“Tragedi” Jum’at

Jum’at, 14 November 2008. Sejak pagi, saya tidak beranjak sedikitpun dari kos saya, tepatnya di Gebang Kidul Puskesmas no. 14, Sukolilo, Surabaya. Kalaupun keluar dari kos paling hanya untuk mencari sesuap nasi (baca: sarapan) di warung HaLim yang terletak di ujung gang, di seberang jalan utama Gebang Putih. Bukan karena tidak ingin menghirup udara luar atau karena malas, keputusan saya untuk tidak keluyuran lebih karena kondisi kesehatan yang tidak mendukung. Yups, sejak kamis sore saya merasakan badan saya capek semua plus keluarnya ingus dari hidung saya. So disturbing, sangat mengganggu, pikir saya. Waktu sholat, terutama pas ruku’ atau sujud, ingus menetes-netes ke tempat sujud dan ke baju saya. Uff, disgusting, menjijikkan, gak usah terlalu detil ah ceritanya. Hmm, ini adalah flu fase awal! Walaupun bukan mahasiswa kedokteran gigi ataupun kedokteran hewan (gak nyambung!) saya langsung bisa menyimpulkan demikian. Yah, belajar dari pengalaman selama ini. Solusinya, yah banyak-banyak istirahat, banyak makan, plus minum obat, bukan diapet atau kalpanax tentunya. Untunglah si Bayu, teman saya satu kos punya cadangan obat flu dan dia mau memberi saya beberapa tablet. Semoga Allah segera memberi kesembuhan pada saya…gumam saya dalam hati.

Selama di dalam kamar kos-kosan saya hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan. Baca tabloid, install dan uninstall aplikasi di PC saya, tidur-tiduran seperti kebanyakan orang sakit lainnya (kecuali sakit jiwa, malah hyperaktif dan banyak actionnya), baca buku dan ebook Java, coba-coba buat GUI (Graphical User Interface) di netbeans (nah, untuk yang satu ini bikin saya pusing, habisnya saya lupa di mana tempat untuk naruh codingnya!), dan seterusnya sampai baca buku Peraturan Hidup dalam Islam. Dan waktu pun cepat berlalu hingga tanpa sadar sudah jam 11.20, mendekati waktu dhuhur. Ingat, hari ini hari Jum’at, jadi harus berangkat Jum’atan ke masjid, gumam saya. Saya pun segera bersiap, ambil wudhu, pake peci, minyak wanginya…saya gak punya. Biasanya sih minta ke kamar-kamar sebelah, tapi hari itu temen satu kos lagi pada kuliah semua sehingga gak ada yang bisa dimintai minyak wangi. Ya udah deh, berangkat apa adanya, yang penting rapi dan suci dari hadats dan najis! Begitulah yang saya ketahui. Akhirnya siaplah saya untuk berangkat ke masjid Ibrahim, masjid terbesar dan terdekat dari kos saya, jaraknya sekitar 400 meteran dari kos. Ugh, pertama menginjakkan kaki di luar kos, panas begitu menyengat, matahari begitu terik. Belum apa-apa peluh keringat sudah bermancuran eh bercucuran di tubuh saya. Maklum, Surabaya, apalagi ini Surabaya Timur, dekat pesisir pantai. Wah, padahal saya harus jalan kaki untuk ke masjid tadi. Okelah, Bismillah, berangkat…

aya-sophia076Sesampainya di masjid saya mengambil selembar buletin Al-Islam di halaman masjid, menyapa seorang sahabat lama saya (entah namanya siapa saya sudah lupa) dan kemudian langsung masuk ke ruang utama masjid dan mengambil shaf ke 4 dari depan. Belum terlalu ramai, karena memang belum adzan. Yang saya ketahui, masjid ini mengikuti pendapat khalifah Umar RA yaitu mengumandangkan adzan dua kali saat sholat Jum’at. Adzan yang pertama sebagai penanda masuk dhuhur sekaligus sebagai seruan atau panggilan untuk melaksanakan sholat Jum’at, adzan yang kedua adalah penanda naiknya khotib ke atas mimbar. Mohon dikoreksi kalau ada kekeliruan. Saat saya takbirotul ihram untuk sholat tahiyatul masjid, barulah bedug ditabuh dan tidak lama kemudian adzan yang pertama dikumandangkan. Sesaat setelah saya selesai sholat tahiyatul masjid adzan yang pertama selesai dikumandangkan. Saya dan jama’ah lain yang sudah datang sejak tadi kembali berdiri untuk menunaikan sholat rawatib qobliyah dhuhur. Setelah selesai sholat, saya melihat sejenak ke sekeliling saya. Benar saja, orang-orang mulai berdatangan mengisi shaf-shaf di ruang utama maupun di teras masjid. Adzan yang pertama cukup efektif!

