<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>sebuah catatan perjuangan</title>
	<atom:link href="http://pembelaislam.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pembelaislam.wordpress.com</link>
	<description>melanjutkan kehidupan Islam</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Dec 2011 05:26:26 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pembelaislam.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>sebuah catatan perjuangan</title>
		<link>http://pembelaislam.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pembelaislam.wordpress.com/osd.xml" title="sebuah catatan perjuangan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pembelaislam.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hidup Adalah Pilihan?</title>
		<link>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/12/26/hidup-adalah-pilihan/</link>
		<comments>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/12/26/hidup-adalah-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 14:04:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pembelaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Share]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[kekalahan]]></category>
		<category><![CDATA[kemenangan]]></category>
		<category><![CDATA[kompetisi]]></category>
		<category><![CDATA[naluri]]></category>
		<category><![CDATA[nilai]]></category>
		<category><![CDATA[perasaan]]></category>
		<category><![CDATA[persaingan]]></category>
		<category><![CDATA[pertandingan]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[qimah]]></category>
		<category><![CDATA[ridho Allah]]></category>
		<category><![CDATA[sepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[syari'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembelaislam.wordpress.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Sesak rasanya melihat ada orang yang jadi lebih hebat ketimbang saya. Apalagi kalau yang lebih hebat tadi pada awalnya adalah orang yang saya ajari, bahkan orang yang lebih muda ketimbang saya. Entah kenapa, ada perasaan bahwa saya telah dikalahkan. Saya &#8230; <a href="http://pembelaislam.wordpress.com/2011/12/26/hidup-adalah-pilihan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=201&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sesak rasanya melihat ada orang yang jadi lebih hebat ketimbang saya. Apalagi kalau yang lebih hebat tadi pada awalnya adalah orang yang saya ajari, bahkan orang yang lebih muda ketimbang saya. Entah kenapa, ada perasaan bahwa saya telah dikalahkan. Saya paling tidak suka kekalahan, khususnya pada bidang-bidang yang saya minati. Apalagi hari ini yang mengalahkan saya adalah orang yang lebih muda dan dulunya biasa saya kalahkan dalam setiap persaingan. Mengikuti logika Darwin, hidup adalah persaingan. Ada seleksi alam disana. Dan saya merasa menjadi spesies yang dikalahkan, musnah. Dorongan <em>gharizah al-baqa’</em> itu begitu kuat, sebuah naluri untuk mempertahankan diri dan menunjukkan eksistensi. Sahabat seperjuangan pernah mengatakan kepada saya, orang yang saya anggap mengalahkan saya kali ini adalah orang yang <em>endurance </em>alias ketabahannya tinggi. Mengapa? Sejak kecil dia terus-menerus saya kalahkan (bahkan seringkali saya ”permainkan”) dan orang-orang disekitarnya pun senantiasa membandingkannya dengan saya dan meletakkannya dalam posisi kalah. Akhirnya dia menjadi orang yang tabah dan terus bersemangat mengejar ketertinggalan untuk meraih kemenangannya. Dia pun, karena tabah, jadi terbiasa melakukan itu semua tanpa mempedulikan cemoohan atau posisinya sendiri yang seringkali dianggap kalah oleh orang lain. Akhirnya saya lah yang kelabakan untuk mempertahankan ”kemenangan”. Saya yang sangat peduli dengan omongan orang-orang yang ada disekitar saya dan dia, akhirnya berusaha sekuat tenaga, menjaga agar posisi saya ”aman”. Ini kompetisi kan?</p>
<p>Barangkali inilah yang dirasakan oleh Kuwabara Honinbo, Toya Meijin, bahkan Sai Fujiwara dalam serial Hikaru No Go (bagi yang tidak tahu ini adalah serial tentang kompetisi catur Korea). Mereka, yang selama ini merasa dirinya berada dipuncak, kemudian merasa terancam dengan munculnya generasi baru dunia Go semisal Ogata Jyudan, Akira Toya, dan juga sang tokoh utama, Shindo Hikaru. Memang berada dipuncak atau dalam posisi ”dimenangkan” tidak selalu nyaman. Lihatlah dalam dunia sepakbola, <span id="more-201"></span>tim yang berada dipuncak klasemen seringkali harus jatuh bangun dan menanggung beban psikologis setiap melakoni pertandingan. Sekali mereka dikalahkan, tim-tim yang ada dibelakang mereka siap menggantikan. Meski terkadang tim yang tepat dibelakangnya hanya memperpendek jarak saja, mereka sudah kelabakan dan melakoni pertandingan berikutnya dengan beban untuk menjaga kemenangan, berharap agar bisa menjauh. Begitu pula dengan para pemainnya. Setiap tahun selalu muncul talenta muda yang berbakat yang setiap saat siap menggantikan posisi pemain-pemain tua yang selama ini diandalkan. Para senior itu pastilah sulit merelakan posisinya, terbuang dan tersingkir dari tim, apalagi dijual ke tim divisi III. Posisi pemain bintang setiap tahunnya terus berganti. Hari ini ada Messi dan CR7, namun sampai kapan? Hal yang sama juga terjadi di dunia hiburan. Seorang entertainer yang berjaya tahun 80-an, Kang Hari Mukti, pernah menuturkan kepada saya. Beliau menjalani kehidupan yang nampak gemerlap secara dhohir, namun tak sekalipun beliau bisa tenang. Beliau mengaku stress melihat munculnya talenta-talenta baru di panggung hiburan dan kerapkali memikirkan, bagaimana caranya menyingkirkan mereka. Maka tidak heran kalau berbagai skandal kerapkali mewarnai dunia atlit juga selebritis. Tidak jarang juga mereka, para atlit dan selebritis, mencari pelarian. Eric Cantona menghabiskan hari-harinya dengan menenggak miras dan berbuat onar, Michael Jakson meninabobokan dirinya dengan obat bius dosis tinggi, dan juga sederet kisah bunuh diri selebritis yang lainnya. Apa anda pernah merasakan hal yang serupa?</p>
<p>Pada titik inilah kepribadian saya (juga anda) sebagai seorang muslim diuji. Seorang muslim harus menyadari bahwa tujuan tertinggi dan paling ultimate dari manusia adalah ridwanullah, keridhoan Allah Ta’ala. Maka yang harus mereka lakukan adalah berkompetisi untuk meraih keridhoan Allah tersebut. Bukannya menghabiskan kehidupan untuk meraih pujian, merengkuh materi, ataupun sanjungan. Perlu diperhatikan <em>qimah</em> (nilai) apa yang berusaha kita raih dalam setiap perbuatan dan Islam pun telah menetapkan itu semua. Aktifitas da’wah misalnya, <em>qimah</em> yang ingin diraih adalah <em>qimah</em> <em>ruhiyah</em> tentunya, bukan <em>qimah madiyyah</em> alias nilai materi karena Islam telah menetapkan demikian. Sebaliknya, aktifitas jual beli ya tentu saja untuk meraih nilai materi bukan untuk meraih <em>qimah insaniyah</em> alias nilai kemanusiaan karena Islam pun telah menetapkan (membolehkan) demikian. Sekali lagi hanya syari’ah Islam yang patut dijadikan patokan, bukan yang lain.</p>
<p>Nah, faktanya untuk mencapai ridwanullah tersebut, umat Islam menempuh banyak jalan. Ada yang memperbanyak aktifitas sosial dengan membangun banyak panti asuhan, sekolah gratis, yayasan yatim piatu, bahkan beasiswa perguruan tinggi dalam jumlah besar. Ada pula yang memperbanyak pembangunan masjid dan mengintensifkan ibadah yang bersifat ritual. Ada lagi yang menyelenggarakan banyak training untuk memperbaiki akhlak. Dan yang dilakukan orang yang mengalahkan saya ini adalah banyak membuat tulisan juga cerpen. Yah, <em>overall</em> semuanya berniat baik. Namun setelah saya mengkaji dan meneliti, ada satu aktifitas yang sangat <em>urgent</em>, tapi malah ditinggalkan, yakni berusaha menerapkan Syari’ah secara kaffah dengan menegakkan Khilafah. Bahkan banyak ulama’ yang menganggap bahwa aktifitas tersebut adalah <em>a’dhom wajibatuddin</em>, kewajiban agama yang paling agung. Tahapan yang harus dilakukan untuk meraihnya adalah dengan memperbanyak <em>tatsqif</em> (membina kader), melakukan <em>tafa’ul ma’al ummah</em>, dan kemudian <em>istilamul hukmi</em>. Bentuk aktifitas pada level <em>tatsqif</em> dan <em>tafa’ul ma’al ummah</em>, interaksi dengan umat, sangatlah beraneka ragam. Namun bisa disederhanakan ke dalam satu frase: politik. Ini juga berlaku pada tahapan terakhir. Maka seorang muslim pun kemudian harus memilih. Hidup bukan hanya pilihan, cenderung defensif menunggu pilihan datang. Hidup adalah MEMILIH. Maka saya pun memilih untuk bergabung dalam partai politik internasional yang berideologi Islam dan beraktifitas didalamnya untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam dan menyampaikan da’wah, menerapkan Syari’ah Islam ke seluruh dunia dengan Khilafah sebagai metodenya. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa bergabung di dalamnya, bertemu dengan banyak orang yang mukhlis. Lantas bagaimana dengan anda semua, juga engkau, wahai orang yang “mengalahkan” saya dengan buku yang mencantumkan namamu sebagai penulisnya?</p>
<p>Terakhir, seorang sahabat yang lain pernah menyampaikan kepada saya, dalam persoalan pahala dan keridhoan Allah kita jangan mau kalah, harus rakus. Itu betul. Maka saya pun tidak mau kalah. Aktifitas politik untuk menerapkan Syari’ah dan menegakkan Khilafah inilah yang akan saya lakukan, untuk meraih <em>point</em> tertinggi dan posisi yang paling mulia di hadapan Allah. Apalagi kalau posisi saya dalam aktifitas tersebut sebagai panglima. (أَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلَاثَةٌ ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ). Seandainya pun menulis sebuah buku atau artikel, maka tulisan saya itu haruslah mampu membangkitkan taraf pemikiran, tidak sekedar roman picisan. Betapa mulianya orang yang menulis, lalu dengan tulisannya tadi mampu merasuk dan mempengaruhi orang yang membaca sehingga turut berjuang menegakkan Khilafah. Betapa hebatnya para pengemban da’wah, yang ikhlas mengorbankan waktunya, tenaganya, pikirannya, juga menahan hawa nafsunya dalam memperjuangkan Syari’ah Allah yang mulia. Sungguh, saya berjanji pada diri sendiri untuk menggunakan tiap detik hidup ini untuk da’wah. Da’wah haruslah dijadikan poros kehidupan. Saya pun telah berjanji untuk menjadi penjaga Islam yang terpercaya! Alhamdulillah… hingga detik ini Allah masih memberi saya kehidupan sehingga saya masih bisa berusaha merealisasikan janji-janji saya juga impian saya. Lalu bagaimana dengan anda semua, juga engkau, wahai orang yang memotivasi saya dengan terbitnya buku yang mencantumkan namamu sebagai pengarangnya? <em>Wallahu a’lam bi ash-showaab </em> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  <strong>[pembelaislam]</strong></p>
<p>Footnote:</p>
<p>وللتغلب على هذه الصعوبة ، يجب على كل من يعتنق المبدأ أن يجعل الدعوة والحزب مركز الدائرة الذي تدور حوله مصالحه الشخصية ، فلا يجوز أن يشتغل في أي عمل يتناقض مع الدعوة ، ولا في أي عمل ينسيه الدعوة ويعوقه عنها . وبذلك يكون قد نقل الدعوة من دورانها حول مصالحه إلى دوران مصالحه حول محورها .</p>
<p><strong>(</strong><strong>تقي الدين النبهاني</strong><strong> </strong><strong>- </strong><strong>التكتل الحزبي</strong><strong>)</strong></p>
<p>“Untuk mengatasi kesulitan ini, setiap orang yang meyakini ideologi ini (Islam) wajib menjadikan dakwah dan partai sebagai titik sentral bagi setiap kepentingan pribadinya.  Ia tidak boleh sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang melupakan dan menghalanginya dari dakwah. Dengan cara ini dia telah memindahkan posisi dakwah &#8211;yang sebelumnya berputar mengikuti kepentingan pribadinya&#8211; menjadi sumbu putar tempat kepentingan-kepentingan pribadinya berputar.” <strong>(At-Takattul Al-Hizby – Taqyuddin An-Nabhani)</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembelaislam.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembelaislam.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembelaislam.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembelaislam.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembelaislam.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembelaislam.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembelaislam.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembelaislam.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembelaislam.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembelaislam.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembelaislam.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembelaislam.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembelaislam.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembelaislam.wordpress.com/201/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=201&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/12/26/hidup-adalah-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/310996edb80f23e6f9c3dae3d9625a10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pembelaislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bendera Kita (yang) Mana, Kawan?</title>
		<link>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/12/22/bendera-kita-yang-mana-kawan/</link>
		<comments>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/12/22/bendera-kita-yang-mana-kawan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 10:41:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pembelaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[adidaya]]></category>
		<category><![CDATA[amerika]]></category>
		<category><![CDATA[bangkit]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[bendera]]></category>
		<category><![CDATA[berkibar]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[ideologis]]></category>
		<category><![CDATA[ikatan]]></category>
		<category><![CDATA[imajinasi]]></category>
		<category><![CDATA[imajiner]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kain]]></category>
		<category><![CDATA[kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[kebangsaan]]></category>
		<category><![CDATA[komunisme]]></category>
		<category><![CDATA[nasionalisme]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[negara Islam]]></category>
		<category><![CDATA[sepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[sosialisme]]></category>
		<category><![CDATA[uni soviet]]></category>
		<category><![CDATA[yugoslavia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembelaislam.wordpress.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[When I get older, I will be stronger, They&#8217;ll call me freedom, just like a Waving Flag, And then it goes back, and then it goes back, And then it goes back, And then it goes…   Pernah dengar cuplikan &#8230; <a href="http://pembelaislam.wordpress.com/2011/12/22/bendera-kita-yang-mana-kawan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=191&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2011/12/images-1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-194" title="images (1)" src="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2011/12/images-1.jpg?w=500" alt=""   /></a></p>
<p><em>When I get older, I will be stronger,</em></p>
<p><em>They&#8217;ll call me freedom, just like a Waving Flag,</em></p>
<p><em>And then it goes back, and then it goes back,</em></p>
<p><em>And then it goes back, And then it goes…</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Pernah dengar cuplikan lirik tersebut? Lirik tersebut sering diperdengarkan saat hingar bingar piala dunia 2010. Sudah berlalu cukup lama memang, namun tidak ada salahnya kita sedikit melirik ke belakang. Bait syair itu sebenarnya adalah <em>chorus</em> sebuah lagu berjudul “<em>Wavin’ Flag</em>” yang kemudian digubah dan dipopulerkan oleh coca-cola sebagai salah satu sponsor piala dunia di Afrika Selatan. Bendera. Hanya selembar kain yang dikibarkan, namun penuh dengan makna. Kalau tidak percaya, cobalah untuk mengibarkan bendera berwarna putih dengan logo palang alias <em>cross</em> berwarna hitam sambil mengendarai motor ketika berangkat kuliah menyusuri jalan protokol. Pasti kita akan jadi pusat perhatian, setidaknya para pengendara yang lain akan memberi jalan, dikira ada rombongan pembawa jenazah. Atau cobalah untuk meletakkan bendera berwarna merah dan putih di atas paving jalanan kampus sehingga terlindas oleh setiap kendaraan yang lewat. Yakinlah, akan ada orang yang menyelamatkan bendera tersebut. Kalau orang-orang tahu pelakunya adalah kita, bisa jadi kita akan dihajar ramai-ramai. Syukurlah kalau orang-orang tadi tidak mengikat kita di tengah jalanan untuk menggantikan posisi bendera yang tadinya tergeletak dan terinjak-injak di sana. Meski hanya selembar kain dengan warna dan corak tertentu, namun bendera mampu berbicara untuk menunjukkan sebuah makna.</p>
