Beirut Centre: Penjajahan Berkedok Pendidikan dan Lembaga Ilmu Pengetahuan

Berabad-abad sebelum Khilafah runtuh, kaum kuffar telah melakukan berbagai macam serangan fisik terhadap Daulah Khilafah. Tujuannya tidak lain adalah untuk melenyapkan eksistensi Daulah Khilafah yang menjadi tameng umat Islam saat itu. Apa yang telah dilakukan oleh Inggris dan Prancis saat itu sudah cukup untuk membuktikannya. Prancis, secara terang-terangan dan terbuka memberikan berbagai macam bentuk dukungan terhadap agennya yang menjadi wali Mesir, Mohammad Ali, untuk memisahkan diri dari wilayah Khilafah dan mendeklarasikan perang melawan Khilafah. Pada 1831, Mohammed Ali dan pasukannya, dengan bantuan Prancis, bergerak menuju Al-Sham untuk menaklukan wilayah tersebut. Mereka berhasil merebut Palestina, Lebanon, dan Syiria dan juga bermaksud merebut Anatolia. Namun, khalifah tidak tinggal diam dan mengirim pasukan yang kuat untuk memadamkan tindakan makar tersebut. Pada akhirnya, seluruh serangan fisik yang ditujukan kepada Daulah Khilafah menemui jalan buntu.

Usaha Negara-negara eropa, khususnya Inggris, Prancis, dan Russia untuk melenyapkan eksistensi Daulah Khilafah terus berlanjut. Setelah kegagalan mereka untuk menghancurkan Daulah lewat serangan-serangan fisik, mereka mulai memikirkan cara-cara lain. Salah satunya adalah dengan membangkitkan jiwa nasionalisme dan separatisme ke seluruh wilayah Daulah Khilafah. Harapannya, wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Daulah lepas satu demi satu ke pangkuan mereka. Mereka memulai strategi tersebut dan memfokuskan pekerjaannya pada wilayah Arab dan Turki. Untuk menjalankan misi tersebut, mereka membangun dua pusat misi: di Istambul (Turki), untuk menyerang Daulah tepat pada pusat pemerintahannya, dan di Beirut (Lebanon), untuk menyerang Daulah melalui salah satu propinsinya.

Pusat misi Beirut, Beirut Centre, didesain untuk bekerja dalam jangka waktu yang cukup lama dan untuk memenuhi target-target jangka panjang. Sebaliknya, pusat misi di Istambul, Istambul centre, didesain untuk bekerja dalam jangka waktu yang pendek untuk mencapai target-target yang direncanakan dengan cepat, sehingga berdampak luas terhadap seluruh wilayah Khilafah. Selanjutnya, keberadaan Beirut Centre, yang berhasil merubah ribuan anak-anak muslim menjadi kafir dan merubah ikatan Islam secara umum di masyarakat menjadi ikatan yang diatur oleh kaum kuffar, ibarat racun yang sangat mematikan (deadly poison) bagi Khilafah. Efek dari Beirut Centre yang sangat destructive dapat dirasakan selama Perang Dunia I.

Kaum kuffar barat memulai aktivitas politiknya di Beirut setelah Ibrahim Basha ditarik dari Al-Sham. Pada 1842, mereka membentuk sebuah komite yang bertujuan untuk membangun asosiasi ilmiah dibawah misi Amerika dan sesuai dengan program-program mereka. Setelah melalui proses selama 5 tahun, pada 1847 berdirilah sebuah asosiasi: “The Science and Arts Association”. Asosiasi tersebut dipimpin oleh dua orang Kristen Inggris. Mereka adalah Butros Al-Bustani dan Naseef Al-Yajizi yang didukung oleh Colonel Churchill dari Inggris, juga Eli Smith dan Cornilos Van Dick dari Amerika. Tujuan awal yang ingin dicapai adalah memberikan kesan bahwa asosiasi tersebut berdiri untuk menyebarkan berbagai macam sains pada masyarakat sebagaimana “sekolah bagi anak-anak”, dan kemudian memotivasi masyarakat untuk menerima budaya barat, menyebarkan pemikiran barat dan akhirnya mengarahkan masyarakat kepada tujuan-tujuan yang lebih spesifik lagi, tentu saja demi kepentingan barat. Namun, dengan berbagai aktifitas para anggotanya dan effort mereka yang sangat besar, hanya 50 anggota aktif yang bergabung dari penjuru Al-Sham selama dua tahun. Itu pun semuanya orang Kristen dan sebagian besar berasal dari Beirut. Tidak ada yang berasal dari kaum Muslim atau pun bangsa Druze yang bergabung ke dalam asosiasi tersebut.

