Category Archives: Share

Waspada Gerakan NII? (bagian 2)

Setelah berbagai pemaparan dari Kapolda dan Ketua MUI Jatim usai, tibalah saatnya bagi host mempersilahkan pembicara yang terakhir, Dr. Helmy, untuk menyampaikan pendapatnya. Host memberikan batasan waktu sekitar 10 menit bagi dosen Unair tersebut. Awalnya, saya menduga Dr. Helmy yang diplot sebagai pembicara untuk mewakili pembina UKMKI akan menyampaikan materi yang mampu “mengimbangi” berbagai opini dan stigma negatif terhadap Islam yang beredar di masyarakat. Bagaimanapun juga, penyelenggara talkshow tersebut adalah UKMKI, sebuah lembaga dakwah kampus yang memiliki mindset yang baik terhadap upaya kaum muslimin untuk menerapkan Syari’ah Islam dalam segala aspek kehidupan, termasuk aspek kenegaraan.

Sudah seharusnya UKMKI menampilkan pembicara yang membela ide-ide Islam yang kini semakin dipojokkan dengan berbagai propaganda sesat, kian tertutup pula oleh kabut stigma. Itulah yang saya pikirkan dan juga saya harapkan saat itu. Namun, beberapa patah kata yang  mengawali pemaparan beliau sedikit demi sedikit mengikis berbagai prasangka baik (husn adz-dzan) saya tadi. Awalnya beliau bercerita singkat tentang negara-negara yang maju semacam Swiss, Jepang, dan sebagainya. Beliau heran, mengapa negara-negara yang dihuni oleh mayoritas orang non muslim tersebut bisa luar biasa maju dan berdaulat, sementara negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim justru terpuruk. “What’s going on?” Itulah pertanyaan retoris yang berkali-kali beliau ucapkan. Dari berbagai kondisi tersebut kemudian beliau menyimpulkan bahwa semua keterpurukan yang di alami oleh negeri dengan penduduk mayoritas muslim disebabkan oleh sirnanya etika dalam kehidupan mereka. Mahasiswa yang notabene kaum terpelajar pun kini tidak lagi memperhatikan etika dalam kehidupan, termasuk dalam kehidupan beragama. Munculnya NII menurut beliau adalah salah satu contoh pelanggaran terhadap “etika beragama”. Pemikiran tentang etika itu selalu beliau tekankan, sebuah pemikiran yang menurut saya tidak lebih dari pemikiran primitif ancient greek dari masa-masa sebelum masehi. Penyampaian tersebut belumlah mengejutkan saya. Di akhir penyampaian, Dr. Helmy kemudian menjabarkan apa yang dimaksud “etika beragama”. Berkaitan dengan kasus NII beliau dengan tegas menyatakan, bahwa Islam, sebagai agama yang diturunkan oleh Allah sama sekali tidak pernah mengajarkan umatnya untuk mendirikan negara Islam. Rasulullah diutus bukan untuk menegakkan negara Islam (Islamic State), namun untuk membentuk masyarakat Islam (Islamic Society). Wow, It’s surprising me so much! Sungguh pernyataan yang sangat mengejutkan saya sekaligus mementahkan bulat-bulat berbagai prasangka saya sebelumnya…

Pernyataan demi pernyataan seputar tidak adanya konsep negara dalam Islam terus dilontarkan begitu saja oleh Dr. Helmy tanpa ada rasa bersalah. Bahkan beliau kemudian menunjukkan slide periodisasi sejarah umat Islam sejak zaman Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Khilafah Bani Umayyah, Khilafah Bani Abbasiyah, dan terakhir Khilafah Utsmani, sambil mengatakan bahwa beliau tak menemukan sedikit pun konsep negara sepanjang sejarah umat Islam. Yang ada hanyalah masyarakat Islam (Islamic Society). Suatu pernyataan yang cukup berat konsekuensinya karena akan menciptakan ambiguitas yang dahsyat terkait penerapan Syari’ah Islam secara total. Sebenarnya pernyataan-pernyataan semacam itu bukanlah suatu hal yang baru. Puluhan tahun yang lalu Baca lebih lanjut