<p>Kembali pada bait syair di awal tulisan ini. ”<em>Wavin’ Flag</em>”, sesuai dengan temanya, memang banyak meyoroti bendera kebangsaan yang dikibarkan oleh ribuan suporter selama pertandingan sepakbola. Dalam bait yang lain, sang penulis sekaligus penyanyi lagu tersebut, K’Naan, menegaskan:</p>
<p><em>Celebration its around us, every nations, all around us</em></p>
<p><em>Singing forever young, singing songs underneath that sun</em></p>
<p><em>Lets rejoice in the beautiful game.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Ketika sebuah pertandingan berlangsung, ribuan suporter hadir untuk mendukung tim nasionalnya masing-masing. Mereka mengibarkan bendera kebangsaan bersama-sama, menyanyikan lagu kebangsaannya dengan penuh bangga, bahkan ada pula yang rela melumuri tubuhnya dengan cat bercorak bendera. Meski Lionel Messi begitu berperan terhadap produktifitas Barcelona, namun suporter Spanyol tentu tidak akan mengibarkan bendera Argentina, apalagi menyanyikan lagu bersama para suporter Argentina ketika tim nasional negaranya berhadapan dengan Argentina. Sebaliknya, suporter Portugal juga tidak akan mengibarkan bendera apalagi mengecat tubuhnya dengan corak bendera Spanyol meskipun Christiano Ronaldo yang termasyur dengan julukan CR7 menggantungkan mata pencahariannya di Los Galacticos yang notabene merupakan klub ibukota Spanyol. Sungguh, saat-saat seperti itu adalah suatu saat dimana kebangsaan adalah segalanya dan bendera yang berwarna-warni itu dikibarkan untuk –lebih dari sekedar—menggambarkan kebanggaan, juga spirit suatu bangsa. Meski kota Bloemfontain terletak di benua afrika yang paling ujung, suporter Jepang rela untuk hadir di Vodacom Park, mengibarkan bendera hinomaru untuk mendukung tim nasionalnya bertanding melawan tim Kamerun. Bendera yang dulu juga pernah dikibarkan tahun 40-an ketika Jepang memaksakan <em>romusha</em> di Jawa dan menyerang pangkalan Pearl Harbour dibawah pimpinan Chuichi Nagumo.</p>
<p>Suasana yang sama juga dapat kita temui dalam Sea Games ke 26 di Palembang sepanjang november kemarin, khususnya pada even sepakbola yang dimainkan di atas lapangan yang luas dengan jumlah suporter terbesar bila dibandingkan dengan olahraga yang lain. Puluhan ribu orang rela berdesakan, mengantri selama berjam-jam demi menonton pertandingan final sepakbola Sea Games di Gelora Bung Karno. Mereka yang mengantri itu (barangkali termasuk beberapa orang di antara kita) sebenarnya harus menanggung resiko luka-luka bahkan meregang nyawa karena dorong-mendorong atau injak-menginjak untuk berebut masuk stadion. Reno Alvino, baru berusia 21 tahun, menghembuskan napas terakhirnya setelah berdesak-desakan dengan para suporter lain sebelum pertandingan. Sedangkan puluhan suporter ada yang pingsan, juga luka-luka. <em>Innalillaahi wa inna ilaihi roji’uun</em>. Toh, semua aktifitas itu tetap dilakukan dengan penuh keikhlasan oleh ribuan suporter yang lain demi memenuhi gelora kebangsaan yang menggelegak dalam jiwa mereka. Wajar kalau gelora itu begitu dahsyat, lawan timnas Indonesia di partai final saat itu bukan lawan sembarangan, Malaysia bung! Sudah berapa kali Malaysia memprovokasi dan menginjak-injak harga diri bangsa ini? Di mata banyak orang, dosa Malingsia (sebutan yang disematkan kepada negeri Jiran oleh sebagian anak bangsa) nampaknya sudah tak terhitung, tak terampuni. Nah, inilah salah satu kesempatan bagi masyarakat untuk membalas perlakuan yang menyakitkan dari tetangga yang usil dalam pandangan mereka. Puluhan bahkan ratusan ribu orang memerahkan-putihkan stadion yang telah berusia 49 tahun itu. Bukan hanya di dalam, mereka juga rela berdesakan di luar stadion demi menunjukkan dukungan meski hanya di temani televisi kecil. Bendera? Tak perlu ditanya. Ribuan bendera yang warnanya seragam merah-putih dengan berbagai ukuran mulai dari 10&#215;15 sampai 600&#215;900, terus saja dikibarkan sepanjang pertandingan oleh para suporter. Mereka tak kenal lelah. Timnas hampir menang, meski akhirnya kalah.</p>
<p><span id="more-191"></span></p>
<p>Itulah bendera. Selembar kain dengan corak warna, sebuah simbol yang mampu mengikat orang-orang dalam suatu ikatan. <em>Celebration its around us, every nations, all around us. </em>K’Naan menggambarkan meriahnya kibaran bendera yang sarat emosi oleh setiap bangsa ketika mereka mendukung tim sepakbola kebanggaannya. Gemuruh emosi itu bergelora kencang, melarutkan setiap orang dalam teriakan, nyanyian, acungan tangan, ombak masal, yel-yel, jingkrak kegirangan, dan terkadang juga tangisan. Tak peduli lagi, apakah anggota tim yang mereka dukung itu sholat atau tidak, muslim atau bukan, sawo matang atau hitam, jawa atau papua, semua itu bukan masalah selama melekat kostum merah putih di tubuh dan garuda di dada mereka. Lihatlah Diego Michiels yang berkulit putih khas belanda, tetap dielu-elukan, sama dengan anggota tim yang lain. Kontribusinya dalam menggalang pertahanan pun cukup dinanti-nanti oleh masyarakat. Ketika tim tersebut bertanding, serentak orang-orang menghentikan sejenak aktifitasnya, menyamakan frekuensi televisi mereka dan larut dalam emosi yang serupa dengan para penonton di stadion. Yang penting timnas menang, ganyang Malaysia, ciptakan banyak gol, permalukan malaysia. Itulah frasa-frasa yang ada dalam benak mereka, meski mereka juga tak terlalu paham strategi sepakbola, mengenali apalagi memahami profil para pemainnya. Semuanya larut, melebur habis ke dalam sebuah ikatan, ikatan yang menyatukan para pemain dengan penonton di stadion, ikatan yang menyatukan penonton di stadion dengan penonton televisi di warung-warung kopi bahkan di luar negeri, ikatan yang menyatukan para pejabat dengan rakyat, ikatan yang menyatukan penguasa dengan mahasiswa, ikatan yang menyatukan para narapidana dengan para penjaganya, ikatan yang menyatukan para legislator alias anggota DPR dengan sesamanya juga KPK, bahkan ikatan ini mempersatukan bromocorah dengan ulama. Inilah ikatan kebangsaan. Semua mendukung timnas yang sama dari bangsa yang sama pula.</p>
<p>Ketika hingar bingar itu usai, maka semuanya kembali berjalan ”normal”. Para pemain sibuk dengan bursa transfer masing-masing. Para suporter yang tadinya hiruk pikuk satu suara kembali dalam suasana tawuran dan sentimen anti kelompok suporter lain. Kecaman terhadap para pejabat oleh rakyat kembali mengalir. Perpecahan kompetisi divisi utama terus bergulir hingga berujung pada drama pengunduran diri pelatih timnas yang episodenya masih cukup panjang hingga hari ini. Saling kecam dan saling usir antar anggota DPR kembali memanas. Aksi-aksi anarkis mahasiswa menentang penguasa kembali terjadi, bahkan agar penguasa mendengar dan peduli ada yang sampai merasa perlu beraksi di depan istana, kemudian membakar diri. Narapidana kembali sibuk bermanuver terhadap para penjaga agar bisa segera lepas dari pengapnya penjara, termasuk yang dilakukan 4 narapidana kasus narkoba yang kabur lewat jendela di Sumatera Utara tanggal 18 desember lalu. Ikatan kebangsaan yang tadinya kelihatan gegap gempita tiba-tiba seolah lenyap begitu saja. Nampaknya ikatan ini akan kembali mencuat dengan munculnya momen-momen penguat semisal dalam skala kecil upacara bendera, atau yang lebih masif pertandingan timnas di piala AFF mendatang. Seringkali insiden-insiden yang terjadi terbukti mampu memicu timbulnya ikatan ini lagi. Lihatlah ketika negeri Jiran berulah dengan mengklaim kebudayaan tari pendet, reog, batik, ataupun mencaplok beberapa bagian wilayah negeri ini. Barulah di situ ikatan kebangsaan kembali menemukan eksistensinya.</p>
<p>Secara alami, manusia memiliki naluri <em>(instinct)</em> untuk mempertahankan diri. Naluri tersebut mendorong seseorang atau pun sekelompok orang untuk mempertahankan wilayah atau pun hak miliknya dari segala ancaman. Naluri itu juga mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk menunjukkan eksistensinya juga identitasnya. Dorongan naluri itu pulalah yang memunculkan ikatan kebangsaan, dengan berbagai simbolnya termasuk bendera. Ikatan nasionalisme, dimana imbuhan asing -isme berarti sifat, akan menguat ketika ada ancaman dalam bentuk apapun. Ketika ancaman terhadap suatu bangsa mereda, maka ikatan di antara mereka juga ikut melemah. Satu orang dengan orang yang lain tidak lagi disatukan dengan ikatan kebangsaan, namun bisa jadi dipersatukan dengan ikatan kepentingan atau kesukuan. Nampak sekali bahwa ikatan ini sifatnya sangat emosional. Maka tidak perlu heran apabila pasca World Cup, ikatan yang mengikat antara Silvio Berlusconi dengan rakyat Italia melemah hingga berujung pada kekisruhan politik dan mundurnya Silvio dari jabatannya. Tidak perlu heran juga kalau ikatan kebangsaan rakyat Indonesia melemah setelah berakhirnya pertandingan final Indonesia dan Malaysia sebagaimana yang telah saya gambarkan sebelumnya. Bendera yang tadinya dikibarkan gagah berani, berapa pun ukurannya, telah dilipat kembali dengan rapi dan dimasukkan ke dalam lemari seiring melemahnya dorongan emosi.</p>
<p>Bendera itu sendiri awalnya merupakan manifestasi/perwujudan sepotong imajinasi yang berawal dari sebuah mimpi untuk mengikat orang-orang yang memiliki beragam kepentingan ke dalam suatu kesatuan. Benedict Anderson dalam buku berjudul <em>Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism</em> yang diterbitkan di New York tahun 1991 menyebutkan bahwa nasionalisme adalah suatu identitas kolektif yang membentuk komunitas imajiner. Komunitas ini tidaklah digambarkan dengan kesamaan warna kulit, agama, dan pada awalnya juga tidak digambarkan dengan kesamaan bahasa namun lebih menekankan pada bangunan sosial yang dibentuk bersama dengan memunculkan “penemuan baru”  identitas “bangsa”-nya yang disimbolkan dengan bendera, lagu, lambang, slogan, bahkan tata bahasa baru. Semua simbol-simbol tadi, menurut Ernest Gellner diagungkan dan dianggap suci lebih seperti simbol relijius ketimbang simbol politik, cenderung menjadi “agama” ketimbang entitas politik. Bukankah hal itu pula yang terjadi pada orang-orang disekitar kita? Maka ketika sebuah bendera merah putih diperlakukan sedemikian rupa, orang yang menjadikan kebangsaan sebagai pengikat diri mereka dengan orang lain akan bereaksi sedemikian rupa sebagaimana gambaran saya di awal tulisan, sebab menurut mereka simbol itu suci dan mulia sebagaimana agama! Karena muncul dari naluri untuk menunjukkan eksistensi diri, bukanlah hal yang aneh pula apabila Anthony Smith dari <em>University of Nevada</em> menggambarkan ikatan kebangsaan akan senantiasa diiringi oleh sebuah keyakinan <em>(belief)</em> bahwa kepentingan nasional adalah kepentingan utama, di atas segalanya. Ikatan ini juga diiringi oleh sebuah keyakinan untuk menonjolkan dan mengganggap superior sebuah bangsa di atas bangsa yang lain.</p>
<p>“<em>Right or wrong, our country!</em>” ucap Stephen Decatur setelah makan malam pada awal abad 19. Komandan kapal USS Guerriere ini akan terus membela negaranya sekalipun kebijakannya salah. John F. Kennedy, presiden Amerika ke 35, juga menegaskan dalam perkataannya yang terkenal, “<em>ask not what your country can do for you — ask what you can do for your country.</em>” Perkataan-perkataan tersebut kemudian dijadikan slogan untuk menguatkan ikatan kebangsaan. Sampai-sampai pemerintah kita merasa perlu untuk mengulang-ulang kembali perkataan Kennedy tadi dengan menayangkan—tentu dalam bahasa Indonesia— sebuah iklan layanan masyarakat pada sejumlah stasiun televisi nasional. Dalam iklan itu seorang murid sekolah dasar mengacungkan tangan dan bertanya kepada gurunya ketika mengajar di sebuah kelas, kemudian sang guru menjawab dengan halus, ”jangan tanyakan apa yang telah diperbuat oleh negara kepada kalian, tapi tanyakan apa yang telah kalian perbuat kepada negara.” Slogan-slogan itu juga slogan-slogan semacamnya memang nampak mentereng dan tegas, menguatkan ”cahaya” nasionalisme. Munculnya slogan-slogan itu adalah sesuatu yang wajar apabila merujuk pada bagaimana ikatan itu muncul. Seorang pemikir abad 21, Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan bahwa ikatan kebangsaan tumbuh di tengah-tengah masyarakat, tatkala pola pikir manusia mulai merosot. Ikatan ini terjadi ketika manusia mulai hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tidak beranjak dari situ. Saat itu, naluri mempertahankan diri memang sangat berperan dan mendorong mereka untuk mempertahankan dan menonjolkan negerinya, tempat dimana mereka hidup dan menggantungkan diri. Beliau juga menegaskan, Ikatan ini tampak juga dalam dunia binatang serta burung-burung, dan senantiasa emosional sifatnya.</p>
<p>Maka sejatinya slogan-slogan yang disebutkan di atas adalah slogan-slogan yang emosional pula, bukan rasional. Cobalah kita tengok kasus-kasus yang ada. Tak perlu jauh-jauh, di negeri kita saja. Tidak meratanya pembangunan menyebabkan banyak daerah yang tertinggal, baik dari segi infrastuktur, fasilitas umum, pendidikan, layanan kesehatan, maupun lapangan kerja. Ada daerah-daerah tertentu di negeri ini yang menyumbangkan pajak dan kekayaan alam sedemikian rupa ke pemerintah pusat, namun daerah kemudian ”ditelantarkan” oleh pemerintah, sengaja ataupun tidak. Apakah masuk akal kalau ada rakyat yang kelaparan, tertindas, diperlakukan sewenang-wenang, suara mereka tidak didengar, dan dianak-tirikan—selama puluhan tahun—dengan ikhlas dan senang hati penuh semangat tetap mengibarkan bendera dan mengucapkan “<em>ask not what your country can do for you — ask what you can do for your country</em>”? Sama sekali tidak rasional bukan? FALINTIL yang merupakan sayap militer partai politik FRETILIN di Timor Leste pada tahun 1980-an mulai mendeklarasikan perang ”kemerdekaan” untuk mengusir penjajah (menurut versi mereka): Indonesia. Dipimpin oleh Xanana Gusmao, mereka terus melancarkan aksi gerilya melawan pemerintah yang mereka anggap gagal menyejahterakan rakyat Timor. Angin segar itu kemudian hadir pada masa pemerintahan BJ. Habibie. Pasukan bersenjata yang pro-Indonesia sengaja dipancing untuk melakukan kekerasan yang kemudian menjadi legitimasi campur tangan Australia dan PBB. PBB pada tahun 1999 membentuk INTERFET, sebuah pasukan militer multinasional untuk menjaga perdamaian di Timor Leste yang pada kenyataannya yang memimpin INTERFET adalah Australia dan sebagian besar pasukan tersebut juga pasukan Australia. Pada akhirnya, melalui lembaganya yang lain saat itu, UNAMET, PBB mendorong dan memimpin dilaksanakannya referendum untuk rakyat Timor. Hasilnya bisa ditebak dengan mudah, dari 98.6% total penduduk yang mengikuti penentuan nasib, 78.5% menginginkan kemerdekaan. Dulu ketika saya masih duduk di bangku SD, ada tugas mata pelajaran IPS untuk menghafalkan nama-nama propinsi dan suku-suku yang merupakan bangsa Indonesia. Saat itu, tercantum di atlas nasional Timor Timur sebagai provinsi ke-27 dengan ibukota Dili. Artinya, rakyat Timor saat itu adalah bangsa Indonesia. Kini, atlas nasional manapun tidak akan menampilkan Timor Timur sebagai provinsi ke-27. Generasi yang baru pun tidak akan mengenalinya. Yang mereka kenal adalah negara tetangga, bangsa Timor Leste!</p>
