Catatan KASTI 2008 (AKSI 1-nya SITC)

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga serangkaian acara KASTI (Kajian Strategis Islam) yang diadakan oleh SITC khusus buat maba 2007 tanggal 16-17 Februari kemarin. Yah, walaupun jumlah pesertanya pasang surut J pada hari pertama maupun kedua namun tetap tidak mengurangi semangat peserta bersama panitia untuk terus mengkaji Islam dan melanjutkan acara hingga ‘penghabisan’. Sambil menikmati suasana kampus baru yang masih ‘bau cat tembok’ disertai hembusan angin semilir (19 knot nyampe tuh!), peserta maupun panitia diajak untuk mengupgrade SDM nya, meningkatkan semangat dalam berdakwah memperjuangkan Islam, the right path.

dsci0022.jpg
[Foto sesi 1]

KASTI terdiri dari beberapa sesi (berapa ya? Saya gak inget…) yang gak semuanya bisa saya ikuti sebagai panitia karena pada hari minggu ada beberapa keperluan penting yang harus saya selesaikan dan lagi kondisi badan saya kurang fit hari itu. Demam, pilek, batuk tambah pusing lagi, argh… Tapi banyak hikmah yang seharusnya disadari oleh orang sakit, yaitu jadi ingat kalau kesehatan itu mahal. Kesehatan adalah nikmat yang bisa dibilang paling besar kedua (yang pertama nikmat Iman dong…) yang dikaruniakan oleh Allah SWT pada setiap manusia. Sakit sangat mengganggu berbagai aktifitas kita. Coba deh pas lagi flu atau batuk, kita tiba-tiba disuruh jadi MC (saya nih) atau membacakan sari tilawah pas acara, wah gak karu-karuan deh suara yang keluar dari tenggorokan kita, serak-serak kering. Sayangnya gak semua manusia mensyukuri nikmat kesehatan tersebut. Kalo pas sehat malah maksiat, kalo pas sakit misuh-misuh melulu. Naudzubillah…

Dari beberapa sesi yang saya ikuti ada beberapa kesan dan catatan yang masih jelas terekam dalam benak saya. Sesi pertama dibawakan oleh Mas Adri dari Uswah Surabaya. Beliau ini adalah trainer yang cukup berpengalaman. Mmm, sebenarnya nothing special kalo dilihat dari materi yang diberikan karena saya dah dapet materi-materi yang serupa dari berbagai buku dan training yang saya ikuti. Tapi gayanya Mas Adri pas nyampaikan itu yang gak nguwati (hihihi..). Beliau bisa membawakan materi dengan intonasi yang pas, gaya yang natural, dan sangat interaktif disertai joke-joke segar yang bikin audience gak bosan atau bahkan ngantuk. Itulah yang bikin sesi ini menarik untuk diikuti.

Pada sesi yang kedua setelah Ishoma, ada kajian yang dibawakan oleh Ust. Ahmad Syaifudin, ST dari teknik Mesin ITS. Beliau membawakan tema Ghazwul Fikr. Nah, pas sesi inilah ’kengantukan’ peserta dan panitia sudah gak terbendung. Saat itu saya beralih peran menjadi juru potret. Cklik, cklik, cklik, beberapa gambar sudah saya ambil dari berbagai sudut pada awal-awal sesi. Justru bagian serunya ada pada pertengahan dan menjelang akhir kajian. Siip, cklik, cklik, saya ambil gambar mereka-mereka yang tidur atau ’proses’ menuju ke alam mimpi (mata merah, melek-merem berkali-kali). ”Saking khusyuknya…” canda saya. Saya gak terlalu memperhatikan materi karena yah bagi saya pembahasan dari Pak Ustadz terlalu global dan teoritis, kurang spesifik, kurang menarik, yang jelas, membosankan bagi saya. Tema tersebut sudah berkali-kali juga saya baca dan saya dengarkan dari kajian-kajian sebelum ini. Lagi-lagi tidak ada hal yang baru dari kajian ini, bagi saya sih…, gak tahu kalo temen-temen yang lain.

Eits, dibagian akhir dari sesi kedua ini, ada sesuatu yang ear catching bagi saya dan para peserta. Sang Ustadz melontarkan statemen yang bisa dibilang cukup janggal. Ustadz mengatakan kalau ahmadiyah tidak semuanya sesat. Ada ahmadiyah yang gak sesat. Fatwa MUI terhadap ahmadiyah berlebihan sehingga menyebabkan terjadinya kekerasan dan perusakan terhadap pemeluknya. Lagipula tidak masalah kalo ahmadiyah menyebut Ghulam Ahmad sebagai nabi, kan ada hadis yang menyatakan kalau ulama-ulama itu seperti nabi-nabi bani Israil. Kemudian Pak Ustadz juga menjelaskan tentang sunni dan syiah. Menurut beliau, syiah itu bisa jadi lebih original daripada sunni karena mereka pengikut ahlul bayt. Kontan saja, serbuan pertanyaan dari peserta pun datang bertubi-tubi. Para peserta menanggapi pernyataan-pernyataan Pak Ustadz dengan berbagai macam statement. Saya sendiri masih diam untuk memberikan kesempatan pada peserta. Setelah mendapatkan kesempatan, langsung saya bantah pendapat Pak Ustadz dengan membeberkan sedikit fakta (karena saya gak menduga kajian berbelok ke arah ini sehingga gak ada persiapan sama sekali) tentang kesesatan Ahmadiyah dan Syiah yang begitu real (nyata). Yang saya tekankan dalam bantahan saya adalah kedua permasalahan tersebut, Ahmadiyah dan Syiah, sudah menyangkut masalah aqidah umat Islam. Islam tidak mentoleransi perbedaan aqidah karena persoalan aqidah menyangkut Iman dan Kufur, beriman atau kafir. Apalagi bukti-bukti kesesatan ahmadiyah sudah jelas dan nyata sebagaimana yang telah dibeberkan oleh HM Amin Jamaluddin dari LPPI. Sudah jelas telah membahayakan aqidah umat Islam secara keseluruhan!