Ta’mir masjid mengumumkan beberapa informasi kepada para jama’ah diantaranya adalah anjuran untuk menon-aktifkan hp selama didalam masjid (yang saat itu juga langsung saya lakukan pada kedua hp saya), dan siapa yang bertindak sebagai imam dan khotib serta muadzin pada hari itu. Yang saya ingat hanya nama muadzin saja yang memang sudah cukup familier dengan orang-orang yang sering sholat di masjid tersebut, yaitu Pak Kamidi. Sedangkan siapa nama khotibnya saya kurang memperhatikan karena memang saya sedang tidak fokus saat nama khotib dibacakan. Saya malah sibuk curi-curi waktu untuk baca buletin Al-Islam. Yang jelas, tak lama kemudian, adzan kedua pun dikumandangkan oleh Pak Sholeh selaku muadzin. Setelah selesai, barulah khotib naik ke atas mimbar. Di atas mimbar, sang khotib, yang saat itu mengenakan baju koko warna kuning dan berpeci hitam, tidak langsung membuka khutbahnya, akan tetapi beliau diam sejenak memandangi beberapa sudut tempat jama’ah sholat Jum’at duduk, seolah-olah menunggu kesiapan para jama’ah yang hadir saat itu.

“Innalhamdalillah, nahmaduhu wanasta’inuhu wa nastaghfiruhu,…” akhirnya kata-kata itu terucap dari bibir sang khotib. Khutbah telah dibuka. Saya pun memperhatikan dengan seksama tingkah laku sang khotib selama diatas mimbar dan mendengarkan dengan baik segala ucapan sang khotib. Selain merupakan kewajiban bagi jama’ah sholat jum’at, saya melakukannya karena menurut saya itu adalah aktifitas yang sangat penting. Kita jadi tahu apa-apa yang harus dilakukan oleh seorang khotib di atas mimbar dan bagaimana style seorang khotib dalam menyampaikan khutbahnya. Yah, mungkin saja suatu saat nanti saya juga menjadi seorang khotib sholat Jum’at. Walaupun belum tentu sih, namanya juga mungkin. Tapi bukankah seorang muslim harus selalu siap dalam kondisi apapun? Siap ditunjuk menyampaikan khutbah, siap dapat IP jelek atau bagus, siap kaya, siap miskin dan bahkan siap mati! Nah, mendengarkan khutbah dengan baik sembari memperhatikan setiap gerak-gerik sang khotib bagi saya adalah salah satu persiapan untuk menjadi seorang khotib.

Mengenai pentingnya sebuah persiapan, saya jadi ingat terhadap apa yang saya baca dari buku “21 Irrefutable Laws of Leadership” karangan John. C. Maxwell, yaitu tentang hukum yang ke-4 bagi seorang leader atau pemimpin, Hukum Navigasi. Lho, hanya untuk pemimpin saja dong! Ya benar hanya untuk pemimpin, akan tetapi ingatlah bahwa Rasulullah SAW pernah berkata: “Kullukum raa’in…”, setiap kamu adalah pemimpin… Itu artinya kita semua adalah pemimpin, minimal pemimpin bagi diri sendiri. Kembali ke Hukum Navigasi, dikatakan bahwa pemimpin yang baik dapat menjadi navigator yang handal bagi yang dipimpinnya. Seorang navigator yang handal dituntut memiliki persiapan yang matang sebelum memulai perjalanan atau petualangannya. Bagaimana persiapan yang matang itu? Dalam buku tersebut diilustrasikan sebagai berikut: Sir Edmund Hillary dapat menaklukan Puncak Everest karena memiliki persiapan yang matang sebelum pendakian. Dia telah menghitung dengan teliti perbekalan dan peralatan apa saja yang harus dibawa dan berapa jumlahnya, jika terlalu banyak akan membebani perjalanan, namun jika terlalu sedikit bisa-bisa timnya mati kelaparan atau kedinginan di tengah perjalanan. Ia juga telah mengestimasi jalur mana saja yang akan dilaluinya. Sehingga pada akhirnya dia bisa sampai di Puncak Everest dengan lancar berkat persiapan dan bekal yang mantap. Hal yang sebaliknya justru terjadi pada petualang lain yang terlalu gegabah dalam membuat persiapan. Ia hanya bermodal keberanian saja (baca: nekat) tanpa pikir panjang memikirkan persiapan dan perbekalan. Pada akhirnya ia beserta timnya gagal dalam petualangan tersebut, bahkan beberapa anggota timnya meninggal dunia selama perjalanan karena kelaparan atau kedinginan!