<p>Begitu gamblang kelemahan ikatan kebangsaan. Apalagi bila berhadapan dengan urusan perut. Slogan Kennedy atau pun Decatur sudah tidak menemukan realitas. Faktanya, slogan itu hanya slogan hampa. Sekalipun bangsa Timor Leste saat ini mengucapkan slogan yang serupa, namun tidak menjadi jaminan di masa mendatang salah satu district negara mereka, katakanlah Cova Lima atau Liquiçá, memerdekakan diri dan membentuk negara dan bangsa baru karena tidak puas dengan pemerintah pusatnya. Sebuah negara dengan wilayah yang tidak terlalu luas di Eropa semacam Yugoslavia saja, kini terpecah menjadi negara-negara kecil yakni Bosnia, Serbia, Kroasia, Slovenia, dan Macedonia. Tentunya masing-masing mendeklarasikan kebangsaan yang berbeda dengan berbagai simbolnya. Benderanya pun beda-beda, meski warna kulit, bahasa, dan komposisi demografi mereka sama. Baru-baru ini, Sudan Selatan memisahkan diri dari republik Sudan, membentuk sebuah negara bangsa baru yang diakui PBB setelah referendum, mirip dengan Timor Leste. Imajinasi kebangsaan telah merasuki masyarakat kita, bahkan dunia. Ini sekaligus menjadi jawaban atas maraknya gerakan separatis di penjuru negeri. GAM di Aceh, RMS di Maluku selatan, dan yang mengemuka belakangan adalah OPM di Papua. Semua berusaha memisahkan diri, membentuk negara baru dan tentunya bangsa baru dengan bendera yang juga baru. Pada titik inilah ikatan kebangsaan alias nasionalisme telah melampui batas khayalnya, kemajuan sebuah masyarakat yang menjadikan ikatan tersebut sebagai pengikat individu-individunya hanyalah sebuah mimpi, absurd.</p>
<p>G-8 <em>(Group of Eight)</em> merupakan sebuah forum negara-negara maju dengan tingkat ekonomi tinggi. Secara kolektif, grup tersebut menguasai 53% GDP dunia. Bila dihitung kasar, 53% ekonomi dunia berada di bawah kendali penuh mereka. Negara-negara anggotanya seringkali diklaim sebagai model keberhasilan ikatan kebangsaan. Jepang, Jerman, ataupun Italia semuanya merupakan negara bangsa. Rakyatnya relatif lebih sejahtera ketimbang negara-negara berkembang G-77. Namun, siapapun yang melihat dengan jeli akan mendapati suatu fakta bahwa hanya terdapat 1 negara yang paling berkuasa dan adidaya: Amerika. Masyarakat Amerika bangkit dan meraih kemajuan, menjadi negara yang berpengaruh di dunia tidaklah disebabkan oleh ikatan kebangsaannya. Negara-negara bagian federal mereka tidaklah dipersatukan oleh nasionalisme. Menilik sejarah panjangnya, mereka dipersatukan oleh sebuah ideologi yang mengakar kuat, yakni Kapitalisme. Pidato Obama saat inaugurasi cukup memberikan bukti. Dia menegaskan bahwa Amerika tetap tegak karena memegang teguh idealisme pendiri negara dan kemudian menyinggung kemenangan atas komunisme yang diraih tidak hanya dengan tank dan misil, namun dengan aliansi dan keyakinan yang kuat terhadap ideologi. ”<em>Recall that earlier generations faced down fascism and communism not just with missiles and tanks, but with sturdy alliances and enduring convictions.”</em></p>
<p>Wajar, kapitalisme dan komunisme merupakan ideologi yang saling bertentangan meski ada irisan pada beberapa hal. Ketika <em>founding father</em> Amerika telah menetapkan kapitalisme sebagai ideologi negara, maka pada saat itulah negara itu senantiasa berusaha meraih kepimpinan ideologis di dunia. Negara-negara federal tersebut menjadi Uni, <em>United States of America </em>(USA)<em>,</em> di atas ikatan ideologis yang mengakar. Benturan antar ideologi pun tak terelakkan. Sebagaimana yang telah saya singgung sebelumnya, Yugoslavia dulunya adalah suatu negara dengan beberapa negara federal sebagaimana USA. Yang mempersatukan bangsa-bangsa tadi adalah ideologi komunis. Bahkan awalnya Yugoslavia tergabung dalam sebuah negara adidaya yang sangat berpengaruh pasca perang dunia I, <em>Union of Soviet Socialist Republics</em> (USSR). Masyarakatnya khas, mengusung bendera yang sama, dipersatukan oleh ikatan ideologis yang muncul dari pandangan yang mendasar tentang kehidupan, komunisme. Maka dengan ikatan yang khas tersebut, negara ini pun senantiasa berusaha meraih kepemimpinan ideologis di dunia. Pada saat ini, apa yang membuat Amerika sangat mengkhawatirkan Korea Utara ataupun Venezuela? Padahal secara ekonomi negara-negara tadi bukan anggota G-8. Tentu bukanlah faktor nasionalisme, namun potensi ideologi komunis-lah yang membuat negara-negara tersebut dianggap ancaman bagi Amerika (baca: kapitalisme). Amerika sangat khawatir apabila potensi ideologi itu kemudian mempersatukan negara-negara tadi menjadi sebuah entitas yang kuat. Dengan berbagai bukti yang telah saya sebutkan, maka kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa kekuatan sebuah negara bergantung pada ideologi yang mendasarinya dan kemajuan masyarakat ditentukan oleh ikatan ideologi yang mengikat setiap anggota masyarakatnya, bukan ikatan kebangsaan. Ikatan ideologis terbukti paling layak dijadikan pengikat antar manusia dalam kehidupannya untuk meraih kebangkitan dan kemajuan, terlepas dari apakah ideologi tersebut benar atau salah, bersumber dari manusia atau pun wahyu.</p>
<p>Ideologi di dunia saat ini hanya ada 3 yaitu kapitalisme, komunisme, dan Islam. Sebagaimana yang tersirat pada paragraf sebelumnya, dua ideologi yang pertama diemban oleh satu atau beberapa negara. Sedangkan ideologi yang ketiga yaitu Islam, tidak diemban oleh satu negarapun. Islam diemban oleh individu-individu dalam masyarakat. Sekalipun demikian, ideologi ini tetap ada di seluruh penjuru dunia. Islam adalah ideologi yang benar, karena bersumber dari wahyu Allah Sang Pencipta yang rasional, tidak bertentangan dengan <em>fitrah</em> manusia, dan menentramkan jiwa. Ideologi ini juga pernah diemban oleh sebuah negara adidaya selama 14 abad, yakni Khilafah. Dimulai dari penegakkan sebuah negara di Madinah oleh Rasulullah yang kemudian dilanjutkan oleh kepemimpinan para khalifah, Islam diterapkan sebagai sebuah ideologi secara total. Masyarakatnya juga merupakan masyarakat yang khas, yang diikat oleh ideologi Islam. Ikatan ideologis itulah yang menjadikan masyarakat pada saat itu bangkit dan meraih kejayaan. Terbukti, negara khilafah pada masa Abbasiyah berhasil mempersatukan dan membangun masyarakat Islam yang meliputi hampir 2/3 dunia termasuk sebagian wilayah Eropa. Meski berbeda-beda warna kulit, suku, tradisi, ataupun adat, masyarakat tadi di atur dengan aturan yang sama yakni syari’ah Islam dan dipimpin oleh seorang kepala negara yang sama pula, yakni seorang khalifah. Mereka mengibarkan bendera yang sama, bendera Islam, benderanya Rasulullah. Ibnu Majah meriwayatkan bahwa royah (panji) Rasulullah saw berwarna hitam dan liwa (bendera)-nya berwarna putih. Ibnu Abbas juga meriwayatkan bahwa pada bendera Rasulullah tertulis <em>“La ilaaha illa Allah, Muhammad ar-rasul Allah”</em>, kurang lebih sama dengan bendera yang terdapat pada logo gema pembebasan. Bendera tersebut telah menjadi saksi kedigdayaan sebuah masyarakat yang menjadikan Islam sebagai ikatan ideologis yang mengikat setiap anggota masyarakatnya. Sayangnya hal tersebut tidak banyak di ungkap karena keberadaannya sebagai potensi ideologis untuk menyatukan umat Islam dunia dalam satu negara, tentu Amerika tidak menghendaki hal ini.</p>
<p>Masyarakat Islam, individu-individunya adalah orang-orang yang berakidah Islam. Ideologi Islam telah merasuk ke dalam jiwa mereka, seolah mengikuti aliran darah dan menyatu dengan daging dalam tubuhnya. Mereka dipersatukan oleh pemikiran yang sama, pemikiran Islam. Mereka dipersatukan oleh perasaan yang sama pula, perasaan Islami. Kehidupan mereka pun di atur oleh aturan Islam yang bersumber dari wahyu. Kesukaan dan ketidaksukaan mereka terhadap segala sesuatu telah ditetapkan berdasarkan pemikirannya yang cemerlang tentang kehidupan, bahwa alam semesta, manusia, dan kehidupan diciptakan oleh Allah dan akan kembali kepada Allah. Manusia hidup untuk beribadah kepada Allah Sang Pencipta Yang Maha Mengatur dan setiap perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah setelah alam semesta, manusia, dan kehidupan berakhir. Maka ikatan yang timbul di antara mereka sejatinya bukanlah ikatan yang semata-mata muncul dari dorongan naluri dan bersifat emosional, namun lebih dari itu merupakan ikatan yang agung yang dapat menghantarkan manusia kepada keridhoan Allah. Maka tidak layak bagi seorang muslim menjadikan ikatan kebangsaan untuk mengikat individu-individu dalam masyarakat.</p>
<p>Imam Abu Dawud meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah berkata ”Bukan termasuk umatku siapa saja yang menyeru orang pada <em>‘ashabiyah</em>, bukan dari golongan kami orang yang berperang karena <em>’ashabiyyah</em>, dan bukan dari golongan kami orang yang mati karena <em>’ashabiyyah</em>”. Menurut Ibnu Mandzur dalam kamus Lisanul Arab, penggunaan kata <em>‘ashabiyyah</em> dalam hadis identik dengan orang yang menolong kaumnya, sementara mereka zalim. Faktanya, ikatan kebangsaan telah membuat seseorang membela bangsanya, tidak peduli apakah mereka bersalah atau tidak, zalim ataupun tidak. Seorang muslim menolong bangsanya meski mereka melanggar dan mengingkari aturan-aturan Allah. Bahkan atas nama nasionalisme, beberapa ulama rela untuk menetapkan hari raya Idul Adha tidak bersamaan wukuf di Arafah dan beberapa kali perbedaan penetapan Idul Fitri juga terjadi akibat merasuknya imajinasi kebangsaan ke dalam pikiran mereka. Maka setelah kita mengetahui ini semua, apakah kita masih belum mau meninggalkan ikatan kebangsaan tersebut dan beralih menuju ikatan ideologis? Ketika sudah mati nanti, kemudian menghadapi perhitungan amal perbuatan, apa jawaban yang akan kita berikan seandainya kita mati dalam keadaan memperjuangkan <em>’ashabiyyah</em>? Tentu seorang muslim yang baik akan meninggalkan ikatan yang lemah itu menuju ikatan ideologi Islam. Dan ketika ditanya, ”Bendera kita (yang) mana, kawan?” Tentu bukan bendera Palestina. Jawablah dengan tegas: bendera tauhid bertuliskan <em>“La ilaaha illa Allah, Muhammad ar-rasul Allah”</em>, benderanya Rasulullah, Al-Liwa berwarna putih dengan tulisan hitam dan Ar-Royah berwarna hitam dengan tulisan putih!</p>
<div><a href="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2011/12/1100948456_e2aa307cf2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-198" title="1100948456_e2aa307cf2" src="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2011/12/1100948456_e2aa307cf2.jpg?w=500" alt=""   /></a><br />
Berkibarlah benderakuRoyah Liwa gagah perwira</p>
<p>Di seluruh belahan dunia</p>
<p>Kau akan satukan ummat</p>
<p>Siapa berani menghinakan engkau</p>
<p>Serentak ummat pun berjihad</p>
<p>Bendera Rasul Sang Panglima</p>
<p>Berkibarlah Slama-lamanya</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>[pembelaislam].</strong></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembelaislam.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembelaislam.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembelaislam.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembelaislam.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembelaislam.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembelaislam.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembelaislam.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembelaislam.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembelaislam.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembelaislam.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembelaislam.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembelaislam.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembelaislam.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembelaislam.wordpress.com/191/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=191&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/12/22/bendera-kita-yang-mana-kawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/310996edb80f23e6f9c3dae3d9625a10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pembelaislam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2011/12/images-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">images (1)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2011/12/1100948456_e2aa307cf2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">1100948456_e2aa307cf2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rinduku Kawan</title>
		<link>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/06/02/rinduku-kawan/</link>
		<comments>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/06/02/rinduku-kawan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jun 2011 13:25:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pembelaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[kawan]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[rindu]]></category>
		<category><![CDATA[roda]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembelaislam.wordpress.com/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Roda masa terus berputar Menggilas, Ganas. Melintas ruas-ruas jalan Menyeruak kerumunan manusia Dan hidupnya Tak sekalipun tergelincir licin Tak pernah berdecit, berhenti Terus berputar tak peduli Menelusuri kehidupan, konstan &#160; Rinduku kawan Memandang lembar-lembar kenangan Kursor yang kugerak-gerakkan Dengan tangan &#8230; <a href="http://pembelaislam.wordpress.com/2011/06/02/rinduku-kawan/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=181&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Roda masa terus berputar</p>
<p>Menggilas,</p>
<p>Ganas.</p>
<p>Melintas ruas-ruas jalan</p>
<p>Menyeruak kerumunan manusia</p>
<p>Dan hidupnya</p>
<p>Tak sekalipun tergelincir licin</p>
<p>Tak pernah berdecit, berhenti</p>
<p>Terus berputar tak peduli</p>
<p>Menelusuri kehidupan,</p>
<p>konstan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span id="more-181"></span>Rinduku kawan</p>
<p>Memandang lembar-lembar kenangan</p>
<p>Kursor yang kugerak-gerakkan</p>
<p>Dengan tangan</p>
<p>Menyibak buku wajah, gambaran-gambaran</p>
<p>Hidupmu kini</p>
<p>Sambil membayangkan</p>
<p>Hidupku nanti</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rinduku kawan</p>
<p>Melihatmu putus harapan</p>
<p>Tergilas jadi korban</p>
<p>Roda masa yang menggilas</p>
<p>Ganas.</p>
<p>Dulu bersanding, kini bersaing</p>
<p>Dulu mengajak, kini terserak</p>
<p>Dulu mengaji, kini sibuk makan gaji</p>
<p>Dulu selalu di depan, kini putar haluan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rinduku kawan</p>
<p>Akan kebersamaan</p>
<p>Bersama kita tinggalkan peraduan</p>
<p>kita hilangkan kegalauan</p>
<p>kita usir kesedihan</p>
<p>membangun harapan!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ah, <em>grande bouche!</em></p>
<p>lihatlah diriku kawan</p>
<p>diliputi kecemasan</p>
<p>akan masa depan</p>
<p>dihempas gelombang</p>
<p>tak mampu bergerak cepat ke depan</p>
<p>aku tergolek lemah</p>
<p>tak mampu mendampingimu</p>
<p>tak sanggup menjangkaumu</p>
<p>Sibuk,</p>
<p>Sakit,</p>
<p>selalu kujadikan alasan</p>
<p>untuk membiarkanmu terombang-ambing</p>
<p>seorang diri</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apa yang telah kulakukan?</p>
<p>Apalah pula yang akan kukatakan</p>
<p>Di hadapan Allah kelak</p>
<p>Di pengadilan yang paling adil</p>
<p>Tentang diriku yang</p>
<p>berlumuran dosa</p>
<p>diselimuti kelemahan</p>
<p>menelantarkanmu kawan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rinduku kawan</p>
<p>Melihat diri kita</p>
<p>Makin jauh dari Sang Pencipta</p>
<p>Kita jadi lupa</p>
<p>Kau dan aku</p>
<p>Sama-sama tak berdaya</p>
<p>Tak sanggup jadi sandaran</p>
<p>Hanya Dia</p>
<p>Tempat mengadu, meminta</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Rinduku kawan</p>
<p>Untuk saling melupakan</p>
<p>Kesalahan</p>
<p>Sedikit-sedikit,</p>
<p>Meninggalkan keburukan</p>
<p>Tak putus harapan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>!تتخلى أبدا</p>
<p>bukanlah manusia</p>
<p>yang tak pernah salah</p>
<p>gerakkan badan kawan, gerakkan!</p>
<p>bukan kesempurnaan</p>
<p>yang kita cari</p>
<p>Ridho Ilahi itulah</p>
<p>Yang kita nanti</p>
<p>Roda masa terus berputar</p>
<p>Menggilas,</p>
<p>Ganas.</p>
<p>Apa yang sudah kita perbuat</p>
<p>Hari ini?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembelaislam.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembelaislam.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembelaislam.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembelaislam.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembelaislam.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembelaislam.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembelaislam.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembelaislam.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembelaislam.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembelaislam.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembelaislam.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembelaislam.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembelaislam.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembelaislam.wordpress.com/181/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=181&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/06/02/rinduku-kawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/310996edb80f23e6f9c3dae3d9625a10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pembelaislam</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KERANCUAN PSIKOLOGI</title>
