Bendera Kita (yang) Mana, Kawan?

When I get older, I will be stronger,

They’ll call me freedom, just like a Waving Flag,

And then it goes back, and then it goes back,

And then it goes back, And then it goes…

 

Pernah dengar cuplikan lirik tersebut? Lirik tersebut sering diperdengarkan saat hingar bingar piala dunia 2010. Sudah berlalu cukup lama memang, namun tidak ada salahnya kita sedikit melirik ke belakang. Bait syair itu sebenarnya adalah chorus sebuah lagu berjudul “Wavin’ Flag” yang kemudian digubah dan dipopulerkan oleh coca-cola sebagai salah satu sponsor piala dunia di Afrika Selatan. Bendera. Hanya selembar kain yang dikibarkan, namun penuh dengan makna. Kalau tidak percaya, cobalah untuk mengibarkan bendera berwarna putih dengan logo palang alias cross berwarna hitam sambil mengendarai motor ketika berangkat kuliah menyusuri jalan protokol. Pasti kita akan jadi pusat perhatian, setidaknya para pengendara yang lain akan memberi jalan, dikira ada rombongan pembawa jenazah. Atau cobalah untuk meletakkan bendera berwarna merah dan putih di atas paving jalanan kampus sehingga terlindas oleh setiap kendaraan yang lewat. Yakinlah, akan ada orang yang menyelamatkan bendera tersebut. Kalau orang-orang tahu pelakunya adalah kita, bisa jadi kita akan dihajar ramai-ramai. Syukurlah kalau orang-orang tadi tidak mengikat kita di tengah jalanan untuk menggantikan posisi bendera yang tadinya tergeletak dan terinjak-injak di sana. Meski hanya selembar kain dengan warna dan corak tertentu, namun bendera mampu berbicara untuk menunjukkan sebuah makna.

Kembali pada bait syair di awal tulisan ini. ”Wavin’ Flag”, sesuai dengan temanya, memang banyak meyoroti bendera kebangsaan yang dikibarkan oleh ribuan suporter selama pertandingan sepakbola. Dalam bait yang lain, sang penulis sekaligus penyanyi lagu tersebut, K’Naan, menegaskan:

Celebration its around us, every nations, all around us

Singing forever young, singing songs underneath that sun

Lets rejoice in the beautiful game.

 

Ketika sebuah pertandingan berlangsung, ribuan suporter hadir untuk mendukung tim nasionalnya masing-masing. Mereka mengibarkan bendera kebangsaan bersama-sama, menyanyikan lagu kebangsaannya dengan penuh bangga, bahkan ada pula yang rela melumuri tubuhnya dengan cat bercorak bendera. Meski Lionel Messi begitu berperan terhadap produktifitas Barcelona, namun suporter Spanyol tentu tidak akan mengibarkan bendera Argentina, apalagi menyanyikan lagu bersama para suporter Argentina ketika tim nasional negaranya berhadapan dengan Argentina. Sebaliknya, suporter Portugal juga tidak akan mengibarkan bendera apalagi mengecat tubuhnya dengan corak bendera Spanyol meskipun Christiano Ronaldo yang termasyur dengan julukan CR7 menggantungkan mata pencahariannya di Los Galacticos yang notabene merupakan klub ibukota Spanyol. Sungguh, saat-saat seperti itu adalah suatu saat dimana kebangsaan adalah segalanya dan bendera yang berwarna-warni itu dikibarkan untuk –lebih dari sekedar—menggambarkan kebanggaan, juga spirit suatu bangsa. Meski kota Bloemfontain terletak di benua afrika yang paling ujung, suporter Jepang rela untuk hadir di Vodacom Park, mengibarkan bendera hinomaru untuk mendukung tim nasionalnya bertanding melawan tim Kamerun. Bendera yang dulu juga pernah dikibarkan tahun 40-an ketika Jepang memaksakan romusha di Jawa dan menyerang pangkalan Pearl Harbour dibawah pimpinan Chuichi Nagumo.

