Category Archives: Pemikiran

Akuntabilitas Negara Khilafah: Membungkam Kerancuan Para ‘Penikmat’ Demokrasi

Pilkada serentak 2015 telah usai. Animo pemilih sebenarnya tidak jauh berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Meski memang di beberapa daerah semisal Medan, sebagaimana diberitakan oleh Harian Tempo, jumlah pemilih drop hingga tinggal 25% saja. Namun, praktik demokrasi tetap saja dipertahankan di negeri ini dengan berbagai uslub & ‘kreatifitas’ (baca: segala cara). Pembelanya bukan saja dari kalangan sekuler, namun juga dari sebagian aktifis Islam, sebagian ulama, dan beberapa orang yang selama ini dikenal anti-sekularisme. Buktinya, buletin Al-Islam edisi 783, 22 Shafar 1437 H – 4 Desember 2015 M yang bertajuk “Pepesan Kosong Pilkada Serentak” mendapat banyak tanggapan, positif maupun negatif. Salah satu tulisan yang sering diangkat untuk menanggapinya adalah tulisan yang bertajuk “Khilafah dan Demokrasi.” Tulisan itu sebenarnya sudah dibuat sejak lama (lebih dari 1 tahun yang lalu) oleh DR. Adian Husaini, namun kemudian diangkat dan dipromosikan kembali melalui media sosial sebagai tameng atau upaya serangan balik kepada Hizbut Tahrir yang mengopinikan kerusakan demokrasi dan menyerukan kepada khalayak ramai untuk meninggalkan sistem demokrasi.

Sejauh ini sudah ada bantahan balik terhadap tulisan “Khilafah dan Demokrasi”, semisal tulisan Ali Mustofa Akbar yang berjudul “Demokrasi Berbenturan dengan Khilafah”, juga yang terbaru adalah tulisan Nopriadi Hermani, Ph.D yang berjudul “Tanggapan atas Khilafah dan Demokrasi .” Hanya saja, kedua tanggapan tersebut agak terpengaruh dengan gaya penulisan DR. Adian Husaini yang cenderung tidak fokus. Padahal sebenarnya jika diteliti kembali, core atau inti dari keseluruhan penyampaian DR. Adian Husaini akan nampak pada cuplikan paragraf berikut:

Masalah khilafah juga perlu didudukkan pada tempatnya. Khilafah adalah sistem politik Islam yang unik dan khas. Tentu, agama dan ideologi apa pun, memerlukan dukungan sistem politik untuk eksis atau berkembang. Tetapi, nasib dan eksistensi umat Islam tidak semata-mata bergantung pada khilafah. Kita dijajah Belanda selama ratusan tahun, Islam tetap eksis, dan bahkan, jarang sekali ditemukan kasus pemurtadan umat Islam. Dalam sejarah, khilafah juga pernah menjadi masalah bahkan sumber kerusakan umat, ketika sang khalifah zalim. Dalam sistem khilafah, penguasa/khalifah memiliki otoritas yang sangat besar. Sistem semacam ini memiliki keuntungan: cepat baik jika khalifahnya baik, dan cepat rusak jika khalifahnya rusak. Ini berbeda dengan sistem demokrasi yang membagi-bagi kekuasaan secara luas.

Jadi, ungkapan “masalah umat akan beres jika khilafah berdiri”, juga tidak selalu tepat. Yang lebih penting, menyiapkan orang-orang yang akan memimpin umat Islam. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Entah mengapa Rasulullah saw — setahu saya — tidak banyak (hampir tidak pernah?) mengajak umat Islam untuk mendirikan negara Islam. meskipun negara pasti suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan umat Islam, sebab berbagai aspek hukum dan kehidupan umat terkait dengan negara. Tapi, saya tidak ketemu hadits: “Mari kita dirikan negara, agar kita jaya!” Tentu, bukan berarti negara tidak penting.

Dari cuplikan paragraf tersebut, sangat terasa intensi atau kecenderungan untuk menyepelekan kewajiban dan perjuangan penegakan Khilafah. Bahkan terkesan menyepelekan Khilafah itu sendiri, diiringi dengan tuduhan bahwa Khilafah adalah sistem tirani yang tidak akuntabel. Ini adalah tuduhan yang sembrono juga berbahaya, yang amat disayangkan, muncul dari intelektual muslim yang selama ini lantang menyerukan penolakan terhadap sekularisme.