		<link>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/06/01/kerancuan-psikologi/</link>
		<comments>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/06/01/kerancuan-psikologi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jun 2011 01:49:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pembelaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku hari ini]]></category>
		<category><![CDATA[aqliyah]]></category>
		<category><![CDATA[eksperimen]]></category>
		<category><![CDATA[ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jasmani]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[metode]]></category>
		<category><![CDATA[naluri]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[postulat]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[sains]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembelaislam.wordpress.com/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[(Cuplikan kitab &#8220;Fikrul Islam&#8221; karya Muhammad Muhammad Ismail) &#160; Di kalangan masyarakat, baik awam maupun terpelajar, banyak terjadi kerancuan pandangan tentang ide-ide yang dihasilkan melalui pola fikir aqliyah dan teori-teori ilmiah yang dihasilkan oleh pola fikir sains. Berdasarkan asumsi dan &#8230; <a href="http://pembelaislam.wordpress.com/2011/06/01/kerancuan-psikologi/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=175&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>(Cuplikan kitab &#8220;Fikrul Islam&#8221; karya Muhammad Muhammad Ismail)</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2011/06/sigmundfreud.jpg" target="_blank"><img class="alignleft size-full wp-image-177" style="margin:5px 7px;" title="sigmundfreud" src="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2011/06/sigmundfreud.jpg?w=500" alt=""   /></a>Di kalangan masyarakat, baik awam maupun terpelajar, banyak terjadi kerancuan pandangan tentang ide-ide yang dihasilkan melalui pola fikir <em>aqliyah</em> dan teori-teori ilmiah yang dihasilkan oleh pola fikir sains. Berdasarkan asumsi dan anggapan yang rancu ini mereka menganggap psikologi, sosiologi dan ilmu pendidikan sebagai suatu ilmu, dan ide-ide yang dihasilkannya mereka anggap sebagai pemikiran ilmiah.  Sebab menurut mereka, ilmu-ilmu itu dibangun berlandaskan pengamatan yang dilakukan secara berulang-ulang terhadap anak dalam kondisi dan umur yang berbeda atau dilakukan terhadap berbagai kelompok masyarakat dalam situasi dan kondisi yang saling berbeda.  Pengamatan yang dilakukan secara berulang kali itu dinamakan sebagai <em>&#8220;eksperimen ilmiah</em>&#8220;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dan sesungguhnya psikologi, sosiologi dan ilmu pendidi­kan, bukan merupakan pemikiran ilmiah, melainkan pemikiran yang dihasilkan melalui pola fikir rasional, sebab eksperi­men ilmiah adalah cara memperlakukan suatu benda atau materi pada suatu situasi tertentu, bukan dalam keadaan yang alami.  Dari hasil perlakuan tersebut kemudian dilakukan pengamatan untuk melihat hasilnya.  Dengan kata lain eksperimen ilmiah dilakukan terhadap materi (benda) seperti eksperimen-eksper­imen dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam atau Kimia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Adapun pengamatan terhadap &#8220;sesuatu&#8221; (manusia) pada waktu dan keadaan yang berbeda tidak dapat dikatakan sebagai eksperimen ilmiah. Oleh karena itu pengamatan terhadap anak-anak atau balita pada kondisi dan tingkatan umur yang berbeda, atau pengamatan terhadap sekelompok masyarakat di beberapa negara dalam kondisi yang berbeda, serta pengamatan terhadap perbu­atan/aktivitas beberapa orang pada kondisi yang berbeda pula, semua itu tidak dapat dimasukkan dalam kategori ek­sperimen yang ilmiah, sehingga<span id="more-175"></span> tidak dapat digolongkan dalam pola fikir sains.  Bentuk ini sebenarnya hanya pengamatan yang dilakukan secara berulang-ulang lalu menghasilkan suatu kesimpulan.  Berarti, tergolong dalam pola fikir rasional dan bukan pola fikir sains.  Berdasarkan penjelasan di atas, maka ide-ide yang menyangkut kategori ilmu psikologi, ilmu sosiologi, dan ilmu pendidikan adalah ide-ide yang berlan­daskan pola fikir rasional dan tergolong dalam pembahasan ilmu sains.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Disamping itu, yang dihasilkan dari ilmu psikologi, sosiologi dan ilmu pendidikan berupa ide-ide yang bersifat dugaan/persangkaan, sehingga mengandung unsur kesalahan dan bukan ide-ide yang bersifat pasti. Oleh karena itu tidak dibenarkan menjadikan sebagai dasar atau asas menentukan hakekat sesuatu atau menjadikan­nya sebagai pegangan untuk menentukan benar-tidaknya sesua­tu.  Hal ini disebabkan karena ilmu-ilmu semacam ini, tidak tergolong dalam realita ilmiah/postulat ilmiah, sehingga dapat dikatakan benar sampai terbukti kesalahannya.  Namun demikian ia tetap sebagai pengetahuan yang bersifat dugaan yang dihasilkan melalui cara dan metode yang tidak menghan­tarkan pada suatu kepastian.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Meskipun diakui bahwa ilmu-ilmu tersebut dihasilkan melalui pola fikir rasional, tetapi ilmu-ilmu tersebut tidak berupa penentuan terhadap &#8220;keberadaan&#8221; sesuatu.  Cara penen­tuan seperti itu masih bersifat dugaan yang mengandung unsur kesalahan.  Jadi ketiga macam ilmu pengetahuan tersebut sebenarnya dibangun di atas dasar kesalahan.  Maka wajarlah bila pemikiran-pemikiran yang dihasilkannya mengandung ide-ide yang keliru.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut kenyataan, ilmu psikologi secara umum dibangun berlandaskan pandangannya terhadap naluri dan otak manusia.  Pakar ilmu psikologi memandang bahwa dalam diri manusia terdapat banyak naluri.  Sebagian telah diketahui dan seba­gian lagi belum terungkap.  Berdasarkan pandangan yang salah terhadap naluri ini, para psikolog membangun dan mengembang­kan banyak teori yang salah.  Inilah penyebab kerancuan sebagian besar pemikiran yang terdapat dalam ilmu psikologi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Adapun pandangannya tentang otak, maka ilmu psikologi menganggap otak manusia terbagi dalam beberapa bagian.  Setiap bagian mempunyai bakat yang spesifik.  Begitu juga otak sebagian manusia mempunyai bakat yang tidak dimiliki oleh orang lain.  Mereka mengatakan bahwa ada sebagian manusia yang mempunyai bakat untuk memahami bahasa, sedang­kan yang lain berbakat di bidang matematika dan seterusnya.  Berdasarkan pandangan yang keliru ini telah dibangun banyak teori yang salah.  Hal ini menyebabkan kesalahan dalam banyak ide yang terdapat dalam ilmu psikologi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah mengamati reaksi manusia dapat dilihat bahwa dalam diri manusia terdapat potensi yang dinamis yang memi­liki dua gejala.  Gejala pertama mengharuskan terpenuhinya kebutuhan secara pasti, yang bila tidak dipenuhi dia akan mati.  Sedangkan gejala yang kedua memerlukan pemenuhan, yang bila tidak terpenuhi ia tetap hidup hanya saja ia akan menderita &#8220;sakit&#8221; dan gelisah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam gejala pertama dapat dimasukkan kebutuhan jasma­ni; misalnya rasa lapar, haus, atau buang hajat.  Sedangkan pada gejala yang kedua dapat dimasukkan naluri, yaitu naluri beragama, naluri mengembangkan dan melestarikan keturunan, serta naluri untuk mempertahankan diri.  Semua naluri ini muncul dalam bentuk perasaan-perasaan serba kurang dan tidak mampu, perasaan untuk mempertahankan jenis keturunannya dan perasaan untuk mempertahankan diri.  Selain yang tiga itu tidak ditemukan penampakan naluri-naluri lain.  Selain dari tiga naluri di atas maka tidak lain hanyalah manifestasi untuk masing-masing naluri tersebut, seperti rasa takut dan cinta kekuasaan yang merupakan manifestasi untuk naluri mempertahankan diri; atau seperti pengagungan terhadap pahlawan dan ingin menyembah sesuatu adalah manifestasi dari naluri beragama; demikian pula dorongan seksual terhadap lawan jenis, rasa kebapakan, keibuan dan rasa persaudaraan tidak lain merupakan manifestasi dari naluri mengembangkan dan melestarikan jenis.  Begitu pula terhadap setiap ma­nifestasi lain yang dapat dikembalikan pada tiga macam naluri tadi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Adapun dilihat dari segi anatomi, manusia mempunyai otak yang sama walaupun tidak ditemui adanya perbedaan dari segi pemikiran yang disebabkan oleh perbedaan daya serap indera dan informasi yang diperolehnya, serta berbeda ting­kat kekuatan nalar (yang mengkaitkan antara fakta dengan informasi yang telah diterima).  Tidak ada bakat khusus pada otak sebagian manusia yang tidak terdapat pada manusia lainnya.  Setiap otak mempunyai daya fikir terhadap sesuatu, yang ditunjang oleh empat unsur; yaitu otak, informasi yang diperoleh, fakta yang dapat ditangkap oleh indera dan panca indera.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perbedaan yang ada dalam otak hanyalah dalam &#8220;kekuatan nalar&#8221; dan kekuatan &#8220;daya serap indera&#8221;.  kekuatan ini tak ubahnya dengan kekuatan yang terdapat pada mata dalam meli­hat sesuatu, atau kekuatan telinga dalam mendengarkan suara.  Oleh karena itu setiap orang dapat diberi pengetahuan apapun jenisnya yang di dalam otaknya terdapat bakat untuk memaha­minya.  Dengan demikian tidaklah benar apa yang terdapat dalam ilmu psikologi bahwa bakat-bakat tertentu pada otak manusia terdapat perbedaan berdasarkan bakatnya. Kini jelas bagi kita bahwa pandangan ilmu psikologi terhadap otak dan naluri manusia adalah pandangan yang salah. Suatu hal yang menyebabkan adanya kekliruan dalam semua teori yang didasarkan pada pandangan tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembelaislam.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembelaislam.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembelaislam.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembelaislam.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembelaislam.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembelaislam.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembelaislam.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembelaislam.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembelaislam.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembelaislam.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembelaislam.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembelaislam.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembelaislam.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembelaislam.wordpress.com/175/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=175&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/06/01/kerancuan-psikologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/310996edb80f23e6f9c3dae3d9625a10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pembelaislam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2011/06/sigmundfreud.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sigmundfreud</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEPADA PENEGAK KEBENARAN, KEADILAN, DAN KEMAKMURAN</title>
		<link>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/05/21/kepada-penegak-kebenaran-keadilan-dan-kemakmuran/</link>
		<comments>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/05/21/kepada-penegak-kebenaran-keadilan-dan-kemakmuran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 May 2011 04:43:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pembelaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[aksi]]></category>
		<category><![CDATA[bangkit]]></category>
		<category><![CDATA[gema pembebasan]]></category>
		<category><![CDATA[hamka]]></category>
		<category><![CDATA[harkitnas]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kebangkitan]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembelaislam.wordpress.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Aku tahu bahwa engkau Pahlawan Kau kumandangkan suaramu ditengah medan pertentangan Suaramu bergetar membelah angkasa Dengan kata-kata kebenaran Tapi gema suaramu disambar geledek kebathilan Ditengah kegersangan angkasa yang tak berawan Kutahu ketabahanmu Menegakkan kebenaran adalah perjuanganmu Menegakkan keadilan adalah tujuanmu &#8230; <a href="http://pembelaislam.wordpress.com/2011/05/21/kepada-penegak-kebenaran-keadilan-dan-kemakmuran/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=167&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2011/05/pic_01551.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-169" title="aksi gema pembebasan harkitnas 2011" src="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2011/05/pic_01551.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><span style="font-size:small;">Aku tahu bahwa engkau Pahlawan<br />
Kau kumandangkan suaramu ditengah medan pertentangan<br />
Suaramu bergetar membelah angkasa<br />
Dengan kata-kata kebenaran<br />
Tapi gema suaramu disambar geledek kebathilan<br />
Ditengah kegersangan angkasa yang tak berawan</p>
<p>Kutahu ketabahanmu<br />
Menegakkan kebenaran adalah perjuanganmu<br />
Menegakkan keadilan adalah tujuanmu<br />
Menegakkan kemakmuran adalah cita-citamu<br />
Itulah hidup bagimu.</p>
<p><span id="more-167"></span><br />
Ditengah kehausan Ummat<br />
Dikala semua pedoman tak ada lagi<br />
Dikala bintang tak satu yang muncul<br />
Dikala gelap gulita sedang mencengkeram<br />
Kau curahkan air kelegaan<br />
Kau tunjukkan mereka tempat lalu.</p>
<p>Biar terban tanah dapat berpijak<br />
Biar patah dahan tempat bergantung<br />
Biar bersilang tunjuk menghina<br />
Namun yang benar kau sebut jua</p>
<p>Tahukah engkau wahai penegak kebenaran<br />
Getaran dan gema suaramu telah menyelinap<br />
Kedalam jiwa-jiwa generasi yang haus akan kebenaran<br />
Gema dan nada suaramu yang penuh dengan butir-butir kebenaran<br />
Menembus hati mereka<br />
Perjuanganmu akan mereka teruskan<br />
Cita-citamu akan mereka lanjutkan</p>
<p>Tahukah engkau wahai Pahlawan<br />
Tunas-tunas muda yang sedang kuncup<br />
Ingin mendapatkan siramanmu<br />
Dengan embun kebenaran<br />
Dari ujung lidahmu<br />
Tempat persembunyian kalimat-kalimat yang berharga<br />
Dari kandungan petunjuk Tuhanmu</p>
<p>Kami bangga melihat tindakan tegasmu wahai Pahlawan<br />
Engkau buangkan rintangan yang menghambat cita-citamu<br />
Engkau tinggalkan kursi dan meja yang akan merintangi engkau bergerak<br />
Engkau nyahkan kesenangan dan bujukan<br />
Engkau terjun ke dalam medan pergolakan<br />
Itulah rupanya bahagia bagimu<br />
Aku bangga melihatmu Pahlawan.</p>
<p>Almanar *<br />
Jakarta</span></p>
<p>dikutip dari<br />
”Pandji Masyarakat” No. 8<br />
Tahun I tanggal 1 Oktober 1959<br />
/28 Rabi’ul Awwal 1379</p>
<p>* ”Almanar” (nama yg disamarkan oleh penulis sajak) artinya sama dengan menara. Menara masjid tempat muadzin menyerukan adzan. Muadzin di zaman Rasulullah adalah Bilal. Dalam sajak ”Daftar”, Hamka dipanggil dengan sebutan Bilal oleh M. Natsir</p>
<p>* sajak ini adalah balasan dari Hamka untuk M. Natsir, Oktober 1959 (2 tahun setelah sidang Konstituante 1957 dimana Natsir berpidato tentang &#8220;Dasar Negara&#8221;)</p>