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Opini, Reportase, Share

Waspada Gerakan NII? (bagian 1)

(Reportase pribadi ketika menghadiri talkshow seputar NII)

“Deert,deert….”getar handphone Nokia 1280 yang saya kantongi cukup menghangatkan suasana malam yang dingin. Selasa 3 Mei tepat pukul 23.28, saya menerima sms dari panitia talkshow Waspada Gerakan NII. “Maaf, Krn psrta yg tlh mdftr lbh dr kuota yg dsdiakn pntia. Dhrpkn kpd yg sdh mdftar u/ dtg seawal mgkn (mlai jm 12) untk mendapat t4.” Begitulah isinya. Malam itu, sebenarnya masih banyak hal yang perlu saya perbincangkan dengan teman-teman yang aktif di Studi Islam Teknik Computer (SITC). Namun, saya lebih memilih untuk istirahat lebih awal dan mempersiapkan fisik agar bisa hadir talkshow tepat waktu. Ketika teman-teman SITC berpamitan pulang ke kontrakannya, saya buru-buru mengiyakan dan mengantar mereka sampai ke pintu gerbang kontrakan saya. Tak lama kemudian suasana kontrakan menjadi hening. Saya dan sahabat saya, Bayu, bergegas menutup pagar dan mengunci pintu ruang tamu. Setelah memastikan semuanya telah berjalan sesuai SOP sekuritas kontrakan, saya melakukan segala persiapan pribadi sebelum tidur. Setelah segalanya siap, segera saya rebahkan tubuh saya di atas bed, berdoa, dan kemudian berjalan menjauhi alam sadar.

Belakangan ini, hampir setiap hari Surabaya selalu dilanda hujan lebat. Tak jarang disertai petir yang menggelegar dan angin kencang. Jalanan di Kota Pahlawan seringkali digenangi air. Di beberapa titik, air juga menggenangi jalan-jalan protokol. Salah satu yang cukup parah adalah banjir di ruas jalan protokol Mayjen Sungkono, beberapa meter dari Hotel Shangrila. Pada hari Senin, dalam perjalanan pulang dari rumah kawan saya di daerah Manukan, saya sempat terjebak kemacetan bersama pengendara yang lain di ruas jalan tersebut. Syukurlah saat itu hujan cepat reda sehingga dalam waktu 1 jam air sudah agak surut (“hanya” setinggi betis orang dewasa) dan ruas tersebut dapat saya lalui dengan “berlayar” bersama motor kawasaki saya. Namun pemandangannya sangat berbeda pada hari Rabu 4 Mei. Hari itu adalah hari yang sangat cerah bila dibandingkan hari-hari sebelumnya. Matahari bersinar gemilang dan panasnya dapat dirasakan oleh semua orang. Pagi itu, saya banyak menghabiskan waktu dengan melaksanakan rutinitas harian semisal menyiapkan sarapan. Sebelumnya saya sempatkan pula berolahraga dengan jalan-jalan pagi ke kampus bersama teman-teman kontrakan. Sambil berolahraga, sambil memasang poster iklan Basic Islamic Leadership Training di beberapa titik di kampus. Setelah kembali ke kontrakan, segera saya nyalakan laptop Dell Inspiron 1440 di atas meja belajar. Tak lupa saya koneksikan kabel DSL speedy ke laptop tersebut. Sebelum berangkat ke kampus, saya merasa perlu mencari informasi-informasi penting seputar topik talkshow yang akan saya ikuti pada siang hari. Saya berharap, saya dapat berpartisipasi aktif dalam talkshow tersebut dan talkshow tersebut akan menjadi sebuah talkshow yang menarik.

