bertemakan keadilan. Saya juga tidak ingin membahas mengenai masa kecil saya yang begitu mengidolakan Batman:) Pembahasan di atas hanyalah sedikit pengantar menuju pembicaraan yang lebih penting dan urgent: What is Justice? Apakah keadilan itu?

Sebenarnya banyak hal yang melatarbelakangi saya untuk membahas masalah tersebut. Salah satunya adalah munculnya keraguan ditengah-tengah masyarakat terhadap hukum dan pihak-pihak penegak hukum. Belakangan, masyarakat mulai apatis dan pesimis bahwa keadilan dan kebenaran bisa ditegakkan di Indonesia, bahkan dunia. Betapa tidak, berbagai macam kasus hukum yang muncul ditengah-tengah masyarakat, banyak yang belum terselesaikan hingga hari ini. Sebut saja skandal bank century, kasus cicak-buaya, terbongkarnya mafia pajak Gayus dkk, dan gugatan Anggodo terhadap KPK. Sampai hari ini seluruh kasus tersebut masih mengambang, tidak jelas siapa yang bertanggung jawab, dan tidak jelas pula penyelesaiannya. Di ranah internasional malah lebih parah lagi. Terjadi penyerangan kapal bantuan kemanusiaan untuk Gaza oleh tentara Israel yang kemudian menyebabkan tewasnya puluhan aktivis kemanusiaan dan juga menyebabkan puluhan aktivis lainnya terluka. Sebenarnya siapa yang bersalah dan siapa yang harus dihukum pada peristiwa tersebut sudah sangat jelas dan nyata, Israel. Tidak perlu penyelidikan yang berlarut-larut dan menghabiskan banyak sumber daya. Namun pada faktanya, hingga hari ini Israel tidak menerima sanksi apapun atas perbuatannya tersebut. Bahkan, saat saya menulis tulisan ini, kecaman terhadap Israel yang awalnya begitu santer dilakukan di seluruh dunia, sudah mulai mereda hingga akhirnya lenyap, tertutupi oleh isu-isu yang lain. Inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan di tengah-tengah masyarakat: apakah keadilan itu benar-benar dapat diwujudkan, ataukah sekedar kisah-kisah fiksi yang diciptakan para komikus saja?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ada baiknya kalau kita terlebih dahulu memperhatikan dengan seksama pendapat atau statement dari para pakar atau praktisi hukum dan peradilan. Bagaimanapun juga, persoalan-persoalan keadilan merupakan core competency pakar atau praktisi peradilan tersebut. Berkaitan dengan hal itu, ada sebuah kisah yang dapat dijadikan patokan. Pada tanggal 7 juni kemarin, saya mendapat undangan untuk menghadiri sebuah kuliah umum di kampus Unair. Kuliah Tjokroaminoto untuk Kebangsaan dan Demokrasi, itulah tittle acaranya. Kuliah umum tersebut diadakan rutin secara berkala oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Kuliah yang kemarin saya ikuti konon merupakan kuliah Tjokroaminoto yang ke 15. Tema yang diangkat saat itu, berdasarkan undangan yang saya terima, adalah Baca lebih lanjut

4 Komentar

Filed under Opini, Reportase, Share

DHF Lagi?