<p>*foto di atas adalah foto aksi Gema Pembebasan pada Harkitnas 2011 di depan Gedung DPR Jatim menyerukan kebangkitan Indonesia dengan Islam dan institusi Islam, Khilafah</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembelaislam.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembelaislam.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembelaislam.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembelaislam.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembelaislam.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembelaislam.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembelaislam.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembelaislam.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembelaislam.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembelaislam.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembelaislam.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembelaislam.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembelaislam.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembelaislam.wordpress.com/167/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=167&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/05/21/kepada-penegak-kebenaran-keadilan-dan-kemakmuran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/310996edb80f23e6f9c3dae3d9625a10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pembelaislam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2011/05/pic_01551.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">aksi gema pembebasan harkitnas 2011</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENEPIS OPINI-OPINI NEGATIF SEPUTAR KHILAFAH</title>
		<link>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/05/20/menepis-opini-opini-negatif-seputar-khilafah/</link>
		<comments>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/05/20/menepis-opini-opini-negatif-seputar-khilafah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 May 2011 02:08:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pembelaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[daulah]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[ideologi]]></category>
		<category><![CDATA[intelektual]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[konstitusi]]></category>
		<category><![CDATA[negara]]></category>
		<category><![CDATA[negara Islam]]></category>
		<category><![CDATA[orientalis]]></category>
		<category><![CDATA[plagiat]]></category>
		<category><![CDATA[sistem]]></category>
		<category><![CDATA[stigma negatif]]></category>
		<category><![CDATA[syari'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembelaislam.wordpress.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[Oleh M. Shiddiq Al-Jawi Pengantar Umat Islam pada masa sekarang sesungguhnya tidak pernah mengalami kehidupan di bawah Khilafah (negara Islam) sejak kehancurannya tahun 1924 di Turki (Mughni, 1997: 149). Pasca tragedi itu, praktis generasi umat Islam selanjutnya lahir dan hidup &#8230; <a href="http://pembelaislam.wordpress.com/2011/05/20/menepis-opini-opini-negatif-seputar-khilafah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=158&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em><em>Oleh M. Shiddiq Al-Jawi</em></em></strong></p>
<p><strong><em><em><br />
</em></em></strong></p>
<p><strong>Pengantar</strong></p>
<p>Umat Islam pada masa sekarang sesungguhnya tidak pernah mengalami kehidupan di bawah Khilafah (negara Islam) sejak kehancurannya tahun 1924 di Turki (Mughni, 1997: 149). Pasca tragedi itu, praktis generasi umat Islam selanjutnya lahir dan hidup di bawah hegemoni sistem pemerintahan demokrasi ala Barat. Karena itu, ketika berbicara tentang sistem pemerintahan, mereka tidak akan mampu membayangkannya kecuali berdasarkan standar-standar sistem demokrasi yang dipaksakan penjajah. Ini diperparah lagi dengan bercokolnya peradaban Barat (<em>al-hadhârah al-gharbiyyah</em>)—yang berpangkal pada ide sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan)—di Dunia Islam yang telah merasuki segala sendi dan aspek kehidupan (An-Nabhani, 1994: 9).</p>
<p><a href="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2011/05/citadel-salahuddin_small1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-160" style="border-color:initial;border-style:initial;border-width:0;margin:2px 7px;" title="Citadel Salahuddin_small" src="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2011/05/citadel-salahuddin_small1.jpg?w=500" alt=""   /></a>Dalam kondisi seperti inilah, dapat dipahami mengapa lalu muncul opini-opini negatif seputar ide Khilafah. Misalnya, Khilafah sudah tidak relevan lagi untuk masa sekarang; Khilafah harus ditolak karena hanya menimbulkan konflik, perpecahan, bencana dan kemerosotan bagi umat; dan seterusnya. Opini-opini negatif itu lahir tentu bukan karena ide Khilafah itu batil dalam pandangan Islam, melainkan karena ia bertentangan dengan realitas sistem demokrasi yang ada, atau tidak sesuai dengan pola pikir sekularistik yang mengharuskan pemisahan agama dari politik.</p>
<p>Tulisan ini bermaksud menampilkan berbagai opini negatif tersebut, sekaligus mencermati dan mengkritisinya agar umat memahami bahwa opini-opini itu sesungguhnya adalah palsu dan harus ditolak.<strong>               </strong></p>
<p><strong>Opini Negatif dan Jawabannya</strong></p>
<p>Banyak sekali opini negatif tentang Khilafah, baik dari kalangan orientalis maupun intelektual Muslim dari luar dan dalam negeri. Para orientalis biasanya gemar melukiskan bahwa Khilafah itu <span id="more-158"></span>penuh penyimpangan, kesewenang-wenangan, absolut, otoriter, dan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban (Dhiauddin Rais, 2001: 283-284). T.W. Arnold dalam bukunya, <em>The Caliphate</em>, halaman 47, mengutip ucapan Arnold Toynbee, “Khalifah yang diakui (oleh para ulama) adalah sebuah pemerintahan despotis (sewenang-wenang), yang penguasanya mempunyai kekuasaan tak terbatas, dan menuntut ketaatan tanpa <em>reserve</em> dari rakyatnya.”</p>
<p>Senada dengan ini, D.S. Margoliouth, dalam bukunya, <em>Mohammedanism</em> halaman 97, mengatakan, “Jika seseorang telah ditentukan untuk memegang kekuasaan, maka kaum Muslim tidak mempunyai hak untuk menggugat pemimpin yang sedang berkuasa itu.”</p>
<p>Sementara itu, D.B. Donald mengatakan, “Tidak mungkin—sama sekali—seorang imam (khalifah) menjadi pemimpin berdasarkan konstitusi, dalam pengertian seperti yang kita ketahui.”  (D.B. Donald, <em>The Development of Muslim Theology, Jurisprudence and Constitutional Theory</em>, hlm. 58-59).</p>
<p>Terhadap opini ini bisa diajukan beberapa jawaban. <em>Pertama</em>, jika yang dimaksudkan oleh Toynbee dan Arnold adalah aspek normatif Islam, maka opini mereka adalah tuduhan palsu. Sebab, akan kita jumpai nash-nash syariat yang memberikan batasan kekuasaan khalifah dan mewajibkan <em>muhâsabah</em> (pengawasan) kepada penguasa. Dalam Islam, penguasa wajib berbuat adil, tidak boleh berbuat zalim (sewenang-wenang) (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 58). Rakyat wajib mengawasi dan mengontrol penguasa sebagai bagian dari aktivitas saling menasihati atau amar makruf nahi mungkar (Lihat: QS al-‘Ashr [103]: 3 dan Ali Imran [3]: 104 dan110). Ketaatan rakyat kepada penguasa hanya pada yang makruf, bukan pada yang mungkar.  Rasullullah saw. bersabda:</p>
<p dir="RTL">«إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِيْ اْلمَعْرُوْفِ»</p>
<p><em>Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang makruf. </em><strong>(HR al-Bukhari dan Muslim).</strong></p>
<p><em>Kedua</em>, jika yang mereka maksudkan adalah aspek realitas, bukan normatif, maka mungkin saja terjadi seorang khalifah berbuat zalim. Sebab, khalifah adalah manusia biasa, bukan orang yang maksum (<em>infellible</em>). Namun, kezaliman khalifah adalah fakta, bukan norma. Ini menyangkut apa yang ada (<em>das sein</em>), bukan apa yang seharusnya (<em>das sollen</em>). Sama halnya dengan seorang Muslim yang mencuri. Ini fakta, bukan berarti Islam membolehkan pencurian. Para orientalis telah sengaja mengaburkan dan mencampuradukkan dua hal yang amat berbeda ini.</p>
<p><em>Ketiga</em>, opini para orientalis yang sengaja mengeksploitasi hal-hal negatif dari khilafah, sebenarnya didasarkan pula pada asumsi dan pengalaman Eropa sendiri, seperti perilaku despotik raja-raja Eropa pada Abad Pertengahan, atau khususnya di Prancis pada abad XVI-XVII menjelang revolusi Prancis (1789) (Mointesquieu, 1977: 200; Lucas, 1993: 269-283). Mereka melakukan generalisasi dari pengalaman sempit mereka serta menerapkannya pada realitas dan sejarah umat Islam. Tentu perspektif ini sangat gegabah dan sembrono.</p>
<p><em>Keempat</em>, pendapat Donald juga tidak mendalam dan sangat tendensius. Sebab, sungguhpun dalam Khilafah tidak ada konstitusi dalam pengertian Barat—yang ditetapkan oleh majelis wakil rakyat, dalam Islam diakui adanya berbagai hukum yang diadopsi Khalifah untuk mengatur urusan rakyat (An-Nabhani, 2001: 86; 1953: 116-127). Bukankah hukum-hukum ini fungsinya sama dengan konsitusi dan undang-undang modern, yakni untuk mengatur urusan publik?</p>
<p>Pendapat para orientalis di atas akhirnya diadopsi oleh sebagian kalangan intelektual Muslim seperti Ali Abdur Raziq. Nama ini pantas disebut secara khusus, namun bukan dalam konteks keteladanan, melainkan dalam konteks kelancangannya menjadi ulama pertama yang mengingkari wajibnya Khilafah. Bukunya, <em>Al-Islâm wa Ushûl al-Hukm</em>, yang terbit di Mesir tahun 1925 menafikan hubungan Islam dengan politik. Raziq, dalam bukunya itu (hlm. 150 dan 167) menolak adanya sebuah sistem pemerintahan dalam Islam dan menolak bahwa Rasul telah mendirikan sebuah negara yang bersifat politis (Al-Khalidi, 1980: 85). Sementara itu, Dr. Sulaiman ath-Thamawi dalam bukunya, <em>As-Sulthath ats-Tsalâts</em> halaman 282 mengatakan, bahwa al-Quran dan as-Sunnah tak pernah menyinggung masalah pemerintahan, kecuali sekilas dan sekelumit saja (Al-Khalidi, 1980: 87). Karena itu, bentuk sistem pemerintahan dalam Islam akan selalu berkembang dan berubah mengikuti tuntutan perkembangan masyarakat. Inilah juga inti pendapat Muhammad Al-Baltaji dalam bukunya, <em>Manhaj Umar ibn al-Khaththâb fî at-Tasyrî‘’</em> (hlm. 417), dan Dr. Muhammad Abdullah Al-Arabi dalam bukunya, <em>Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm</em> (hlm. 49) (Al-Khalidi, 1980: 87). Ujung-ujung berbagai opini ini akhirnya dapat diduga, yaitu menolak konsep Khilafah dan menerima sistem demokrasi yang ada. Fazlur Rahman, misalnya, menyatakan bahwa negara dalam Islam adalah berbentuk republik demokrasi dengan berkedaulatan rakyat. Menurutnya, sistem demokrasi ini sesuai dengan Islam, realistis, dan akan menyenangkan masyarakat jika diterapkan  (Amiruddin, 2000: 153).</p>
<p>Pendapat para orientalis dan para intelektual Muslim luar negeri yang negatif terhadap Khilafah ini pada gilirannya juga merasuki para intelektual Muslim di Indonesia. Harun Nasution (1983), misalnya, mengatakan bahwa tidak ada ayat atau hadis yang mengharuskan sistem pemerintahan tertentu dalam Islam. Karena itu, dalam sejarah, bentuk sistem pemerintahan Islam bisa berubah-ubah.</p>
<p>Pendapat yang senada ini banyak sekali, yang intinya menolak negara Islam (Khilafah) dan membenarkan demokrasi, seperti Munawir Syadzali dalam bukunya, <em>Islam dan Tata Negara</em> (1990), Ahmad Syafii Maarif dalam bukunya, <em>Islam dan Masalah Kenegaraan </em>(1985), Nurcholish Madjid dalam bukunya, <em>Tidak Ada Negara Islam </em>(1997). Masih banyak lagi. Kiranya kini sangat sulit sekali menemukan intelektual atau ulama Indonesia yang ikhlas yang tetap mengakui wajibnya Khilafah. Sulit sekali menemukannya. Kalaupun ada, hanya segelintir, misalnya KH. Moenawar Khalil dalam bukunya, <em>Khalifah (Kepala Negara) Sepanjang Pimpinan Qur`an dan Sunnah</em> (1984) dan <em>Ulil Amri</em> (1984).</p>
<p>Terhadap berbagai opini intelektual Muslim ini, dapat diajukan beberapa jawaban secara garis besar. <em>Pertama</em>, dari segi orisinalitas, opini-opini tersebut sesungguhnya tidaklah orisinal, tetapi sekadar plagiat dan imitasi dari pendapat orientalis yang kafir. Tujuannya sama dengan orientalis, yakni menolak negara Islam dan membenarkan peradaban Barat yang tengah menguasai Dunia Islam, tak ada lain.</p>
<p><em>Kedua</em>, dari segi ide dasar, para intelektual tersebut (seperti Ali Abdur Raziq, Harun Nasution, dan Nurcholish Madjid) sebenarnya telah mempercayai sekularisme sebagai standar yang absolut dan tidak boleh diubah. Sekularisme yang merupakan pengalaman lokal Barat telah dianggap bisa berlaku secara universal sehingga bisa diterapkan pula untuk umat Islam (Audi, 2002: xiv). Jadi,  Islamlah yang harus diubah jika tidak sesuai dengan sekularisme, atau sekularisme dicari-cari justifikasinya secara paksa dari khazanah pemikiran Islam (Armas, 2003: 14-22).</p>
<p><em>Ketiga</em>, dari segi metode berpikir (<em>tharîqah at-tafkîr</em>), para intelektual itu telah menjadikan realitas sebagai sumber pemikiran. <em>Positivisme</em> yang menjadikan realitas empirik sebagai sumber pengetahuan telah menjadi pegangan absolut, melebihi sumber pengetahuan berupa wahyu (Al-Quran dan as-Sunnah). Ini tampak jelas dari cara berpikir Harun Nasution, yang mengatakan bahwa  sistem pemerintahan selalu berubah-ubah sepanjang sejarah. Tentu, cara berpikir ini sangat naif. Sebab, yang berubah sebenarnya bukanlah sistem pemerintahan Islam secara normatif, melainkan bentuk atau cara pelaksanaannya secara praktis-empiris, yang bisa saja menjadi tidak sesuai dengan Islam. Contohnya adalah sistem putra mahkota semasa Muawiyah. Ini adalah penyimpangan. Dengan adanya fakta semacam ini dalam realitas sejarah Islam, tidak berarti bahwa Islam membenarkannya. Sejarah mencatat bahwa para sahabat menolak tindakan Muawiyah itu.</p>
<p><em>Keempat</em>, secara <em>syar‘î</em>, opini-opini yang menolak Khilafah adalah benar-benar suatu pendapat yang baru pada abad ke-20, yang tidak pernah diungkapkan oleh seorang pun dari kalangan mujtahidin yang terpercaya. Ini berkebalikan secara total dengan pendapat palsu Abdullah Ahmed an-Naim, misalnya, yang mengatakan bahwa ide “negara Islam” adalah pembaruan yang dilakukan oleh kaum fundamentalis selama paruh kedua abad ke-20 (Berger, 2003: 202). Memang, kosakata <em>negara Islam</em> (<em>ad-dawlah al-islâmiyyah</em>) populer pada abad XX. Akan tetapi, sejak dulu para ulama telah menggunakan istilah <em>imamah</em>, <em>khilafah</em>, atau <em>darul Islam</em> untuk maksud yang sama (Az-Zuhaili, 1996: 823). Dalam hal kewajibannya, Syaikh Abdurrahman al-Jaziri, dalam kitabnya, <em>Al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-Arba‘ah</em>, (juz V hlm. 308), telah menukilkan bahwa Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi‘i, dan Ahmad telah sepakat bahwa Imamah (Khilafah) itu hukumnya wajib (Al-Jaziri, 1999: 308; Ad-Dimasyqi, 1996: 208).</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Jika kita mendalami opini-opini negatif di atas, sesungguhnya asumsi dasar di balik semua opini negatif itu adalah pengakuan terhadap paham sekularisme. Inilah satu-satunya pangkal semua opini penolakan Khilafah. Tak ada ide yang lain. Sekularisme yang tumbuh dan lahir dalam <em>setting </em>sosio-historis Barat ini telah dijadikan <em>qâ‘idah fikriyyah</em> (landasan pemikiran) untuk membangun semua pemikiran cabang, sekaligus menjadi <em>miqyâs</em> (standar) untuk menilai benar salahnya pemikiran lain. Padahal, sekularisme adalah konsep partikular dan lokal (Barat), serta tidak bisa dipaksakan secara universal atas Dunia selain-Barat.</p>
<p>Selain itu, berbagai opini yang berusaha memberikan citra buruk pada Khilafah atau menegasikan kewajiban Khilafah sebenarnya mendasarkan diri pada <em>positivisme</em>, yang dirintis oleh August Comte (w. 1857). Menurut paham ini, realitas adalah sumber pemikiran. Realitas juga standar untuk menilai benar salahnya suatu gagasan (Suparman &amp; S. Malian, 2003: 48-49)</p>
<p>Lebih dari itu, opini-opini negatif yang berusaha memburukkan citra Khilafah, atau menegasikan kewajiban Khilafah, sesungguhnya dimaksudkan untuk menghancurkan laju kebangkitan umat Islam untuk mengembalikan Khilafah. Selain itu, opini-opini jahat itu hanya dimaksudkan untuk melestarikan hegemoni sistem demoktasi-sekular yang ada, agar negara-negara kapitalis yang kafir di bawah pimpinan AS dapat terus menginjak-injak dan menghinakan umat Islam di seluruh dunia.[]</p>
<h1></h1>
<h1>Daftar Pustaka</h1>
<p>Ad-Dimasyqi, Muhammad ibn Abdurrahman (Qadhi Shafd). 1996. <em>Rahmah al-Ummah fî Ikhtilâf al-A’immah. </em>Cetakan I. Beirut: Darul Fikr.</p>
<p>Al-Jaziri, Abdurrahman. 1999. <em>Al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-Arba‘ah. </em>Juz V. Cetakan I. Beirut: Darul Fikr.</p>
<p>Al-Khalidi, Mahmud Abdul Majid. 1980. <em>Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm. </em>Cetakan I. Kuwait: Dar Al-Buhuts al-Ilmiyah.</p>