Kemudian, pada 1850 berdirilah asosiasi lain yang bernama “Eastern Association”. Asosiasi tersebut didirikan oleh para misionaris dibawah pengawasan bapak misionaris Prancis, Henri Debreiner. Semua anggota asosiasi tersebut adalah orang-orang Kristen. Selanjutnya pada 1857 berdirilah asosiasi lain yang mengadopsi cara-cara baru dan membuat keanggotaannya ekslusif, khusus bangsa Arab saja, dan pendirinya pun adalah orang Arab. Hal ini ditujukan untuk menarik beberapa Muslim dan bangsa Druze untuk bergabung sebagai bangsa Arab. Strategi ini cukup berhasil. Dalam waktu singkat banyak orang yang bergabung dengan asosiasi tersebut dan anggotanya mencapai 150 orang. Diantara para pengurusnya terdapat beberapa tokoh terkemuka seperti Mohammed Arsalan dari kalangan Druze, Hussein Bayham dari kaum Muslim, Ibrahim Al-Yaziji dan anak dari Butros Al-Bustani dari umat Kristen. Kesuksesan asosiasi tersebut membuat kaum Kuffar semakin berani untuk menghembuskan ide nasionalisme dan menghasud masyarakat untuk memerdekakan diri dari Daulah Khilafah, secara terang-terangan.

Pada tahun 1875, sebuah asosiasi: “Secret Association” didirikan di Beirut oleh lima pemuda lulusan “Protestan College”. Mereka semua adalah orang-orang Kristen. Asosiasi tersebut dibangun sebagai partai politik yang berlandaskan nasionalisme Arab. Inilah partai politik pertama yang berlandaskan nasionalisme arab yang berdiri dalam sebuah negeri Islam. Asosiasi tersebut digunakan untuk menghasut orang-orang Arab agar memerangi Khilafah yang mereka sebut sebagai negara “Turki”. Asosiasi tesebut terus bergerak dan bekerja untuk memisahkan agama dari kehidupan secara perlahan, menyebarkan nasionalisme arab dan mengalihkan umat Islam dari ikatan aqidah Islam menuju ikatan yang lebih eksklusif, nasionalisme arab. Mereka menyebarkan selebaran-selebaran yang isinya adalah kebencian terhadap “Turki” yang menurut mereka telah merebut “paksa” Khilafah dari orang-orang Arab, merusak syariat Islam, dan meninggalkan agama, menafikkan fakta bahwa asosiasi tersebut adalah konspirasi yang dibangun oleh orang-orang Kristen yang ingin menghancurkan Islam. Pergerakan nasionalis kemudian mulai bergerak dan menyebar ke seluruh wilayah Khilafah. Aktifitas Negara-negara eropa melalui Beirut Centre memang didesain untuk merekrut mata-mata dan bertujuan untuk merusak dan menciptakan pergeseran pemikiran. Asosiasi tersebut menimbulkan kerusakan intelektual yang luar biasa dalam Daulah Khilafah. Inilah yang kemudian membawa Daulah Khilafah dan umat Islam pada keruntuhan dan kehancuran.

Dengan berbagai penjelasan di atas, kita dapati bahwa penjajahan lewat pendidikan dan lembaga-lembaga ilmiah bukanlah hal yang baru. Pada masa sekarang, pasca runtuhnya Daulah, penjajahan pemikiran melalui pendidikan semacam itu tetap berlangsung, bahkan lebih terang-terangan dan terbuka. Di Indonesia, pemikiran-pemikiran asing yang destruktif diinjeksikan oleh para penjajah lewat lembaga pendidikan umum dan bahkan lembaga pendidikan Islam. Dalam upaya menginjeksikan pemikiran-pemikiran asing nan merusak ke dalam lembaga pendidikan Islam, termasuk pesantren, para penjajah melancarkan modus berikut:

Pertama: intervensi kurikulum pendidikan Islam dan pesantren. Kurikulum bidang akidah, konsep wahyu, maupun syariah Islam telah menjadi obyek liberalisasi yang tersistemkan. Contoh kasus: “Kajian Orientalisme terhadap Al-Qu’ran dan Hadits” merupakan mata kuliah yang diajarkan di sebuah perguruan tinggi Islam di Jakarta. Empat buku referensinya sangat kental dengan ide-ide asing. Salah satunya adalah “Rethinking Islam” karya Mohammed Arkoun yang mengajak mahasiswa untuk membongkar hal-hal yang sifatnya sudah pasti, termasuk aqidah, dan mengajak untuk mengkritisi Al-Qur’an sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Kristen dan Yahudi terhadap kitab suci mereka.

