Layakkah Berharap pada Bahan Bakar dan Energi Alternatif?

Pasca kenaikan harga BBM pada bulan Mei 2008, masyarakat secara umum mulai berpikir untuk berhemat dan mengalihkan perhatiannya pada bahan bakar atau energi alternatif. Hal tersebut didukung oleh gencarnya pemerintah dan media massa dalam mengkampanyekan penghematan BBM dan penggunaan energi alternatif. Para ilmuwan, akademisi, dan bahkan masyarakat awam berlomba-lomba untuk “berkreasi” dalam menciptakan bahan bakar alternatif. Sebut saja “Banyu Geni” yang dikembangkan oleh Pusat Studi Pengembangan Energi Regional (Pusper) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), atau kompor ethanol yang dikembangkan oleh Ir. Sri Nurhatika MP dari jurusan biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, dan yang lebih spektakuler lagi Djoko Suprapto dengan “Blue Energy”-nya yang konon bisa mengubah air menjadi bahan bakar. Media massa mengekspos habis setiap ada “penemuan” bahan bakar alternatif yang baru. Pemerintah mendukung penuh kampanye bahan bakar alternatif tersebut. Misalkan saja mengenai bahan bakar alternatif yang ditemukan oleh Joko Suprapto. Seperti yang diberitakan oleh detik.com pada 26 Mei 2008, temuan Joko tersebut bahkan sudah diterapkan dalam ekspedisi Jakarta-Bali menjelang United Nation Framework Conference on Climate Change (UNFCCC) Desember 2007 di Bali. Mobil yang digunakan uji coba dalam ekspedisi waktu itu adalah 2 Ford Ranger 2500 CC, 1 Isuzu Panther 2500 CC Diesel, 1 Mazda Familia 1800 CC dan 1 Bus Mitsubishi 4000 CC. Ekspedisi ini diberangkatkan Presiden SBY dari kediaman pribadi Presiden di Puri Cikeas Indah tanggal 26 November 2007, dan sukses tiba di Bali pada 3 Desember 2007. Ekspedisi rombongan tersebut diketuai Heru Lelono yang juga staf khusus Presiden SBY. Temuan Joko rencananya akan diproduksi massal dengan kapasitas produksi 10 liter per detik atau setara dengan 5 ribu barrel per hari. Tempat produksi juga dipusatkan di Cikeas, Bogor yang peletakan batu pertamanya juga dilakukan Presiden SBY. Blue energy ini rencananya akan bisa dinikmati masyarakat umum sekitar April 2008. Bila berhasil, produk ini akan dijual sekitar Rp 3 ribu per liter.

Terlepas dari maraknya penemuan bahan bakar alternatif tersebut, kita perlu mencermati beberapa hal yang lain dengan pandangan yang jernih dan holistik. Yang pertama, tentu saja tentang terjadinya pengalihan isu dari isu kenaikan BBM menuju isu lain yaitu BBA (Bahan Bakar Alternatif). Ini merupakan suatu hal yang sangat fatal karena menyangkut hubungan rakyat dengan penguasanya. Saat ini yang terjadi, seolah-olah penguasa dalam hal ini pemerintah mengatakan pada rakyatnya: “biarlah BBM naik dan lupakan saja kenaikan BBM tersebut, yang penting marilah kita ciptakan bahan bakar alternatif”. Dan benar saja, demo-demo atau protes baik lisan maupun tertulis menentang kenaikkan BBM yang begitu santer dan bertubi-tubi sebelum terjadinya kenaikan BBM, berangsur-angsur berkurang pasca kenaikan BBM. Hal tersebut adalah sebuah indikasi bahwa rakyat kian terlena dengan mimpi-mimpi baru yang dibangun oleh pemerintah salah satunya adalah kampanye penghematan BBM dan penggunaan bahan bakar alternatif. Lagi-lagi rakyat dibuat tak berdaya oleh kebijakan-kebijakan dzalim pemerintahnya.

