Waspada Gerakan NII? (bagian 2)

Setelah berbagai pemaparan dari Kapolda dan Ketua MUI Jatim usai, tibalah saatnya bagi host mempersilahkan pembicara yang terakhir, Dr. Helmy, untuk menyampaikan pendapatnya. Host memberikan batasan waktu sekitar 10 menit bagi dosen Unair tersebut. Awalnya, saya menduga Dr. Helmy yang diplot sebagai pembicara untuk mewakili pembina UKMKI akan menyampaikan materi yang mampu “mengimbangi” berbagai opini dan stigma negatif terhadap Islam yang beredar di masyarakat. Bagaimanapun juga, penyelenggara talkshow tersebut adalah UKMKI, sebuah lembaga dakwah kampus yang memiliki mindset yang baik terhadap upaya kaum muslimin untuk menerapkan Syari’ah Islam dalam segala aspek kehidupan, termasuk aspek kenegaraan.

Sudah seharusnya UKMKI menampilkan pembicara yang membela ide-ide Islam yang kini semakin dipojokkan dengan berbagai propaganda sesat, kian tertutup pula oleh kabut stigma. Itulah yang saya pikirkan dan juga saya harapkan saat itu. Namun, beberapa patah kata yang  mengawali pemaparan beliau sedikit demi sedikit mengikis berbagai prasangka baik (husn adz-dzan) saya tadi. Awalnya beliau bercerita singkat tentang negara-negara yang maju semacam Swiss, Jepang, dan sebagainya. Beliau heran, mengapa negara-negara yang dihuni oleh mayoritas orang non muslim tersebut bisa luar biasa maju dan berdaulat, sementara negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim justru terpuruk. “What’s going on?” Itulah pertanyaan retoris yang berkali-kali beliau ucapkan. Dari berbagai kondisi tersebut kemudian beliau menyimpulkan bahwa semua keterpurukan yang di alami oleh negeri dengan penduduk mayoritas muslim disebabkan oleh sirnanya etika dalam kehidupan mereka. Mahasiswa yang notabene kaum terpelajar pun kini tidak lagi memperhatikan etika dalam kehidupan, termasuk dalam kehidupan beragama. Munculnya NII menurut beliau adalah salah satu contoh pelanggaran terhadap “etika beragama”. Pemikiran tentang etika itu selalu beliau tekankan, sebuah pemikiran yang menurut saya tidak lebih dari pemikiran primitif ancient greek dari masa-masa sebelum masehi. Penyampaian tersebut belumlah mengejutkan saya. Di akhir penyampaian, Dr. Helmy kemudian menjabarkan apa yang dimaksud “etika beragama”. Berkaitan dengan kasus NII beliau dengan tegas menyatakan, bahwa Islam, sebagai agama yang diturunkan oleh Allah sama sekali tidak pernah mengajarkan umatnya untuk mendirikan negara Islam. Rasulullah diutus bukan untuk menegakkan negara Islam (Islamic State), namun untuk membentuk masyarakat Islam (Islamic Society). Wow, It’s surprising me so much! Sungguh pernyataan yang sangat mengejutkan saya sekaligus mementahkan bulat-bulat berbagai prasangka saya sebelumnya…

Pernyataan demi pernyataan seputar tidak adanya konsep negara dalam Islam terus dilontarkan begitu saja oleh Dr. Helmy tanpa ada rasa bersalah. Bahkan beliau kemudian menunjukkan slide periodisasi sejarah umat Islam sejak zaman Rasulullah, Khulafaurrasyidin, Khilafah Bani Umayyah, Khilafah Bani Abbasiyah, dan terakhir Khilafah Utsmani, sambil mengatakan bahwa beliau tak menemukan sedikit pun konsep negara sepanjang sejarah umat Islam. Yang ada hanyalah masyarakat Islam (Islamic Society). Suatu pernyataan yang cukup berat konsekuensinya karena akan menciptakan ambiguitas yang dahsyat terkait penerapan Syari’ah Islam secara total. Sebenarnya pernyataan-pernyataan semacam itu bukanlah suatu hal yang baru. Puluhan tahun yang lalu Nurcholis Majid, tokoh panutan orang-orang liberal telah mengatakan hal yang sama dalam bukunya yang berjudul “Tidak Ada Negara Islam” terbitan tahun 1997. Jauh sebelum itu, Ali Abdur Raziq dari Al-Azhar dalam bukunya, “Al-Islâm wa Ushûl al-Hukm”, yang terbit di Mesir tahun 1925 juga telah menolak adanya sebuah sistem pemerintahan dalam Islam dan menolak bahwa Rasul telah mendirikan sebuah negara yang bersifat politis. Itu semua tidak lebih dari opini yang dilontarkan oleh orang-orang yang inferior (rendah diri) terhadap kemajuan negara-negara barat. Mereka hanyalah mengikuti dan menelan mentah-mentah pemikiran-pemikiran orientalis barat tentang Islam dan Khilafah. Simak saja tulisan D.B. Donald yang menyatakan, “Tidak mungkin—sama sekali—seorang imam (khalifah) menjadi pemimpin berdasarkan konstitusi, dalam pengertian seperti yang kita ketahui.”  (D.B. Donald, The Development of Muslim Theology, Jurisprudence and Constitutional Theory, hlm. 58-59). Dengan sebuah pertanyaan sederhana saja seluruh pendapat tadi akan goyah: “Apakah mungkin masyarakat Islam atau kumpulan dari individu-individu Muslim, tanpa negara, bisa menaklukkan Benteng Ctesiphon dan Constantinopel yang merupakan simpul kekuatan negara adidaya, Persia dan Romawi?” Bantahan lengkap mengenai opini-opini sesat yang disampaikan oleh Dr. Helmy pada talkshow saya lampirkan dalam tulisan yang lain.