Suasana yang sama juga dapat kita temui dalam Sea Games ke 26 di Palembang sepanjang november kemarin, khususnya pada even sepakbola yang dimainkan di atas lapangan yang luas dengan jumlah suporter terbesar bila dibandingkan dengan olahraga yang lain. Puluhan ribu orang rela berdesakan, mengantri selama berjam-jam demi menonton pertandingan final sepakbola Sea Games di Gelora Bung Karno. Mereka yang mengantri itu (barangkali termasuk beberapa orang di antara kita) sebenarnya harus menanggung resiko luka-luka bahkan meregang nyawa karena dorong-mendorong atau injak-menginjak untuk berebut masuk stadion. Reno Alvino, baru berusia 21 tahun, menghembuskan napas terakhirnya setelah berdesak-desakan dengan para suporter lain sebelum pertandingan. Sedangkan puluhan suporter ada yang pingsan, juga luka-luka. Innalillaahi wa inna ilaihi roji’uun. Toh, semua aktifitas itu tetap dilakukan dengan penuh keikhlasan oleh ribuan suporter yang lain demi memenuhi gelora kebangsaan yang menggelegak dalam jiwa mereka. Wajar kalau gelora itu begitu dahsyat, lawan timnas Indonesia di partai final saat itu bukan lawan sembarangan, Malaysia bung! Sudah berapa kali Malaysia memprovokasi dan menginjak-injak harga diri bangsa ini? Di mata banyak orang, dosa Malingsia (sebutan yang disematkan kepada negeri Jiran oleh sebagian anak bangsa) nampaknya sudah tak terhitung, tak terampuni. Nah, inilah salah satu kesempatan bagi masyarakat untuk membalas perlakuan yang menyakitkan dari tetangga yang usil dalam pandangan mereka. Puluhan bahkan ratusan ribu orang memerahkan-putihkan stadion yang telah berusia 49 tahun itu. Bukan hanya di dalam, mereka juga rela berdesakan di luar stadion demi menunjukkan dukungan meski hanya di temani televisi kecil. Bendera? Tak perlu ditanya. Ribuan bendera yang warnanya seragam merah-putih dengan berbagai ukuran mulai dari 10×15 sampai 600×900, terus saja dikibarkan sepanjang pertandingan oleh para suporter. Mereka tak kenal lelah. Timnas hampir menang, meski akhirnya kalah.

Itulah bendera. Selembar kain dengan corak warna, sebuah simbol yang mampu mengikat orang-orang dalam suatu ikatan. Celebration its around us, every nations, all around us. K’Naan menggambarkan meriahnya kibaran bendera yang sarat emosi oleh setiap bangsa ketika mereka mendukung tim sepakbola kebanggaannya. Gemuruh emosi itu bergelora kencang, melarutkan setiap orang dalam teriakan, nyanyian, acungan tangan, ombak masal, yel-yel, jingkrak kegirangan, dan terkadang juga tangisan. Tak peduli lagi, apakah anggota tim yang mereka dukung itu sholat atau tidak, muslim atau bukan, sawo matang atau hitam, jawa atau papua, semua itu bukan masalah selama melekat kostum merah putih di tubuh dan garuda di dada mereka. Lihatlah Diego Michiels yang berkulit putih khas belanda, tetap dielu-elukan, sama dengan anggota tim yang lain. Kontribusinya dalam menggalang pertahanan pun cukup dinanti-nanti oleh masyarakat. Ketika tim tersebut bertanding, serentak orang-orang menghentikan sejenak aktifitasnya, menyamakan frekuensi televisi mereka dan larut dalam emosi yang serupa dengan para penonton di stadion. Yang penting timnas menang, ganyang Malaysia, ciptakan banyak gol, permalukan malaysia. Itulah frasa-frasa yang ada dalam benak mereka, meski mereka juga tak terlalu paham strategi sepakbola, mengenali apalagi memahami profil para pemainnya. Semuanya larut, melebur habis ke dalam sebuah ikatan, ikatan yang menyatukan para pemain dengan penonton di stadion, ikatan yang menyatukan penonton di stadion dengan penonton televisi di warung-warung kopi bahkan di luar negeri, ikatan yang menyatukan para pejabat dengan rakyat, ikatan yang menyatukan penguasa dengan mahasiswa, ikatan yang menyatukan para narapidana dengan para penjaganya, ikatan yang menyatukan para legislator alias anggota DPR dengan sesamanya juga KPK, bahkan ikatan ini mempersatukan bromocorah dengan ulama. Inilah ikatan kebangsaan. Semua mendukung timnas yang sama dari bangsa yang sama pula.

