Tragedi Mesir adalah Tragedi Kaum Muslimin, Saatnya Melenyapkan Dominasi Negara-Negara Kafir Penjajah atas Mereka

 

انّا للہ و انّا الیہ راجعون  Aksi bengis Militer Mesir selama delapan jam membantai pendukung Presiden Muhammad Mursi mengakibatkan jumlah tewas mencapai lebih dari 600 orang dan korban luka 5000 orang. Ikhwanul Muslimin (IM) menyatakan, korban yang meninggal dunia lebih dari itu, yakni 4500 orang. Jubir IM, El Haddad mengatakan, ribuan orang meninggal setelah pasukan keamanan Mesir memulai operasi pembersihan demonstran pro Presiden Muhammad Mursi yang telah berkemah di jalan-jalan Kairo sejak presiden Mesir Muhammad Mursi digulingkan oleh rezim militer bulan lalu. “Jumlah total korban yang meninggal mencapai lebih dari 4.500 sampai sekarang. Hingga saat ini masih dilakukan penghitungan & identifikasi terus menerus yang berlangsung di 3 masjid, 3 rumah sakit, dan 2 rumah jenazah,” kata Gehad El-Haddad Kamis (15/8), sekitar pukul 13.00 WIB melalui akun Twitter. Menurut El-Haddad pembantaian demonstran dilakukan militer Mesir tidak hanya dengan peluru. Aparat keamanan setempat juga membakar perkemahan-perkemahan para demostran sehingga tak sedikit mereka yang terbakar dan meninggal. Bahkan, Masjid Rabiah al-Adawiya, rumah Allah yang digunakan oleh para pendukung Mursi sebagai basis perjuangan mereka di Kairo timur telah dibakar oleh militer Mesir. Pembakaran terjadi ketika sedang pembantaian terhadap massa pro Mursi. Mushaf Al Qur’an yang ada dalam masjid pun tidak luput dari aksi pembakaran keji yang dilakukan oleh aparat keamanan Mesir.  Na’udzubillahi min dzalik!

Semua orang yang melihat & mendengar tahu pasti bahwa AS lah yang berada dibalik pembantaian ini. Ketika terjadi kudeta pada bulan Juli yang lalu, diumumkan adanya pertemuan presiden Amerika, Obama, dengan penasehat seniornya di Gedung Putih terkait apa yang terjadi di Mesir. Setelah itu Obama mengatakan: “Angkatan bersenjata Mesir harus bergerak cepat dan bertanggungjawab untuk mengembalikan kekuasaan secara penuh kepada pemerintahan sipil secepat mungkin” (Reuters, 3/7/2013). Obama tidak mengecam kudeta, bahkan ia tidak menyebutnya kudeta militer. Hal itu menunjukkan bahwa Amerika setuju terhadap kudeta dan pelengseran Mursi beserta pemerintahannya. Bahkan pemerintah Amerika secara gamblang mengatakan: “Mursi tidak mendengar suara-suara rakyat atau memenuhinya” (Reuters, 3/7/2013). Hal itu sama persis dengan yang dikatakan oleh panglima militer Mesir Fatah Al Sisi bahwa “Presiden Muhammad Mursi tidak memenuhi tuntutan rakyat”. Sudah diketahui bawa komando militer Mesir taat di tangan Amerika. Mayoritas bantuan Amerika yang mencapai sekitar 1,5 miliar dolar pertahun diberikan kepada militer. Maka, satu-satunya musuh bagi kaum muslimin adalah kafir penjajah yang saat ini masih d pimpin oleh adidaya AS. Realitas ini sudah sangat jelas bagaikan matahari disiang bolong.

Darah kaum muslimin yang tertumpah di mesir setetes pun tidak boleh diremehkan & disia-siakan. Bagi gerakan mana pun yang lahir dari rahim umat, sudah saatnya mendorong umat bergerak memberikan pukulan balik yang mematikan bagi penjajah kafir & setiap antek mereka semisal Fatah Al Sisi. Untuk melakukannya, terlebih dahulu wajib dipahami & disadari jebakan-jebakan (traps) yang sengaja disiapkan oleh kafir penjajah dalam menggagalkan upaya setiap gerakan yang berusaha melawan & menghilangkan dominasi mereka atas kaum muslimin. Jebakan-jebakan itu antara lain:

1.      Pemikiran yang merusak Aqidah

Salah satunya adalah demokrasi. Negara-negara kafir penjajah mempropagandakan Arab Spring (الربيع العربي) sebagai transisi menuju demokrasi. Obama menyebutkan dalam pidatonya: “First, it will be the policy of the United States to promote reform across the region, and to support transitions to democracy. That effort begins in Egypt and Tunisia, where the stakes are high –as Tunisia was at the vanguard of this democratic wave…” Sangat mudah membuktikan bahwa demokrasi saat ini merupakan salah satu senjata pemikiran penjajah untuk merusak Aqidah kaum Muslimin,

  • Secara filosofis, demokrasi identik dengan suara mayoritas. Prinsip mayoritas dalam demokrasi sebagai standar dalam menentukan hukum jelas bertentangan secara diametral dengan Islam. Seandainya manusia seluruhnya sepakat untuk menghalalkan riba karena pertimbangan kemaslahatan ekonomi, membolehkan lokalisasi pelacuran agar tidak menyebar luas, atau yang semacamnya, maka kesepakatan tersebut tidak ada nilainya di sisi Allah selain dianggap sebagai dosa. Sebab, setiap manusia wajib terikat dengan hukum-hukum Allah, dan tidak boleh membuat aturan sendiri. Allah Swt. berfirman:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ

“Demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan…” (QS an-Nisa’ [4]: 65)

  • Secara sederhana, demokrasi tegak di atas dua asas, yaitu: (1) kedaulatan di tangan rakyat; (2) rakyat sebagai sumber kekuasaan. Hal ini juga sangat jelas bertentangan dengan Tauhidullah & bisa menjatuhkan seseorang dalam kesyirikan. Dalam Islam, kedaulatan ada di tangan Allah, atau Syariat-Nya. Hanya Allah Yang berdaulat, Yang berhak membuat hukum bagi manusia. Manusia tidak memiliki kewenangan untuk membuat satu hukum pun. Allah telah memberitakan kepada kita tentang ahli kitab. Allah berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ

“Mereka menjadikan rahib-rahib dan pendeta-pendeta mereka sebagai Tuhan selain Allah”.

Ketika Rasulullah SAW ditanya bagaimana mereka menjadikan¬nya sebagai Tuhan-tuhan, beliau menjawab:

»اَحَلُّوْا لَهُمْ الْحَرَامَ وَحَرَّمُوْا عَلَيْهِمُ الْحَلاَلَ فاَطاَعُوْهُمْ«

“Mereka menghalalkan yang diharamkan dan mengharamkan yang dihalalkan kepada mereka, lalu mereka pun mentaatinya”.

Logika mengambil atau memanfaatkan demokrasi sebagai alat perubahan untuk menegakkan Islam & mengusir penjajah perlu ditinjau ulang. Tools (alat-alat) semisal laptop atau handphone tentu tidak bisa disamakan dengan demokrasi yang merupakan sebuah sistem yang mengandung pandangan hidup tertentu, demikian juga sebaliknya. Jelas tidak apple-to-apple. Kalaupun logika itu tetap dipaksakan, berarti kita akan mengambil & memanfaatkan kesyirikan. Ingat, syirik merupakan kedhaliman yang paling besar. Mengambil dan memanfaatkan sistem syirik demokrasi justru akan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendhalimi diri sendiri. Sesungguhnya pertolongan Allah tidak akan hadir kepada orang-orang semacam itu. Berikutnya tentu mustahil untuk menghentikan kebiadaban kafir penjajah jika tidak ada pertolongan dari Allah SWT.

Di samping kesyirikannya, sepanjang sejarahnya, penerapan demokrasi selalu hipokrit alias berwajah ganda. Tidak pernah sekalipun dalam suatu masa demokrasi diterapkan konsisten. Artinya, inkonsistensi & kemunafikan memang merupakan sifat alami yang tidak pernah lepas dari demokrasi. Omong kosong jika ada yang menyatakan demokrasi diterapkan konsisten. 100% tidak akan pernah terjadi karena meski diterapkan sebagai sebuah sistem, demokrasi tidak pernah memiliki model. Kasus kudeta mesir, yang menjadi awal pembantaian biadab, adalah salah satu contoh inkosistensi tersebut. Itu bukan kasus yang pertama kali. Kasus serupa dulu juga menimpa Nicmetin Erbakan di Turki & FIS di Aljazair. Penting untuk ditindaklanjuti, pernyataan Jubir IM Gehad Al Haddad berikut ini: “Alasan ideologis, dimana IM menganggap demokrasi adalah jalan yang benar untuk memerintah, saat ini telah terguncang. Kami sekarang menerima komentar: ‘kami sudah mengatakan pada kalian, demokrasi bukan untuk Kaum Muslimin’”