demam nih

Kamis, 18 Maret 2010, pukul 08.30. Saya diantar oleh sahabat saya, Bayu, ke Rumah Sakit Haji Surabaya. Sebuah rumah sakit milik Pemprov Jatim yang jaraknya kurang lebih 1,5 km dari kampus saya, ITS Surabaya. Kedatangan saya ke rumah sakit pagi itu adalah untuk memeriksakan diri saya. Entah mengapa, sejak hari Senin, 15 Maret, saya terus menerus mengalami demam yang “aneh”. Bagaimana tidak aneh, demam yang saya derita hanya muncul pada waktu-waktu tertentu saja.Sesekali pada malam hari demam, eh pagi harinya sudah tidak demam. Sore hari demam, eh ba’da Isya’ sudah tidak demam lagi. Setiap kali demam tersebut muncul, saya merasa lemas dan lelah sehingga yang bisa saya lakukan hanyalah terbaring di tempat tidur. Namun ketika sudah tidak demam lagi, seolah-olah saya sehat kembali dan dapat melakukan berbagai aktifitas. Itulah yang juga membuat saya bingung pada hari Rabu, ketika kuliah saya sangat padat. Saya bingung harus masuk kuliah ataukah istirahat saja? sakit atau tidak ya? Pada akhirnya saya nekat berangkat kuliah juga. Saya sempat mengikuti perkuliahan dari pukul 11.00 hingga pukul 16.30. Setelah kuliah usai ternyata saya demam lagi dan hanya bisa terbaring lemas di tempat tidur kos. Pada malam harinya, sekitar pukul 18.30 saya harus menjemput adik saya ke stasiun Gubeng dan mengantarkan ke kontrakannya di Sutorejo. Anehnya, seketika itu saya tidak demam dan tetap bisa mengendarai motor seperti biasa, seperti orang sehat. Beberapa jam hal tersebut berlanjut. Bahkan saya masih sempat menghadiri rapat selama 2 jam sejak pukul 20.00 hingga pukul 22.00. Nah, setelah rapat itulah saya kembali demam dan lemas sehingga saya memutuskan untuk periksa ke dokter di RS Haji esoknya.

Situasi RS Haji saat itu masih relatif sepi sehingga saya tidak perlu mengantre terlalu lama untuk mendaftarkan diri. Namun kebingungan kembali muncul ketika petugas resepsionis bertanya kepada saya tentang poli yang akan dituju. Saya terdiam sejenak dan berpikir, harus ke poli mana ya? Masalahnya RS Haji tidak memiliki poli umum. Setiap poli yang ada merupakan spesialis penyakit tertentu. Pada saat itu saya bahkan masih belum tahu penyakit apa yang saya derita. Akhirnya setelah menjelaskan beberapa gejala yang saya rasakan, petugas resepsionis menyarankan saya untuk ke poli THT. Yah, barangkali saya sakit radang tenggorokan atau infeksi saluran pernapasan sehingga demam, pikir saya saat itu. Saya dan Bayu bergegas ke poli THT di lantai 2 setelah mendapatkan nomor antrian dari resepsionis.

Setelah mengantre kurang lebih 45 menit, saya mendapat giliran untuk masuk ke ruang pemeriksaan. Di sana telah menanti seorang dokter spesialis dan 2 orang mahasiswa kedokteran yang magang. Saya tidak terlalu memperhatikan dari perguruan tinggi mana mahasiswa-mahasiswa tersebut. Saya hanya fokus untuk menjalani pemeriksaan oleh Dr. Meita, dokter spesialis yang namanya saya ketahui dari kertas resep yang beliau tulis. Ketika Dr. Meita bertanya tentang penyakit saya, saya Baca lebih lanjut

4 Komentar

Filed under Share

Islamophobia di Kampus

Ketakutan akan Islam“Saat ini berkembang opini di tengah masyarakat untuk menjadikan syariah Islam sebagai solusi atas segala permasalahan yang ada. Bagaimana pendapat kedua calon mengenai hal tersebut? Apakah setuju atau tidak?” Demikianlah pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu mahasiswa yang hadir pada kampanye Capres BEM ITS 2010-2011. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab dengan sebuah ketidaksetujuan oleh calon nomor 1. Secara terang-terangan calon tersebut menyatakan merasa tersinggung dengan pertanyaan yang diajukan. Namun ketika tiba giliran calon nomor 2 untuk menjawab, moderator menyatakan untuk memotong pertanyaan dan membatalkan giliran bagi calon tersebut. Moderator dan KPU menganggap pertanyaan tersebut tidak sesuai dengan kriteria-kriteria pertanyaan yang diperbolehkan. Salah satu kriteria yang dilanggar menurut mereka adalah pertanyaan yang diajukan tidak boleh berbau SARA. Pertanyaan tersebut dianggap berbau SARA karena menyebutkan kata “syariah Islam” didalamnya. Si penanya kemudian melakukan crosscheck dengan mempertanyakan batasan “berbau SARA” yang tidak jelas, namun tidak lagi ditanggapi baik oleh moderator maupun kedua calon.