Ketika hingar bingar itu usai, maka semuanya kembali berjalan ”normal”. Para pemain sibuk dengan bursa transfer masing-masing. Para suporter yang tadinya hiruk pikuk satu suara kembali dalam suasana tawuran dan sentimen anti kelompok suporter lain. Kecaman terhadap para pejabat oleh rakyat kembali mengalir. Perpecahan kompetisi divisi utama terus bergulir hingga berujung pada drama pengunduran diri pelatih timnas yang episodenya masih cukup panjang hingga hari ini. Saling kecam dan saling usir antar anggota DPR kembali memanas. Aksi-aksi anarkis mahasiswa menentang penguasa kembali terjadi, bahkan agar penguasa mendengar dan peduli ada yang sampai merasa perlu beraksi di depan istana, kemudian membakar diri. Narapidana kembali sibuk bermanuver terhadap para penjaga agar bisa segera lepas dari pengapnya penjara, termasuk yang dilakukan 4 narapidana kasus narkoba yang kabur lewat jendela di Sumatera Utara tanggal 18 desember lalu. Ikatan kebangsaan yang tadinya kelihatan gegap gempita tiba-tiba seolah lenyap begitu saja. Nampaknya ikatan ini akan kembali mencuat dengan munculnya momen-momen penguat semisal dalam skala kecil upacara bendera, atau yang lebih masif pertandingan timnas di piala AFF mendatang. Seringkali insiden-insiden yang terjadi terbukti mampu memicu timbulnya ikatan ini lagi. Lihatlah ketika negeri Jiran berulah dengan mengklaim kebudayaan tari pendet, reog, batik, ataupun mencaplok beberapa bagian wilayah negeri ini. Barulah di situ ikatan kebangsaan kembali menemukan eksistensinya.

Secara alami, manusia memiliki naluri (instinct) untuk mempertahankan diri. Naluri tersebut mendorong seseorang atau pun sekelompok orang untuk mempertahankan wilayah atau pun hak miliknya dari segala ancaman. Naluri itu juga mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk menunjukkan eksistensinya juga identitasnya. Dorongan naluri itu pulalah yang memunculkan ikatan kebangsaan, dengan berbagai simbolnya termasuk bendera. Ikatan nasionalisme, dimana imbuhan asing -isme berarti sifat, akan menguat ketika ada ancaman dalam bentuk apapun. Ketika ancaman terhadap suatu bangsa mereda, maka ikatan di antara mereka juga ikut melemah. Satu orang dengan orang yang lain tidak lagi disatukan dengan ikatan kebangsaan, namun bisa jadi dipersatukan dengan ikatan kepentingan atau kesukuan. Nampak sekali bahwa ikatan ini sifatnya sangat emosional. Maka tidak perlu heran apabila pasca World Cup, ikatan yang mengikat antara Silvio Berlusconi dengan rakyat Italia melemah hingga berujung pada kekisruhan politik dan mundurnya Silvio dari jabatannya. Tidak perlu heran juga kalau ikatan kebangsaan rakyat Indonesia melemah setelah berakhirnya pertandingan final Indonesia dan Malaysia sebagaimana yang telah saya gambarkan sebelumnya. Bendera yang tadinya dikibarkan gagah berani, berapa pun ukurannya, telah dilipat kembali dengan rapi dan dimasukkan ke dalam lemari seiring melemahnya dorongan emosi.