2.      Pragmatisme Politik

Pragmatisme berpijak pada asas manfaat. Suatu hal dianggap sebagai kebenaran jika membawa kemanfaatan atau keuntungan. Sebaliknya dianggap sebagai kebatilan jika menimbulkan kerugian. Jelas pemahaman yang demikian bertentangan dengan Islam. Islam memandang bahwa standar perbuatan adalah halal dan haram, bukan kemanfaatan atau kegunaan  riil untuk memenuhi kebutuhan manusia yang dihasilkan oleh sebuah ide, ajaran, teori, atau hipotesis. Jebakan pragmatisme ini memang sengaja dipasang oleh negara-negara kafir penjajah, termasuk AS, untuk memandulkan setiap gerakan yang berusaha melawan atau menyingkirkan dominasi mereka dari negeri Islam. Kafir penjajah menanamkan pragmatisme melalui da’i-da’i bayaran atau orang-orang yang tertipu, yang kemudian melabelinya dengan label-label Islam. Sering kita temukan justifikasi kemaslahatan sebagai “dalil syar’i” untuk melakukan suatu perbuatan. Atau sebaliknya, demi menghindari kondisi “darurat” yang merugikan, boleh melakukan hal-hal yang haram.

Pragmatisme semacam ini juga terjadi di mesir sebelum kudeta militer bulan Juli. Pemerintahan Mursi bermaksud mengambil pinjaman ribawi bernilai jutaan dolar dari IMF. Meski belum disetujui oleh IMF, banyak orang yang terjebak untuk mendukungnya karena riba tersebut dianggap “syar’i”. Bahkan partai yang dikenal anti-bid’ah sekalipun terjebak dalam kubangan lumpur bid’ah nan busuk, dengan menyatakan bahwa pinjaman tersebut tidak haram, tidak riba, dan tidak melanggar ketentuan syariat Islam. Sebab hal itu tunduk pada ketentuan syariah, yaitu “fatwa” yang akan berubah disebabkan perubahan waktu dan tempat. Mereka menekankan bahwa jika negara benar-benar dalam kebutuhan yang mendesak pada pinjaman Dana Moneter Internasional (IMF), maka tidak mengapa mendapatkan pinjaman darinya untuk keluar dari krisis saat ini. Mereka juga mengungkapkan bahwa dengan mendapatkan pinjaman akan membuka jalan bagi Mesir untuk memperoleh investasi Teluk senilai 6 miliar dolar dari negara-negara “Bahrain, Arab Saudi dan Qatar”, di mana negara-negara ini yang akan menjaminnya ketika Mesir telah memperoleh kepercayaan terkait perekonomiannya. Itulah yang akan terjadi dengan mendapatkan pinjaman. انّا للہ و انّا الیہ راجعون.

Meski telah nyata begitu besar riba pada bunga pinjaman IMF, keharaman riba & begitu beratnya dosa riba, pragmatisme mendorong umat berusaha mengambilnya dengan alasan kemaslahatan untuk menghindari situasi “darurat”. Padahal situasi itu sebenarnya tidak pernah terjadi. Betapa Allah SWT telah menganugerahi umat Islam dengan potensi dan kekayaan yang tak terhitung, mulai kekayaan minyak sampai gas. Kekayaan negeri-negeri Islam banyak sekali sampai sulit dihitung dalam keterangan pers bahkan di dalam buku sekalipun. Namun, jebakan pragmatisme yang ditanamkan oleh penjajah berhasil membuat umat ragu & menjauh dari ketundukan kepada Allah SWT, menjadikan mereka kufur ni’mat, selangkah lagi mengalihkan ketergantungan mereka kepada lintah darat internasional IMF. Dalam kasus Mesir, gas yang begitu melimpah justru diberikan kepada entitas Yahudi Israel sebagai sumber energi mereka dalam membantai muslim Palestina dan itu semua terjadi tanpa ada keberatan dan rasa bersalah!