Parahnya lagi, jika ditelusuri lebih lanjut, tuduhan semisal itu bukanlah sesuatu yang baru. Jauh sebelum itu Lord Acton sejak abad 19 mengatakan: “Power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely” Perkataan yang seolah menjadi ringkasan segenap daya upaya Barat untuk membebaskan diri dari sistem kerajaan tirani yang membelenggu mereka pada abad kegelapan. Maka, semangat inilah yang terus digemborkan oleh Barat hingga saat ini. Semangat yang kemudian juga mereka gunakan untuk mempromosikan citra negatif terhadap konsep Khilafah, yang mereka tuduh sebagai bentuk sistem totalitarian ala fasisme yang tidak mengenal akuntabilitas. George Bush dalam pidato bertajuk “Global War on Terror” tahun 2006 menyatakan: “Khilafah ini merupakan sebuah imperium Islam totaliter yang mencakup seluruh negeri muslim…” Hal ini kemudian disetujui oleh akademisi Muslim sendiri. Abdulwahab El-Affendi dalam bukunya yang berjudul “Who Needs an Islamic State?” menyatakan: “Dengan menempatkan tendensi tetap dalam pemerintahan yang hampir bersifat tirani, maka sangat mungkin merancang pemerintahan yang mencegah penguasa memiliki kebebasan menjadi tiran, sebuah pengaturan yang sukses besar. Maka, walau pun seorang Richard Nixon (mantan Presiden AS) sebenarnya memiliki potensi menjadi tiran seperti Joseph Stalin, ia terhindar dari kekuasaan tiran akibat sistem yang membatasi tendensi despotik yang dimilikinya. Kesalahan umum dalam persepsi Muslim tradisional tentang Khilafah yang adil ialah keyakinan yang keliru bahwa prasyarat pemerintah harus dirancang untuk memilih penguasa yang mendekati kriteria orang suci, padahal orang suci tak memerlukan aturan…

Sungguh, setiap tuduhan di atas adalah tuduhan yang keji terhadap konsep Khilafah. Padahal, Khilafah adalah fardhun wa wa’dun, kewajiban dan janji Allah bagi umat Islam. Bahkan, Rasulullah sejak awal telah menyampaikan, siapa yang layak memimpin dan berkuasa atas umat Islam. Rasulullah bersabda: Dulu Bani Israel dipimpin dan diurus oleh para nabi. Jika para nabi itu telah wafat, mereka digantikan oleh nabi yang baru. Akan tetapi, setelahku tidak ada lagi seorang nabi, dan akan ada khalifah yang banyak. (HR al-Bukhari). Pernyataan Rasul tersebut mengisyaratkan bahwa dalam tugas dan jabatan kenabian tidak akan ada yang menggantikan beliau. Namun, Khalifah lah yang berhak menggantikan beliau dalam tugas dan jabatan sebagai kepala negara, yaitu memimpin dan mengurusi segala urusan masyarakat. Dalam hadits yang lain disebutkan: Hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus sesudahku… (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Al Hakim menshohihkannya). Dari kedua hadis tersebut dapat kita pahami bahwa bentuk pemerintahan yang diwariskan Nabi saw. adalah Khilafah yang oleh para ulama disebut juga “Imamah.” Maka, perkara tiadanya Khalifah ditengah umat saat ini jelas bukan perkara sepele, yang dengan entengnya ditinggalkan begitu saja dan tidak diperjuangkan. Para Ulama Salaf mengetahui hal tersebut, hingga di antara mereka ada yang menganggap kewajiban mengangkat seorang Khalifah adalah kewajiban yang paling agung. Misalnya saja Imam Al-Haytsami, dalam Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah beliau menyatakan: “Ketahuilah, para Sahabat ra. telah berijma’ bahwa mengangkat Imam/khalifah setelah berakhir-nya zaman Nubuwwah adalah wajib. Bahkan mereka menjadikannya sebagai kewajiban terpenting tatkala mereka menyibukkan diri dengan kewajiban tersebut dengan menunda penguburan jenazah Rasulullah saw.” Dengan demikian, tidaklah layak seorang muslim Baca lebih lanjut

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Opini, Pemikiran

Tragedi Mesir adalah Tragedi Kaum Muslimin, Saatnya Melenyapkan Dominasi Negara-Negara Kafir Penjajah atas Mereka

 

انّا للہ و انّا الیہ راجعون  Aksi bengis Militer Mesir selama delapan jam membantai pendukung Presiden Muhammad Mursi mengakibatkan jumlah tewas mencapai lebih dari 600 orang dan korban luka 5000 orang. Ikhwanul Muslimin (IM) menyatakan, korban yang meninggal dunia lebih dari itu, yakni 4500 orang. Jubir IM, El Haddad mengatakan, ribuan orang meninggal setelah pasukan keamanan Mesir memulai operasi pembersihan demonstran pro Presiden Muhammad Mursi yang telah berkemah di jalan-jalan Kairo sejak presiden Mesir Muhammad Mursi digulingkan oleh rezim militer bulan lalu. “Jumlah total korban yang meninggal mencapai lebih dari 4.500 sampai sekarang. Hingga saat ini masih dilakukan penghitungan & identifikasi terus menerus yang berlangsung di 3 masjid, 3 rumah sakit, dan 2 rumah jenazah,” kata Gehad El-Haddad Kamis (15/8), sekitar pukul 13.00 WIB melalui akun Twitter. Menurut El-Haddad pembantaian demonstran dilakukan militer Mesir tidak hanya dengan peluru. Aparat keamanan setempat juga membakar perkemahan-perkemahan para demostran sehingga tak sedikit mereka yang terbakar dan meninggal. Bahkan, Masjid Rabiah al-Adawiya, rumah Allah yang digunakan oleh para pendukung Mursi sebagai basis perjuangan mereka di Kairo timur telah dibakar oleh militer Mesir. Pembakaran terjadi ketika sedang pembantaian terhadap massa pro Mursi. Mushaf Al Qur’an yang ada dalam masjid pun tidak luput dari aksi pembakaran keji yang dilakukan oleh aparat keamanan Mesir.  Na’udzubillahi min dzalik!