<p>An-Nabhani, Taqiyuddin. 1953. <em>Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyyah</em>. Juz II. Cetakan II. Al-Quds: Min Mansyurat Hizb at-Tahrir.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;-. 1994. <em>Ad-Dawlah al-Islâmiyah</em>. Cetakan V. Beirut: Darul Ummah.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;-. 2001. <em>Nizhâm al-Islâm</em>. Cetakan VI. T.tp.: Min Mansyurat Hizb at-Tahrir.</p>
<p>Amiruddin, M. Hasbi. 2000. <em>Konsep Negara Islam Menurut Fazlur Rahman. </em>Cetakan I. Yogyakarta : UII Press.</p>
<p>Armas, Adnin. 2003. <em>Pengaruh Kristen-Orientalis Terhadap Islam Liberal</em>. Cetakan I. Jakarta: Gema Insani Press.</p>
<p>Audi, Robert. 2002. <em>Agama dan Nalar Sekuler dalam Masyarakat Liberal</em>. Cetakan I. Yogyakarta: UII Press.</p>
<p>Az-Zuhaili, Wahbah. 1996. <em>Al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuh. </em>Juz IX (<em>Al-Mustadrak</em>). Cetakan I. Damaskus/Beirut: Darul Fikr.</p>
<p>Berger, Peter L. (Ed.). 2003. <em>Kebangkitan Agama Menantang Politik Dunia (The Desecularization of The World)</em>. Alih Bahasa Hasibul Khoir. Yogyakarta: Ar-Ruzz.</p>
<p>Khalil, Moenawar. 1984. <em>Khalifah (Kepala Negara) Sepanjang Pimpinan Qur’an dan Sunnah</em>. Cetakan II. Solo: CV. Ramadhani.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;-. 1984. <em>Ulil Amri.</em> Cetakan I. Solo: CV. Ramadhani.</p>
<p>Lucas, Henry S. 1993. <em>Sejarah Peradaban Barat Abad Pertengahan (A Short History of Civilization). </em>Alih Bahasa Sugihardjo Sumobroto &amp; Budiawan. Yogyakarta: Tiara Wacana.</p>
<p>Ma’arif, Ahmad Syafii. 1985. <em>Islam dan Masalah Kenegaraan: Studi Tentang Percaturan dalam Konstituante</em>. Jakarta: LP3ES.</p>
<p>Montesquieu. 1977. <em>The Spirit of Laws</em>. Edited by David Wallace Carrithers. Berkeley: University of California Press.</p>
<p>Mughni, Syafiq A.1997. <em>Sejarah Kebudayaan Islam di Turki</em>. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.</p>
<p>Nasution, Harun. 1983. “Islam dan Sistem Pemerintahan Sebagai Berkembang Dalam Sejarah.” <em>Studia Islamika</em> No. 17 Th. VIII Juli 1983. Jakarta: LPIAIN Syarif Hidayatullah.</p>
<p>Rais, Dhiauddin. 2001. <em>Teori Politik Islam (An-Nazhariyah As-Siyâsiyyah al-Islâmiyyah)</em>. Alih Bahasa Abdull Hayyi Al-Kattanie dkk. Jakarta: Gema Insani Press.</p>
<p>Robert, Keith A. 1984. <em>Religion in Sociological Prespective. </em>Illinois: The Dorsey Press<em>.</em></p>
<p>Santoso, Agus Edi (Ed.). 1997. <em>Tidak Ada Negara Islam: Surat-Surat Politik Nurcholish Madjid-Muhammad Roem</em>. Jakarta: Penerbit Djambatan.</p>
<p>Sjadzali, Munawwir. 1990. <em>Islam dan Tata Negara: Ajaran, Sejarah, dan Pemikiran.</em> Jakarta: UI Press.</p>
<p>Suparman &amp; S. Malian. 2003. <em>Ide-Ide Besar Sejarah Intelektual Amerika. </em>Cetakan I. Yogyakarta: UII Press.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembelaislam.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembelaislam.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembelaislam.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembelaislam.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembelaislam.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembelaislam.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembelaislam.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembelaislam.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembelaislam.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembelaislam.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembelaislam.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembelaislam.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembelaislam.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembelaislam.wordpress.com/158/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=158&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/05/20/menepis-opini-opini-negatif-seputar-khilafah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/310996edb80f23e6f9c3dae3d9625a10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pembelaislam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2011/05/citadel-salahuddin_small1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Citadel Salahuddin_small</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waspada Gerakan NII? (bagian 2)</title>
		<link>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/05/17/waspada-gerakan-nii-bagian-2/</link>
		<comments>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/05/17/waspada-gerakan-nii-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 May 2011 04:18:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pembelaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Reportase]]></category>
		<category><![CDATA[Share]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[islamophobia]]></category>
		<category><![CDATA[khalifah]]></category>
		<category><![CDATA[khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat Islam]]></category>
		<category><![CDATA[MUI]]></category>
		<category><![CDATA[negara Islam]]></category>
		<category><![CDATA[NII]]></category>
		<category><![CDATA[sesat]]></category>
		<category><![CDATA[stigma negatif]]></category>
		<category><![CDATA[talkshow]]></category>
		<category><![CDATA[UKMKI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembelaislam.wordpress.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Setelah berbagai pemaparan dari Kapolda dan Ketua MUI Jatim usai, tibalah saatnya bagi host mempersilahkan pembicara yang terakhir, Dr. Helmy, untuk menyampaikan pendapatnya. Host memberikan batasan waktu sekitar 10 menit bagi dosen Unair tersebut. Awalnya, saya menduga Dr. Helmy yang &#8230; <a href="http://pembelaislam.wordpress.com/2011/05/17/waspada-gerakan-nii-bagian-2/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=130&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah berbagai pemaparan dari Kapolda dan Ketua MUI Jatim usai, tibalah saatnya bagi host mempersilahkan pembicara yang terakhir, Dr. Helmy, untuk menyampaikan pendapatnya. Host memberikan batasan waktu sekitar 10 menit bagi dosen Unair tersebut. Awalnya, saya menduga Dr. Helmy yang diplot sebagai pembicara untuk mewakili pembina UKMKI akan menyampaikan materi yang mampu “mengimbangi” berbagai opini dan stigma negatif terhadap Islam yang beredar di masyarakat. Bagaimanapun juga, penyelenggara talkshow tersebut adalah UKMKI, sebuah lembaga dakwah kampus yang memiliki <em>mindset</em> yang baik terhadap upaya kaum muslimin untuk menerapkan Syari’ah Islam dalam segala aspek kehidupan, termasuk aspek kenegaraan.</p>
<p><img class="size-medium wp-image-132 alignleft" style="border-color:initial;border-style:initial;margin:2px 7px;" title="bendera-NII_ttt" src="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2011/05/bendera-nii_ttt.jpg?w=219&#038;h=128" alt="" width="219" height="128" /></p>
<p>Sudah seharusnya UKMKI menampilkan pembicara yang membela ide-ide Islam yang kini semakin dipojokkan dengan berbagai propaganda sesat, kian tertutup pula oleh kabut stigma. Itulah yang saya pikirkan dan juga saya harapkan saat itu. Namun, beberapa patah kata yang  mengawali pemaparan beliau sedikit demi sedikit mengikis berbagai prasangka baik (<em>husn adz-dzan</em>) saya tadi. Awalnya beliau bercerita singkat tentang negara-negara yang maju semacam Swiss, Jepang, dan sebagainya. Beliau heran, mengapa negara-negara yang dihuni oleh mayoritas orang non muslim tersebut bisa luar biasa maju dan berdaulat, sementara negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim justru terpuruk. “<em>What’s going on?</em>” Itulah pertanyaan retoris yang berkali-kali beliau ucapkan. Dari berbagai kondisi tersebut kemudian beliau menyimpulkan bahwa semua keterpurukan yang di alami oleh negeri dengan penduduk mayoritas muslim disebabkan oleh sirnanya etika dalam kehidupan mereka. Mahasiswa yang notabene kaum terpelajar pun kini tidak lagi memperhatikan etika dalam kehidupan, termasuk dalam kehidupan beragama. Munculnya NII menurut beliau adalah salah satu contoh pelanggaran terhadap “etika beragama”. Pemikiran tentang etika itu selalu beliau tekankan, sebuah pemikiran yang menurut saya tidak lebih dari pemikiran primitif <em>ancient greek</em> dari masa-masa sebelum masehi. Penyampaian tersebut belumlah mengejutkan saya. Di akhir penyampaian, Dr. Helmy kemudian menjabarkan apa yang dimaksud “etika beragama”. Berkaitan dengan kasus NII beliau dengan tegas menyatakan, bahwa Islam, sebagai agama yang diturunkan oleh Allah <strong>sama sekali tidak pernah mengajarkan umatnya untuk mendirikan negara Islam</strong>. Rasulullah diutus bukan untuk menegakkan negara Islam (<em>Islamic State</em>), namun untuk membentuk masyarakat Islam (<em>Islamic Society</em>). <em>Wow, It’s surprising me so much!</em> Sungguh pernyataan yang sangat mengejutkan saya sekaligus mementahkan bulat-bulat berbagai prasangka saya sebelumnya…</p>
<p>Pernyataan demi pernyataan seputar tidak adanya konsep negara dalam Islam terus dilontarkan begitu saja oleh Dr. Helmy tanpa ada rasa bersalah. Bahkan beliau kemudian menunjukkan <em>slide</em> periodisasi sejarah umat Islam sejak zaman Rasulullah, <em>Khulafaurrasyidin</em>, Khilafah Bani Umayyah, Khilafah Bani Abbasiyah, dan terakhir Khilafah Utsmani, sambil mengatakan bahwa beliau tak menemukan sedikit pun konsep negara sepanjang sejarah umat Islam. Yang ada hanyalah masyarakat Islam (<em>Islamic Society</em>). Suatu pernyataan yang cukup berat konsekuensinya karena akan menciptakan ambiguitas yang dahsyat terkait penerapan Syari’ah Islam secara total. Sebenarnya pernyataan-pernyataan semacam itu bukanlah suatu hal yang baru. Puluhan tahun yang lalu <span id="more-130"></span>Nurcholis Majid, tokoh panutan orang-orang liberal telah mengatakan hal yang sama dalam bukunya yang berjudul “Tidak Ada Negara Islam” terbitan tahun 1997. Jauh sebelum itu, Ali Abdur Raziq dari Al-Azhar dalam bukunya, “<em>Al-Islâm wa Ushûl al-Hukm”</em>, yang terbit di Mesir tahun 1925 juga telah menolak adanya sebuah sistem pemerintahan dalam Islam dan menolak bahwa Rasul telah mendirikan sebuah negara yang bersifat politis. Itu semua tidak lebih dari opini yang dilontarkan oleh orang-orang yang <em>inferior</em> (rendah diri) terhadap kemajuan negara-negara barat. Mereka hanyalah mengikuti dan menelan mentah-mentah pemikiran-pemikiran orientalis barat tentang Islam dan Khilafah. Simak saja tulisan D.B. Donald yang menyatakan, “Tidak mungkin—sama sekali—seorang imam (khalifah) menjadi pemimpin berdasarkan konstitusi, dalam pengertian seperti yang kita ketahui.”  (D.B. Donald, <em>The Development of Muslim Theology, Jurisprudence and Constitutional Theory</em>, hlm. 58-59). Dengan sebuah pertanyaan sederhana saja seluruh pendapat tadi akan goyah: “Apakah mungkin masyarakat Islam atau kumpulan dari individu-individu Muslim, tanpa negara, bisa menaklukkan Benteng <em>Ctesiphon</em> dan <em>Constantinopel</em> yang merupakan simpul kekuatan negara adidaya, Persia dan Romawi?” Bantahan lengkap mengenai opini-opini sesat yang disampaikan oleh Dr. Helmy pada talkshow saya lampirkan dalam <a title="menepis opini negatif seputar negara Islam" href="http://pembelaislam.wordpress.com/2011/05/20/menepis-opini-opini-negatif-seputar-khilafah/" target="_blank">tulisan yang lain</a>.</p>
<p>Satu lagi pernyataan beliau yang menyengat pendengaran saya adalah ketika Rasulullah wafat, para sahabat kebingungan karena Rasulullah tidak meninggalkan sistem atau konsep apapun tentang negara. Jadi, menurut beliau, baik Abu Bakar, Utsman, Umar, Ali, atau para sahabat yang lain bingung. Oleh karena itu, pola pengangkatan pemimpin oleh para sahabat pun menjadi berbeda-beda di setiap kurun waktu. Sungguh, yang demikian itu adalah pernyataan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara historis maupun akademis. Apakah memang faktanya para sahabat bingung? Kalau iya, apa tanda-tandanya? Toh pada faktanya tidak pernah tercatat dalam sejarah suatu pernyataan eksplisit dari salah satu, beberapa, atau semua sahabat bahwa mereka sedang “bingung”. Ada <em>gap</em> yang sangat jauh antara opini Dr. Helmy dengan fakta yang ada sehingga saya berani mengatakan opini yang beliau sampaikan dalam talkshow tersebut adalah opini yang sesat dan menyesatkan! Tidak hanya itu, opini tersebut merupakan penentangan terhadap <em>syumuliyatul Islam</em>, kesempurnaan Islam sebagai sebuah metode kehidupan yang unik, dan penghinaan yang luar biasa terhadap para sahabat. Keadilan sahabat merupakan suatu hal yang telah ditunjukkan oleh nash, baik Al Qur’an maupun As Sunnah, semisal:</p>
<p><em>&#8220;Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.&#8221;</em> <strong>(QS At Taubah:100)</strong></p>
<p><em>&#8220;sesungguhnya Allah telah memilih shahabat-shahabatku atas penduduk dunia selain para Nabi dan para utusan&#8221;.</em> <strong>(Hadits dikeluarkan oleh Al Bazzar)</strong></p>
<p>Pujian dari Allah dan Rasul-Nya Alaihis-salam menunjukkan adanya perhatian terhadap perkataan mereka, sekaligus menunjukkan bahwa kejujuran mereka adalah suatu yang qath&#8217;i sehingga tidak pantas apabila ada yang meremehkan sahabat Rasul, semisal dengan mengatakan mereka “bingung” sementara faktanya sama sekali tidak demikian!</p>
<p>Demikianlah, secara kasat mata saya melihat, talkshow tersebut telah melenceng dari pembahasan yang shahih mengenai kasus NII dan berubah menjadi talkshow “monsterisasi” Islam dan ide-ide seputar negara Islam. Berbagai macam pertanyaan yang ditujukan kepada pembicara saat sesi tanya jawab sudah tidak terlalu saya hiraukan. Hanya beberapa pertanyaan ringan seputar peran mahasiswa di kampus dan pernyataan mahasiswa FKM bernama Rizqy (entah Rifky atau Riki, tidak begitu jelas) yang merasa kasus NII memojokkan kajian-kajian ke-Islaman. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul sama sekali tidak menyentuh substansi persoalan. Satu-satunya tanggapan audience yang menarik perhatian saya adalah tanggapan yang disampaikan oleh seorang dosen Fakultas Hukum Unair bernama Wayan. Beliau menyampaikan bahwa ketidakberdayaan aparat penegak hukum dalam menuntaskan kasus NII dapat dicegah apabila aparat memiliki <em>legal frame</em> atau payung undang-undang tentang keamanan negara. Oleh karena itu, beliau menyatakan dukungan terhadap pengesahan RUU Intelijen yang saat ini sedang digodok oleh DPR. Bahkan, beliau juga sangat mendukung pemberlakukan kembali UU Subversif yang pernah diterapkan pada masa orde baru. Saya tertarik karena pernyataan-pernyataan tersebut semakin menyesatkan audience ke dalam cara pandang yang keliru. Sudah terbukti pemberlakuan UU Subversif pada masa orba telah memakan banyak korban, yakni orang-orang yang kritis terhadap kebijakan pemerintah. UU tersebut telah membungkam segala aspirasi masyarakat, termasuk umat Islam. Sudah jelas, RUU Intelijen yang sedang digodok saat ini dipenuhi banyak kejanggalan dan berpotensi melahirkan rezim yang otoriter, lagi-lagi juga akan membungkam upaya umat Islam untuk menerapkan Syari’ah. Tapi ternyata ada saja akademisi yang mendukungnya. Masya Allah, lengkaplah kerusakan opini yang ditimbulkan acara talkshow tersebut! Pikir saya saat itu.</p>
<p>Setelah berkali-kali mengacungkan tangan dan tidak mendapatkan kesempatan berbicara barang 1 menit saja untuk meng-<em>counter</em> opini yang berkembang, saya pun melirik jam di dinding sebelah kanan saya. Tak terasa jam di dinding sebelah barat ruangan itu telah menunjukkan pukul set 4 lebih. Akhirnya, diskusi yang dipandu host ditutup. Host kembali menyerahkan kendali acara kepada MC. Beberapa audience mulai meninggalkan ruangan meski acara belum sepenuhnya ditutup. 20 menit sebelumnya, KH Abdusshomad Bukhori telah meninggalkan acara terlebih dahulu karena beliau akan menghadiri rapat penting di tempat lain. Serangkaian penutupan pun dilaksanakan. Penyerahan cinderamata, foto bersama, juga <em>closing speech</em> dari Rektor. Rektor menyampaikan bahwa saat ini kelompok Islam dapat dikategorikan menjadi 5, yaitu kelompok “ekstream kanan”, “mainstream kanan”, “ekstrem tengah”, “mainstream tengah”, dan satu kategori lagi terlewatkan oleh pendengaran saya. Kemudian rektor menegaskan bahwa UNAIR <strong>hanya akan</strong> <strong>mengijinkan</strong> agenda yang termasuk mainstream kanan dan mainstream tengah. Beliau menyatakan demikian tanpa ada penjelasan yang memadai mengenai kategorisasi tersebut. Kesan yang muncul, kategorisasi tersebut akan menjadi “pasal karet” yang bisa ditafsirkan secara liar sekehendak hati dan bisa dipergunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk memberangus opini penegakkan Syari’ah Islam yang diserukan di dalam kampus.</p>