Setelah saya melontarkan bantahan seperti itu, lagi-lagi Pak Ustadz berkelit dan tetap pada jalur ”kerancuan” (ini istilah yang saya buat sendiri, karena gaya bahasa Sang Ustdaz dalam menyampaikan pendapatnya sangat rancu). ”Yah, saya melihat suatu jamaah atau golongan bukan dari aqidah maupun syariah, namun akhlaknya. Inilah kalau aqidah dan syariah dijadikan tujuan. Saya punya buku tentang seorang yang dulunya getol memperjuangkan syariah namun kemudian dia kecewa dan perjuangannya kandas sehingga dia sekarang fokus untuk memperbaiki akhlak manusia. Sudah ini, sudah selesai ya waktunya…” begitu ujarnya didepan audience saat itu. Padahal sebenarnya akan saya berikan bantahan lagi tentang statement beliau. Simpel saja sebenarnya jika kita berbicara akhlak. Akhlak adalah bagian yang integral dari syariah. Misal, berbuat baik kepada kedua orang tua, kita melakukannya karena itu merupakan perintah syariah yang bersumber dari Al-Quran (Surat 6 ayat 151, Surat 17 ayat 23, Surat 46 ayat 17, dst) maupun As-sunnah. Pondasi atau landasan syariah adalah aqidah, yaitu keimanan kita kepada Allah Ta’ala dan Rasulullah SAW. Jadi, akhlak mulia yang dilakukan seorang muslim semata-mata untuk mencari keridhoan Allah, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah (Taqorrub Ilallah). Kalau akhlak yang dimaksud Pak Ustadz hanya ”sekedar” berbuat baik saja, jangankan ahmadiyah maupun syiah, pemeluk nasrani atau seorang atheis sekalipun bisa ”berakhlak” sebagaimana yang dimaksud Pak Ustadz!

Kalau kita mencermati, orang-orang yang mendukung eksistensi ahmadiyah maupun syiah dalam konteks kekinian adalah justru orang-orang kafir, orang-orang liberal, dan tuan-tuan mereka, yaitu agen-agen asing yang tujuannya jelas: untuk merusak aqidah umat Islam dan pada akhirnya menghancurkan Islam itu sendiri! Naudzubillahi min dzalik. Ini adalah salah satu bentuk makar terhadap Dienullah, Islam.

Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.(QS Ibrahim: 46)

Sungguh amat di sayangkan, Pak Ustadz yang tadinya menerangkan dan menjelaskan tentang Ghazwul Fikri, ternyata adalah salah satu ”korban” Ghazwul Fikri itu sendiri, dimana media massa terus menerus menebar propaganda keji yang menyudutkan umat Islam dengan menampilkan ”penyerangan” terhadap jamaah ahmadiyah oleh ”umat Islam” secara tidak proporsional. Padahal bisa jadi penyerangan tersebut merupakan sesuatu yang sengaja diciptakan untuk menyudutkan umat Islam beserta para ulama’nya. Pak Ustadz juga telah menjadi ”korban” propaganda kaum liberal yang secara terus menerus menjelek-jelekkan aqidah dan syariat Islam kemudian menyerukan untuk menjadi ”Islam substansialis”, tidak perlu menerapkan syariat Islam, yang penting ”esensi” dari syariat Islam tercapai: orang jadi baik, ”berakhlakul karimah”, tidak mencuri, taat hukum, dan lain sebagainya.

Dan kemudian adzan Ashar pun berkumandang dari segala penjuru mata angin, menyejukkan kembali suasana yang tadinya cukup panas, menunjukkan betapa kokoh Islam dan seluruh ajarannya kepada setiap insan yang mendengarnya. Saya dan audience yang lain, tak terkecuali Ustadz Syaifuddin, bergegas mengambil air wudhu nan segar, kemudian sholat dengan penuh ketenangan, memohon petunjuk kepada Allah SWT, ihdinash-shiroothol mustaqiim.

Katakanlah: “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.” (QS. Saba: 49)

Wallahu a’lam bi ash-showaab.

Iklan

1 Komentar

Filed under Reportase

One response to “Catatan KASTI 2008 (AKSI 1-nya SITC)

  1. wah wah, seru sekaliii….. sayang sekali saya blum bisa hadirr!!! lain kali jangan lupa undang undang ya!!! mas mas nya , mbak mbak nya, alumni, dosen dosen di undang aja semuaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s