Bendera itu sendiri awalnya merupakan manifestasi/perwujudan sepotong imajinasi yang berawal dari sebuah mimpi untuk mengikat orang-orang yang memiliki beragam kepentingan ke dalam suatu kesatuan. Benedict Anderson dalam buku berjudul Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism yang diterbitkan di New York tahun 1991 menyebutkan bahwa nasionalisme adalah suatu identitas kolektif yang membentuk komunitas imajiner. Komunitas ini tidaklah digambarkan dengan kesamaan warna kulit, agama, dan pada awalnya juga tidak digambarkan dengan kesamaan bahasa namun lebih menekankan pada bangunan sosial yang dibentuk bersama dengan memunculkan “penemuan baru”  identitas “bangsa”-nya yang disimbolkan dengan bendera, lagu, lambang, slogan, bahkan tata bahasa baru. Semua simbol-simbol tadi, menurut Ernest Gellner diagungkan dan dianggap suci lebih seperti simbol relijius ketimbang simbol politik, cenderung menjadi “agama” ketimbang entitas politik. Bukankah hal itu pula yang terjadi pada orang-orang disekitar kita? Maka ketika sebuah bendera merah putih diperlakukan sedemikian rupa, orang yang menjadikan kebangsaan sebagai pengikat diri mereka dengan orang lain akan bereaksi sedemikian rupa sebagaimana gambaran saya di awal tulisan, sebab menurut mereka simbol itu suci dan mulia sebagaimana agama! Karena muncul dari naluri untuk menunjukkan eksistensi diri, bukanlah hal yang aneh pula apabila Anthony Smith dari University of Nevada menggambarkan ikatan kebangsaan akan senantiasa diiringi oleh sebuah keyakinan (belief) bahwa kepentingan nasional adalah kepentingan utama, di atas segalanya. Ikatan ini juga diiringi oleh sebuah keyakinan untuk menonjolkan dan mengganggap superior sebuah bangsa di atas bangsa yang lain.

Right or wrong, our country!” ucap Stephen Decatur setelah makan malam pada awal abad 19. Komandan kapal USS Guerriere ini akan terus membela negaranya sekalipun kebijakannya salah. John F. Kennedy, presiden Amerika ke 35, juga menegaskan dalam perkataannya yang terkenal, “ask not what your country can do for you — ask what you can do for your country.” Perkataan-perkataan tersebut kemudian dijadikan slogan untuk menguatkan ikatan kebangsaan. Sampai-sampai pemerintah kita merasa perlu untuk mengulang-ulang kembali perkataan Kennedy tadi dengan menayangkan—tentu dalam bahasa Indonesia— sebuah iklan layanan masyarakat pada sejumlah stasiun televisi nasional. Dalam iklan itu seorang murid sekolah dasar mengacungkan tangan dan bertanya kepada gurunya ketika mengajar di sebuah kelas, kemudian sang guru menjawab dengan halus, ”jangan tanyakan apa yang telah diperbuat oleh negara kepada kalian, tapi tanyakan apa yang telah kalian perbuat kepada negara.” Slogan-slogan itu juga slogan-slogan semacamnya memang nampak mentereng dan tegas, menguatkan ”cahaya” nasionalisme. Munculnya slogan-slogan itu adalah sesuatu yang wajar apabila merujuk pada bagaimana ikatan itu muncul. Seorang pemikir abad 21, Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan bahwa ikatan kebangsaan tumbuh di tengah-tengah masyarakat, tatkala pola pikir manusia mulai merosot. Ikatan ini terjadi ketika manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tidak beranjak dari situ. Saat itu, naluri mempertahankan diri memang sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan dan menonjolkan negerinya, tempat dimana mereka hidup dan menggantungkan diri. Beliau juga menegaskan, Ikatan ini tampak juga dalam dunia binatang serta burung-burung, dan senantiasa emosional sifatnya.