Akibat jebakan pragmatisme pula, gerakan-gerakan yang ada menjadikan Islam dan pemerintahan Islam di belakang punggungnya. Mereka terus disibukkan untuk menampakkan pengayoman terhadap kepentingan semua orang. Dimulai dari mengganti slogan “Islam adalah solusi”, dilanjutkan dengan persetujuan dan terhadap sistem republik dan seruan penegakkan pemerintahan sekuler sipil demokratis, hingga berusaha menyenangkan AS dengan menyetujui perjanjian Camp David yang menyia-nyiakan Palestina. Pada akhirnya, AS lah yang justru mendukung militer melakukan kudeta, dibantu oleh barisan “tamarrud”. AS pula lah yang mendalangi pembantaian keji di Rab’ah Al Adawiyah & tempat-tempat lainnya. Benarlah, siapa saja yang menyenangkan manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia dan perkaranya justru akan kacau dan memperburuk hubungannya dengan manusia. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:

« مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ وَكَلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ وَمَنْ أَسْخَطَ النَّاسَ بِرِضَا اللهِ كَفَاهُ اللهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ »

“Siapa saja yang mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah maka Allah menyerahkannya kepada manusia dan siapa saja yang membuat manusia marah dengan keridhaan Allah maka Allah mencukupkannya dari bantuan manusia” (HR at-Tirmidzi dan Abu Nu’aim di al-Hilyah dari Aisyah ra).

3.      Ikatan-Ikatan Bathil

Dalam buku-buku sejarah kelas 6 Sekolah Dasar, sering disebutkan, salah satu strategi Belanda dalam meredam perlawanan para pejuang adalah devide et impera (politik pecah-belah). Memang benar, itulah strategi yang selalu dilakukan oleh negara-negara penjajah dalam melanggengkan dominasinya. Penjajah berusaha mengadu domba atau setidaknya menciptakan gap (jarak) antar komponen masyarakat negeri yang dijajah sehingga menyulitkan mereka dalam melawan dominasi penjajah. Kalau pun ada perlawanan, akan sangat mudah dilokalisasi, kemudian dipadamkan. Dalam buku Api Sejarah disebutkan, Belanda mempartisi masyarakat dalam berbagai ikatan kesukuan. Orang-orang Arab & China dipisahkan dari penduduk pribumi. Mereka diberi keistimewaan sebagai vremdee osterlingen, warga kelas atas yang memiliki hak-hak yang tidak diberikan kepada penduduk pribumi, semisal hak untuk mendapat pendidikan dan mengelola perekonomian di pasar. Pemukiman mereka pun diatur begitu rupa sehingga terpisah dengan pribumi. Bahkan jejaknya hingga detik ini masih bisa kita saksikan dengan keberadaan kampung arab atau pecinan (kampung cina) di berbagai kota.

Pada masa sekarang, kafir penjajah AS pun menerapkan strategi yang sama terhadap kaum muslimin. Mereka memulainya dengan menanamkan ikatan-ikatan yang rusak melalui pendidikan, media, atau teknik-teknik lain. Kekuatan ikatan ideologi Islam yang bersifat global, mulanya dipecah-pecah dengan hembusan sentimen nasionalisme. Ikatan itu menjadikan kaum muslimin cenderung tidak memperdulikan nasib kaum muslimin yang lain. Terbunuhnya seorang muslim di Mesir, semata dilihat dari sisi bahwa dia rakyat Mesir, sedangkan kita rakyat Indonesia. Maka yang harus dikhawatirkan pertama kali adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang kebetulan berada di Mesir, entah untuk sekolah atau bekerja. WNI nonmuslim sekalipun akan selalu mendapatkan perhatian lebih, lebih dikhawatirkan ketimbang nasib ribuan muslim Mesir yang dibantai. Salah satu tanda sederhana jebakan ‘ashobiyah nasionalisme ala penjajah telah menguasai individu & masyarakat di suatu negeri bisa dilihat dari sejauh mana respon mereka setiap kali melihat atau mendengar berita terbunuhnya muslim di negeri yang lain. Di Indonesia, banyak orang tidak merasa risau sedikit pun akan terbunuhnya muslim di Palestina, Suriah, Rohingya, Mesir, Somalia, atau pun negeri-negeri lain. Mereka lupa bahwa setiap muslim bersaudara. Mereka dipalingkan oleh penjajah sehingga menganggap terbunuhnya muslim di negeri lain bukan persoalan penting! Padahal ini adalah perkara yang sangat besar & penting. Rasulullah bersabda:

«لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنٌ عِنْدَ اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلِ مُسْلِمِ»

“Niscaya hilangnya dunia lebih ringan di sisi Allah ketimbang terbunuhnya seorang Muslim.”

