KERANCUAN PSIKOLOGI

(Cuplikan kitab “Fikrul Islam” karya Muhammad Muhammad Ismail)

 

Di kalangan masyarakat, baik awam maupun terpelajar, banyak terjadi kerancuan pandangan tentang ide-ide yang dihasilkan melalui pola fikir aqliyah dan teori-teori ilmiah yang dihasilkan oleh pola fikir sains. Berdasarkan asumsi dan anggapan yang rancu ini mereka menganggap psikologi, sosiologi dan ilmu pendidikan sebagai suatu ilmu, dan ide-ide yang dihasilkannya mereka anggap sebagai pemikiran ilmiah.  Sebab menurut mereka, ilmu-ilmu itu dibangun berlandaskan pengamatan yang dilakukan secara berulang-ulang terhadap anak dalam kondisi dan umur yang berbeda atau dilakukan terhadap berbagai kelompok masyarakat dalam situasi dan kondisi yang saling berbeda.  Pengamatan yang dilakukan secara berulang kali itu dinamakan sebagai “eksperimen ilmiah“.

 

Dan sesungguhnya psikologi, sosiologi dan ilmu pendidi­kan, bukan merupakan pemikiran ilmiah, melainkan pemikiran yang dihasilkan melalui pola fikir rasional, sebab eksperi­men ilmiah adalah cara memperlakukan suatu benda atau materi pada suatu situasi tertentu, bukan dalam keadaan yang alami.  Dari hasil perlakuan tersebut kemudian dilakukan pengamatan untuk melihat hasilnya.  Dengan kata lain eksperimen ilmiah dilakukan terhadap materi (benda) seperti eksperimen-eksper­imen dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam atau Kimia.

 

Adapun pengamatan terhadap “sesuatu” (manusia) pada waktu dan keadaan yang berbeda tidak dapat dikatakan sebagai eksperimen ilmiah. Oleh karena itu pengamatan terhadap anak-anak atau balita pada kondisi dan tingkatan umur yang berbeda, atau pengamatan terhadap sekelompok masyarakat di beberapa negara dalam kondisi yang berbeda, serta pengamatan terhadap perbu­atan/aktivitas beberapa orang pada kondisi yang berbeda pula, semua itu tidak dapat dimasukkan dalam kategori ek­sperimen yang ilmiah, sehingga tidak dapat digolongkan dalam pola fikir sains.  Bentuk ini sebenarnya hanya pengamatan yang dilakukan secara berulang-ulang lalu menghasilkan suatu kesimpulan.  Berarti, tergolong dalam pola fikir rasional dan bukan pola fikir sains.  Berdasarkan penjelasan di atas, maka ide-ide yang menyangkut kategori ilmu psikologi, ilmu sosiologi, dan ilmu pendidikan adalah ide-ide yang berlan­daskan pola fikir rasional dan tergolong dalam pembahasan ilmu sains.

 

Disamping itu, yang dihasilkan dari ilmu psikologi, sosiologi dan ilmu pendidikan berupa ide-ide yang bersifat dugaan/persangkaan, sehingga mengandung unsur kesalahan dan bukan ide-ide yang bersifat pasti. Oleh karena itu tidak dibenarkan menjadikan sebagai dasar atau asas menentukan hakekat sesuatu atau menjadikan­nya sebagai pegangan untuk menentukan benar-tidaknya sesua­tu.  Hal ini disebabkan karena ilmu-ilmu semacam ini, tidak tergolong dalam realita ilmiah/postulat ilmiah, sehingga dapat dikatakan benar sampai terbukti kesalahannya.  Namun demikian ia tetap sebagai pengetahuan yang bersifat dugaan yang dihasilkan melalui cara dan metode yang tidak menghan­tarkan pada suatu kepastian.

 

Meskipun diakui bahwa ilmu-ilmu tersebut dihasilkan melalui pola fikir rasional, tetapi ilmu-ilmu tersebut tidak berupa penentuan terhadap “keberadaan” sesuatu.  Cara penen­tuan seperti itu masih bersifat dugaan yang mengandung unsur kesalahan.  Jadi ketiga macam ilmu pengetahuan tersebut sebenarnya dibangun di atas dasar kesalahan.  Maka wajarlah bila pemikiran-pemikiran yang dihasilkannya mengandung ide-ide yang keliru.

