Islamophobia di Kampus

Ketakutan akan Islam“Saat ini berkembang opini di tengah masyarakat untuk menjadikan syariah Islam sebagai solusi atas segala permasalahan yang ada. Bagaimana pendapat kedua calon mengenai hal tersebut? Apakah setuju atau tidak?” Demikianlah pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu mahasiswa yang hadir pada kampanye Capres BEM ITS 2010-2011. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab dengan sebuah ketidaksetujuan oleh calon nomor 1. Secara terang-terangan calon tersebut menyatakan merasa tersinggung dengan pertanyaan yang diajukan. Namun ketika tiba giliran calon nomor 2 untuk menjawab, moderator menyatakan untuk memotong pertanyaan dan membatalkan giliran bagi calon tersebut. Moderator dan KPU menganggap pertanyaan tersebut tidak sesuai dengan kriteria-kriteria pertanyaan yang diperbolehkan. Salah satu kriteria yang dilanggar menurut mereka adalah pertanyaan yang diajukan tidak boleh berbau SARA. Pertanyaan tersebut dianggap berbau SARA karena menyebutkan kata “syariah Islam” didalamnya. Si penanya kemudian melakukan crosscheck dengan mempertanyakan batasan “berbau SARA” yang tidak jelas, namun tidak lagi ditanggapi baik oleh moderator maupun kedua calon.

Itulah sekelumit fakta mengenai kondisi mahasiswa ITS saat ini. Ketika ada sedikit saja penyebutan kata “syariah Islam” atau kata-kata lain yang berkaitan dengan Islam, maka akan langsung dibungkam dan bahkan dihujat dengan berbagai alasan. Salah satu alasan, sebagaimana yang telah disebutkan di atas adalah karena “berbau SARA”. Kalau kita cermati, alasan tersebut sebenarnya bukanlah alasan yang konsisten. Mengucapkan syariah Islam di tengah-tengah khalayak ramai yang terdiri dari berbagai macam suku dan agama dianggap “berbau SARA” karena tidak dapat dimengerti oleh umat agama lain dan konon akan menyinggung perasaan mereka. Apabila ingin konsisten dengan alasan tersebut, maka ucapan salam “Assalamualaikum” yang biasa diucapkan sebagai opening speech juga bisa dianggap “berbau SARA”. Bahkan penyebutan “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” yang tertera di keputusan dan rekomendasi Mubes III juga bakal dianggap “berbau SARA” karena pada faktanya tidak semua mahasiswa ITS beragama Islam atau Nasrani. Dari sini nampak jelas bahwa alasan “berbau SARA” adalah alasan yang mengada-ada. Terlebih lagi, alasan tersebut bukanlah alasan utama yang mendasari pembungkaman terhadap mahasiswa yang mengopinikan Syariah Islam.

Alasan utama yang menyebabkan itu semua adalah tercerabutnya pemikiran Islam dari mahasiswa yang mayoritas adalah Muslim. Islam tidak lagi diemban sebagai sebuah solusi atas setiap permasalahan kehidupan mereka. Justru pemikiran-pemikiran asing nan rusaklah yang nampak mendominasi kehidupan mahasiswa khususnya di ITS. Contoh yang mudah dapat kita temui pada kampanye capres BEM saat ini. Pada closing speech-nya, salah satu calon dengan jelas menyatakan bahwa “Loves of God = 1%”. Maksudnya, kecintaan terhadap Tuhan tidaklah berguna lagi dalam meraih kesuksesan. Ini jelas-jelas merupakan promosi ideologi sosialisme. Calon yang lain dalam kampanyenya menyatakan bahwa dia adalah orang yang moderate, selalu mencari titik temu apabila ada perbedaan. Sikap moderate ini merupakan cikal bakal lahirnya kapitalisme. Ideologi kapitalis-sekular bermula dari moderasi antara para cendekiawan atau filosof yang menolak agama dan para pemuka agama pada permulaan abad renaissance. Hasil dari moderasi tersebut adalah sekularisme, yakni dipisahkannya agama dari kehidupan. Agama hanya boleh mewarnai ruang privat individu dalam masyarakat dan tidak diperbolehkan mengintervensi ruang publik. Hal itulah yang kemudian menjadi landasan bagi tegaknya kapitalisme global.