<p>Setelah Rektor kembali ke tempat duduknya, MC pun segera menutup acara talkshow secara keseluruhan dan mempersilahkan para pembicara untuk memberikan press conference kepada seluruh wartawan media cetak maupun elektronik yang memang telah hadir untuk meliput acara tersebut. Beberapa menit, saya sempatkan untuk membagikan beberapa buletin Al Islam yang membahas tentang <a title="Al Islam 550" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2011/03/30/ruu-intelijen-lahirnya-kembali-rezim-represif/" target="_blank">RUU Intelijen</a> dan <a title="Al Islam 553" href="http://hizbut-tahrir.or.id/2011/04/20/bom-cirebonfitnah-prolog-uu-represif/" target="_blank">Bom Cirebon</a> kepada beberapa orang yang duduk di sekitar saya. Untunglah ada kawan-kawan saya, mahasiswa Unair yang juga hadir dalam acara tersebut yang telah mempersiapkan beberapa eksemplar buletin sebagai upaya untuk meng-<em>counter</em> opini negatif yang muncul ketika talkshow meski saya tidak mendapat kesempatan untuk melakukannya secara lisan. Melalui tulisan ini saya ingin mengucapkan selamat kepada UKMKI Unair, khususnya panitia penyelenggara talkshow. Selamat, karena talkshow yang anda selenggarakan telah berlangsung dengan lancar. Selamat, karena talkshow tersebut telah sukses untuk meyakinkan peserta talkshow bahwa Islam tidak memiliki konsep negara, bahwa para sahabat adalah orang-orang yang “bingung”. Selamat, acara tersebut juga telah sukses untuk menjadikan audience mendukung UU Subversif dan RUU Intelijen untuk membungkam aspirasi umat Islam dalam menegakkan Syari’ah dan Khilafah. Dan yang terpenting, acara tersebut telah sukses meningkatkan Islamophobia. Sebenarnya, talkshow tersebut lebih tepat berjudul “Mewaspadai Negara Islam”.</p>
<p>Sungguh, sore itu adalah sore yang cerah, secerah pikiran dan perasaan saya. <em>Alhamdulillah</em>, saya bersyukur, keikutsertaan saya dalam talkshow telah memunculkan semangat baru dalam diri saya. Semangat untuk terus belajar, memperkuat <em>tsaqofah</em> dan memperbaiki diri. Semangat untuk terus membangun opini yang <em>shahih</em> mengenai Islam dan menyebarkannya setiap waktu kepada orang-orang di sekitar saya. Semangat untuk terus menulis dan mengkaji. Semangat tanpa lelah, mempersiapkan masyarakat menuju tegaknya Sistem Islam, satu-satunya sistem yang di ridhoi oleh Allah Ta’ala. <strong>[pembelaislam]</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>NB: Terimakasih secara khusus saya ucapkan kepada sahabat sekamar saya, Bayu, yang bersedia terganggu waktu istirahatnya karena saya menyalakan dua lampu neon yang menyilaukan selama menulis reportase pribadi sepanjang 7 halaman A4 ini. <em>Jazakallahu khoiron katsiir</em>, bro^^</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembelaislam.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembelaislam.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembelaislam.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembelaislam.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembelaislam.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembelaislam.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembelaislam.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembelaislam.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembelaislam.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembelaislam.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembelaislam.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembelaislam.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembelaislam.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembelaislam.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=130&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/05/17/waspada-gerakan-nii-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/310996edb80f23e6f9c3dae3d9625a10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pembelaislam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2011/05/bendera-nii_ttt.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">bendera-NII_ttt</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waspada Gerakan NII? (bagian 1)</title>
		<link>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/05/17/waspada-gerakan-nii-bagian-1/</link>
		<comments>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/05/17/waspada-gerakan-nii-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 May 2011 03:56:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pembelaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reportase]]></category>
		<category><![CDATA[Share]]></category>
		<category><![CDATA[BKLDK]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[IAIN]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[NII]]></category>
		<category><![CDATA[PMII]]></category>
		<category><![CDATA[polisi]]></category>
		<category><![CDATA[talkshow]]></category>
		<category><![CDATA[UNAIR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembelaislam.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[(Reportase pribadi ketika menghadiri talkshow seputar NII) “Deert,deert….”getar handphone Nokia 1280 yang saya kantongi cukup menghangatkan suasana malam yang dingin. Selasa 3 Mei tepat pukul 23.28, saya menerima sms dari panitia talkshow Waspada Gerakan NII. “Maaf, Krn psrta yg tlh &#8230; <a href="http://pembelaislam.wordpress.com/2011/05/17/waspada-gerakan-nii-bagian-1/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=127&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;" align="center"><strong>(Reportase pribadi ketika menghadiri talkshow seputar NII)</strong></p>
<p><img class="size-medium wp-image-128 alignleft" style="border-color:initial;border-style:initial;border-width:0;margin:2px 7px;" title="waspada nii" src="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2011/05/image.jpg?w=300&#038;h=212" alt="" width="300" height="212" /></p>
<p>“Deert,deert….”getar handphone Nokia 1280 yang saya kantongi cukup menghangatkan suasana malam yang dingin. Selasa 3 Mei tepat pukul 23.28, saya menerima sms dari panitia talkshow Waspada Gerakan NII. “Maaf, Krn psrta yg tlh mdftr lbh dr kuota yg dsdiakn pntia. Dhrpkn kpd yg sdh mdftar u/ dtg seawal mgkn (mlai jm 12) untk mendapat t4.” Begitulah isinya. Malam itu, sebenarnya masih banyak hal yang perlu saya perbincangkan dengan teman-teman yang aktif di Studi Islam Teknik Computer (SITC). Namun, saya lebih memilih untuk istirahat lebih awal dan mempersiapkan fisik agar bisa hadir talkshow tepat waktu. Ketika teman-teman SITC berpamitan pulang ke kontrakannya, saya buru-buru mengiyakan dan mengantar mereka sampai ke pintu gerbang kontrakan saya. Tak lama kemudian suasana kontrakan menjadi hening. Saya dan sahabat saya, Bayu, bergegas menutup pagar dan mengunci pintu ruang tamu. Setelah memastikan semuanya telah berjalan sesuai SOP sekuritas kontrakan, saya melakukan segala persiapan pribadi sebelum tidur. Setelah segalanya siap, segera saya rebahkan tubuh saya di atas bed, berdoa, dan kemudian berjalan menjauhi alam sadar.</p>
<p>Belakangan ini, hampir setiap hari Surabaya selalu dilanda hujan lebat. Tak jarang disertai petir yang menggelegar dan angin kencang. Jalanan di Kota Pahlawan seringkali digenangi air. Di beberapa titik, air juga menggenangi jalan-jalan protokol. Salah satu yang cukup parah adalah banjir di ruas jalan protokol Mayjen Sungkono, beberapa meter dari Hotel Shangrila. Pada hari Senin, dalam perjalanan pulang dari rumah kawan saya di daerah Manukan, saya sempat terjebak kemacetan bersama pengendara yang lain di ruas jalan tersebut. Syukurlah saat itu hujan cepat reda sehingga dalam waktu 1 jam air sudah agak surut (“hanya” setinggi betis orang dewasa) dan ruas tersebut dapat saya lalui dengan “berlayar” bersama motor kawasaki saya. Namun pemandangannya sangat berbeda pada hari Rabu 4 Mei. Hari itu adalah hari yang sangat cerah bila dibandingkan hari-hari sebelumnya. Matahari bersinar gemilang dan panasnya dapat dirasakan oleh semua orang. Pagi itu, saya banyak menghabiskan waktu dengan melaksanakan rutinitas harian semisal menyiapkan sarapan. Sebelumnya saya sempatkan pula berolahraga dengan jalan-jalan pagi ke kampus bersama teman-teman kontrakan. Sambil berolahraga, sambil memasang poster iklan Basic Islamic Leadership Training di beberapa titik di kampus. Setelah kembali ke kontrakan, segera saya nyalakan laptop Dell Inspiron 1440 di atas meja belajar. Tak lupa saya koneksikan kabel DSL speedy ke laptop tersebut. Sebelum berangkat ke kampus, saya merasa perlu mencari informasi-informasi penting seputar topik talkshow yang akan saya ikuti pada siang hari. Saya berharap, saya dapat berpartisipasi aktif dalam talkshow tersebut dan talkshow tersebut akan menjadi sebuah talkshow yang menarik.</p>
<p>Pada pukul 12.00, setelah segala urusan saya di kampus beres, saya memacu motor saya menuju kampus B Unair melintasi <span id="more-127"></span>ruas-ruas jalan protokol Kertajaya. Sekitar 20 menit kemudian gedung Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Unair telah berada dihadapan saya. Saya pun memarkir motor saya di lapangan parkir di sebelah barat gedung. Karena belum menunaikan sholat Dhuhur, saya tidak langsung masuk ke dalam gedung. Saya berjalan dengan cepat ke Masjid Nuruzzaman yang terletak di utara lapangan parkir, kemudian berwudhu dan menunaikan sholat Dhuhur secara berjamaah di ruang utama masjid. Ketika sedang mengenakan sepatu di pelataran masjid, tiba-tiba terdengar suara yang lembut menyapa saya. “Masnya, mau ikut talkshow tentang NII juga ya?” kurang lebih itulah yang saya dengar saat itu. Suara tersebut berasal dari seorang pemuda berjaket hitam yang duduk di sebelah saya. Saya pun mengangguk mengiyakan. Dia kemudian menanyakan letak aula ABC yang notabene merupakan lokasi penyelenggaraan talkshow. Rupanya dia juga peserta. Tanpa pikir panjang, saya pun mengajaknya untuk berjalan bersama-sama menuju lokasi. Kami pun saling memperkenalkan diri. Namanya adalah Tomi. Dia adalah mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya. Awalnya dia mengira bahwa saya adalah mahasiswa UNAIR yang menjadi peserta. Saya pun menjelaskan bahwa saya adalah peserta dari ITS. Dia datang bersama seorang temannya, Arifin, yang telah menunggu di pintu masuk gedung FEB. Mereka berdua kuliah di Fakultas yang sama, Fakultas Tarbiyah.</p>
<p>Sambil berjalan menuju lift yang akan mengantar kami bertiga ke lantai 3, kami berbincang sedikit seputar Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK). Nampaknya mereka tertarik untuk menyapa saya setelah memperhatikan jaket yang saya kenakan. Hari itu saya menggunakan jaket hitam dengan logo dan tulisan BKLDK berwarna kuning emas di bagian dada sebelah kiri. Cukup mencolok memang untuk seukuran jaket mahasiswa. Namun tentunya tidak semua orang tertarik untuk menyapa saya hanya setelah melihat tulisan BKLDK. Saya pun berpikir, orang yang menyapa saya setelah memperhatikan jaket yang saya pakai pastilah orang yang memiliki <em>ma’lumat as-sabiqoh</em> (informasi terdahulu) tentang BKLDK. Setidaknya dia adalah orang yang aktif dalam pergerakan mahasiswa, gumam saya. Sepengetahuan saya, gerakan mahasiswa yang populer dan memiliki <em>power</em> yang kuat di IAIN Sunan Ampel adalah PMII. Mungkinkah…? Saya pun memberanikan diri bertanya, “Sampeyan aktif di PMII ya?” Dan mereka pun mengiyakan.</p>
<p>Ting! Pintu lift telah terbuka. Kami segera melangkahkan kaki ke dalamnya. Sesampainya di lantai 3, mereka berdua berjalan mendahului saya menuju meja registrasi. Suasana lantai 3 masih cukup sepi. Hanya nampak beberapa panitia <em>ikhwan</em> (putra) dan <em>akhwat</em> (putri) bergerombol di sekitar pintu masuk yang terpisah. Sesekali sekelompok mahasiswa yang akan atau baru selesai kuliah lewat di depan pintu masuk aula. Salah satu di antara mereka tiba-tiba berkata kepada kawan-kawannya dengan bahasa jawa, “Wah, ono acara opo iki rek, NII? Ohhh, rekrutmen masal NII bek e.” Perkataan tersebut disambut oleh kawan-kawannya dengan gelak tawa. Saya pun menyambutnya dengan senyum simpul. Biasalah, mahasiswa semester bawah, masih senang bercanda dan bermain, belum berpikir serius tentang kehidupan, pikir saya sambil menuliskan nama dan nomor handphone di kertas registrasi peserta yang ada di meja. Setelah urusan registrasi beres, saya bergegas masuk ke dalam ruang dengan membawa air minum kemasan dan kotak yang berisi kue. Kedua mahasiswa IAIN yang baru saja berkenalan dengan saya tadi telah duduk di baris tengah. Saya pun duduk di sebelah mereka, tepatnya di sebelah kanan Arifin.</p>
<p>Menjelang pukul 13.00 masih banyak kursi yang kosong. Sambil menunggu acara dimulai, saya melanjutkan perbincangan dengan Arifin. Sementara Tomi sibuk berbincang dengan kenalannya, mahasiswa UNAIR yang duduk di sebelah kirinya. Pukul 13 lebih, suasana ruangan semakin ramai. Panitia mulai sibuk mondar-mandir di sekitar panggung. Beberapa polisi juga nampak mondar-mandir menyiapkan sesuatu, entah apa persisnya saya juga tidak tahu. Talkshow tersebut rencananya memang akan dihadiri oleh Kapolda Jatim, Bapak Untung S. Rajab. Mungkin polisi-polisi itu sibuk memastikan standar protokoler, gumam saya. Tak lama kemudian, MC mulai membuka acara. Serangkaian kegiatan pembuka mulai dieksekusi satu demi satu. Ada pembacaan ayat Al-Qur’an, pertunjukan nasyid, juga sambutan-sambutan. Puncaknya, MC meminta seluruh peserta talkshow untuk berdiri. MC meminta seluruh peserta talkshow untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dipimpin oleh seorang dirigen dari BEM Unair. Weiks, jujur saja, saya paling malas melakukan hal tersebut karena itu bukanlah suatu hal yang urgent. Perasaan yang timbul ketika lagu kebangsaan mulai dinyanyikan adalah nasionalisme, sifatnya emosional dan temporal. <em>Goal setting</em>-nya, kita akan semakin jauh dari ikatan ideologis yang <em>shahih</em> dan beralih kepada ikatan kebangsaan yang sempit. Akhirnya saya pun memilih untuk berdiri dan diam.</p>
<p>“Hiduplah Indonesia raya…” Setelah bait terakhir selesai dinyanyikan, tibalah pada agenda yang utama dari talkshow. MC menyerahkan kontrol forum kepada host. Asset namanya. Dia adalah mahasiswa UNAIR angkatan 2008 dan saat ini menjabat sebagai ketua umum UKMKI (Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam). Penampilannya menyiratkan dia bukanlah seorang yang lugas, malah cenderung tampak lugu menurut saya. Saat itu saya berpikir, panitia agak sembrono dalam memilih host. Alangkah baiknya kalau host dipilih dari dosen atau orang yang se-<em>kufu</em> dengan para pembicara. Titel juara lomba akademis tingkat nasional (ini yang saya dengar dari pembacaan <em>curriculum vitae</em>-nya) yang disandangnya menurut saya tidak bisa dijadikan tolok ukur dalam menentukan posisi host. Entah apa pertimbangan panitia saat itu. Terlebih lagi, dari sambutan pembina UKMKI saya mendengar bahwa acara tersebut secara efektif hanya memiliki waktu persiapan 3 hari! Dengan waktu yang sangat mepet, tentunya tidak mudah bagi host dalam melakukan <em>ibroz</em> (persiapan). Tapi agaknya host kali ini tetap dipaksakan tampil karena dia betul-betul “Asset” bagi organisasi di masa mendatang. Yah, bagaimanapun juga semua itu tadi hanya penilaian saya secara subjektif. Bagaimana agar lebih objektif? Tentunya saya harus mengikuti jalannya diskusi dari awal hingga akhir.</p>