Semua orang yang melihat & mendengar tahu pasti bahwa AS lah yang berada dibalik pembantaian ini. Ketika terjadi kudeta pada bulan Juli yang lalu, diumumkan adanya pertemuan presiden Amerika, Obama, dengan penasehat seniornya di Gedung Putih terkait apa yang terjadi di Mesir. Setelah itu Obama mengatakan: “Angkatan bersenjata Mesir harus bergerak cepat dan bertanggungjawab untuk mengembalikan kekuasaan secara penuh kepada pemerintahan sipil secepat mungkin” (Reuters, 3/7/2013). Obama tidak mengecam kudeta, bahkan ia tidak menyebutnya kudeta militer. Hal itu menunjukkan bahwa Amerika setuju terhadap kudeta dan pelengseran Mursi beserta pemerintahannya. Bahkan pemerintah Amerika secara gamblang mengatakan: “Mursi tidak mendengar suara-suara rakyat atau memenuhinya” (Reuters, 3/7/2013). Hal itu sama persis dengan yang dikatakan oleh panglima militer Mesir Fatah Al Sisi bahwa “Presiden Muhammad Mursi tidak memenuhi tuntutan rakyat”. Sudah diketahui bawa komando militer Mesir taat di tangan Amerika. Mayoritas bantuan Amerika yang mencapai sekitar 1,5 miliar dolar pertahun diberikan kepada militer. Maka, satu-satunya musuh bagi kaum muslimin adalah kafir penjajah yang saat ini masih d pimpin oleh adidaya AS. Realitas ini sudah sangat jelas bagaikan matahari disiang bolong.

Darah kaum muslimin yang tertumpah di mesir setetes pun tidak boleh diremehkan & disia-siakan. Bagi gerakan mana pun yang lahir dari rahim umat, sudah saatnya mendorong umat bergerak memberikan pukulan balik yang mematikan bagi penjajah kafir & setiap antek mereka semisal Fatah Al Sisi. Untuk melakukannya, Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Opini, Pemikiran

Catatan Ringan Kebangkitan

 

“Thoughts, in any nation, are the greatest fortune the nation gains in her life if the nation is newly born; and they are the greatest gift that any generation can receive from the preceding generation, provided the nation is deep-rooted in the enlightened thought.”

(The Economic System In Islam, Taqiuddin an-Nabhani)

 

Segala keterpurukan yang terjadi di negeri ini telah mendorong anak bangsa untuk berpikir tentang kebangkitan. Tidak perlu lah kita sebutkan satu per satu keterpurukan macam apa yang melanda negeri tercinta ini. Bikin muak saja. Dahlan Iskan menyebutkan hal yang kurang lebih sama ketika berbicara di hadapan 1600-an peserta Public Figure on Talk alias Pifot tanggal 5 Mei. Dalam agenda yang diselenggarakan departemen hublu BEM ITS itu Sang Menteri berusaha menebar optimisme. Katanya, optimisme rakyat Indonesia saat ini miris. Tayangan televisi cenderung memberitakan hal-hal yang membuat orang bersikap pesimis. Seolah-olah Indonesia akan hancur minggu depan. Tokoh yang dikenal dengan gerakan “Manufacturing Hope” tersebut membeberkan salah satu fakta yang jarang diungkap televisi. Kapitalisasi ekonomi Indonesia saat ini telah mencapai 800 milyar dolar, mengalahkan Belanda yang hanya 700 milyar dolar. Seharusnya Indonesia sudah menggelar pesta besar-besaran! Sang Menteri mengaku hanya dialah yang selama ini selalu membicarakan hal itu dimana-mana untuk menularkan optimisme. Dengan penuh semangat Dahlan menyebutkan bahwa dua tahun lagi, ekonomi Indonesia dapat mengalahkan Spanyol. Riuh applause sontak mewarnai hall Robotika siang itu. Ribuan peserta mulai dari mahasiswa, dosen, profesional, birokrat, guru besar, pejabat, hingga kiai terpukau oleh stand up show Sang Menteri. Sesuai titel acara, ”Menuju Indonesia Bersinar” semua  peserta siap untuk bangkit dengan optimisme! Inilah potret sebuah upaya anak-anak bangsa untuk meraih kebangkitan.