 

Menurut kenyataan, ilmu psikologi secara umum dibangun berlandaskan pandangannya terhadap naluri dan otak manusia.  Pakar ilmu psikologi memandang bahwa dalam diri manusia terdapat banyak naluri.  Sebagian telah diketahui dan seba­gian lagi belum terungkap.  Berdasarkan pandangan yang salah terhadap naluri ini, para psikolog membangun dan mengembang­kan banyak teori yang salah.  Inilah penyebab kerancuan sebagian besar pemikiran yang terdapat dalam ilmu psikologi.

 

Adapun pandangannya tentang otak, maka ilmu psikologi menganggap otak manusia terbagi dalam beberapa bagian.  Setiap bagian mempunyai bakat yang spesifik.  Begitu juga otak sebagian manusia mempunyai bakat yang tidak dimiliki oleh orang lain.  Mereka mengatakan bahwa ada sebagian manusia yang mempunyai bakat untuk memahami bahasa, sedang­kan yang lain berbakat di bidang matematika dan seterusnya.  Berdasarkan pandangan yang keliru ini telah dibangun banyak teori yang salah.  Hal ini menyebabkan kesalahan dalam banyak ide yang terdapat dalam ilmu psikologi.

 

Setelah mengamati reaksi manusia dapat dilihat bahwa dalam diri manusia terdapat potensi yang dinamis yang memi­liki dua gejala.  Gejala pertama mengharuskan terpenuhinya kebutuhan secara pasti, yang bila tidak dipenuhi dia akan mati.  Sedangkan gejala yang kedua memerlukan pemenuhan, yang bila tidak terpenuhi ia tetap hidup hanya saja ia akan menderita “sakit” dan gelisah.

 

Dalam gejala pertama dapat dimasukkan kebutuhan jasma­ni; misalnya rasa lapar, haus, atau buang hajat.  Sedangkan pada gejala yang kedua dapat dimasukkan naluri, yaitu naluri beragama, naluri mengembangkan dan melestarikan keturunan, serta naluri untuk mempertahankan diri.  Semua naluri ini muncul dalam bentuk perasaan-perasaan serba kurang dan tidak mampu, perasaan untuk mempertahankan jenis keturunannya dan perasaan untuk mempertahankan diri.  Selain yang tiga itu tidak ditemukan penampakan naluri-naluri lain.  Selain dari tiga naluri di atas maka tidak lain hanyalah manifestasi untuk masing-masing naluri tersebut, seperti rasa takut dan cinta kekuasaan yang merupakan manifestasi untuk naluri mempertahankan diri; atau seperti pengagungan terhadap pahlawan dan ingin menyembah sesuatu adalah manifestasi dari naluri beragama; demikian pula dorongan seksual terhadap lawan jenis, rasa kebapakan, keibuan dan rasa persaudaraan tidak lain merupakan manifestasi dari naluri mengembangkan dan melestarikan jenis.  Begitu pula terhadap setiap ma­nifestasi lain yang dapat dikembalikan pada tiga macam naluri tadi.

 

Adapun dilihat dari segi anatomi, manusia mempunyai otak yang sama walaupun tidak ditemui adanya perbedaan dari segi pemikiran yang disebabkan oleh perbedaan daya serap indera dan informasi yang diperolehnya, serta berbeda ting­kat kekuatan nalar (yang mengkaitkan antara fakta dengan informasi yang telah diterima).  Tidak ada bakat khusus pada otak sebagian manusia yang tidak terdapat pada manusia lainnya.  Setiap otak mempunyai daya fikir terhadap sesuatu, yang ditunjang oleh empat unsur; yaitu otak, informasi yang diperoleh, fakta yang dapat ditangkap oleh indera dan panca indera.

 

Perbedaan yang ada dalam otak hanyalah dalam “kekuatan nalar” dan kekuatan “daya serap indera”.  kekuatan ini tak ubahnya dengan kekuatan yang terdapat pada mata dalam meli­hat sesuatu, atau kekuatan telinga dalam mendengarkan suara.  Oleh karena itu setiap orang dapat diberi pengetahuan apapun jenisnya yang di dalam otaknya terdapat bakat untuk memaha­minya.  Dengan demikian tidaklah benar apa yang terdapat dalam ilmu psikologi bahwa bakat-bakat tertentu pada otak manusia terdapat perbedaan berdasarkan bakatnya. Kini jelas bagi kita bahwa pandangan ilmu psikologi terhadap otak dan naluri manusia adalah pandangan yang salah. Suatu hal yang menyebabkan adanya kekliruan dalam semua teori yang didasarkan pada pandangan tersebut.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Buku hari ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s