Wahai mahasiswa! Sesungguhnya kedua ideologi yang disebutkan di atas telah nyata kerusakannya. Sosialisme telah runtuh sejak ambruknya soviet pada awal 90-an. Keruntuhannya kemudian disambut oleh bangsa-bangsa yang ada di dunia dengan menerapkan sekularisme-kapitalisme. Hasilnya, saat ini kita hidup dalam tatanan kehidupan yang sekuralistik, tatanan ekonomi yang kapitalistik, tatanan sosial yang hedonistik, pendidikan yang liberalistik, dan pola beragama yang sinkretistik. Masalah demi masalah muncul tanpa ada solusi tuntas. Sebut saja kasus century yang hingga saat ini tidak jelas penyelesaiannya, kasus korupsi pajak yang juga tidak jelas dimana ujungnya. Semua itu membuktikan bahwa sekularisme-kapitalisme telah gagal total dan akan ambruk menyusul sosialisme. Maka tidak layak bagi kita untuk memperjuangkan, sebagian atau keseluruhan ideologi-ideologi tersebut. Wahai mahasiswa! Sungguh hanya Islamlah satu-satunya ideologi yang dapat menjamin kesejahteraan bagi masyarakat. Hal ini telah dibuktikan ketika aturan-aturan Islam diterapkan secara total selama 13 abad dalam sebuah institusi Khilafah. Hanya Islamlah satu-satunya ideologi yang diridhoi oleh Allah Sang Pencipta sehingga sudah selayaknya kita mengemban Islam dan senantiasa menyuarakan Islam di mana pun dan kapan pun.

Wahai mahasiswa! Segala usaha untuk membungkam opini Islam di kampus merupakan suatu bentuk phobia terhadap Islam, baik terhadap pemikiran maupun metodenya. Islamophobia, apapun bentuknya, merupakan bukti kekalahan intelektual sekaligus bentuk ketakutan barat yang mengemban sekularisme dan demokrasi terhadap menguatnya dukungan masyarakat untuk menerapkan aturan-aturan Islam. Ketakutan itu kemudian mereka wujudkan dengan berbagai macam cara. Di Eropa misalnya diwujudkan dengan pelarangan jilbab. Di negara-negara Asia mereka mempropagandakan isu terorisme, berharap agar masyarakat, termasuk mahasiswa menjauhi hal-hal yang berkaitan dengan syariah Islam. Tidak cukup sampai disitu, mereka berusaha mejajah pemikiran intelektual kampus, yakni mahasiswa, melalui kurikulum pendidikan yang mereka buat. Dan nampaknya, hal tersebut cukup berhasil di ITS. Kasus yang telah kita bahas di awal merupakan indikasi yang tak terbantahkan. Oleh karena itu, selayaknya kita sebagai mahasiswa menyadari hal tersebut. Sudah saatnya mahasiswa berjuang untuk memerangi segala bentuk penjajahan, termasuk penjajahan pemikiran yang mereka alami saat ini. Sudah saatnya kita kembali ke jalan yang diridhoi oleh Allah yakni Islam! Wallahua’lam bi ash-showab.[pembelaislam]

Iklan

9 Komentar

Filed under Opini, Pemikiran

9 responses to “Islamophobia di Kampus

  1. saya sendiri sebagai moslem menolak penggunaan syariah Islam untuk sekarang belum tepat, terlalu terburu-buru. Umat Islam di Indonesia belum bisa menunjukkan ke Islamannya sehingga bila dilhat dari oleh org non muslim Islam itu adalah agama yg keras. Lain lagi masalah penegakkan hukum, pertama2 yg perlu di ubah adalah paradigma penegak hukum, karena sekarang hukum bisa dibeli dengan uang bisa dibayangkan banyak kasus org salah tangkat dan harus mendekam di penjara tanpa alasan, bisa-bisa nanti malah asal maen potonh tangan

    • pembelaislam

      Betul sekali mas, saat ini masyarakat kita memang belum siap menerapkan syariah. Oleh karena itu yang harus dilakukan adalah mempersiapkan masyarakat untuk menerapkan syariah Islam, karena penerapan syariah Islam dalam kehidupan merupakan kewajiban dari Allah Sang Pencipta. Syariah Islam dianggap keras atau terkesan kejam karena tidak ada suatu penjelasan yang gamblang dan detail terkait syariah itu sendiri, disamping adanya opini atau stigma negatif terhadap Islam. Inilah yang menjadi tugas kita bersama, untuk menyadarkan masyarakat bahwa penerapan Syariah Islam akan menjamin kesejahteraan mereka (silahkan baca salah satu artikel saya, terkait krisis listrik). Maqashid Syari’ah, tujuan dari penerapan syariah adalah untuk menjaga akal, menjaga jiwa, menjaga maal (harta benda), menjaga kehormatan, dan menjaga negeri kita sendiri dari berbagai kerusakan yang terjadi dewasa ini. Terimakasih atas komentarnya:)

  2. Assalamualaikum …

    Nice post … bisa diakui memang seperti itulah keadaan yang terjadi sekarang, bukan hanya di kampus namun di seluruh tatanan kehidupan masyarakat.