Itulah sekelumit fakta mengenai kondisi mahasiswa ITS saat ini. Ketika ada sedikit saja penyebutan kata “syariah Islam” atau kata-kata lain yang berkaitan dengan Islam, maka akan langsung dibungkam dan bahkan dihujat dengan berbagai alasan. Salah satu alasan, sebagaimana yang telah disebutkan di atas adalah karena “berbau SARA”. Kalau kita cermati, alasan tersebut sebenarnya bukanlah alasan yang konsisten. Mengucapkan syariah Islam di tengah-tengah khalayak ramai yang terdiri dari berbagai macam suku dan agama dianggap “berbau SARA” karena tidak dapat dimengerti oleh umat agama lain dan konon akan menyinggung perasaan mereka. Apabila ingin konsisten dengan alasan tersebut, maka ucapan salam “Assalamualaikum” yang biasa diucapkan sebagai opening speech juga bisa dianggap “berbau SARA”. Bahkan penyebutan “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” yang tertera di keputusan dan rekomendasi Mubes III juga bakal dianggap “berbau SARA” karena pada faktanya tidak semua mahasiswa ITS beragama Islam atau Nasrani. Dari sini nampak jelas bahwa alasan “berbau SARA” adalah alasan yang mengada-ada. Terlebih lagi, alasan tersebut bukanlah alasan utama yang mendasari pembungkaman terhadap mahasiswa yang mengopinikan Syariah Islam.

Alasan utama yang menyebabkan itu semua adalah Baca lebih lanjut

9 Komentar

Filed under Opini, Pemikiran

Pluralisme dan Penyesatan Opini

Sejak meninggalnya Gus Dur pada akhir Desember 2009, isu pluralisme kembali marak diperbincangkan. Sejumlah kalangan menganggap, meninggalnya Gus Dur merupakan momen untuk kembali menguatkan pluralisme di Indonesia. Bahkan dalam sebuah kesempatan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjuluki Gus Dur sebagai ‘Bapak Pluralisme’ yang patut menjadi teladan bagi seluruh bangsa (Antara.co.id, 31/12/2009). Mantan ketua MPR Amien Rais pun menilai Gus Dur sebagai ikon pluralisme (Kompas.com, 2/1/2010). Kalangan liberal melalui salah seorang aktivisnya, Zuhairi Misrawi, menyatakan bahwa dalam rangka memberikan penghormatan terhadap Gus Dur sebagaimana yang dilakukan oleh Presiden SBY, akan sangat baik jika MUI mencabut kembali fatwa pengharaman terhadap pluralisme (Detik.com, 30/12/2009).

Di dunia akademis khususnya kampus, hingga tulisan ini dibuat, isu pluralisme masih mendapat tempat dalam berbagai forum. Di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya misalnya, pluralisme sempat dibahas dalam sebuah artikel berjudul “Isu Pluralisme, Pancasila Dipertaruhkan” dan diterbitkan dalam website resmi ITS, http://www.its.ac.id. Tulisan tersebut ditulis oleh Labib Fayumi, seorang jurnalis ITS Online yang kuliah di jurusan Teknik Informatika. Tulisan tersebut diawali dengan sebuah kutipan dari kitab Sutasoma yang salah satu isinya adalah konsep bhinneka tunggal ika. Menurut penulis, konsep pluralisme telah ada jauh sebelum pancasila lahir. Konsep tersebut telah diajarkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia dan harus dilestarikan. Dalam tulisannya, Labib kemudian memaparkan berbagai hal mengenai pluralisme. Dimulai dengan pemaparan bagaimana pluralisme telah menjadi latar belakang kelahiran Pancasila, dan ajakan untuk melestarikan pluralisme di Indonesia. Namun sayangnya tulisan tersebut sama sekali tidak menjernihkan pemikiran masyarakat. Bahkan pada akhirnya tulisan tersebut mengkaburkan pandangan kita tentang pluralisme itu sendiri.