Selain nasionalisme, negara-negara kafir penjajah juga kerapkali menghembuskan persatuan berdasarkan kepentingan untuk memecah-belah kaum muslimin. Sebelum terjadinya kudeta di mesir, negara-negara barat & AS memprovokasi partai-partai liberal, kelompok kristen, partai komunis, & sebagian kaum muslimin yang kecewa terhadap pemerintahan Mursi untuk bersatu di atas satu kepentingan, yakni menumbangkan Mursi. Dimunculkanlah gerakan “tamarud” (تمرد‎ ) yang berarti “pembangkangan”, membangkang terhadap pemerintahan Mursi. Semakin luas & besarnya gelombang “tamarud” memancing kemunculan gerakan “tajarrud” (تجرّد) yang berarti “kesetiaan”. Gerakan tersebut bersumpah akan setia membela Mursi bahkan dengan darah & nyawa mereka. Maka seolah-olah rakyat Mesir pun terbelah menjadi dua barisan yang saling bermusuhan. Kondisi ini diperparah dengan media-media yang terus-menerus memprovokasi umat untuk bergabung dalam barisan-barisan tersebut. Kalau anda bukan “tajarrud”, maka anda adalah “tamarud”. Begitulah logika media-media mesir, yang mana negara kafir imperialis berada dibelakangnya.

Sengaja atau tidak, masyarakat telah dimobilisasi dengan mengatasnamakan Islam untuk mendukung Presiden sehingga seolah-olah pertempuran untuk membela Islam dalam menghadapi kekufuran. Padahal kenyataannya adalah mempertahankan sistem kufur yang diterapkan oleh Presiden untuk menghadapi sistem kufur yang akan diterapkan oleh Presiden yang lain, dan bukan untuk Islam! Di sisi lain, pendukung “tamarud”, yang bangkit melakukan penolakan terhadap presiden setelah kegagalannya untuk memecahkan masalah negara, beberapa dari mereka ikut-ikutan karena kebodohan di balik tujuan mereka yang ingin menempelkan kegagalan palsu dan dusta ini pada Islam. Mereka berupaya untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari proyek Islam yang hakiki, serta tuntutan penerapannya secara penuh di semua urusan kehidupan. Sebenarnya, tidak ada sesuatu apa pun selain keserakahan yang mendalam pada kekuasaan, dimana karenanya menetes air liur mereka. Inilah rumusan yang diperjuangkan oposisi “tamarud” sampai nafas terakhirnya. Mereka tidak memiliki proyek apapun untuk sebuah perubahan yang hakiki. Mereka tidak memiliki kepedulian selain pembagian kekuasaan atau sendirian menguasai kekuasaan, untuk terus berputar dalam lingkaran setan! Seandainya mereka mau berpikir sedikit, niscaya mereka menyadari bahwa sumber bencana dan penyakit ada di dalam jantung sistem republik sekuler yang diterapkan, yang jauh dari aqidah Islam dan peradabannya.

Maka, seluruh gerakan yang ikhlas haruslah mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi dengan menghindari sejauh mungkin jebakan-jebakan kafir penjajah yang telah disebutkan. Keengganan menghindarinya sungguh merupakan bentuk penyia-nyiaan darah umat yang tertumpah akibat keserakahan kafir penjajah. Kaum muslimin tidak boleh jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali. Rasulullah bersabda:

لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Seorang mukmin tidak boleh dua kali jatuh dalam lubang yang sama.” (HR Muslim No. 5317)