Yang kedua mengenai efektifitas bahan bakar alternatif itu sendiri. Para pakar, akademisi, masyarakat, dan juga pemerintah meyakini bahwa bahan bakar alternatif yang akan diproduksi masal untuk masyarakat semisal elpiji, biogas, biofuel, blue energi dan lain sebagainya benar-benar mampu menggantikan peran BBM yang selama ini menjadi bahan bakar utama yang digunakan dalam skala rumah tangga, perkantoran, industri, manufaktur, ataupun transportasi. Menurut mereka, bahan bakar alternatif itu pun sudah teruji dan aman untuk digunakan. Baiklah kita asumsikan bahan bakar tersebut memang sudah teruji di laboratorium dan memang aman untuk digunakan. Namun, pada akhirnya, efektif atau tidaknya bahan bakar alternatif tersebut tergantung pada sistem ekonomi yang berlaku di negeri kita karena setiap kebijakan pemerintah mengenai bahan bakar dan energi senantiasa berkaitan langsung dengan perekonomian.

Perlu diingat, sistem ekonomi yang berlaku di negeri ini adalah sistem ekonomi kapitalisme-liberal. Sistem ini berpijak pada kebebasan kepemilikan. Sistem ini percaya sepenuhnya bahwa pertumbuhan ekonomi dicapai sebagai hasil normal ‘kompetisi bebas’, Laissez-faire, dalam sebuah mekanisme pasar. Kompetisi itu dianggap sebagai cara efisien dan tepat untuk mengalokasikan sumberdaya alam rakyat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kapitalisme beranggapan bahwa campur tangan pemerintah dalam perekonomian dan pengelolaan SDA tidak diperlukan dan menyerahkannya pada mekanisme pasar bebas yang bekerja. Segala intervensi pemerintah di dunia ekonomi dianggap dapat menurunkan efisiensi produksi. Pada akhirnya negara hanya diposisikan sebagai regulator yang mengatur lalu-lintas jalannya usaha. Ibarat sebuah permainan sepakbola, negara hanyalah diposisikan sebagai wasit yang mengatur jalannya pertandingan. Swasta atau bahkan asing bebas memiliki dan menguasai harta negara baik pada sektor sumber daya alam ataupun sektor jasa.

Dengan demikian tidak perlu heran jika privatisasi BUMN semakin gencar dilakukan. Menneg BUMN Sugiharto menyatakan, sebanyak 15 perusahaan perseroan yang terdiri atas sembilan perusahaan perseroan yang saham mayoritasnya dimiliki pemerintah dan enam perusahaan yang kepemilikan sahamnya oleh pemerintah minoritas, masuk dalam program privatisasi 2007. Kekayaan alam kita dikuasai oleh asing dan swasta. Ekonom Hendri Saparini bahkan menyebutkan 90% migas kita dikuasai oleh asing! Celakanya, penguasaan SDA oleh swasta dan asing tersebut dilegalkan melalui undang-undang, sebut saja UU PM (penanaman modal), UU migas, UU SDA (sumber daya air), ataupun UU kelistrikan. Dari nampak jelas, negeri kita semakin terseret ke dalam jerat kapitalisme-liberalisme. Cengkraman imperialis semakin menancap di bumi pertiwi.

Produksi bahan bakar alternatif tentu saja juga tidak akan lepas dari kepentingan para kapitalis (pemilik modal) dan imperialis sebagai pemegang kekuasaan riil di negeri kita. Para kapitalis tentu saja tidak akan tinggal diam melihat rakyat kita menemukan bahan bakar alternatif pengganti BBM yang sudah mereka rampas paksa demi menangguk keuntungan sebesar-besarnya. Mereka pun akan berusaha merampas sumber-sumber bahan bakar alternatif tersebut. Indikasinya sudah cukup nyata, salah satunya dengan keberadaan UU SDA yang mengatur tentang kepemilikan air. Apabila air telah dikuasai penuh oleh pemilik modal, maka kerja keras Djoko Suprapto atau pun UMY yang menciptakan bahan bakar alternatif dari air akan sia-sia. Bahan bakar alternatif pun dengan mudahnya jatuh ke dalam cengkeraman kapitalis. Rakyat kita? Gigit jari untuk kesekian kalinya!