Pada pukul 12.00, setelah segala urusan saya di kampus beres, saya memacu motor saya menuju kampus B Unair melintasi Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Reportase, Share

JUSTICE, FACT OR FICTION?

Pernah nonton “Justice League”? Itu adalah film kartun yang mengisahkan perkumpulan para pahlawan pembela keadilan, versi amerika tentunya. Film tersebut dibuat berdasarkan versi komiknya yang telah muncul sejak tahun 1960. Komik tersebut dibuat oleh Gardner Fox, seorang komikus yang lahir pada 20 Mei 1911 di Brooklyn, New York. Selama beberapa dekade versi komik maupun filmnya telah merambah pasar hiburan di amerika dan beberapa negara lainnya. Selama itu pulalah “Justice League” mendapat sambutan hangat dari rakyat Amerika, terutama dari kalangan remaja dan anak-anak. Buktinya, berbagai macam award telah dimenangkan oleh DC Comic selaku pemegang trademark komik dan film tersebut. Sebut saja Alley Award pada 1961 sebagai penghargaan atas Komik Terbaik, atau Shazam Award pada tahun 1973 sebagai penghargaan atas penggambar terbaik. Nampak jelas, rakyat amerika dan dunia cukup merindukan keadilan alias “Justice” yang kemudian diwujudkan berupa kecintaan mereka terhadap komik-komik yang bertemakan superhero, pembela kebenaran dan keadilan. Namun, pada tulisan kali ini saya sama sekali tidak ingin membahas lebih lanjut mengenai komik ataupun film-film kartun yang bertemakan keadilan. Saya juga tidak ingin membahas mengenai masa kecil saya yang begitu mengidolakan Batman:) Pembahasan di atas hanyalah sedikit pengantar menuju pembicaraan yang lebih penting dan urgent: What is Justice? Apakah keadilan itu?

Sebenarnya banyak hal yang melatarbelakangi saya untuk membahas masalah tersebut. Salah satunya adalah munculnya keraguan ditengah-tengah masyarakat terhadap hukum dan pihak-pihak penegak hukum. Belakangan, masyarakat mulai apatis dan pesimis bahwa keadilan dan kebenaran bisa ditegakkan di Indonesia, bahkan dunia. Betapa tidak, berbagai macam kasus hukum yang muncul ditengah-tengah masyarakat, banyak yang belum terselesaikan hingga hari ini. Sebut saja skandal bank century, kasus cicak-buaya, terbongkarnya mafia pajak Gayus dkk, dan gugatan Anggodo terhadap KPK. Sampai hari ini seluruh kasus tersebut masih mengambang, tidak jelas siapa yang bertanggung jawab, dan tidak jelas pula penyelesaiannya. Di ranah internasional malah lebih parah lagi. Terjadi penyerangan kapal bantuan kemanusiaan untuk Gaza oleh tentara Israel yang kemudian menyebabkan tewasnya puluhan aktivis kemanusiaan dan juga menyebabkan puluhan aktivis lainnya terluka. Sebenarnya siapa yang bersalah dan siapa yang harus dihukum pada peristiwa tersebut sudah sangat jelas dan nyata, Israel. Tidak perlu penyelidikan yang berlarut-larut dan menghabiskan banyak sumber daya. Namun pada faktanya, hingga hari ini Israel tidak menerima sanksi apapun atas perbuatannya tersebut. Bahkan, saat saya menulis tulisan ini, kecaman terhadap Israel yang awalnya begitu santer dilakukan di seluruh dunia, sudah mulai mereda hingga akhirnya lenyap, tertutupi oleh isu-isu yang lain. Inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan di tengah-tengah masyarakat: apakah keadilan itu benar-benar dapat diwujudkan, ataukah sekedar kisah-kisah fiksi yang diciptakan para komikus saja?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut ada baiknya kalau kita terlebih dahulu memperhatikan dengan seksama pendapat atau statement dari para pakar atau praktisi hukum dan peradilan. Bagaimanapun juga, persoalan-persoalan keadilan merupakan core competency pakar atau praktisi peradilan tersebut. Berkaitan dengan hal itu, ada sebuah kisah yang dapat dijadikan patokan. Pada tanggal 7 juni kemarin, saya mendapat undangan untuk menghadiri sebuah kuliah umum di kampus Unair. Kuliah Tjokroaminoto untuk Kebangsaan dan Demokrasi, itulah tittle acaranya. Kuliah umum tersebut diadakan rutin secara berkala oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Kuliah yang kemarin saya ikuti konon merupakan kuliah Tjokroaminoto yang ke 15. Tema yang diangkat saat itu, berdasarkan undangan yang saya terima, adalah Baca lebih lanjut