Berbicara kebangkitan, memang nampak lebih menyenangkan ketimbang berbicara keterpurukan atau buruknya penguasa dalam melayani rakyat. Berbicara kebangkitan lebih memunculkan optimisme dan gairah, berbuat sesuatu demi kemajuan negeri ini. Anak-anak bangsa pun tertantang untuk memunculkan kebangkitan. Yang kuliah di kampus teknologi, akan berusaha menciptakan teknologi-teknologi baru yang canggih, yang mampu menjadikan bangsa ini berjaya di dunia internasional. Memenangkan Kontes Robot, Shell Eco Marathon, Physics and Mathematics Olimpiade, dan kompetisi-kompetisi bergengsi lainnya diyakini akan mengharumkan nama bangsa. Penciptaan mobil surya, alat penghemat energi, bahan bakar dari urine, bioenergy, dan banyak lagi diyakini juga mendorong kebangkitan. Oh ya, tentu saja diperlukan jargon-jargon penuh semangat yang mampu mendorong untuk terus maju. Yang sudah disebutkan di atas adalah semboyan Dahlan Iskan, ”Manufacturing Hope” (entah apa beliau ingat kalau Jawa Pos dan JTV juga menampilkan kisah-kisah melodrama yang mengerikan, seolah-olah negeri ini mau hancur besok saja, anak bunuh ayah lah, suami bunuh istri lah, ibu ajak semua anak bunuh diri lah, na’udzubillah!) . Ada juga semboyan BEM ITS Transformation, “Indonesia Bersinar 2012”, atau yang dari ESQ, ”Indonesia Emas 2020”. Dari parpol MetroTV, “Restorasi Indonesia”. Mendikbud gak mau kalah, “Generasi Unas, eh, Generasi Emas 2045”. Itu masih belum semua, banyak lagi yang lainnya.

Baca lebih lanjut

7 Komentar

Filed under Opini, Pemikiran

Bendera Kita (yang) Mana, Kawan?

When I get older, I will be stronger,

They’ll call me freedom, just like a Waving Flag,

And then it goes back, and then it goes back,

And then it goes back, And then it goes…

 

Pernah dengar cuplikan lirik tersebut? Lirik tersebut sering diperdengarkan saat hingar bingar piala dunia 2010. Sudah berlalu cukup lama memang, namun tidak ada salahnya kita sedikit melirik ke belakang. Bait syair itu sebenarnya adalah chorus sebuah lagu berjudul “Wavin’ Flag” yang kemudian digubah dan dipopulerkan oleh coca-cola sebagai salah satu sponsor piala dunia di Afrika Selatan. Bendera. Hanya selembar kain yang dikibarkan, namun penuh dengan makna. Kalau tidak percaya, cobalah untuk mengibarkan bendera berwarna putih dengan logo palang alias cross berwarna hitam sambil mengendarai motor ketika berangkat kuliah menyusuri jalan protokol. Pasti kita akan jadi pusat perhatian, setidaknya para pengendara yang lain akan memberi jalan, dikira ada rombongan pembawa jenazah. Atau cobalah untuk meletakkan bendera berwarna merah dan putih di atas paving jalanan kampus sehingga terlindas oleh setiap kendaraan yang lewat. Yakinlah, akan ada orang yang menyelamatkan bendera tersebut. Kalau orang-orang tahu pelakunya adalah kita, bisa jadi kita akan dihajar ramai-ramai. Syukurlah kalau orang-orang tadi tidak mengikat kita di tengah jalanan untuk menggantikan posisi bendera yang tadinya tergeletak dan terinjak-injak di sana. Meski hanya selembar kain dengan warna dan corak tertentu, namun bendera mampu berbicara untuk menunjukkan sebuah makna.

Kembali pada bait syair di awal tulisan ini. ”Wavin’ Flag”, sesuai dengan temanya, memang banyak meyoroti bendera kebangsaan yang dikibarkan oleh ribuan suporter selama pertandingan sepakbola. Dalam bait yang lain, sang penulis sekaligus penyanyi lagu tersebut, K’Naan, menegaskan:

Celebration its around us, every nations, all around us

Singing forever young, singing songs underneath that sun

Lets rejoice in the beautiful game.