Menjernihkan Bias Makna

Dalam tulisannya, Labib menyebutkan bahwa pluralisme telah ada jauh sebelum Pancasila lahir. Nenek moyang kita Baca lebih lanjut

15 Komentar

Filed under Ilmiah, Opini, Pemikiran

Goemon

Sabtu, 21 Nopember 2009. Jam menunjukkan pukul 15.30. Kala itu, saya dan Fajar, teman satu kos saya baru saja tiba di kos setelah mengikuti diskusi aktivis mahasiswa Islam di kampus B Unair. Sembari melepas lelah, kami duduk-duduk di kamar, sesekali leyehan, sambil memutar sebuah film di pc saya. Maka jadilah suasana kamar saya seperti bioskop TransTV :). Film yang kami putar diawali oleh sebuah narasi mengenai situasi Jepang pada tahun 1582. Oda Nobunaga, yang hampir berhasil menyatukan Jepang, dibunuh oleh pengikutnya sendiri, yakni Akechi Mitsuhide. Namun, Akechi sendiri kemudian dibunuh oleh Toyotomi Hideyoshi, pengikut Oda Nobunaga yang lain. Goemon Lagi PoseKemudian Toyotomi menjalankan sebuah pemerintahan diktator dan mengangkat dirinya sebagai pengganti pemerintahan Oda Nobunaga. Dan inilah yang menjadi setting waktu dan tempat bagi film tersebut. Adegan selanjutnya menggambarkan pencurian yang dilakukan oleh seorang shinobi, Ishikawa Goemon, terhadap harta milik seorang bangsawan, Kinokuniya Bunzaemon. Shinobi inilah yang kemudian dijadikan tokoh utama, sekaligus dijadikan judul film “Goemon”.  Goemon, ketika melakukan aksinya di brankas raksasa milik bangsawan Bunzaemon, selain menguras habis koin-koin emas dan barang-barang berharga lainnya, juga mencuri sebuah kotak biru tua yang berisi sebuah gulungan kertas. Gulungan kertas tersebut ternyata adalah bukti bahwa Toyotomi Hideyoshi lah yang mendalangi pembunuhan Oda Nobunaga. Dari kotak “pandora” itulah semua kisah dalam film tersebut bermula.

Film tersebut dipenuhi oleh adegan-adegan aksi dari para shinobi dan ninja, yang tentunya digarap dengan menggunakan animasi dan efek komputer. Saya tidak akan mengisahkan dengan detail jalannya film tersebut. Kalau ingin tahu detailnya bagaimana ya silahkan ditonton sendiri :D. Saya hanya akan memberikan beberapa catatan terhadap beberapa bagian dalam film tersebut. Diakui atau tidak, terdapat beberapa adegan yang mungkin terlalu imaginatif, khayal, dan terkadang juga sadis. Namun disamping itu semua, terdapat beberapa bagian yang menarik untuk diikuti karena didalamnya terdapat penggambaran mengenai sejarah manusia itu sendiri. Satu adegan yang paling menarik bagi saya adalah ketika Goemon sudah berhadap-hadapan dengan Toyotomi Hideyoshi, sang diktator, dan bersiap untuk membunuhnya. Mengapa Goemon ingin membunuh Hideyoshi? Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Share

Komentar Tentang IMF

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengeluh lembaga internasional seperti IMF sering salah membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi RI. Kini IMF pun memperbaikinya dari 2,5% menjadi 3-4% pada tahun 2009. (sumber: detik.com 8/6/09)

Komentar:

1) IMF bukan hanya salah dalam membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi melainkan malah menjadi biang kerok segala krisis ekonomi yang terjadi di dunia saat ini.

