Goemon

Sabtu, 21 Nopember 2009. Jam menunjukkan pukul 15.30. Kala itu, saya dan Fajar, teman satu kos saya baru saja tiba di kos setelah mengikuti diskusi aktivis mahasiswa Islam di kampus B Unair. Sembari melepas lelah, kami duduk-duduk di kamar, sesekali leyehan, sambil memutar sebuah film di pc saya. Maka jadilah suasana kamar saya seperti bioskop TransTV :). Film yang kami putar diawali oleh sebuah narasi mengenai situasi Jepang pada tahun 1582. Oda Nobunaga, yang hampir berhasil menyatukan Jepang, dibunuh oleh pengikutnya sendiri, yakni Akechi Mitsuhide. Namun, Akechi sendiri kemudian dibunuh oleh Toyotomi Hideyoshi, pengikut Oda Nobunaga yang lain. Goemon Lagi PoseKemudian Toyotomi menjalankan sebuah pemerintahan diktator dan mengangkat dirinya sebagai pengganti pemerintahan Oda Nobunaga. Dan inilah yang menjadi setting waktu dan tempat bagi film tersebut. Adegan selanjutnya menggambarkan pencurian yang dilakukan oleh seorang shinobi, Ishikawa Goemon, terhadap harta milik seorang bangsawan, Kinokuniya Bunzaemon. Shinobi inilah yang kemudian dijadikan tokoh utama, sekaligus dijadikan judul film “Goemon”.  Goemon, ketika melakukan aksinya di brankas raksasa milik bangsawan Bunzaemon, selain menguras habis koin-koin emas dan barang-barang berharga lainnya, juga mencuri sebuah kotak biru tua yang berisi sebuah gulungan kertas. Gulungan kertas tersebut ternyata adalah bukti bahwa Toyotomi Hideyoshi lah yang mendalangi pembunuhan Oda Nobunaga. Dari kotak “pandora” itulah semua kisah dalam film tersebut bermula.

Film tersebut dipenuhi oleh adegan-adegan aksi dari para shinobi dan ninja, yang tentunya digarap dengan menggunakan animasi dan efek komputer. Saya tidak akan mengisahkan dengan detail jalannya film tersebut. Kalau ingin tahu detailnya bagaimana ya silahkan ditonton sendiri :D. Saya hanya akan memberikan beberapa catatan terhadap beberapa bagian dalam film tersebut. Diakui atau tidak, terdapat beberapa adegan yang mungkin terlalu imaginatif, khayal, dan terkadang juga sadis. Namun disamping itu semua, terdapat beberapa bagian yang menarik untuk diikuti karena didalamnya terdapat penggambaran mengenai sejarah manusia itu sendiri. Satu adegan yang paling menarik bagi saya adalah ketika Goemon sudah berhadap-hadapan dengan Toyotomi Hideyoshi, sang diktator, dan bersiap untuk membunuhnya. Mengapa Goemon ingin membunuh Hideyoshi? Singkat cerita, Hideyoshi menjalankan pemerintahannya dengan tangan besi sehingga begitu banyak orang yang membencinya dan ingin membunuhnya. Disamping itu Hideyoshi belakangan diketahui telah membunuh Oda Nobunaga yang dicintai oleh pengikutnya, salah satunya adalah Goemon, dan merebut kekuasaan darinya.

Saat itu, setelah melewati berbagai pintu penjagaan istana, Goemon berhasil menyusup ke bilik persembunyian Hideyoshi yang terletak di puncak istana. Hideyoshi yang telah menyadari kedatangan Goemon tetap duduk dengan tenang sambil minum sake (arak khas Jepang). Hideyoshi sudah memahami maksud kedatangan Goemon, yakni untuk membunuhnya. Dengan tenang pula Hideyoshi meminta Goemon untuk duduk dan minum sake bersamanya sebagai permintaan terakhir sebelum Goemon membunuhnya. Goemon pun mengabulkan permintaan Hideyoshi. Sambil minum sake, Goemon melontarkan sebuah pertanyaan dan meminta sebuah penjelasan kepada Hideyoshi, mengapa dia membunuh Oda Nobunaga. Sambil berdiri dan memandangi kerlap-kerlip kecil lampion rumah-rumah yang nampak indah dari puncak istana tersebut, Hideyoshi memberikan sebuah jawaban mengapa dia membunuh Oda Nobunaga. Jawaban itu sederhana: (translasi ke bahasa Inggris) “I was hungry”. Kemudian Hideyoshi melanjutkan percakapannya sebagai berikut:

As you already know, I was born as a peasant. Since I was a child… I was so hungry that I couldn’t stand it any longer. I wanted to fill my stomach just once. In order to do that… I even desperately endured Nobunaga’s unreasonable demands… I’ve worked hard… and succeeded. But, you know… now matter how much I ate, I couldn’t get enough. My stomach was always empty… I was so hungry that I couldn’t stand it any longer. So, in the end… I’ve tried to eat the governmental power. That’s all.

Jawaban-jawaban Hideyoshi itulah yang kemudian membuat saya penasaran. Hideyoshi kecil ternyata lahir dan tumbuh dalam sebuah keluarga petani nan miskin sebagaimana sebagian besar petani saat itu. Walaupun hidup bersama lumbung padi dan hasil-hasil pertanian, kelaparan dan kemiskinan tetap menghantui kehidupan petani saat itu. Hideyoshi kecil pun demikian, dia sangat lapar dan tidak sanggup lagi menahan laparnya.  Dia ingin mengisi perutnya barang sekali. Oleh karena itu dia memutuskan untuk bekerja sebagai pegawai pemerintahan Nobunaga dan seringkali menjalankan perintah-perintah yang tidak masuk akal dari Nobunaga. Dia bekerja keras dan akhirnya sukses menjadi tangan kanan Nobunaga. Namun, tidak peduli seberapa banyak dia “makan”, dia tidak pernah merasa puas. Perutnya selalu terasa kosong. Dia tetap “lapar” dan tidak kuat menahan “laparnya”. Sehingga pada akhirnya dia berusaha “memakan” kekuasaan dan pemerintahan.

Penjelasan Hideyoshi tersebut mengingatkan saya pada sebuah tabiat manusia, rakus dan tamak. Dalam sejarah, khususnya sejarah Jepang abad pertengahan , event-event yang terjadi seringkali tidak terlepas dari kerakusan dan ketamakan. Meski terdapat beberapa versi mengenai sejarah Jepang abad pertengahan, banyaknya pembunuhan, peperangan, dan kudeta yang terjadi merupakan suatu fakta yang tak terbantahkan. Dan kebanyakan kejadian tersebut berlatar belakang politik, yang ujung-ujungnya dilahirkan dari kerakusan atau ketamakan seseorang atau kelompok yang ada  saat itu. Salah satu referensi yang saya baca, Ninja 1460-1650, yang ditulis oleh Stephen Turnbull, telah memberikan cukup gambaran mengenai situasi Jepang dalam kurun waktu tersebut. Jepang saat itu dipimpin oleh pemerintahan-pemerintahan feodal dan diktator militer (Shogun). Beberapa yang terkenal adalah Oda, Uesugi, Toyotomi, Takeda, Tokugawa, dan Hojo. Marga-marga feodal tersebut saling berperang dan berebut kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Tak ayal, Ninja maupun Samurai menjadi suatu pekerjaan yang menjanjikan. Banyak orang yang menjadi Ninja maupun Samurai demi beberapa koku(semacam satuan karung) beras.