Berikutnya perlu dipahami, menghindari seluruh jebakan tadi belumlah cukup untuk menghentikan dominasi kafir penjajah yang dipimpin adidaya AS. Kekuatan harus dilawan dengan kekuatan. Maka untuk menghancurkan kekuatan musuh Allah, kafir penjajah AS yang jelas-jelas mendalangi pembantaian kaum muslimin di Mesir dan di negeri-negeri Islam yang lain, harus diwujudkan sebuah kekuatan baru, sebuah institusi yang menerapkan Islam, yang mampu menyatukan segala potensi umat Islam yang begitu melimpah. Bukan sembarang institusi, namun haruslah institusi yang diridhoi oleh Allah SWT. Tentu itu bukan negara sipil demokrasi, republik, kerajaan, apalagi sebuah federasi. Institusi-institusi semacam itu sesungguhnya tidak akan pernah mendapat pertolongan Allah sehingga tidak akan pernah menang. Satu-satunya institusi yang syar’i & diridhoi oleh Allah adalah khilafah. Terbukti pada masa lampau, khilafah Islamiyah, dengan izin Allah, kurang dari satu abad sejak masa berdirinya telah mampu menggeser pengaruh adidaya Persia & Romawi, kemudian melenyapkan pengaruh mereka secara keseluruhan dari jazirah Arab & wilayah yang ada disekitarnya. Maka inilah satu-satunya institusi yang layak diperjuangkan oleh seluruh gerakan kebangkitan umat. Tamarud untuk mengganti negara sekuler-demokrasi, tajarrud kepada perjuangan penegakkan negara Khilafah!

Di samping itu, sebenarnya banyak peristiwa yang terjadi telah menunjukkn melemahnya pengaruh kafir-penjajah AS di negeri-negeri Islam, termasuk Mesir. Penjajah AS kebingungan atas terjadinya Arab Spring. Surat kabar Amerika “The Financial Times” mengatakan bahwa pemerintah Presiden AS Barack Obama bingung antara menganggap kaum Islamis di Mesir sebagai teman atau musuh. Penulis Philip Stephens menjelaskan bahwa revolusi Arab telah membuat Barat terkejut, gelisah, dan tidak nyaman. Prancis kehilangan Ben Ali di Tunisia. Sementara AS kehilangan sekutu pentingnya di Mesir. Khusus di Mesir, AS masih bingung antara menganggap kelompok Islamis yang menang dalam pemilu itu sebagai teman atau musuh.  Faktanya, hingga pembantaian kaum Muslimin oleh militer terjadi, AS masih belum mampu menguasai keadaan. Akhirnya, mereka cenderung ragu dan bermuka dua. Di satu sisi memberikan dukungan terhadap gerakan “tamarud” yang dibantu militer mesir untuk menumbangkan Mursi, namun di sisi lain –meski agak setengah hati– mengutuk pembunuhan & aksi kekejaman militer dalam membubarkan gerakan “tajarrud” pendukung mursi.  Aksi-aksi kelompok tamarud & sisa-sisa rezim Mubarak perlahan juga bergerak keluar dari koridor kalkulasi politik AS. Bagi AS, posisinya saat ini bagaikan makan buah simalakama. Sulit mendukung “tamarud” secara terbuka karena itu akan melemahkan posisi AS di dalam negeri maupun di dunia. AS bisa dijadikan bulan-bulanan oleh negara-negara eropa atau pun musuh-musuh politiknya yang lain semisal Rusia maupun China atas alasan HAM sehingga legitimasi AS sebagai “pahlawan HAM & demokrasi” atau “polisi dunia” pun akan semakin lemah hingga hancur. Yang terbaru sebagaimana diberitakan Aljazeera, Obama bahkan sempat menyatakan tidak mendukung kelompok mana pun di mesir. Maka pasca Arab-Spring, dimana segala bentuk ketakutan umat tehadap rezim telah sirna, satu-satunya faktor yang “menyelamatkan” posisi kafir penjajah seperti AS di negeri-negeri Islam khususnya di Mesir adalah belum terbentuknya kesadaran yang benar di tengah umat. Umat di Mesir menginginkan Islam, namun mereka masih belum memiliki gambaran yang benar tentang metode untuk menerapkannya. Jadi, apabila faktor ketidakpahaman & ketidaksadaran tersebut terkikis habis, bai’at pengangkatan Khalifah & tegaknya kembali khilafah tentu tinggal selangkah saja. Dan tegaknya Khilafah itu artinya adalah kematian bagi tiran AS penjahat kemanusiaan, sang pembantai kaum muslimin.