Maka sejatinya slogan-slogan yang disebutkan di atas adalah slogan-slogan yang emosional pula, bukan rasional. Cobalah kita tengok kasus-kasus yang ada. Tak perlu jauh-jauh, di negeri kita saja. Tidak meratanya pembangunan menyebabkan banyak daerah yang tertinggal, baik dari segi infrastuktur, fasilitas umum, pendidikan, layanan kesehatan, maupun lapangan kerja. Ada daerah-daerah tertentu di negeri ini yang menyumbangkan pajak dan kekayaan alam sedemikian rupa ke pemerintah pusat, namun daerah kemudian ”ditelantarkan” oleh pemerintah, sengaja ataupun tidak. Apakah masuk akal kalau ada rakyat yang kelaparan, tertindas, diperlakukan sewenang-wenang, suara mereka tidak didengar, dan dianak-tirikan—selama puluhan tahun—dengan ikhlas dan senang hati penuh semangat tetap mengibarkan bendera dan mengucapkan “ask not what your country can do for you — ask what you can do for your country”? Sama sekali tidak rasional bukan? FALINTIL yang merupakan sayap militer partai politik FRETILIN di Timor Leste pada tahun 1980-an mulai mendeklarasikan perang ”kemerdekaan” untuk mengusir penjajah (menurut versi mereka): Indonesia. Dipimpin oleh Xanana Gusmao, mereka terus melancarkan aksi gerilya melawan pemerintah yang mereka anggap gagal menyejahterakan rakyat Timor. Angin segar itu kemudian hadir pada masa pemerintahan BJ. Habibie. Pasukan bersenjata yang pro-Indonesia sengaja dipancing untuk melakukan kekerasan yang kemudian menjadi legitimasi campur tangan Australia dan PBB. PBB pada tahun 1999 membentuk INTERFET, sebuah pasukan militer multinasional untuk menjaga perdamaian di Timor Leste yang pada kenyataannya yang memimpin INTERFET adalah Australia dan sebagian besar pasukan tersebut juga pasukan Australia. Pada akhirnya, melalui lembaganya yang lain saat itu, UNAMET, PBB mendorong dan memimpin dilaksanakannya referendum untuk rakyat Timor. Hasilnya bisa ditebak dengan mudah, dari 98.6% total penduduk yang mengikuti penentuan nasib, 78.5% menginginkan kemerdekaan. Dulu ketika saya masih duduk di bangku SD, ada tugas mata pelajaran IPS untuk menghafalkan nama-nama propinsi dan suku-suku yang merupakan bangsa Indonesia. Saat itu, tercantum di atlas nasional Timor Timur sebagai provinsi ke-27 dengan ibukota Dili. Artinya, rakyat Timor saat itu adalah bangsa Indonesia. Kini, atlas nasional manapun tidak akan menampilkan Timor Timur sebagai provinsi ke-27. Generasi yang baru pun tidak akan mengenalinya. Yang mereka kenal adalah negara tetangga, bangsa Timor Leste!