    Dan yang lebih buruk lagi, bagaimana antar muslim sendiri saling berpecah belah dan takut dengan ‘aliran’ diluar yang dianutnya. Saling menghujatpun dan pemaknaan sesat jadi senjata. Kitapun hanya bisa berdoa semoga berada di jalan yang benar. 🙂

    • pembelaislam

      Waalaikumussalam,

      Yup, sangat penting bagi kita untuk menjaga ukhuwah Islamiyah. Dan sebaik-baik penjaga ukhuwah Islamiyah adalah Khilafah, yang akan menyatukan umat Islam dari berbagai bangsa, golongan, warna kulit, dan suku. Sementara saat ini umat Islam terkotak-kotak dalam ikatan Nasionalisme yang sangat rendah dan tidak bermutu!

  3. tomie

    saya tanya sama Anda

    kenapa Anda menggugat sedemikian rupa?
    sementara Anda pastilah TERSINGGUNG dan Amarah
    apabila non-muslim yang melakukannya di kampus?

    tidak ada yang salah jika ada yang phobia dengan Islam
    karena kita sendirilah yang MENCIPTAKAN KEADAAN MACAM ITU

    KITA PERLU INTROPEKSI DIRI KAWANNN

    Anda marah-marah kayak gini, apakah ada landasannya dalam AlQuran dan Al Hadist???

    Apa Anda lupa Tujuan utama Nabi Saw?
    yakni, penataan Aklakul Karimah?

    BAGAIMANA MENURUT ANDA?
    SUKRON LAKUM YA AKHI AL KARIM

    • pembelaislam

      Yang pertama, saya tidak akan tersinggung kok seandainya ada non muslim yang menyerukan keyakinannya secara terbuka di kampus. Itu adalah hal yang sangat wajar. Mekanisme untuk menyelesaikan perbedaan ide di dalam Islam adalah dengan diskusi atau debat dengan cara yang baik, wa jaadilhum billati hiya ahsan (An-Nahl 125).

      Yang kedua, saya sepakat dengan anda bahwa kita harus intropeksi diri. Akhlak umat Islam memang terpuruk mas. Semua itu disebabkan oleh adanya pemisahan agama dengan kehidupan. Generasi kita menjadi generasi yang jauh dari Islam, split personalisation. Semua itu tidak akan terjadi apabila kehidupan kita diatur oleh aturan-aturan Sang Ilahi. Memang sudah saatnya bangsa ini hidup dengan cara baru, yakni cara Syariah. Dengan begitu, akhlakul karimah akan terwujud di tengah-tengah kita. Amiin:)

  4. yah, emang betul apa yg dikatakan sama mas pembelaislam. Islamophobia tuh udah merambah ke mana2, meski terkadang sangat halus.

  5. tomie

    [Semua itu tidak akan terjadi apabila kehidupan kita diatur oleh aturan-aturan Sang Ilahi. Memang sudah saatnya bangsa ini hidup dengan cara baru, yakni cara Syariah. Dengan begitu, akhlakul karimah akan terwujud di tengah-tengah ]

    APA YG ANDA MAKSUD DG CARA-CARA SYARIAH???
    ATURAN ILAHI SEMACAM APA?

    NP HRS NUNGGU?
    SAAT INI JUGA DONG!

  6. pembelaislam

    Wah3x, mas tomi rupanya sudah rindu banget dgn penerapan aturan-aturan syariah. Ada 3 unsur yg menerapkan syari’ah: individu, masyarakat, dan negara. Syari’ah Islam (aturan Islam) yg mengatur individu sudah bisa kita terapkan kok. Contohnya aturan yg terkait ibadah, makanan, minuman, dan juga akhlak. Haramnya makan babi, minum khamr atau haramnya berbohong bisa ditaati secara individual. Tapi aturan yg mengatur hukuman bagi pezina (An Nur:2), hukuman bagi pencuri (Al Maidah:38), ekonomi bebas riba (Al Baqoroh:275), dsb jelas blm bisa dilaksanakan oleh individu, namun harus dilakukan oleh institusi negara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s