 

Ketika sebuah pertandingan berlangsung, ribuan suporter hadir untuk mendukung tim nasionalnya masing-masing. Mereka mengibarkan bendera kebangsaan bersama-sama, menyanyikan lagu kebangsaannya dengan penuh bangga, bahkan ada pula yang rela melumuri tubuhnya dengan cat bercorak bendera. Meski Lionel Messi begitu berperan terhadap produktifitas Barcelona, namun suporter Spanyol tentu tidak akan mengibarkan bendera Argentina, apalagi menyanyikan lagu bersama para suporter Argentina ketika tim nasional negaranya berhadapan dengan Argentina. Sebaliknya, suporter Portugal juga tidak akan mengibarkan bendera apalagi mengecat tubuhnya dengan corak bendera Spanyol meskipun Christiano Ronaldo yang termasyur dengan julukan CR7 menggantungkan mata pencahariannya di Los Galacticos yang notabene merupakan klub ibukota Spanyol. Sungguh, saat-saat seperti itu adalah suatu saat dimana kebangsaan adalah segalanya dan bendera yang berwarna-warni itu dikibarkan untuk –lebih dari sekedar—menggambarkan kebanggaan, juga spirit suatu bangsa. Meski kota Bloemfontain terletak di benua afrika yang paling ujung, suporter Jepang rela untuk hadir di Vodacom Park, mengibarkan bendera hinomaru untuk mendukung tim nasionalnya bertanding melawan tim Kamerun. Bendera yang dulu juga pernah dikibarkan tahun 40-an ketika Jepang memaksakan romusha di Jawa dan menyerang pangkalan Pearl Harbour dibawah pimpinan Chuichi Nagumo.

Suasana yang sama juga dapat kita temui dalam Sea Games ke 26 di Palembang sepanjang november kemarin, khususnya pada even sepakbola yang dimainkan di atas lapangan yang luas dengan jumlah suporter terbesar bila dibandingkan dengan olahraga yang lain. Puluhan ribu orang rela berdesakan, mengantri selama berjam-jam demi menonton pertandingan final sepakbola Sea Games di Gelora Bung Karno. Mereka yang mengantri itu (barangkali termasuk beberapa orang di antara kita) sebenarnya harus menanggung resiko luka-luka bahkan meregang nyawa karena dorong-mendorong atau injak-menginjak untuk berebut masuk stadion. Reno Alvino, baru berusia 21 tahun, menghembuskan napas terakhirnya setelah berdesak-desakan dengan para suporter lain sebelum pertandingan. Sedangkan puluhan suporter ada yang pingsan, juga luka-luka. Innalillaahi wa inna ilaihi roji’uun. Toh, semua aktifitas itu tetap dilakukan dengan penuh keikhlasan oleh ribuan suporter yang lain demi memenuhi gelora kebangsaan yang menggelegak dalam jiwa mereka. Wajar kalau gelora itu begitu dahsyat, lawan timnas Indonesia di partai final saat itu bukan lawan sembarangan, Malaysia bung! Sudah berapa kali Malaysia memprovokasi dan menginjak-injak harga diri bangsa ini? Di mata banyak orang, dosa Malingsia (sebutan yang disematkan kepada negeri Jiran oleh sebagian anak bangsa) nampaknya sudah tak terhitung, tak terampuni. Nah, inilah salah satu kesempatan bagi masyarakat untuk membalas perlakuan yang menyakitkan dari tetangga yang usil dalam pandangan mereka. Puluhan bahkan ratusan ribu orang memerahkan-putihkan stadion yang telah berusia 49 tahun itu. Bukan hanya di dalam, mereka juga rela berdesakan di luar stadion demi menunjukkan dukungan meski hanya di temani televisi kecil. Bendera? Tak perlu ditanya. Ribuan bendera yang warnanya seragam merah-putih dengan berbagai ukuran mulai dari 10×15 sampai 600×900, terus saja dikibarkan sepanjang pertandingan oleh para suporter. Mereka tak kenal lelah. Timnas hampir menang, meski akhirnya kalah.

Baca lebih lanjut

3 Komentar

Filed under Opini, Pemikiran

MENEPIS OPINI-OPINI NEGATIF SEPUTAR KHILAFAH

Oleh M. Shiddiq Al-Jawi


Pengantar

Umat Islam pada masa sekarang sesungguhnya tidak pernah mengalami kehidupan di bawah Khilafah (negara Islam) sejak kehancurannya tahun 1924 di Turki (Mughni, 1997: 149). Pasca tragedi itu, praktis generasi umat Islam selanjutnya lahir dan hidup di bawah hegemoni sistem pemerintahan demokrasi ala Barat. Karena itu, ketika berbicara tentang sistem pemerintahan, mereka tidak akan mampu membayangkannya kecuali berdasarkan standar-standar sistem demokrasi yang dipaksakan penjajah. Ini diperparah lagi dengan bercokolnya peradaban Barat (al-hadhârah al-gharbiyyah)—yang berpangkal pada ide sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan)—di Dunia Islam yang telah merasuki segala sendi dan aspek kehidupan (An-Nabhani, 1994: 9).

Dalam kondisi seperti inilah, dapat dipahami mengapa lalu muncul opini-opini negatif seputar ide Khilafah. Misalnya, Khilafah sudah tidak relevan lagi untuk masa sekarang; Khilafah harus ditolak karena hanya menimbulkan konflik, perpecahan, bencana dan kemerosotan bagi umat; dan seterusnya. Opini-opini negatif itu lahir tentu bukan karena ide Khilafah itu batil dalam pandangan Islam, melainkan karena ia bertentangan dengan realitas sistem demokrasi yang ada, atau tidak sesuai dengan pola pikir sekularistik yang mengharuskan pemisahan agama dari politik.