Khatimah

Sesungguhnya telah nyata kerusakan di negeri yang indah ini akibat diterapkannya sistem ekonomi kapitalisme. Sistem ekonomi kapitalisme tidak memberikan ruang sedikitpun bagi rakyat kecil, terutama muslim, untuk memperoleh bahan bakar yang murah dan terjangkau. Mekanisme pasar bebas, Laissez-faire, yang begitu diagungkan oleh ideologi ini tidak lain adalah upaya untuk mempertahankan kekuasaan para pemilik modal. Hukum rimba pun tak dapat dielakkan, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin tertindas.

Segala kreatifitas dan inovasi yang dilakukan rakyat untuk memperoleh bahan bakar alternatif akan sia-sia apabila sistem yang diterapkan tetap sistem kapitalisme. Penggunaan bahan bakar alternatif harus dibarengi dengan sebuah perubahan sistem, dari sistem ekonomi kapitalisme menuju sistem Islam. Mengapa harus Islam? Tak lain karena sistem ekonomi Islam telah teruji selama berabad-abad mampu menciptakan stabilitas ekonomi yang luar biasa. Sistem Islam telah mendorong rakyatnya untuk berkreasi dan berinovasi dalam rangka mencari ridho Allah SWT. Sistem Islam merupakan sistem yang bersumber pada wahyu Allah SWT yang sudah pasti sesuai dengan fitrah manusia dan bukanlah sistem yang bersumber dari akal pikiran manusia, sebagaimana kapitalisme dan sosialisme yang berjalan dengan trial and error, coba-coba dan eksperimen, yang menyebabkan kesengsaraan umat manusia. Profesor Sigrid Hunke dalam bukunya, Allah Sonne ueber dem Abendland, menyebutkan betapa sistem Islam telah memunculkan berbagai kreasi dan inovasi dalam segala bidang termasuk juga dalam sains dan perekonomian. Bahkan dia menyatakan:

Sungguh, Barat tetap dalam keterbelakangan secara kultural, pemikiran, dan ekonomi sepanjang waktu ketika Eropa mengasingkan dirinya dari Islam. Eropa belum mulai bersinar dan bangkit kecuali ketika Eropa mulai bersinggungan dengan Arab (Khilafah dan kaum Muslim, pen.) secara praktis, politik dan perdagangan. Pemikiran Eropa setelah tidur berabad-abad mulai bangun karena kedatangan sains, teknologi, dan sastra Arab.

Yang terakhir, marilah kita renungkan firman Allah SWT sebagai berikut:

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Ad, yaitu penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri lain; kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah; dan kaum Fir‘aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat kerusakan dalam negeri itu. Karena itu, Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab.

(QS al-Fajr [89]: 6-13)

Ayat tersebut mengajak kita untuk senantiasa optimis dalam menyongsong perubahan menuju sistem Islam. Para kapitalis dan pemuja kapitalisme, sebanyak apapun uang yang mereka miliki, sekuat apapun kekuatan militer yang dimilikinya, akan menemui kehancuran disebabkan kesombongan dan keangkuhan mereka. Dengan demikian tidak ada kata lain bagi kita, selain kembali pada sistem ekonomi Islam, sistem Islam, dengan menerapkan syariah dan khilafah. [pembelaislam]

Iklan

2 Komentar

Filed under Opini

2 responses to “Layakkah Berharap pada Bahan Bakar dan Energi Alternatif?