Begitu gamblang kelemahan ikatan kebangsaan. Apalagi bila berhadapan dengan urusan perut. Slogan Kennedy atau pun Decatur sudah tidak menemukan realitas. Faktanya, slogan itu hanya slogan hampa. Sekalipun bangsa Timor Leste saat ini mengucapkan slogan yang serupa, namun tidak menjadi jaminan di masa mendatang salah satu district negara mereka, katakanlah Cova Lima atau Liquiçá, memerdekakan diri dan membentuk negara dan bangsa baru karena tidak puas dengan pemerintah pusatnya. Sebuah negara dengan wilayah yang tidak terlalu luas di Eropa semacam Yugoslavia saja, kini terpecah menjadi negara-negara kecil yakni Bosnia, Serbia, Kroasia, Slovenia, dan Macedonia. Tentunya masing-masing mendeklarasikan kebangsaan yang berbeda dengan berbagai simbolnya. Benderanya pun beda-beda, meski warna kulit, bahasa, dan komposisi demografi mereka sama. Baru-baru ini, Sudan Selatan memisahkan diri dari republik Sudan, membentuk sebuah negara bangsa baru yang diakui PBB setelah referendum, mirip dengan Timor Leste. Imajinasi kebangsaan telah merasuki masyarakat kita, bahkan dunia. Ini sekaligus menjadi jawaban atas maraknya gerakan separatis di penjuru negeri. GAM di Aceh, RMS di Maluku selatan, dan yang mengemuka belakangan adalah OPM di Papua. Semua berusaha memisahkan diri, membentuk negara baru dan tentunya bangsa baru dengan bendera yang juga baru. Pada titik inilah ikatan kebangsaan alias nasionalisme telah melampui batas khayalnya, kemajuan sebuah masyarakat yang menjadikan ikatan tersebut sebagai pengikat individu-individunya hanyalah sebuah mimpi, absurd.

G-8 (Group of Eight) merupakan sebuah forum negara-negara maju dengan tingkat ekonomi tinggi. Secara kolektif, grup tersebut menguasai 53% GDP dunia. Bila dihitung kasar, 53% ekonomi dunia berada di bawah kendali penuh mereka. Negara-negara anggotanya seringkali diklaim sebagai model keberhasilan ikatan kebangsaan. Jepang, Jerman, ataupun Italia semuanya merupakan negara bangsa. Rakyatnya relatif lebih sejahtera ketimbang negara-negara berkembang G-77. Namun, siapapun yang melihat dengan jeli akan mendapati suatu fakta bahwa hanya terdapat 1 negara yang paling berkuasa dan adidaya: Amerika. Masyarakat Amerika bangkit dan meraih kemajuan, menjadi negara yang berpengaruh di dunia tidaklah disebabkan oleh ikatan kebangsaannya. Negara-negara bagian federal mereka tidaklah dipersatukan oleh nasionalisme. Menilik sejarah panjangnya, mereka dipersatukan oleh sebuah ideologi yang mengakar kuat, yakni Kapitalisme. Pidato Obama saat inaugurasi cukup memberikan bukti. Dia menegaskan bahwa Amerika tetap tegak karena memegang teguh idealisme pendiri negara dan kemudian menyinggung kemenangan atas komunisme yang diraih tidak hanya dengan tank dan misil, namun dengan aliansi dan keyakinan yang kuat terhadap ideologi. ”Recall that earlier generations faced down fascism and communism not just with missiles and tanks, but with sturdy alliances and enduring convictions.”