Kembali ke pembicaraan mengenai khutbah Jum’at. Sepanjang pengamatan saya selama beberapa menit awal khutbah, sang khotib cukup bagus dalam menyampaikan khutbahnya. Tidak tersirat sama sekali keraguan maupun ke-grogi-an yang seringkali menimpa khotib-khotib lainnya. Dari situ saya bisa menyimpulkan, sang khotib adalah seorang yang sudah berpengalaman dalam menyampaikan khutbah. Isi khutbah juga cukup bagus. Pada awal khutbah, khotib menyampaikan untuk kembali pada aturan-aturan Allah karena barang siapa yang berpaling dari aturan-aturan Allah, hanyalah akan memperoleh kesempitan hidup, seraya menukil Al-Qur’an surat Thahaa awal ayat 124: “wa man a’rodho min dzikri, fa innalahu ma’isyatan dhonkaa…”. Kemudian khotib menyampaikan bahwa kerusakan yang terjadi adalah karena ulah manusia yang tidak mau mengikuti petunjuk dan aturan Allah, sembari menyebutkan bagian akhir surat Al-Qashash ayat 28: “…innallaha laa yuhibbul mufsidiin”, Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Mengapa manusia yang harus menanggung kerusakan yang terjadi? Tidak lain adalah karena manusia adalah khalifah/ pemimpin dimuka bumi, seperti yang disebutkan di Al-Baqoroh ayat 30: “…inni jaa’ilun fil ardhi khaliifah…” Khotib memberikan contoh-contoh sederhana sebagai berikut: tidak mungkin yang menyebabkan hutan rusak adalah harimau, dan juga tidak mungkin yang menyebabkan banjir adalah kodok di sungai, semua kerusakan tersebut adalah ulah manusia.

Selanjutnya yang disampaikan oleh sang khotib adalah yang bisa kita lakukan untuk saat ini sekali lagi harus kembali pada aturan-aturan Allah. Al-Qur’an bukan hanya dibaca saja, namun harus dipahami maknanya dan diamalkan isinya. Kemudian khotib menyindir kebiasaan masyarakat setempat bahwa seringkali hanya membaca Al-Qur’an dengan cara “tradisional” yaitu membaca Al-Qur’an cepet-cepetan/ ngebut kemudian selesai ketika ditanya artinya tidak tahu. Tapi sudah cukup bangga apabila sudah mengkhatamkan Al-Qur’an dengan cepat. Membaca Al-Qur’an ngebut seperti itu memang sengaja ditanamkan oleh para orientalis Belanda pada zaman penjajahan dulu. Hmm, setuju pak! gumam saya dalam hati. Kemudian khotib melanjutkan, “maka dari itu kebiasaan tersebut harus dirubah, harus ada perbaikan sehingga Al-Qur’an tidak hanya dibaca ngebut seperti itu termasuk di masjid ini…” Belum selesai khotib bicara tiba-tiba saja Pak Muklis, salah seorang tokoh masyarakat setempat yang duduk satu shaf di depan saya, mengacungkan tangannya, menginterupsi sang khotib sambil berkata “Maaf, ini khutbah Jum’at! Bukan…” kemudian beliau diam kembali tanpa meneruskan perkataannya. Weits, ada yang tersinggung rupanya, gumam saya dalam hati. Suasana masjid tiba-tiba berubah jadi tegang. Bagaimana tidak, khutbah Jum’at yang seharusnya berjalan satu arah, khotib berbicara dan jama’ah mendengarkan, menjadi dua arah: khotib berbicara, jama’ah menanggapi! Sepanjang hidup saya, ini adalah pertama kalinya, sekali lagi (saya bold, saya gedein nih tulisannya), pertama kalinya saya melihat ada khutbah Jum’at yang diinterupsi oleh jama’ah yang hadir. Dalam kasusinterrupt1 siklus instruksi prosesor yang saya pelajari di kuliah organisasi komputer, interupt alias interupsi itu merupakan suatu hal yang biasa terjadi dan bahkan sangat diperlukan keberadaannya dalam kasus-kasus tertentu. Tapi organisasi komputer gak bisa lah disamain dengan khutbah Jum’at. Dalam khutbah Jum’at, interupsi oleh jama’ah tentu saja tidak perlu (atau bahkan tidak boleh) dilakukan. Tapi ndilalah akhirnya terjadi juga dalam khutbah Jum’at kali ini dan pelakunya tidak tanggung-tanggung: Pak Lis, tokoh masyarakat Gebang.