4 Komentar

Filed under Opini, Reportase, Share

DHF Lagi?

demam nih

Kamis, 18 Maret 2010, pukul 08.30. Saya diantar oleh sahabat saya, Bayu, ke Rumah Sakit Haji Surabaya. Sebuah rumah sakit milik Pemprov Jatim yang jaraknya kurang lebih 1,5 km dari kampus saya, ITS Surabaya. Kedatangan saya ke rumah sakit pagi itu adalah untuk memeriksakan diri saya. Entah mengapa, sejak hari Senin, 15 Maret, saya terus menerus mengalami demam yang “aneh”. Bagaimana tidak aneh, demam yang saya derita hanya muncul pada waktu-waktu tertentu saja.Sesekali pada malam hari demam, eh pagi harinya sudah tidak demam. Sore hari demam, eh ba’da Isya’ sudah tidak demam lagi. Setiap kali demam tersebut muncul, saya merasa lemas dan lelah sehingga yang bisa saya lakukan hanyalah terbaring di tempat tidur. Namun ketika sudah tidak demam lagi, seolah-olah saya sehat kembali dan dapat melakukan berbagai aktifitas. Itulah yang juga membuat saya bingung pada hari Rabu, ketika kuliah saya sangat padat. Saya bingung harus masuk kuliah ataukah istirahat saja? sakit atau tidak ya? Pada akhirnya saya nekat berangkat kuliah juga. Saya sempat mengikuti perkuliahan dari pukul 11.00 hingga pukul 16.30. Setelah kuliah usai ternyata saya demam lagi dan hanya bisa terbaring lemas di tempat tidur kos. Pada malam harinya, sekitar pukul 18.30 saya harus menjemput adik saya ke stasiun Gubeng dan mengantarkan ke kontrakannya di Sutorejo. Anehnya, seketika itu saya tidak demam dan tetap bisa mengendarai motor seperti biasa, seperti orang sehat. Beberapa jam hal tersebut berlanjut. Bahkan saya masih sempat menghadiri rapat selama 2 jam sejak pukul 20.00 hingga pukul 22.00. Nah, setelah rapat itulah saya kembali demam dan lemas sehingga saya memutuskan untuk periksa ke dokter di RS Haji esoknya.

Situasi RS Haji saat itu masih relatif sepi sehingga saya tidak perlu mengantre terlalu lama untuk mendaftarkan diri. Namun kebingungan kembali muncul ketika petugas resepsionis bertanya kepada saya tentang poli yang akan dituju. Saya terdiam sejenak dan berpikir, harus ke poli mana ya? Masalahnya RS Haji tidak memiliki poli umum. Setiap poli yang ada merupakan spesialis penyakit tertentu. Pada saat itu saya bahkan masih belum tahu penyakit apa yang saya derita. Akhirnya setelah menjelaskan beberapa gejala yang saya rasakan, petugas resepsionis menyarankan saya untuk ke poli THT. Yah, barangkali saya sakit radang tenggorokan atau infeksi saluran pernapasan sehingga demam, pikir saya saat itu. Saya dan Bayu bergegas ke poli THT di lantai 2 setelah mendapatkan nomor antrian dari resepsionis.