2) Mengeluh saja tentunya tidak cukup. Harus ada sebuah langkah riil, yakni dengan membuang semua “resep” IMF dan ekonomi Liberalnya karena terbukti telah menyengsarakan rakyat.

3) Saatnya kembali kepada sistem ekonomi yang menyejahterakan rakyat yakni sistem ekonomi Islam!

3 Komentar

Filed under Share

FACEBOOK, Sebuah Perbincangan

Karya Ilmiah tentang Facebook, Jurnal tentang Facebooks …  itulah “wangsit” yang terus saya cari selama beberapa pekan ini. Saya ingin tahu, apakah di Indonesia sudah ada penelitian tentang Facebook.  Saya membutuhkan bahan untuk menyelesaikan karaya ilmiah saya yang berjudul “PEMANFAATAN FACEBOOK SEBAGAI PRODUK TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PERSPEKTIF PERADABAN ISLAM”. Karya ilmiah tersebut rencananya saya ikutkan dalam Musabaqoh Tilawatil Qur’an Mahasiswa tahun ini. Setelah nyuwun pirso ke mbah Google dengan berbagai percobaan kata kunci, eh ternyata saya tidak menemukannya. Saya baru menemukan karya ilmiah atau jurnal tentang Facebook bukan dari “laman” Indonesia, namun dari belahan bumi lain. Kebanyakan berasal dari Amerika. Salah satunya yang langsung saya gunakan sebagai referensi adalah:

Ellison, Nicole, dkk. The Benefits of Facebook ‘‘Friends:’’ Social Capital and College Students’ Use of Online Social Network Sites. Department of Telecommunication, Information Studies, and Media, Michigan State University, Michigan: 2007

Ada beberapa jurnal yang lain yang isinya juga kurang lebih sama dengan jurnal diatas. Kok sama? Lha wong jurnal yang lain juga menjadikan jurnal tersebut sebagai referensinya. Tapi itu tidak akan terjadi pada karya ilmiah yang saya buat. Isi karya ilmiah saya jauh berbeda dengan jurnal-jurnal tersebut. Minimal, karya ilmiah saya pake bahasa Indonesia.hehehe.

Setelah bekerja bermalam-malam, bahkan H-1 sebelum pengumpulan saya nggak tidur untuk menyelesaikan karya ilmiah tersebut, akhirnya karya ilmiah saya selesai tepat waktu. Alhamdulillah…. Langsung saja hari Ahad sore (31 Mei 2009) saya kumpulkan ke Fresa, sahabat saya yang menjadi panitia seleksi tingkat ITS. Berikut cuplikan kata pengantar karya tulis saya:

“Facebook telah menjadi sebuah trend yang mencakup berbagai belahan dunia. Ratusan juta orang telah terdaftar menjadi anggota dari situs jejaring sosial tersebut. Diperkirakan jumlah tersebut akan terus bertambah dan meluas penggunaannya di seluruh dunia.

Namun, muncul beberapa pertanyaan mengenai kebolehan umat Islam menggunakan dan memanfaatkan facebook. Sejumlah kontroversi pun bergulir disana sini. Penulis berharap agar karya tulis ini dapat membantu dan memberikan konsep praktis bagi semua kalangan tentang bagaimana pandangan Islam mengenai pemanfaatan dan penggunaan facebook sebagai suatu produk teknologi informasi agar mampu memberikan kemashlahatan, kejayaan, dan kemakmuran umat Islam sebagaimana yang terjadi pada masa kekhilafahan Islam.”

Ingin tahu lengkapnya? Silakan download disini

NB: Inilah posting pertama saya semenjak blog ini saya rekonstruksi. pembelaislam bangkit lagi! Allahu Akbar!