Satu lagi pernyataan beliau yang menyengat pendengaran saya adalah ketika Rasulullah wafat, para sahabat kebingungan karena Rasulullah tidak meninggalkan sistem atau konsep apapun tentang negara. Jadi, menurut beliau, baik Abu Bakar, Utsman, Umar, Ali, atau para sahabat yang lain bingung. Oleh karena itu, pola pengangkatan pemimpin oleh para sahabat pun menjadi berbeda-beda di setiap kurun waktu. Sungguh, yang demikian itu adalah pernyataan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara historis maupun akademis. Apakah memang faktanya para sahabat bingung? Kalau iya, apa tanda-tandanya? Toh pada faktanya tidak pernah tercatat dalam sejarah suatu pernyataan eksplisit dari salah satu, beberapa, atau semua sahabat bahwa mereka sedang “bingung”. Ada gap yang sangat jauh antara opini Dr. Helmy dengan fakta yang ada sehingga saya berani mengatakan opini yang beliau sampaikan dalam talkshow tersebut adalah opini yang sesat dan menyesatkan! Tidak hanya itu, opini tersebut merupakan penentangan terhadap syumuliyatul Islam, kesempurnaan Islam sebagai sebuah metode kehidupan yang unik, dan penghinaan yang luar biasa terhadap para sahabat. Keadilan sahabat merupakan suatu hal yang telah ditunjukkan oleh nash, baik Al Qur’an maupun As Sunnah, semisal:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS At Taubah:100)

“sesungguhnya Allah telah memilih shahabat-shahabatku atas penduduk dunia selain para Nabi dan para utusan”. (Hadits dikeluarkan oleh Al Bazzar)

Pujian dari Allah dan Rasul-Nya Alaihis-salam menunjukkan adanya perhatian terhadap perkataan mereka, sekaligus menunjukkan bahwa kejujuran mereka adalah suatu yang qath’i sehingga tidak pantas apabila ada yang meremehkan sahabat Rasul, semisal dengan mengatakan mereka “bingung” sementara faktanya sama sekali tidak demikian!

Demikianlah, secara kasat mata saya melihat, talkshow tersebut telah melenceng dari pembahasan yang shahih mengenai kasus NII dan berubah menjadi talkshow “monsterisasi” Islam dan ide-ide seputar negara Islam. Berbagai macam pertanyaan yang ditujukan kepada pembicara saat sesi tanya jawab sudah tidak terlalu saya hiraukan. Hanya beberapa pertanyaan ringan seputar peran mahasiswa di kampus dan pernyataan mahasiswa FKM bernama Rizqy (entah Rifky atau Riki, tidak begitu jelas) yang merasa kasus NII memojokkan kajian-kajian ke-Islaman. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul sama sekali tidak menyentuh substansi persoalan. Satu-satunya tanggapan audience yang menarik perhatian saya adalah tanggapan yang disampaikan oleh seorang dosen Fakultas Hukum Unair bernama Wayan. Beliau menyampaikan bahwa ketidakberdayaan aparat penegak hukum dalam menuntaskan kasus NII dapat dicegah apabila aparat memiliki legal frame atau payung undang-undang tentang keamanan negara. Oleh karena itu, beliau menyatakan dukungan terhadap pengesahan RUU Intelijen yang saat ini sedang digodok oleh DPR. Bahkan, beliau juga sangat mendukung pemberlakukan kembali UU Subversif yang pernah diterapkan pada masa orde baru. Saya tertarik karena pernyataan-pernyataan tersebut semakin menyesatkan audience ke dalam cara pandang yang keliru. Sudah terbukti pemberlakuan UU Subversif pada masa orba telah memakan banyak korban, yakni orang-orang yang kritis terhadap kebijakan pemerintah. UU tersebut telah membungkam segala aspirasi masyarakat, termasuk umat Islam. Sudah jelas, RUU Intelijen yang sedang digodok saat ini dipenuhi banyak kejanggalan dan berpotensi melahirkan rezim yang otoriter, lagi-lagi juga akan membungkam upaya umat Islam untuk menerapkan Syari’ah. Tapi ternyata ada saja akademisi yang mendukungnya. Masya Allah, lengkaplah kerusakan opini yang ditimbulkan acara talkshow tersebut! Pikir saya saat itu.