Setelah mengantre kurang lebih 45 menit, saya mendapat giliran untuk masuk ke ruang pemeriksaan. Di sana telah menanti seorang dokter spesialis dan 2 orang mahasiswa kedokteran yang magang. Saya tidak terlalu memperhatikan dari perguruan tinggi mana mahasiswa-mahasiswa tersebut. Saya hanya fokus untuk menjalani pemeriksaan oleh Dr. Meita, dokter spesialis yang namanya saya ketahui dari kertas resep yang beliau tulis. Ketika Dr. Meita bertanya tentang penyakit saya, saya Baca lebih lanjut

4 Komentar

Filed under Share

Goemon

Sabtu, 21 Nopember 2009. Jam menunjukkan pukul 15.30. Kala itu, saya dan Fajar, teman satu kos saya baru saja tiba di kos setelah mengikuti diskusi aktivis mahasiswa Islam di kampus B Unair. Sembari melepas lelah, kami duduk-duduk di kamar, sesekali leyehan, sambil memutar sebuah film di pc saya. Maka jadilah suasana kamar saya seperti bioskop TransTV :). Film yang kami putar diawali oleh sebuah narasi mengenai situasi Jepang pada tahun 1582. Oda Nobunaga, yang hampir berhasil menyatukan Jepang, dibunuh oleh pengikutnya sendiri, yakni Akechi Mitsuhide. Namun, Akechi sendiri kemudian dibunuh oleh Toyotomi Hideyoshi, pengikut Oda Nobunaga yang lain. Goemon Lagi PoseKemudian Toyotomi menjalankan sebuah pemerintahan diktator dan mengangkat dirinya sebagai pengganti pemerintahan Oda Nobunaga. Dan inilah yang menjadi setting waktu dan tempat bagi film tersebut. Adegan selanjutnya menggambarkan pencurian yang dilakukan oleh seorang shinobi, Ishikawa Goemon, terhadap harta milik seorang bangsawan, Kinokuniya Bunzaemon. Shinobi inilah yang kemudian dijadikan tokoh utama, sekaligus dijadikan judul film “Goemon”.  Goemon, ketika melakukan aksinya di brankas raksasa milik bangsawan Bunzaemon, selain menguras habis koin-koin emas dan barang-barang berharga lainnya, juga mencuri sebuah kotak biru tua yang berisi sebuah gulungan kertas. Gulungan kertas tersebut ternyata adalah bukti bahwa Toyotomi Hideyoshi lah yang mendalangi pembunuhan Oda Nobunaga. Dari kotak “pandora” itulah semua kisah dalam film tersebut bermula.

Film tersebut dipenuhi oleh adegan-adegan aksi dari para shinobi dan ninja, yang tentunya digarap dengan menggunakan animasi dan efek komputer. Saya tidak akan mengisahkan dengan detail jalannya film tersebut. Kalau ingin tahu detailnya bagaimana ya silahkan ditonton sendiri :D. Saya hanya akan memberikan beberapa catatan terhadap beberapa bagian dalam film tersebut. Diakui atau tidak, terdapat beberapa adegan yang mungkin terlalu imaginatif, khayal, dan terkadang juga sadis. Namun disamping itu semua, terdapat beberapa bagian yang menarik untuk diikuti karena didalamnya terdapat penggambaran mengenai sejarah manusia itu sendiri. Satu adegan yang paling menarik bagi saya adalah ketika Goemon sudah berhadap-hadapan dengan Toyotomi Hideyoshi, sang diktator, dan bersiap untuk membunuhnya. Mengapa Goemon ingin membunuh Hideyoshi? Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Share

Komentar Tentang IMF

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengeluh lembaga internasional seperti IMF sering salah membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi RI. Kini IMF pun memperbaikinya dari 2,5% menjadi 3-4% pada tahun 2009. (sumber: detik.com 8/6/09)

Komentar:

1) IMF bukan hanya salah dalam membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi melainkan malah menjadi biang kerok segala krisis ekonomi yang terjadi di dunia saat ini.