Tulisan ini bermaksud menampilkan berbagai opini negatif tersebut, sekaligus mencermati dan mengkritisinya agar umat memahami bahwa opini-opini itu sesungguhnya adalah palsu dan harus ditolak.               

Opini Negatif dan Jawabannya

Banyak sekali opini negatif tentang Khilafah, baik dari kalangan orientalis maupun intelektual Muslim dari luar dan dalam negeri. Para orientalis biasanya gemar melukiskan bahwa Khilafah itu Baca lebih lanjut

Tinggalkan komentar

Filed under Opini, Pemikiran

Bahaya Partai Terbuka

Gelombang sekularisasi yang dahsyat membuat partai-partai politik yang menisbatkan dirinya sebagai partai politik Islam seolah tak punya pilihan. Alih-alih mempertahankan identitasnya sebagai partai pengusung ideologi Islam, malah kian menjauhinya. Sedikit demi sedikit identitas itu tergerus. Baju Islam yang dikenakan selama ini dianggap sudah sesak. Eksklusivitas dianggap sebagai penghalang dalam pergaulan politik. Butuh baju baru yang dianggap longgar. Baju lama pun ditinggalkan. Sikap partai politik Islam ini semakin nampak jelas menjelang Pileg dan Pilpres pada 2009 yang lalu. Para aktifis partai yang sebelumnya getol menampakkan ke-Islaman kemudian mengatakan “Islam adalah masa lalu” atau “tidak sepatutnya di masa modern ini bicara syariah, tapi bicara yang lebih konkret”. Lebih parah lagi, syariah Islam kemudian dianggap sebagai komoditas politik yang tidak laku.

Ujung-ujungnya, ketika pilpres berlangsung, partai-partai politik yang menisbatkan dirinya sebagai partai politik Islam ini dengan rela hati berkoalisi dengan partai-partai sekular yang dulu dianggap sebagai rivalnya. Bahkan setelah capres dan cawapres yang mereka usung terpilih, mereka memutuskan untuk menjadi backbone yang mendukung dan melindungi pemerintahan. Sebagai imbalannya, partai-partai tersebut mendapatkan kedudukan dan berbagai macam jabatan di pemerintahan. Mereka sangat menikmati kondisi ini.

Sorotan pun tak terhindarkan. Banyak kalangan mendorong agar partai-partai tersebut melepaskan diri dari ideologi yang berusaha diembannya, yakni Islam. Salah satu penyebabnya adalah Baca lebih lanjut

7 Komentar

Filed under Opini, Pemikiran

Mahasiswa, Mau ke Mana?

bentrok mahasiswa

19 Juni 2010. Harian Tribun Timur memuat sebuah berita yang memprihatinkan. Dodo Risaldi (20), mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (UNM) yang dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Bhayangkara, Jl Mappaodang Makassar akibat luka tebasan senjata tajam akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Luka tersebut didapatnya ketika terjadi aksi tawuran antara mahasiswa Teknik dengan mahasiswa jurusan Seni dan Desain beberapa hari lalu. Meninggalnya Dodo tentunya semakin memperpanjang daftar korban tewas akibat tawuran mahasiswa. Sebelumnya pada bulan maret, seorang mahasiswa di Kupang juga tewas akibat tawuran. Sebagaimana yang diberitakan oleh tempointeraktif.com (16 Maret 2010), mahasiswa yang tewas tersebut terluka parah akibat terkena panah sehingga nyawanya tidak terselamatkan. Jauh hari sebelumnya, pada 6 November 2008, nasional.kompas.com juga memuat berita yang serupa. Tawuran mahasiswa yang terjadi di dalam kampus UMI Makassar telah mengakibatkan jatuhnya korban. Seorang mahasiswa teknik elektro bernama Fajar dikabarkan tewas setelah mengalami tebasan cukup parah di bagian leher.

Jumlah korban tewas yang disebutkan tadi hanyalah segelintir dari jumlah korban secara keseluruhan. Belum termasuk korban luka, ringan ataupun parah, yang tidak pernah dapat dipastikan jumlahnya. Salah seorang alumni sebuah perguruan tinggi di Makassar pernah mengungkapkannya di kolom opini sosbud.kompasiana.com. Dia menyebutkan bahwa jumlah korban terluka, biasanya yang tercatat hanya yang sempat dirawat di Rumah Sakit Wahidin (RS dekat kampusnya), padahal jumlahnya bisa lebih dari itu karena tidak semua korban memilih ke RS, sebagian cukup dirawat oleh teman dengan obat seadanya.  Beberapa tahun belakangan, kasus tawuran yang melibatkan mahasiswa semakin meningkat.  Media Indonesia edisi 6 November 2008 mencatat, setidaknya di Makassar saja pada tahun tersebut telah terjadi 15 kali tawuran antar-mahasiswa. Belum lagi yang terjadi diluar Makassar, tentu akan lebih banyak lagi.