Apabila dulu kerakusan dan ketamakan hanya dimiliki dan diwujudkan oleh individu maupun kelompok, maka yang terjadi saat ini ketamakan tersebut diwujudkan secara sistemik yaitu Kapitalisme. Sesuai dengan namanya, yang paling menonjol dalam sistem ini adalah sistem ekonominya yang hanya membahas aspek-aspek yang berkaitan dengan materi, baik berupa barang maupun capital/ modal. Mengapa sistem tersebut saya katakan sistem rakus?  Mari kita perhatikan pembahasan berikut. Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Nidhomul Iqtishodi fil Islam memaparkan apabila kita melihat sistem ekonomi dalam pandangan ideologi Kapitalis, maka kita akan melihat bahwa ekonomi dalam pandangan mereka adalah apa yang membahas tentang kebutuhan-kebutuhan (needs)  manusia beserta alat-alat (goods) pemuasnya. Sistem itu dibangun dengan tiga kerangka dasar. Salah satu di antaranya adalah kelangkaan (scarcity) atau keterbatasan barang-barang dan jasa-jasa yang berkaitan dengan kebutuhan manusia. Dimana barang-barang dan jasa-jasa itu tidak mampu atau memiliki keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia yang beraneka ragam dan terus-menerus bertambah kuantitasnya. Dan inilah masalah ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat, menurut mereka (para kapitalis).  Para kapitalis menganggap, kebutuhan manusia itu tidak terbatas, sedangkan barang dan jasa yang digunakan sebagai alat-alat (goods) pemuas kebutuhan itu terbatas.

Kita tidak akan membahas lebih lanjut mengenai bagaimana kemudian para kapitalis menyelesaikan permasalahan tersebut atau apa kerangka dasar sistem ekonomi Kapitalis yang lain. Namun yang menjadi suatu pokok bahasan disini adalah munculnya sebuah pertanyaan: apakah benar kebutuhan manusia tidak terbatas? Bung Sigit Purnawan Jati dalam artikelnya yang berjudul Membangun Ekonomi Alternatif Pasca Kapitalisme menejelaskan bahwa dominansi sistem pasar bebas yang ada dalam kapitalisme, telah mendorong para pelaku ekonominya untuk senantiasa berkompetisi secara bebas dan untuk selalu dapat menang dalam persaingan sehingga selalu dapat meraih keuntungan yang setinggi-tingginya. Akibatnya, dalam memilih barang yang harus diproduksi dan dijual dipasar, kapitalisme sudah tidak pernah melihat lagi apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan manusia atau tidak. Kapitalisme sudah terpaku pada bagaimana agar barang yang diproduksi itu laku dipasaran, walaupun sebenarnya masyarakat tidak terlalu butuh dengan barang atau jasa tersebut. Jika perlu kapitalisme dapat mendorong terciptanya kebutuhan semu masyarakat melalu berbagai iklan dan promosi yang dilakukan secara besar-besaran.

Akhirnya masyarakat kapitalis tidak dapat lagi membedakan mana sesungguhnya yang disebut dengan kebutuhan (yang dianggap tidak terbatas tersebut) dan mana yang disebut dengan keinginan. Kapitalisme menjadi tidak peduli lagi dengan apa yang disebut kebutuhan dasar (hajah asasiyah) manusia (yang kalau tidak dipenuhi manusia akan mati) dan mana yang seungguhnya hanya kebutuhan pelengkap (hajah dzaruriah dan kamaliah atau sekunder dan tersier). Akibatnya, pelaku ekonomi dalam sistem kapitalisme cenderung hanya terpacu untuk memproduksi barang dan jasa yang menjanjikan tingkat harga yang tinggi saja, karena hanya barang dan jasa  seperti itulah  yang akan memberikan keuntungan besar.

Kenyataan itu juga diperkuat dengan adanya anggapan bahwa kebutuhan manusia tidaklah terbatas, dan bila tidak dipenuhi akan menimbulkan problem. Padahal kenyataannya untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu (khususnya kebutuhan dasar) manusia tetaplah mempunyai batas-batas tertentu ketika  mengkonsumsinya. Tidaklah mungkin, misalnya seorang manusia mampu mengkonsumsi seratus piring nasi per hari dan kemudian terus menginginkan menjadi seribu piring nasi per hari. Sesungguhnya yang akan menimbulkan problem serius pada manusia hanyalah jika kebutuhan dasar tersebut tidak terpenuhi. Untuk kebutuhan yang sifatnya pelengkap, jika tidak terpenuhi sesungguhnya tidak akan menimbulkan problem yang serius.