2) Mengeluh saja tentunya tidak cukup. Harus ada sebuah langkah riil, yakni dengan membuang semua “resep” IMF dan ekonomi Liberalnya karena terbukti telah menyengsarakan rakyat.

3) Saatnya kembali kepada sistem ekonomi yang menyejahterakan rakyat yakni sistem ekonomi Islam!

3 Komentar

Filed under Share

“Tragedi” Jum’at

Jum’at, 14 November 2008. Sejak pagi, saya tidak beranjak sedikitpun dari kos saya, tepatnya di Gebang Kidul Puskesmas no. 14, Sukolilo, Surabaya. Kalaupun keluar dari kos paling hanya untuk mencari sesuap nasi (baca: sarapan) di warung HaLim yang terletak di ujung gang, di seberang jalan utama Gebang Putih. Bukan karena tidak ingin menghirup udara luar atau karena malas, keputusan saya untuk tidak keluyuran lebih karena kondisi kesehatan yang tidak mendukung. Yups, sejak kamis sore saya merasakan badan saya capek semua plus keluarnya ingus dari hidung saya. So disturbing, sangat mengganggu, pikir saya. Waktu sholat, terutama pas ruku’ atau sujud, ingus menetes-netes ke tempat sujud dan ke baju saya. Uff, disgusting, menjijikkan, gak usah terlalu detil ah ceritanya. Hmm, ini adalah flu fase awal! Walaupun bukan mahasiswa kedokteran gigi ataupun kedokteran hewan (gak nyambung!) saya langsung bisa menyimpulkan demikian. Yah, belajar dari pengalaman selama ini. Solusinya, yah banyak-banyak istirahat, banyak makan, plus minum obat, bukan diapet atau kalpanax tentunya. Untunglah si Bayu, teman saya satu kos punya cadangan obat flu dan dia mau memberi saya beberapa tablet. Semoga Allah segera memberi kesembuhan pada saya…gumam saya dalam hati.

Selama di dalam kamar kos-kosan saya hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan. Baca tabloid, install dan uninstall aplikasi di PC saya, tidur-tiduran seperti kebanyakan orang sakit lainnya (kecuali sakit jiwa, malah hyperaktif dan banyak actionnya), baca buku dan ebook Java, coba-coba buat GUI (Graphical User Interface) di netbeans (nah, untuk yang satu ini bikin saya pusing, habisnya saya lupa di mana tempat untuk naruh codingnya!), dan seterusnya sampai baca buku Peraturan Hidup dalam Islam. Dan waktu pun cepat berlalu hingga tanpa sadar sudah jam 11.20, mendekati waktu dhuhur. Ingat, hari ini hari Jum’at, jadi harus berangkat Jum’atan ke masjid, gumam saya. Saya pun segera bersiap, ambil wudhu, pake peci, minyak wanginya…saya gak punya. Biasanya sih minta ke kamar-kamar sebelah, tapi hari itu temen satu kos lagi pada kuliah semua sehingga gak ada yang bisa dimintai minyak wangi. Ya udah deh, berangkat apa adanya, yang penting rapi dan suci dari hadats dan najis! Begitulah yang saya ketahui. Akhirnya siaplah saya untuk berangkat ke masjid Ibrahim, masjid terbesar dan terdekat dari kos saya, jaraknya sekitar 400 meteran dari kos. Ugh, pertama menginjakkan kaki di luar kos, panas begitu menyengat, matahari begitu terik. Belum apa-apa peluh keringat sudah bermancuran eh bercucuran di tubuh saya. Maklum, Surabaya, apalagi ini Surabaya Timur, dekat pesisir pantai. Wah, padahal saya harus jalan kaki untuk ke masjid tadi. Okelah, Bismillah, berangkat…

aya-sophia076Sesampainya di masjid saya mengambil selembar buletin Al-Islam di halaman masjid, menyapa seorang sahabat lama saya (entah namanya siapa saya sudah lupa) dan kemudian langsung masuk ke ruang utama masjid dan mengambil shaf ke 4 dari depan. Belum terlalu ramai, karena memang belum adzan. Yang saya ketahui, masjid ini mengikuti pendapat khalifah Umar RA yaitu mengumandangkan adzan dua kali saat sholat Jum’at. Adzan yang Baca lebih lanjut

4 Komentar

Filed under Reportase, Share

DBD, oh noo!