Sesaat setelah interupsi itu terjadi, sang khotib masih menguasai keadaan dan seolah berusaha untuk meredam ketegangan. Khotib melanjutkan khutbahnya dengan mengatakan bahwa yang paling penting bagi kita saat ini adalah adanya peningkatan kualitas amalan ibadah, kualitas itu harus mulai ditingkatkan dari sekarang. Kurang lebih itulah yang saya tangkap dari khutbah pasca terjadinya interupsi, selebihnya saya lost focus lagi karena pikiran saya penuh sesak memikirkan kejadian barusan. What’s happened? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Dan apa lagi yang akan terjadi setelah ini? Adakah “kejutan” lagi? Suasana tegang, kekhawatiran, dan ketidak-nyamanan terus menyelimuti hingga akhir penyampaian khutbah, walaupun di khutbah yang kedua khotib telah mengajak para jama’ah untuk memanjatkan doa, memohon ampun kepada Allah, dan memohon agar selalu mendapatkan hidayah dari Allah dalam menerima kebenaran Islam. Setelah khotib mengucapkan “…waladzikrullaahi akbar…” sebagai penutup khutbah Pak Sholeh selaku muadzin langsung berdiri dan mengumandangkan iqomat. Interupsi dari Pak Lis pada saat khutbah membuat sholat saya kurang khusyuk karena saya jadi sering memikirkan lagi kejadian tersebut ketika sholat. Sulit sekali dihindari apalagi dilupakan. jamaahsholatUntungnya suasana yang khusyuk masih bisa dirasakan terutama ketika khotib membaca Al-Fatihah dan surat pendek dengan merdu dan tahsin bacaan yang cukup baik. Pada raakat pertama khotib membaca surat pendek Al-Ghasyiyah dan pada rakaat kedua membaca surat At-Tiin. Ayat demi ayat yang dibaca sungguh menyejukkan hati setiap orang yang mendengarkannya. Subhanallaah…

Beberapa saat setelah salam, apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi. Suddenly (tiba-tiba), seorang jama’ah yang posisinya di shaf bagian belakang, berdiri dan “mengungkapkan” perasaannya kepada seluruh jama’ah di masjid tersebut. Bapak-bapak yang berdiri ini wajahnya cukup familier karena saya sering bertemu dengannya walaupun saya tidak kenal namanya. Sepertinya beliau adalah salah satu pemilik warung atau pemilik kos-kosan yang ada di daerah sini. Ah iya, benar, saya ingat, beliau adalah pemilik warung kopi yang terletak di dekat gapura “North Gebang City” (baca: kelurahan Gebang Lor), berjarak satu rumah dengan gang Kanoman, tempat saya ngontrak di tahun pertama kuliah. Beliau juga pemilik kos teman saya, Galih, di daerah Gebang Wetan. Usianya sekitar 40-an. Dengan lantang dan emosional, bapak tersebut berkata (kurang lebih): “Mohon maaf para jama’ah, mengganggu sebentar! Ini jama’ahnya apa dikira goblok! Masalah khilafiyah saya selama ini sudah cukup bersabar, tapi kali ini tidak bisa dibiarkan, bagaimana ini ta’mir masjid Ibrahim? Harus ada tindakan dari ta’mir…” dan seterusnya saya lupa. Saya memang agak malas mendengarkan kelanjutannya karena kesannya sangat emosional. Suasana kembali memanas. Beberapa orang yang lain berusaha menenangkan bapak tadi. Istighfar pak, istighfar,…ucap jama’ah yang lain. “Sudah, sudah, gak usah begitu, gak usah…” Pak Kamidi, sang muadzin yang posisinya tepat dibelakang khotib, ikut menenangkan suasana. Seorang lain dari serambi utara masjid, entah persisnya disebelah mana, nyeletuk: “Kepada khotib dimohon untuk tidak langsung meninggalkan tempat seusai sholat Jum’at untuk berdialog…” Memang tidak terlihat siapa yang bicara barusan karena memang orang di sebelah utara tadi tidak berdiri ketika berbicara. Tapi saya dapat mengenali suaranya. Suara ini sering saya dengar saat sholat maghrib, isya’, atau shubuh berjama’ah di masjid ini. Ya, beliau adalah orang yang sering ditunjuk menjadi imam sholat berjama’ah.