Wajar, kapitalisme dan komunisme merupakan ideologi yang saling bertentangan meski ada irisan pada beberapa hal. Ketika founding father Amerika telah menetapkan kapitalisme sebagai ideologi negara, maka pada saat itulah negara itu senantiasa berusaha meraih kepimpinan ideologis di dunia. Negara-negara federal tersebut menjadi Uni, United States of America (USA), di atas ikatan ideologis yang mengakar. Benturan antar ideologi pun tak terelakkan. Sebagaimana yang telah saya singgung sebelumnya, Yugoslavia dulunya adalah suatu negara dengan beberapa negara federal sebagaimana USA. Yang mempersatukan bangsa-bangsa tadi adalah ideologi komunis. Bahkan awalnya Yugoslavia tergabung dalam sebuah negara adidaya yang sangat berpengaruh pasca perang dunia I, Union of Soviet Socialist Republics (USSR). Masyarakatnya khas, mengusung bendera yang sama, dipersatukan oleh ikatan ideologis yang muncul dari pandangan yang mendasar tentang kehidupan, komunisme. Maka dengan ikatan yang khas tersebut, negara ini pun senantiasa berusaha meraih kepemimpinan ideologis di dunia. Pada saat ini, apa yang membuat Amerika sangat mengkhawatirkan Korea Utara ataupun Venezuela? Padahal secara ekonomi negara-negara tadi bukan anggota G-8. Tentu bukanlah faktor nasionalisme, namun potensi ideologi komunis-lah yang membuat negara-negara tersebut dianggap ancaman bagi Amerika (baca: kapitalisme). Amerika sangat khawatir apabila potensi ideologi itu kemudian mempersatukan negara-negara tadi menjadi sebuah entitas yang kuat. Dengan berbagai bukti yang telah saya sebutkan, maka kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa kekuatan sebuah negara bergantung pada ideologi yang mendasarinya dan kemajuan masyarakat ditentukan oleh ikatan ideologi yang mengikat setiap anggota masyarakatnya, bukan ikatan kebangsaan. Ikatan ideologis terbukti paling layak dijadikan pengikat antar manusia dalam kehidupannya untuk meraih kebangkitan dan kemajuan, terlepas dari apakah ideologi tersebut benar atau salah, bersumber dari manusia atau pun wahyu.

Ideologi di dunia saat ini hanya ada 3 yaitu kapitalisme, komunisme, dan Islam. Sebagaimana yang tersirat pada paragraf sebelumnya, dua ideologi yang pertama diemban oleh satu atau beberapa negara. Sedangkan ideologi yang ketiga yaitu Islam, tidak diemban oleh satu negarapun. Islam diemban oleh individu-individu dalam masyarakat. Sekalipun demikian, ideologi ini tetap ada di seluruh penjuru dunia. Islam adalah ideologi yang benar, karena bersumber dari wahyu Allah Sang Pencipta yang rasional, tidak bertentangan dengan fitrah manusia, dan menentramkan jiwa. Ideologi ini juga pernah diemban oleh sebuah negara adidaya selama 14 abad, yakni Khilafah. Dimulai dari penegakkan sebuah negara di Madinah oleh Rasulullah yang kemudian dilanjutkan oleh kepemimpinan para khalifah, Islam diterapkan sebagai sebuah ideologi secara total. Masyarakatnya juga merupakan masyarakat yang khas, yang diikat oleh ideologi Islam. Ikatan ideologis itulah yang menjadikan masyarakat pada saat itu bangkit dan meraih kejayaan. Terbukti, negara khilafah pada masa Abbasiyah berhasil mempersatukan dan membangun masyarakat Islam yang meliputi hampir 2/3 dunia termasuk sebagian wilayah Eropa. Meski berbeda-beda warna kulit, suku, tradisi, ataupun adat, masyarakat tadi di atur dengan aturan yang sama yakni syari’ah Islam dan dipimpin oleh seorang kepala negara yang sama pula, yakni seorang khalifah. Mereka mengibarkan bendera yang sama, bendera Islam, benderanya Rasulullah. Ibnu Majah meriwayatkan bahwa royah (panji) Rasulullah saw berwarna hitam dan liwa (bendera)-nya berwarna putih. Ibnu Abbas juga meriwayatkan bahwa pada bendera Rasulullah tertulis “La ilaaha illa Allah, Muhammad ar-rasul Allah”, kurang lebih sama dengan bendera yang terdapat pada logo gema pembebasan. Bendera tersebut telah menjadi saksi kedigdayaan sebuah masyarakat yang menjadikan Islam sebagai ikatan ideologis yang mengikat setiap anggota masyarakatnya. Sayangnya hal tersebut tidak banyak di ungkap karena keberadaannya sebagai potensi ideologis untuk menyatukan umat Islam dunia dalam satu negara, tentu Amerika tidak menghendaki hal ini.