Dalam konteks Mesir, potensi dukungan terhadap perjuangan tegaknya Khilafah masih sangat besar. Mari kita hitung secara sederhana. Jumlah penduduk mesir tahun 2013 diperkirakan 84,5 juta. Yang memiliki hak suara dalam pemilu 2012 sebanyak 51 juta. Asumsikan saja pemilik hak suara tersebut adalah orang dewasa, sedangkan 33,5 juta (84,5-51 juta) sisanya adalah anak-anak yang selanjutnya tidak kita hitung. Menurut data terbaru, jumlah muslim 90%. Maka jumlah muslim dewasa adalah 0.9 x 51 juta = 45,9 juta jiwa. Hasil pemilu yang lalu menunjukkan yang tidak memilih sebanyak 48.15%. Itu artinya 22,2 juta muslim dewasa tidak ikut pemilu! Kalau diasumsikan seluruh pemilih Mursi berpartisipasi dalam “tajarrud” & seluruh pemilih Ahmed Shafik ikut “tamarud”, maka jumlah muslim dewasa yang tergabung dalam “tajarrud” adalah 11,7 juta jiwa, sedangkan yang bergabung dalam “tamarud” adalah 10,8 juta. Beberapa kemungkinan terburuknya adalah jika masing-masing pihak tetap keras kepala & “ngeyel” menganggap demokrasi sebagai alat perubahan, menyuarakannya & tidak bersedia menyuarakan tegaknya Khilafah, juga jika masing-masing pihak tetap pragmatis & tidak mau keluar dari jebakan-jebakan ikatan-ikatan jahiliyah ala penjajah. Kalau toh kemungkinan terburuk itu terjadi, masih ada 22 juta lebih muslim dewasa lainnya yang tidak termasuk dikotomi “tamarud” atau pun “tajarrud”. Masya Allah! Tentulah kita terus memohon kepada Allah, kemungkinan terburuk tersebut tidak akan terjadi. Sudah selayaknya seluruh komponen umat bersatu diikat oleh ideologi Islam, bersama-sama menyerukan tegaknya Khilafah.

“Jum’at Kemarahan” (جمعة الغضب) tanggal 16 Agustus, juga aksi-aksi berikutnya yang diikuti jutaan muslim di Mesir harus menjadi momen bagi generasi umat dari setiap gerakan yang ada untuk menjadikan tamarud (pemberontakan) mereka dan tajarrud (kesetiaan) karena Allah! Dalam rangka menegakkan syariahNya dan menguatkan agamaNya. Jangan sampai “jum’at kemarahan” menjual murah darah kaum muslimin yang telah tumpah, yakni sekedar mengembalikan presiden ke kursinya tanpa mencampakkan sistem warisan penjajah –sistem sekular-demokrasi– kemudian menggantinya dengan sistem Islam. Hilangkan “demokrasi” dari dalam kamus. Campakkan slogan-slogan palsu tersebut, ganti dengan teriakan “ini (hanya) untuk Allah, ini (hanya) untuk Allah” (هي لله هي لله) sebagaimana yang dilakukan dalam Revolusi Syria, revolusi yang diberkati. Satu-satunya bendera yang layak diangkat tinggi-tinggi dalam setiap kesempatan adalah bendera Rasulullah, bukan bendera nasionalisme atau bendera ‘ashobiyah lainnya.  Itulah yang akan menggetarkan kafir penjajah, pembantai kaum muslimin, & membukakan pintu keluar nan hina bagi mereka bersama antek-anteknya dari bumi kinanah Mesir & negeri-negeri kaum muslimin lainnya. Dan Allah lah satu-satunya pemilik kekuatan. Siapa yang benar-benar bersama Allah maka ia pasti menang. Peringatan Zat yang Maha Bijaksana mengatakan itu. Presiden Mursi telah mengulang-ulang dalam pidato-pidato terakhirnya:

وَاللّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS Yusuf [12]: 21)

Benar, Maha Benar Allah.

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللّهِ حَدِيثاً

“Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah?” (QS an-Nisa’ [4]: 87).

[pembelaislam]

 

Iklan

2 Komentar

Filed under Opini, Pemikiran

2 responses to “Tragedi Mesir adalah Tragedi Kaum Muslimin, Saatnya Melenyapkan Dominasi Negara-Negara Kafir Penjajah atas Mereka

  1. makasih untuk artikelnya, sangat bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s