2 Komentar

Filed under Ilmiah, Pemikiran

“Tragedi” Jum’at

Jum’at, 14 November 2008. Sejak pagi, saya tidak beranjak sedikitpun dari kos saya, tepatnya di Gebang Kidul Puskesmas no. 14, Sukolilo, Surabaya. Kalaupun keluar dari kos paling hanya untuk mencari sesuap nasi (baca: sarapan) di warung HaLim yang terletak di ujung gang, di seberang jalan utama Gebang Putih. Bukan karena tidak ingin menghirup udara luar atau karena malas, keputusan saya untuk tidak keluyuran lebih karena kondisi kesehatan yang tidak mendukung. Yups, sejak kamis sore saya merasakan badan saya capek semua plus keluarnya ingus dari hidung saya. So disturbing, sangat mengganggu, pikir saya. Waktu sholat, terutama pas ruku’ atau sujud, ingus menetes-netes ke tempat sujud dan ke baju saya. Uff, disgusting, menjijikkan, gak usah terlalu detil ah ceritanya. Hmm, ini adalah flu fase awal! Walaupun bukan mahasiswa kedokteran gigi ataupun kedokteran hewan (gak nyambung!) saya langsung bisa menyimpulkan demikian. Yah, belajar dari pengalaman selama ini. Solusinya, yah banyak-banyak istirahat, banyak makan, plus minum obat, bukan diapet atau kalpanax tentunya. Untunglah si Bayu, teman saya satu kos punya cadangan obat flu dan dia mau memberi saya beberapa tablet. Semoga Allah segera memberi kesembuhan pada saya…gumam saya dalam hati.

Selama di dalam kamar kos-kosan saya hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan. Baca tabloid, install dan uninstall aplikasi di PC saya, tidur-tiduran seperti kebanyakan orang sakit lainnya (kecuali sakit jiwa, malah hyperaktif dan banyak actionnya), baca buku dan ebook Java, coba-coba buat GUI (Graphical User Interface) di netbeans (nah, untuk yang satu ini bikin saya pusing, habisnya saya lupa di mana tempat untuk naruh codingnya!), dan seterusnya sampai baca buku Peraturan Hidup dalam Islam. Dan waktu pun cepat berlalu hingga tanpa sadar sudah jam 11.20, mendekati waktu dhuhur. Ingat, hari ini hari Jum’at, jadi harus berangkat Jum’atan ke masjid, gumam saya. Saya pun segera bersiap, ambil wudhu, pake peci, minyak wanginya…saya gak punya. Biasanya sih minta ke kamar-kamar sebelah, tapi hari itu temen satu kos lagi pada kuliah semua sehingga gak ada yang bisa dimintai minyak wangi. Ya udah deh, berangkat apa adanya, yang penting rapi dan suci dari hadats dan najis! Begitulah yang saya ketahui. Akhirnya siaplah saya untuk berangkat ke masjid Ibrahim, masjid terbesar dan terdekat dari kos saya, jaraknya sekitar 400 meteran dari kos. Ugh, pertama menginjakkan kaki di luar kos, panas begitu menyengat, matahari begitu terik. Belum apa-apa peluh keringat sudah bermancuran eh bercucuran di tubuh saya. Maklum, Surabaya, apalagi ini Surabaya Timur, dekat pesisir pantai. Wah, padahal saya harus jalan kaki untuk ke masjid tadi. Okelah, Bismillah, berangkat…

aya-sophia076Sesampainya di masjid saya mengambil selembar buletin Al-Islam di halaman masjid, menyapa seorang sahabat lama saya (entah namanya siapa saya sudah lupa) dan kemudian langsung masuk ke ruang utama masjid dan mengambil shaf ke 4 dari depan. Belum terlalu ramai, karena memang belum adzan. Yang saya ketahui, masjid ini mengikuti pendapat khalifah Umar RA yaitu mengumandangkan adzan dua kali saat sholat Jum’at. Adzan yang Baca lebih lanjut

4 Komentar

Filed under Reportase, Share