Suasana emosional dan penuh kekecewaan begitu kental, begitu terasa di setiap sudut masjid. Dalam kondisi yang seperti itu, sebagian jama’ah lain memberikan reaksi , entah dengan segera keluar dari masjid, atau dengan menenangkan jama’ah yang emosional tadi. Sementara sebagian jama’ah lainnya tidak memberikan reaksi yang berlebihan, dan juga tidak terlalu memperdulikan kejadian tersebut (termasuk saya), sehingga tetap meneruskan dzikir dan doa dengan tenang, kemudian melanjutkannya dengan sholat sunnah rawatib ba’diyah. Alasan saya memilih sikap yang kedua adalah saya hanya mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Bukankah Rasulullah mengajarkan pada kita untuk berdzikir memohon ampunan Allah dan berdoa kepada-Nya setelah sholat? Bukankah Rasulullah juga mengajarkan untuk sholat sunnah dua rakaat setelah dhuhur? Dalam situasi se-emosional atau se-kecewa apapun seharusnya sikap itulah yang dilakukan oleh seorang muslim, apalagi emosi dan kecewa yang hanya dipicu masalah khilafiyah, kalau memang benar-benar tersinggung karena masalah tersebut (karena saat itu saya juga belum tahu, apa penyebab yang sebenarnya kejadian tersebut?).

Sampai saya melangkahkan kaki untuk keluar dari masjid, suasana tegang masih belum reda. Beberapa orang berkumpul di serambi depan masjid membicarakan masalah yang baru terjadi. Saya lebih memilih untuk bergegas meninggalkan masjid bersama si Bayu yang bertemu saya di depan masjid. Pukul 13.00 ada kuliah Sosio Teknologi Informasi, padahal saat itu jam sudah menunjukkan pukul 12.30. Itu artinya saya hanya punya waktu setengah jam untuk makan siang dan bersiap-siap. Wah, harus cepat nih! gumam saya. Sembari berjalan kembali ke kos, saya dan Bayu berdiskusi membicarakan “insiden kecil” yang baru saja terjadi di masjid. Apa sebenarnya yang menjadi penyebab utama “insiden” tersebut? Akan saya bahas pada tulisan selanjutnya, Insya Allah! (TO BE CONTINUED…)

Iklan

4 Komentar

Filed under Reportase, Share

4 responses to ““Tragedi” Jum’at

  1. Assalamu’alaykum… halu, brO…

    ayo, buruan dung… lanjutin ceritanya…..

    gak pernah tau ada kejadian serupa soale… hihihi..

  2. ahmad musa'iddin

    antm waktu kejadian ternyata di Ibrahim ya?
    kok nggak cerita ke aq sih ?
    padahal aq juga ingin tau insiden itu cma belum tau orang yang di tkp.

  3. tomie

    hahahaha
    lucu juga ceritane bung

    menurutku yang khutbah memang keterlaluan sih
    kalo penulis mengatakan isinya bagus,saya menganggapnya BAGUS, tetapi, yang khutbah itu TIDAK TAHU DIRI,hehehe

    SOK ALIM, SOK CERDAS
    SOK SUCI

    sama seperti yang punya blog ini

    makanya, mari belajar bagaimana Islam bisa masuk ke nusantara, lebih banyak baca sejarah para walisongo BUNG!

    tanpa beliau2, Islam tidak akan sedalam ini berurat berakar di nusantara

    tapi orang2 yang barusan datang belakangan itu..
    MAIN HANTAM SAJA DENGAN NALAR HEBAT TAPI TAK CERDAS AKHLAKNYA?

    • pembelaislam

      yup, terimakasih atas komentarnya^^ terimakasih juga atas sarannya. Insya Allah saya akan terus belajar agar jadi alim dan cerdas. Tapi untuk jadi suci alias ma’sum tidak mungkin, karena sifat itu hanya untuk Rasulullah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s