Tawuran hanyalah sedikit dari sekian banyak permasalahan yang menimpa dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Masalah-masalah lainnya seperti mahalnya biaya pendidikan, plagiarisme dengan menjiplak karya orang lain, demonstrasi yang berujung bentrok/kerusuhan, ataupun meningkatnya seks bebas di kalangan mahasiswa, senantiasa mewarnai ruang kehidupan kita. Masalah-masalah tersebut tak ayal mempengaruhi cara pandang masyarakat, juga birokrat terhadap aktifitas mahasiswa. Misalkan saja, Baca lebih lanjut

2 Komentar

Filed under Opini, Pemikiran

Islamophobia di Kampus

Ketakutan akan Islam“Saat ini berkembang opini di tengah masyarakat untuk menjadikan syariah Islam sebagai solusi atas segala permasalahan yang ada. Bagaimana pendapat kedua calon mengenai hal tersebut? Apakah setuju atau tidak?” Demikianlah pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu mahasiswa yang hadir pada kampanye Capres BEM ITS 2010-2011. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab dengan sebuah ketidaksetujuan oleh calon nomor 1. Secara terang-terangan calon tersebut menyatakan merasa tersinggung dengan pertanyaan yang diajukan. Namun ketika tiba giliran calon nomor 2 untuk menjawab, moderator menyatakan untuk memotong pertanyaan dan membatalkan giliran bagi calon tersebut. Moderator dan KPU menganggap pertanyaan tersebut tidak sesuai dengan kriteria-kriteria pertanyaan yang diperbolehkan. Salah satu kriteria yang dilanggar menurut mereka adalah pertanyaan yang diajukan tidak boleh berbau SARA. Pertanyaan tersebut dianggap berbau SARA karena menyebutkan kata “syariah Islam” didalamnya. Si penanya kemudian melakukan crosscheck dengan mempertanyakan batasan “berbau SARA” yang tidak jelas, namun tidak lagi ditanggapi baik oleh moderator maupun kedua calon.

Itulah sekelumit fakta mengenai kondisi mahasiswa ITS saat ini. Ketika ada sedikit saja penyebutan kata “syariah Islam” atau kata-kata lain yang berkaitan dengan Islam, maka akan langsung dibungkam dan bahkan dihujat dengan berbagai alasan. Salah satu alasan, sebagaimana yang telah disebutkan di atas adalah karena “berbau SARA”. Kalau kita cermati, alasan tersebut sebenarnya bukanlah alasan yang konsisten. Mengucapkan syariah Islam di tengah-tengah khalayak ramai yang terdiri dari berbagai macam suku dan agama dianggap “berbau SARA” karena tidak dapat dimengerti oleh umat agama lain dan konon akan menyinggung perasaan mereka. Apabila ingin konsisten dengan alasan tersebut, maka ucapan salam “Assalamualaikum” yang biasa diucapkan sebagai opening speech juga bisa dianggap “berbau SARA”. Bahkan penyebutan “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” yang tertera di keputusan dan rekomendasi Mubes III juga bakal dianggap “berbau SARA” karena pada faktanya tidak semua mahasiswa ITS beragama Islam atau Nasrani. Dari sini nampak jelas bahwa alasan “berbau SARA” adalah alasan yang mengada-ada. Terlebih lagi, alasan tersebut bukanlah alasan utama yang mendasari pembungkaman terhadap mahasiswa yang mengopinikan Syariah Islam.

Alasan utama yang menyebabkan itu semua adalah Baca lebih lanjut

9 Komentar

Filed under Opini, Pemikiran

Pluralisme dan Penyesatan Opini

Sejak meninggalnya Gus Dur pada akhir Desember 2009, isu pluralisme kembali marak diperbincangkan. Sejumlah kalangan menganggap, meninggalnya Gus Dur merupakan momen untuk kembali menguatkan pluralisme di Indonesia. Bahkan dalam sebuah kesempatan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjuluki Gus Dur sebagai ‘Bapak Pluralisme’ yang patut menjadi teladan bagi seluruh bangsa (Antara.co.id, 31/12/2009). Mantan ketua MPR Amien Rais pun menilai Gus Dur sebagai ikon pluralisme (Kompas.com, 2/1/2010). Kalangan liberal melalui salah seorang aktivisnya, Zuhairi Misrawi, menyatakan bahwa dalam rangka memberikan penghormatan terhadap Gus Dur sebagaimana yang dilakukan oleh Presiden SBY, akan sangat baik jika MUI mencabut kembali fatwa pengharaman terhadap pluralisme (Detik.com, 30/12/2009).