Alhamdulillah…Sungguh, itulah kata yang sangat tepat untuk mengawali tulisan saya kali ini. Inilah pertamakali-nya saya menerbitkan tulisan setelah sekian lama tidak menulis atau bahkan tidak menerbitkan tulisan atau artikel dalam blog saya. Yah, banyak sekali hambatan dan tantangan yang harus saya hadapi beberapa minggu belakangan ini. Salah satunya adalah penyakit demam berdarah yang menyerang tubuh saya sejak akhir bulan Maret kemarin. Singkat cerita (kalau sempat akan saya ceritakan di artikel lain:p), saya terpaksa menjalani rawat inap di rumah sakit selama hampir 9 hari. Setelah keluar dari rumah sakit, saya masih harus menjalani recovery di rumah saya, di Malang. Namun itu pun tidak bisa lama karena saya harus segera mempersiapkan diri untuk ujian tengah semester (duhh…). Praktis, saya hanya 2 hari saja recovery di rumah. Selanjutnya saya merawat dan merecovery diri sendiri di kos-kosan.

Terlepas dari segala kesulitan tersebut, saya tetep bersyukur karena beberapa hal. Yang pertama adalah karena kesembuhan saya. Terus terang, ketika masuk rumah sakit pertamakali trombosit saya sudah tinggal 42.000 padahal normalnya 150.000! Wah, bersyukur sekali saya tidak terlambat masuk rumah sakit. Telat dikit lagi, mungkin selamanya saya tidak lagi menerbitkan tulisan di blog ini… Hal kedua yang patut disyukuri adalah saya sembuh tepat waktu! Seandainya saya masih belum sembuh pada minggu-minggu awal april, maka bisa dipastikan, semester ini kondisi akademik saya bakalan terpuruk karena minggu-minggu tersebut adalah minggu-minggu ujian tengah semester genap. Benar-benar patut disyukuri karena saya tetap bisa berjuang saat UTS walaupun lumayan belepotan juga. Apa boleh buat, selama sakit hanya bisa tidur saja, gak bisa belajar plus ketinggalan materi kuliah jauuhh… (yups, harus ngejar neeh)

Banyak hikmah yang saya dapatkan selama saya sakit. Rupanya penyakit tersebut telah kembali mengingatkan saya bahwa nikmat kesehatan merupakan sebuah nikmat yang luar biasa. Kesehatan itu sangat mahal dan bisa dikatakan tidak bisa dinilai dengan uang. Untuk pengobatan, seseorang bisa menghabiskan ratusan juta bahkan milyaran. Contoh kecilnya adalah Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Opini, Share

Too Much…

Satu kata untuk mengawali tulisan ini: Astaghfirullaahal’adzim… Melihat kondisi negeri ini, Indonesia, kita patut prihatin dan miris (atau mungkin ada kata-kata lain?) Saya katakan, negeri kita semakin lama semakin tenggelam dalam chaos, kekacauan dalam segala aspek kehidupan. Maksud saya membuat tulisan singkat ini adalah untuk menunjukkan betapa banyak persoalan yang tidak terselesaikan di negeri ini. Marilah kita buat list persoalan-persoalan yang membutuhkan solusi dan pemecahan. Mulai dari KKN yang sudah menjadi ’adat kebiasaan’ di negeri ini (jaksa agung juga korup tuh!), krisis listrik yang mengancam seluruh negeri, kenaikan dan kelangkaan segala jenis BBM di berbagai daerah, kelaparan dan gizi buruk sampai menelan korban jiwa, kemiskinan terus meningkat tajam, hingga isu susu berbakteri sakazakii (kabarnya membahayakan kesehatan balita!). Segala macam krisis tadi masih ditambah dengan bencana alam yang melanda secara bergantian (kalau tidak mau dikatakan simultaneous). Sebut saja gempa di Sumatera beberapa waktu yang lalu, ganasnya ombak yang menyebabkan nelayan tidak bisa melaut, angin puting beliung yang ”jalan-jalan” ke sana kemari, tanah longsor di beberapa daerah, banjir bandang di berbagai daerah dan perkotaan (Bengawan Solo ”nangis” lagi) dan segala bencana lain yang tidak mungkin dapat kita prediksi secara tepat kapan datangnya.