Setelah berkali-kali mengacungkan tangan dan tidak mendapatkan kesempatan berbicara barang 1 menit saja untuk meng-counter opini yang berkembang, saya pun melirik jam di dinding sebelah kanan saya. Tak terasa jam di dinding sebelah barat ruangan itu telah menunjukkan pukul set 4 lebih. Akhirnya, diskusi yang dipandu host ditutup. Host kembali menyerahkan kendali acara kepada MC. Beberapa audience mulai meninggalkan ruangan meski acara belum sepenuhnya ditutup. 20 menit sebelumnya, KH Abdusshomad Bukhori telah meninggalkan acara terlebih dahulu karena beliau akan menghadiri rapat penting di tempat lain. Serangkaian penutupan pun dilaksanakan. Penyerahan cinderamata, foto bersama, juga closing speech dari Rektor. Rektor menyampaikan bahwa saat ini kelompok Islam dapat dikategorikan menjadi 5, yaitu kelompok “ekstream kanan”, “mainstream kanan”, “ekstrem tengah”, “mainstream tengah”, dan satu kategori lagi terlewatkan oleh pendengaran saya. Kemudian rektor menegaskan bahwa UNAIR hanya akan mengijinkan agenda yang termasuk mainstream kanan dan mainstream tengah. Beliau menyatakan demikian tanpa ada penjelasan yang memadai mengenai kategorisasi tersebut. Kesan yang muncul, kategorisasi tersebut akan menjadi “pasal karet” yang bisa ditafsirkan secara liar sekehendak hati dan bisa dipergunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk memberangus opini penegakkan Syari’ah Islam yang diserukan di dalam kampus.

Setelah Rektor kembali ke tempat duduknya, MC pun segera menutup acara talkshow secara keseluruhan dan mempersilahkan para pembicara untuk memberikan press conference kepada seluruh wartawan media cetak maupun elektronik yang memang telah hadir untuk meliput acara tersebut. Beberapa menit, saya sempatkan untuk membagikan beberapa buletin Al Islam yang membahas tentang RUU Intelijen dan Bom Cirebon kepada beberapa orang yang duduk di sekitar saya. Untunglah ada kawan-kawan saya, mahasiswa Unair yang juga hadir dalam acara tersebut yang telah mempersiapkan beberapa eksemplar buletin sebagai upaya untuk meng-counter opini negatif yang muncul ketika talkshow meski saya tidak mendapat kesempatan untuk melakukannya secara lisan. Melalui tulisan ini saya ingin mengucapkan selamat kepada UKMKI Unair, khususnya panitia penyelenggara talkshow. Selamat, karena talkshow yang anda selenggarakan telah berlangsung dengan lancar. Selamat, karena talkshow tersebut telah sukses untuk meyakinkan peserta talkshow bahwa Islam tidak memiliki konsep negara, bahwa para sahabat adalah orang-orang yang “bingung”. Selamat, acara tersebut juga telah sukses untuk menjadikan audience mendukung UU Subversif dan RUU Intelijen untuk membungkam aspirasi umat Islam dalam menegakkan Syari’ah dan Khilafah. Dan yang terpenting, acara tersebut telah sukses meningkatkan Islamophobia. Sebenarnya, talkshow tersebut lebih tepat berjudul “Mewaspadai Negara Islam”.

Sungguh, sore itu adalah sore yang cerah, secerah pikiran dan perasaan saya. Alhamdulillah, saya bersyukur, keikutsertaan saya dalam talkshow telah memunculkan semangat baru dalam diri saya. Semangat untuk terus belajar, memperkuat tsaqofah dan memperbaiki diri. Semangat untuk terus membangun opini yang shahih mengenai Islam dan menyebarkannya setiap waktu kepada orang-orang di sekitar saya. Semangat untuk terus menulis dan mengkaji. Semangat tanpa lelah, mempersiapkan masyarakat menuju tegaknya Sistem Islam, satu-satunya sistem yang di ridhoi oleh Allah Ta’ala. [pembelaislam]

 

NB: Terimakasih secara khusus saya ucapkan kepada sahabat sekamar saya, Bayu, yang bersedia terganggu waktu istirahatnya karena saya menyalakan dua lampu neon yang menyilaukan selama menulis reportase pribadi sepanjang 7 halaman A4 ini. Jazakallahu khoiron katsiir, bro^^

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Opini, Reportase, Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s