Di dunia akademis khususnya kampus, hingga tulisan ini dibuat, isu pluralisme masih mendapat tempat dalam berbagai forum. Di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya misalnya, pluralisme sempat dibahas dalam sebuah artikel berjudul “Isu Pluralisme, Pancasila Dipertaruhkan” dan diterbitkan dalam website resmi ITS, http://www.its.ac.id. Tulisan tersebut ditulis oleh Labib Fayumi, seorang jurnalis ITS Online yang kuliah di jurusan Teknik Informatika. Tulisan tersebut diawali dengan sebuah kutipan dari kitab Sutasoma yang salah satu isinya adalah konsep bhinneka tunggal ika. Menurut penulis, konsep pluralisme telah ada jauh sebelum pancasila lahir. Konsep tersebut telah diajarkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia dan harus dilestarikan. Dalam tulisannya, Labib kemudian memaparkan berbagai hal mengenai pluralisme. Dimulai dengan pemaparan bagaimana pluralisme telah menjadi latar belakang kelahiran Pancasila, dan ajakan untuk melestarikan pluralisme di Indonesia. Namun sayangnya tulisan tersebut sama sekali tidak menjernihkan pemikiran masyarakat. Bahkan pada akhirnya tulisan tersebut mengkaburkan pandangan kita tentang pluralisme itu sendiri.

Menjernihkan Bias Makna

Dalam tulisannya, Labib menyebutkan bahwa pluralisme telah ada jauh sebelum Pancasila lahir. Nenek moyang kita Baca lebih lanjut

15 Komentar

Filed under Ilmiah, Opini, Pemikiran

FACEBOOK, Sebuah Perbincangan

Karya Ilmiah tentang Facebook, Jurnal tentang Facebooks …  itulah “wangsit” yang terus saya cari selama beberapa pekan ini. Saya ingin tahu, apakah di Indonesia sudah ada penelitian tentang Facebook.  Saya membutuhkan bahan untuk menyelesaikan karaya ilmiah saya yang berjudul “PEMANFAATAN FACEBOOK SEBAGAI PRODUK TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PERSPEKTIF PERADABAN ISLAM”. Karya ilmiah tersebut rencananya saya ikutkan dalam Musabaqoh Tilawatil Qur’an Mahasiswa tahun ini. Setelah nyuwun pirso ke mbah Google dengan berbagai percobaan kata kunci, eh ternyata saya tidak menemukannya. Saya baru menemukan karya ilmiah atau jurnal tentang Facebook bukan dari “laman” Indonesia, namun dari belahan bumi lain. Kebanyakan berasal dari Amerika. Salah satunya yang langsung saya gunakan sebagai referensi adalah:

Ellison, Nicole, dkk. The Benefits of Facebook ‘‘Friends:’’ Social Capital and College Students’ Use of Online Social Network Sites. Department of Telecommunication, Information Studies, and Media, Michigan State University, Michigan: 2007

Ada beberapa jurnal yang lain yang isinya juga kurang lebih sama dengan jurnal diatas. Kok sama? Lha wong jurnal yang lain juga menjadikan jurnal tersebut sebagai referensinya. Tapi itu tidak akan terjadi pada karya ilmiah yang saya buat. Isi karya ilmiah saya jauh berbeda dengan jurnal-jurnal tersebut. Minimal, karya ilmiah saya pake bahasa Indonesia.hehehe.

Setelah bekerja bermalam-malam, bahkan H-1 sebelum pengumpulan saya nggak tidur untuk menyelesaikan karya ilmiah tersebut, akhirnya karya ilmiah saya selesai tepat waktu. Alhamdulillah…. Langsung saja hari Ahad sore (31 Mei 2009) saya kumpulkan ke Fresa, sahabat saya yang menjadi panitia seleksi tingkat ITS. Berikut cuplikan kata pengantar karya tulis saya:

“Facebook telah menjadi sebuah trend yang mencakup berbagai belahan dunia. Ratusan juta orang telah terdaftar menjadi anggota dari situs jejaring sosial tersebut. Diperkirakan jumlah tersebut akan terus bertambah dan meluas penggunaannya di seluruh dunia.

Namun, muncul beberapa pertanyaan mengenai kebolehan umat Islam menggunakan dan memanfaatkan facebook. Sejumlah kontroversi pun bergulir disana sini. Penulis berharap agar karya tulis ini dapat membantu dan memberikan konsep praktis bagi semua kalangan tentang bagaimana pandangan Islam mengenai pemanfaatan dan penggunaan facebook sebagai suatu produk teknologi informasi agar mampu memberikan kemashlahatan, kejayaan, dan kemakmuran umat Islam sebagaimana yang terjadi pada masa kekhilafahan Islam.”

Ingin tahu lengkapnya? Silakan download disini

NB: Inilah posting pertama saya semenjak blog ini saya rekonstruksi. pembelaislam bangkit lagi! Allahu Akbar!

2 Komentar

Filed under Ilmiah, Pemikiran