images.jpgPertanyaan terbesarnya adalah: What’s wrong? Apa yang salah dari negeri ini? Apakah karena elit politiknya opportunis? Ataukah karena negeri kita sudah ”ditakdirkan” miskin SDA dan miskin segalanya (yah, udah nasibnya mas….pasrah…)? Atau ada kesalahan sistem di negeri ini? Atau memang Allah SWT murka terhadap penduduk negeri ini (na’udzubillahimindzalik)? Semua jawaban pertanyaan di atas sangatlah bergantung kepada paradigma atau cara pandang yang digunakan oleh seseorang. Lebih ekstrim lagi dapat kita katakan tergantung dari ideologi dan kepemimpinan berpikir seseorang dalam menyikapi berbagai permasalahan di negeri ini. Saya sebagai seorang muslim tentunya memandang segala persoalan tersebut dalam tinjauan Islam. Islam ya’lu wa laa yu’la ’alaih. Islam tinggi (mulia) dan tidak ada yang lebih tinggi daripada Islam! Islam adalah satu-satunya ideologi, agama, yang diridhoi Tuhan Pencipta alam semesta ini, Allah Ta’ala. Sehingga tidak perlu heran, setiap tulisan yang saya buat menyangkut berbagai persoalan negeri ini tidak akan lepas dari point of view yang saya miliki, yaitu Islam! InsyaAllah akan saya tulis secara bertahap tiap minggu, kalo tiap hari ya gak mungkin lah, lihat tulisan saya beberapa waktu yang lalu tentang semester 4. OK, just a preface, hanya pengantar menuju tulisan-tulisan saya berikutnya. Proud to be Muslim!

Tinggalkan komentar

Filed under Share

Semester 4, I’m lovin it?

Mungkin setelah seseorang melihat judul tulisan ini, dia tidak terlalu tertarik untuk meneruskan membaca tulisan saya ini sampai akhir. Lain ceritanya kalau yang membaca itu adalah teman-teman saya satu jurusan, apalagi satu angkatan. Mengapa saya berpikir begitu? Tak lain, karena tulisan ini akan “memproyeksikan” apa yang ada dalam batok kelapa kepala saya mengenai suasana semester 4 perkuliahan saya di Informatika ITS, yang juga ”menyelimuti” teman-teman saya satu angkatan. (Ngomong-ngomong soal “memproyeksikan”, saya jadi inget uang saya yg dipinjem buat sewa proyektor LCD Rp 40.000. Jumlah yang lumayan bwt mahasiswa… Sampai sekarang belum dikembalikan, hiks, hiks) Ok lah, layaknya sebuah tulisan, sudah saatnya nih masuk ke bagian isi, prolognya cukup separagraf ini aja, sekedar buat pancingan. Hehehe…

Perkuliahan semester ini sebenarnya sudah berjalan selama 2 minggu lebih. Dari waktu yang cukup singkat itu saja sudah banyak suka duka yang saya alami bersama teman-teman. Yang paling awal tentu saja pas ”FRS-an”. Ini adalah sebuah istilah yang populer di ITS yang menunjuk pada sebuah aktifitas Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Share