Masyarakat Islam, individu-individunya adalah orang-orang yang berakidah Islam. Ideologi Islam telah merasuk ke dalam jiwa mereka, seolah mengikuti aliran darah dan menyatu dengan daging dalam tubuhnya. Mereka dipersatukan oleh pemikiran yang sama, pemikiran Islam. Mereka dipersatukan oleh perasaan yang sama pula, perasaan Islami. Kehidupan mereka pun di atur oleh aturan Islam yang bersumber dari wahyu. Kesukaan dan ketidaksukaan mereka terhadap segala sesuatu telah ditetapkan berdasarkan pemikirannya yang cemerlang tentang kehidupan, bahwa alam semesta, manusia, dan kehidupan diciptakan oleh Allah dan akan kembali kepada Allah. Manusia hidup untuk beribadah kepada Allah Sang Pencipta Yang Maha Mengatur dan setiap perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah setelah alam semesta, manusia, dan kehidupan berakhir. Maka ikatan yang timbul di antara mereka sejatinya bukanlah ikatan yang semata-mata muncul dari dorongan naluri dan bersifat emosional, namun lebih dari itu merupakan ikatan yang agung yang dapat menghantarkan manusia kepada keridhoan Allah. Maka tidak layak bagi seorang muslim menjadikan ikatan kebangsaan untuk mengikat individu-individu dalam masyarakat.

Imam Abu Dawud meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah berkata ”Bukan termasuk umatku siapa saja yang menyeru orang pada ‘ashabiyah, bukan dari golongan kami orang yang berperang karena ’ashabiyyah, dan bukan dari golongan kami orang yang mati karena ’ashabiyyah”. Menurut Ibnu Mandzur dalam kamus Lisanul Arab, penggunaan kata ‘ashabiyyah dalam hadis identik dengan orang yang menolong kaumnya, sementara mereka zalim. Faktanya, ikatan kebangsaan telah membuat seseorang membela bangsanya, tidak peduli apakah mereka bersalah atau tidak, zalim ataupun tidak. Seorang muslim menolong bangsanya meski mereka melanggar dan mengingkari aturan-aturan Allah. Bahkan atas nama nasionalisme, beberapa ulama rela untuk menetapkan hari raya Idul Adha tidak bersamaan wukuf di Arafah dan beberapa kali perbedaan penetapan Idul Fitri juga terjadi akibat merasuknya imajinasi kebangsaan ke dalam pikiran mereka. Maka setelah kita mengetahui ini semua, apakah kita masih belum mau meninggalkan ikatan kebangsaan tersebut dan beralih menuju ikatan ideologis? Ketika sudah mati nanti, kemudian menghadapi perhitungan amal perbuatan, apa jawaban yang akan kita berikan seandainya kita mati dalam keadaan memperjuangkan ’ashabiyyah? Tentu seorang muslim yang baik akan meninggalkan ikatan yang lemah itu menuju ikatan ideologi Islam. Dan ketika ditanya, ”Bendera kita (yang) mana, kawan?” Tentu bukan bendera Palestina. Jawablah dengan tegas: bendera tauhid bertuliskan “La ilaaha illa Allah, Muhammad ar-rasul Allah”, benderanya Rasulullah, Al-Liwa berwarna putih dengan tulisan hitam dan Ar-Royah berwarna hitam dengan tulisan putih!


Berkibarlah benderakuRoyah Liwa gagah perwira

Di seluruh belahan dunia

Kau akan satukan ummat

Siapa berani menghinakan engkau

Serentak ummat pun berjihad

Bendera Rasul Sang Panglima

Berkibarlah Slama-lamanya

 

[pembelaislam].

Iklan

3 Komentar

Filed under Opini, Pemikiran

3 responses to “Bendera Kita (yang) Mana, Kawan?

  1. Ayo di update lagi mas.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s