  1. Saya Danan, 29 Th,
    saya seorang pengusaha muda (UKM)
    Jauh sebelum orang meributkan efisiensi energi dan energi alternatif, kami sudah melakukan penelitian selama 6 Tahun terakhir tentang tungku sekam, dan baru kami jual secara masal setelah saya memutuskan untuk usaha sendiri 2 tahun yang lalu.

    modal awal kami 1,5 jt waktu itu, Alhamdulillah setelah mulai lancar kami berhasil menjual 23 unit tersebar dari Banyuwangi hingga Tegal.

    hari ini saya membaca berita dari liputan enam (14 oktober 2008) tentang kayu sebagai bahan bakar alternatif ungulan, saya antara antara mendukung dan menolak pendapat ini. Mendukung karena mungkin menciptakan lapangan kerja baru, menolak karena sebetulnya ada yang lain selain kayu yang juga ungulan yang mungkin tidk merusak ekosistem alam akibat penebangan kayu yang berlebihan. bahan bakar dari produk yang kami buat adalah dari sekam, serbuk kayu, tempurung kelapa, ampas tebu, serabut kelapa, jerami kering bahkan daun kering. coba dibandingkan, lebih baik mana dibandingkan dengan kayu.

    saya pikir didepan mata kita sudah tersedia sumber energi terbaharui dengan sangat murah, cuman mungkin orang indonesia saja yang kurang mau tahu. di desa tempat saya tinggal para penduduk mulai kami pengaruhi sedikit demi sedikit untuk meninggalkan elpiji dan beralih ke tungku sekam rumah tangga buatan kami. pertimbangannya simple, karena faktor kebisaan dan perasaan kalo elpiji naik lagi gimana, sedangkan sekam, jerami dam serbuk kayu melimpah didesa kami. kalo dikota mungkin teknologi ini belum bisa diterima. Yang dikawatirkan selama ini kalo timbul polusi asap dari pembakaran, kami sudah bisa atasi, artinya bebas polusi asap.

    cuma, kami hanya sebuah UKM dengan masalah klise.
    Mohon Kami diberikan Informasi tentang program
    yang berkaitan dengan Tungku sekam yang kami produksi

    Bagaimana caranya untuk menjalin kerjasama agar produk kami dapat dinikmati lebih luas oleh semua masyarakat

    untuk informasi keseriuasan kami bisa diperoleh dari
    http://www.santosorising.com

    Kami bersedia memberikan informasi tambahan yang mungkin diperlukan

    Terimakasih

    Danan Eko Cahyono, ST

  2. pembelaislam

    Terimakasih atas komentar dari Mas Danan. Memang benar sekali, ketika kita berbicara dalam konteks proyek, semisal proyek energi alternatif, perlu ada sebuah uji kelayakan (feasibility studies) terlebih dahulu. Kemudian dilanjutkan dengan analisis dampak dari proyek tersebut sehingga proyek tersebut benar2 bermanfaat tanpa memberikan kerugian atau kerusakan di sisi yang lain.

    Kondisi yang menimpa UKM Mas Danan tersebut sejalan dengan apa yang saya tuliskan di atas, bahwa Segala kreatifitas dan inovasi yang dilakukan rakyat, termasuk kita , orang2 teknik, untuk memperoleh bahan bakar alternatif akan sia-sia apabila sistem yang diterapkan tetap sistem kapitalisme.

    Kapitalisme, yang menjadi mainstream saat ini tidak akan memberikan kesempatan sedikit pun bagi orang2 yang lemah secara ekonomi untuk maju dan berkembang. Kekuasaan sejatinya ada di tangan pemilik modal. Lihat saja bos-bos besar pemilik bisnis property, bos2 pemilik mal dan pusat perbelanjaan, pejabat2 eselon 1, dan para pemilik modal yang lainnya. Mereka dgn mudah menentukan suatu kebijakan di negeri ini, sementara orang2 yg dengan ikhlas ingin berbuat sesuatu untuk rakyat, semisal mas Danan dan yang lainnya, justru dibuat “megap2” dengan kondisi dan keterbatasan yang ada.

    Oleh karena itu, disamping terus berjuang melakukan riset dan penelitian dalam segala keterbatasan, kita juga harus menyuarakan pergantian sistem, dari kapitalisme menuju sistem yang bisa mengakomodasi semua inovasi dan kreativitas rakyatnya, yaitu ISLAM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s