Hal itulah yang kemudian menciptakan sebuah tatanan kehidupan yang tamak dan rakus. RakusPada akhirnya, tatanan kehidupan semacam itu melahirkan Hideyoshi-Hideyoshi yang baru di dunia modern saat ini. Bukan hanya 2 atau 3 Hideyoshi, namun ribuan bahkan jutaan “Hideyoshi”. Faktanya kita bisa melihat betapa kerakusan telah mendominasi kehidupan kita. Para kapitalis yang tidak cukup puas dengan segala kekayaan yang mereka miliki kemudian berlomba-lomba untuk “memakan” kekayaan alam suatu negara. Di Indonesia, 90% lebih migasnya dikuasai oleh kapitalis. Tembagapura, sebuah tambang emas dengan cadangan emas mencapai 4 juta ons lebih, tidaklah dikuasai oleh negara, namun dikelola oleh “Hideyoshi”, yakni kapitalis bernama Freeport. Kita pun tidaklah heran mendengar adanya pembelian pulau oleh seorang yang memiliki capital. Ada beberapa artikel yang pernah saya baca, namun saya lupa sumbernya, yang menyatakan bahwa banyak orang-orang bermodal yang tertarik untuk membeli tanah di bulan, satelit planet kita. Di masa mendatang, apabila sistem Kapitalis ini tetap diterapkan, tidak perlu terkejut jika kita menyaksikan jual beli negara, jual beli benua, jual beli samudera, atau jual beli langit!

Sungguh, Kapitalisme telah mendidik manusia menjadi rakus dan tamak. Kapitalisme juga telah melahirkan berbagai kerusakan. Jurang pemisah antara yang kaya dan yang miskin semakin dalam dan lebar. Perhatikan data berikut: Menurut Biro Pusat Statistik (BPS) 1994, dengan garis kemiskinan 500 rupiah per hari, terdapat 28 juta rakyat miskin (2 juta di kota dan 26 juta di desa). Bila garis kemiskinan dinaikkan menjadi 1000 rupiah per hari, jumlah penduduk miskin meningkat menjadi sekitar 117 juta jiwa atau 65 persen dari jumlah penduduk (Basri, 1995: 105). Dalam sebuah artikel khusus harian Republika dilaporkan bahwa omset tahun 1993 dari 14 konglomerat Indonesia terbesar yang tergabung dalam grup Praselya Mulya, diantaranya Om Liem (Salim Group), Ciputra (Ciputra Group), Mochtar Riady (Lippo Group), Suhargo Gondokusumo (Dharmala Group), Eka Tjipta (Sinar Mas Group) mencapai 47,2 trilyun rupiah atau 83 % APBN Indonesia tahun itu (Republika, 1993). Data tersebut adalah data lama, 13-15 tahun yang lalu. Namun yang terjadi saat ini tidaklah jauh berbeda dengan kondisi yang disebutkan pada data-data tersebut. Tidak percaya? Silahkan tanya ke mbah Google untuk mendapatkan data yang serupa yang lebih up to date!

Terakhir, saya ingin mengajak para pembaca untuk merenungkan peringatan Allah SWT, Sang Pencipta dan Sang Pengatur, berikut:

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Al-Araf:96)

Penerapan ideologi Kapitalis dalam kehidupan kita tidak lain merupakan bentuk “pendustaan” terhadap ayat-ayat Allah. Mengapa? Karena kapitalisme berasaskan sekulerisme, yakni pemisahan antara agama dengan kehidupan. Aturan-aturan Allah dicampakkan dalam kehidupan publik dan dikurung dalam ruang-ruang privat. Hal tersebut hanyalah akan mengundang siksa dan murka Allah kepada kita semua. Maka, tidak ada pilihan lain bagi kita: buang kapitalisme, ganti dengan aturan Allah yakni Islam! [pembelaislam]

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s