Kedua: bantuan pendidikan dan beasiswa kepada lembaga pendidikan Islam dan pelajar/ mahasiswa Indonesia. The Asia Foundation (TAF), sebuah lembaga asing, telah mendanai lebih dari 1000 pesantren untuk berpartisipasi dalam mempromosikan nilai-nilai pluralism, toleransi, dan masyarakat sipil dalam komunitas sekolah Islam di seluruh Indonesia. Tahun 2004, TAF memberikan pelatihan kepada lebih dari 564 dosen tentang pendidikan kewarganegaraan yang kental dengan ide-ide liberal-sekular. Disamping itu, terdapat pemberian beasiswa bagi pelajar atau mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan kuliah ke negeri Barat. Misalnya pada awal 1950-an, sejumlah mahasiswa Indonesia belajar di McGill’s Institute of Islamic Studies (MIIS) yang didirikan oleh Cantwell Smith, seorang orientalis. Diantara mahasiswa itu adalah Harun Nasution. Sepulangnya dari sana, dia menjadi penggerak liberalisasi di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Bukunya, Islam Ditinjau dari Segala Aspeknya, yang banyak berisi pemikiran liberal, menjadi buku rujukan wajib pendidikan agama Islam di Indonesia hingga kini.

Ketiga: pembentukan jaringan intelektual Muslim yang menyuarakan liberalisasi pemikiran Islam. Jaringan inteletual ini diwakili oleh JIL, Jaringan “Islam” Liberal. Jaringan ini gencar dalam menyuarakan kampanye dan pengopinian reorientasi pendidikan Islam menuju pendidikan Islam yang pluralis melalui berbagai media propaganda. Contohnya, Khamami Zada yang dalam jurnal Tashwirul Afkar edisi II/2001 menuliskan:

Filosofi pendidikan Islam yang hanya membenarkan agamanya sendiri tanpa mau menerima kebenaran agama lain mesti mendapat kritik untuk selanjutnya dilakukan reorientasi. Konsep iman, kafir, muslim-non-muslim dan baik-benar (truth claim), yang sangat berpengaruh terhadap cara pandang Islam terhadap agama lain, mesti dibongkar agar umat Islam tidak lagi menganggap agama lain sebagai agama yang salah dan tidak ada jalan keselamatan.

Walhasil, lembaga pendidikan Islam yang seharusnya mencetak ulama-ulama Islam yang lurus yang memperjuangkan Islam, justru malah mencetak kaum liberalis, antek-antek penjajah, dan ulama-ulama su’ yang menyerukan kerusakan. Sesungguhnya Allah telah mengingatkan kita terhadap keberadaan orang-orang semacam ini dalam Al-Qur’an:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran: 118)

Sekali lagi, segala liberalisasi yang terjadi tidaklah lepas dari konspirasi para penjajah. Tujuannya tidak lain untuk melanggengkan kekuasaan mereka dan membendung arus kebangkitan Islam. Selama dendam barat masih menyala terhadap Islam, konspirasi akan terus berlanjut. Tidak ada cara lain bagi umat Islam, selain waspada, adalah merapatkan barisan dan menyusun strategi ke depan, agar serangan-serangan pemikiran semacam ini tidak memadamkan harapan umat Islam untuk bangkit dengan tegaknya Daulah Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah.

Wallahua’lam bi ash-shawaab.

Daftar Pustaka

Zallum, Abdul Qadim, How Khilafah was Destroyed (Kaifa Hudimat Al-Khilafah), Penerjemah Hizb At-Tahrir UK, (Inggris).

Redaksi Al-Wa’ie, Al-Wa’ie no. 81 tahun VII: Pendidikan dalam Cengkeraman Kapitalisme Global, (Jakarta: Hizbut Tahrir Indonesia), 2007.

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Opini, Pemikiran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s