<p>Host mulai memanggil para pembicara satu persatu untuk naik ke atas panggung. Dimulai dari Ketua MUI Jatim, KH Abdusshomad Bukhori, kemudian secara berurutan disusul Kapolda Jatim, Ketua NII Crisis Center (NCC), KenSetyawan, dan yang terakhir adalah salah satu dosen UNAIR, Dr. Helmy, drh. Host kemudian mulai mengarahkan jalannya diskusi dengan melontarkan pertanyaan pembuka kepada Mas Ken Setyawan selaku ketua NCC. “Bagaimana kisahnya Mas Ken kok bisa bergabung dengan NII?” Kurang lebih itulah yang dilontarkan oleh host. Berceritalah Mas Ken tentang masa lalunya, bahwa dia dulu juga merupakan “korban” NII. Dia “hijrah” pada tahun 2003an. Saat itu, dia diwajibkan menyetorkan sejumlah uang dan diwajibkan pula untuk merekrut “korban” baru. Kemudian dia tersadar setelah berupaya untuk memikirkan kembali segala tindakan yang telah dilakukannya, termasuk mengkafirkan orang tuanya. Itulah beberapa hal yang saya ingat dari paparannya. Memang sejak awal talkshow saya sudah ber-<em>‘azzam</em> untuk melontarkan segala opini saya tentang NII kepada audience di sesi <em>feedback</em> yang biasa diberikan kepada audience oleh host di akhir diskusi, sehingga ketika pembicara memaparkan opininya saya sama sekali tidak mencatat pernyataan-pernyataan mereka sebagaimana yang biasa saya lakukan pada acara-acara serupa. Saya kurang “terhanyut” dalam diskusi tersebut. Banyak faktor yang menyebabkan <em>interest</em> saya terhadap talkshow berkurang saat itu. Disamping faktor host yang telah saya sebutkan sebelumnya, faktor teknis yang juga cukup berpengaruh terhadap talkshow adalah faktor suara pembicara. Mungkin akibat tatanan <em>accoustic</em> yang kurang baik ditambah kurang dekatnya membran mic dengan mulut pembicara, beberapa kali suara pembicara jadi terdengar kurang jelas. Terutama ketika Kapolda menyampaikan opininya.  Beberapa perkataan beliau yang sempat terekam di memori otak saya adalah ketika beliau menyampaikan pluralnya masyarakat Indonesia. Karena masyarakatnya plural dan tidak hanya beragama Islam, maka ide negara Islam sangat tidak relevan dengan kondisi Indonesia. Yang relevan adalah membangun komunikasi antar komponen bangsa agar tercipta masyarakat yang aman. Suatu saat, beliau pernah diminta oleh seseorang (entah siapa, tidak terdengar jelas) agar polwan (polisi wanita) itu berjilbab. Menurut beliau itu tidak bisa dilakukan, harus dipisahkan antara kepentingan agama dan kepentingan nasional.</p>
<p>Sebenarnya, sebelum Kapolda, KH Abdusshomad Bukhori selaku ketua MUI Jatim lah yang diberi kesempatan terlebih dahulu oleh host untuk menyampaikan pendapatnya. Satu hal yang paling saya ingat dalam pemaparan beliau adalah 10 kriteria yang dijadikan pedoman oleh MUI dalam menentukan suatu aliran sesat atau tidak. Kalau salah satu kriteria saja sudah terpenuhi, maka suatu kelompok atau aliran termasuk aliran sesat. Inilah 10 kriteria yang beliau sampaikan saat itu:</p>
<p>1. Mengingkari salah satu dari rukun iman yang 6.</p>
<p>2. Meyakini dan atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan Alquran dan sunnah.</p>
<p>3. Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran.</p>
<p>4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran.</p>
<p>5. Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah-kaidah tafsir.</p>
<p>6. Mengingkari kedudukan hadis nabi sebagai sumber ajaran Islam.</p>
<p>7. Menghina, melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul.</p>
<p>8. Mengingkari Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir.</p>
<p>9. Mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariah, seperti haji tidak ke baitullah, salat wajib tidak 5 waktu.</p>
<p>10. Mengkafirkan sesama muslim tanpa dalil syar&#8217;i seperti mengkafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya.</p>
<p>Rincian 10 kriteria tersebut beliau cantumkan dalam sebuah file presentasi yang juga mencakup <em>ta’rif</em> MUI mulai dari sejarah, wewenang, tujuan organisasi, keanggotaan dan sebagainya. Memang, penyampaian beliau tidak secara khusus membahas tentang NII. Beliau sedikit menguraikan ta’rif MUI dalam <em>powerpoint</em> yang ditampilkan kepada <em>audience</em> tersebut. Tentang NII sendiri, berpijak pada 10 kriteria diatas, beliau menyatakan bahwa NII dapat dikategorikan sebagai suatu aliran sesat. Pada sesi pertanyaan, beliau juga menghimbau agar mahasiswa yang ingin belajar Islam tidak terjebak pada aliran-aliran sesat yang ada. Caranya, mahasiswa harus belajar Islam dengan metodologi yang benar merujuk pada ulama’ yang lebih paham tentang agama. Dalam menafsirkan ayat juga tidak boleh sembarangan. Beliau mencontohkan tentang penafsiran surat Al Maidah ayat 44-49 yang biasa ditafsirkan sepotong-sepotong. Beliau juga mencontohkan tentang penafsiran ayat jihad yang dijadikan legitimasi untuk melakukan aksi terorisme. Jihad menurut beliau tidak boleh hanya dipahami sebagai <em>qital</em> (perang fisik). Jihad juga bisa dimaknai dengan makna-makna yang lain dalam konteks modern saat ini. Beliau kemudian menyampaikan pandangannya terhadap berbagai macam pemahaman keagamaan yang muncul saat ini. Setidaknya, kata beliau, umat Islam di negeri ini dalam memahami agama dapat dibagi menjadi 3, yakni yang berpaham radikalisme, moderat, dan liberalisme. Pemahaman yang radikal dan liberal ini harus dihindari karena merusak pemahaman umat. <strong>(bersambung)</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembelaislam.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembelaislam.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembelaislam.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembelaislam.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembelaislam.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembelaislam.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembelaislam.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembelaislam.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembelaislam.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembelaislam.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembelaislam.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembelaislam.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembelaislam.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembelaislam.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=127&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembelaislam.wordpress.com/2011/05/17/waspada-gerakan-nii-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/310996edb80f23e6f9c3dae3d9625a10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pembelaislam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2011/05/image.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">waspada nii</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bahaya Partai Terbuka</title>
		<link>http://pembelaislam.wordpress.com/2010/08/18/bahaya-partai-terbuka/</link>
		<comments>http://pembelaislam.wordpress.com/2010/08/18/bahaya-partai-terbuka/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Aug 2010 03:55:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pembelaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[apatis]]></category>
		<category><![CDATA[asing]]></category>
		<category><![CDATA[ideologis]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[non-muslim]]></category>
		<category><![CDATA[parpol]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[pragmatis]]></category>
		<category><![CDATA[pragmatisme]]></category>
		<category><![CDATA[ritz-carlton]]></category>
		<category><![CDATA[sekularisasi]]></category>
		<category><![CDATA[terbuka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembelaislam.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Gelombang sekularisasi yang dahsyat membuat partai-partai politik yang menisbatkan dirinya sebagai partai politik Islam seolah tak punya pilihan. Alih-alih mempertahankan identitasnya sebagai partai pengusung ideologi Islam, malah kian menjauhinya. Sedikit demi sedikit identitas itu tergerus. Baju Islam yang dikenakan selama &#8230; <a href="http://pembelaislam.wordpress.com/2010/08/18/bahaya-partai-terbuka/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=118&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2010/08/koalisi-pragmatis.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-120" title="Koalisi Pragmatis" src="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2010/08/koalisi-pragmatis.jpg?w=300&#038;h=222" alt="" width="300" height="222" /></a></p>
<p>Gelombang sekularisasi yang dahsyat membuat partai-partai politik yang menisbatkan dirinya sebagai partai politik Islam seolah tak punya pilihan. Alih-alih mempertahankan identitasnya sebagai partai pengusung ideologi Islam, malah kian menjauhinya. Sedikit demi sedikit identitas itu tergerus. Baju Islam yang dikenakan selama ini dianggap sudah sesak. Eksklusivitas dianggap sebagai penghalang dalam pergaulan politik. Butuh baju baru yang dianggap longgar. Baju lama pun ditinggalkan. Sikap partai politik Islam ini semakin nampak jelas menjelang Pileg dan Pilpres pada 2009 yang lalu. Para aktifis partai yang sebelumnya getol menampakkan ke-Islaman kemudian mengatakan “Islam adalah masa lalu” atau “tidak sepatutnya di masa modern ini bicara syariah, tapi bicara yang lebih konkret”. Lebih parah lagi, syariah Islam kemudian dianggap sebagai komoditas politik yang tidak laku.</p>
<p>Ujung-ujungnya, ketika pilpres berlangsung, partai-partai politik yang menisbatkan dirinya sebagai partai politik Islam ini dengan rela hati berkoalisi dengan partai-partai sekular yang dulu dianggap sebagai rivalnya. Bahkan setelah capres dan cawapres yang mereka usung terpilih, mereka memutuskan untuk menjadi <em>backbone</em> yang mendukung dan melindungi pemerintahan. Sebagai imbalannya, partai-partai tersebut mendapatkan kedudukan dan berbagai macam jabatan di pemerintahan. Mereka sangat menikmati kondisi ini.</p>
<p>Sorotan pun tak terhindarkan. Banyak kalangan mendorong agar partai-partai tersebut melepaskan diri dari ideologi yang berusaha diembannya, yakni Islam. Salah satu penyebabnya adalah <span id="more-118"></span>semakin kecilnya perolehan jumlah suara yang didapatnya selama pemilu beberapa tahun belakangan. Pada tahun 2004, perolehan jumlah suara yang didapatkan partai-partai Islam kalah jauh dibandingkan partai-partai sekuler, atau partai-partai berbasis massa Islam yang telah terlebih dahulu membuka diri seperti PAN dan PKB. Selengkapnya bisa dilihat pada tabel berikut:</p>
<p><a href="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2010/08/hasil-pemilu-2004.jpg"><img class="size-medium wp-image-119 alignnone" title="hasil pemilu 2004" src="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2010/08/hasil-pemilu-2004.jpg?w=300&#038;h=184" alt="" width="300" height="184" /></a></p>
<p>Pada pemilu selanjutnya, yakni tahun 2009, perolehan jumlah suara yang didapatkan partai-partai Islam malah kian terpuruk. Bahkan ada partai-partai Islam yang terlempar dari parlemen akibat perolehan suara sangat minim, kurang dari Parlementary Treshold (PT). Partai-partai tersebut antara lain PBB yang hanya mendulang 1,79% dan PBR dengan 1,21% suara. Perolehan tersebut bahkan tidak mampu sekedar melampaui Gerindra dan Hanura yang notabene partai baru. Terlebih lagi, partai Islam maupun partai yang berbasis massa Islam yang lolos PT pada pilpres 2009 lalu semuanya bergandeng tangan dan bermesraan dengan partai-partai sekular semacam demokrat yang mendulang 20,85% suara dan Golkar dengan perolehan 14,45%.  Pada akhirnya masyarakat jadi bertanya-tanya, apa bedanya partai Islam atau yang berbasis massa Islam dengan partai-partai lain yang sekular?</p>
<p>Melihat fakta tersebut, wajarlah apabila sejumlah kalangan kian mendorong partai politik Islam untuk “bergerak ke tengah” alias menanggalkan identitasnya. Arief Mudatsir Madnan misalnya, anggota Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (FPPP) tersebut menyatakan partai-partai Islam di Indonesia dinilai wajib merefleksi ideologi masing-masing partai dan lebih terbuka pada keberagaman. Jika tidak, partai Islam akan kalah bersaing dengan partai-partai sekuler pada pemilu legislatif mendatang (2014). “Partai Islam ke depannya akan mengalami masa sulit jika mereka tidak melakukan refleksi yang menyeluruh,” kata Arief Mudatsir Madnan, dalam diskusi buku <em>Krisis Ideologi</em> yang ditulisnya, di gedung DPR (Republika, Senin 7/9/2009). Senada dengan Arief, pengamat politik LIPI, Syamsudin Haris, menjelaskan bahwa partai Islam harus lebih inklusif dan modern. Artinya, partai Islam harus menjadi partai Islam nasional, tidak ada lagi sentimen yang sangat ideologis dalam partai Islam. Adapun pengamat politik Fachry Ali, mengatakan, popularitas sebuah partai selalu mengikuti mass culture. Mass culture adalah sebuah budaya yang tidak lagi memiliki keterkaitan dengan etnik budaya dan ideologi agama tertentu. “Sementara partai Islam selama ini hanya mampu menyodorkan ideologi para kiai, sehingga kalah bersaing,” tambah Fachry. (Republika, Senin 7/9/2009).</p>
<p>Belakangan, salah satu partai politik Islam yang memperoleh suara paling besar diantara partai politik Islam lainnya, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mulai mempertimbangkan hal tersebut. Dalam Musyawarah Nasional II PKS 19-20 Juni lalu, partai yang dulunya bernama Partai Keadilan (PK) ini menyatakan dirinya sebagai partai yang terbuka. Terbuka artinya menerima keanggotaan orang-orang kafir dan siap untuk bekerjasama dalam bidang apapun dengan orang-orang kafir. Keterbukaan itu ditunjukkan dalam pelaksanaan Munas itu sendiri. Acara besar itu diadakan di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta-hotel mewah yang dulu pernah menjadi sasaran teroris dan identik dengan hotel asing. Pembukaannya pun dihadiri oleh Presiden SBY dan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Cameron Hume serta dubes negara Barat lainnya. Cameron memuji PKS dalam hal pelayanan terhadap konstituennya. Ia mengatakan cara yang dilakukan PKS sudah demokratis dan menunjukkan salah satu bukti komitmen Indonesia terhadap prinsip-prinsip demokrasi. “That is the evidence of Indonesia’s commitment in holding democratic principles,” katanya dalam seminar International “The US’ views on Islam: Reflection on Barack Obama’s speech in Cairo” dalam rangkaian acara Munas PKS di Ritz-Carlton (The Jakarta Post, 20/06/2010).</p>
<p>Ketua Dewan Syuro PKS Hilmy Aminuddin menjelaskan argumentasi di balik kebijakan baru ini. Hilmy Aminudin mengatakan deklarasi sebagai partai tengah dan terbuka bukan sekadar strategi, tetapi merupakan pelaksanaan ajaran Islam. PKS menerima pluralitas sebagai ketentuan Tuhan bahwa tidak ada keseragaman tetapi keberagaman. &#8220;Itu muncul dari keyakinan dan keimanan,&#8221; ujar Hilmi di sela-sela Musyawarah Nasional PKS di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Sabtu 19 Juni 2010 (vivanews.com, 19/06/2010). Sebenarnya kebijakan untuk menjadi partai terbuka bukanlah sebuah wacana baru. Wacana tersebut telah digulirkan sejak tahun 2008. Bahkan sebagian pengamat telah memprediksinya sejak pemilu 1999 ketika PKS masih berwujud PK. Van Zorge saat itu menyatakan &#8221;Partai Keadilan has demonstrated a willingness in the past to compromise and work within the confines of political realities,&#8221;. Barulah pada Munas 2010 ini, PKS meresmikan diri sebagai partai terbuka. Jauh-jauh hari partai tersebut telah menjadikan kalangan non-muslim sebagai anggota legislatifnya di beberapa DPRD. Menurut catatan, saat ini ada 20 anggota legislatif non-muslim dari PKS di Papua dan Nusa Tenggara Timur.</p>
<p>Menurut Sekjen PKS, Anis Matta, target PKS adalah masuk posisi tiga besar pada Pemilu 2014. Fakta itulah yang membuat PKS memperkuat konsolidasi internal dan merancang strategi untuk dapat meraih target posisi tiga besar di 2014. Salah satunya dengan mengubah AD/ART khususnya pada klausul keanggotaan yang terbuka bagi non muslim dan menjadikan Pancasila sebagai azas partai selain azas Islam. “Kita menyesuaikan landasan partai untuk pengembangan konstituen supaya bisa menampung aspirasi semua warga negara, bukan Islam saja,” ujarnya (Suara Pembaruan Online, 21/06/2010).</p>
<p><strong>Mengapa Menjadi Partai Terbuka?</strong></p>
<p>Proses transformasi sebuah parpol Islam menjadi partai yang terbuka sebenarnya merupakan salah satu bentuk pragmatisme politik. Pragmatisme politik ini bukan saja nampak pada PKS sebagai salah satu partai Islam, bahkan jauh hari sebelumnya telah ditunjukkan oleh partai-partai Islam atau berbasis massa Islam yang lain. Di antaranya bisa dilihat dari sepak terjang Amien Rais, pendiri parpol sekuler berbasis massa Islam, PAN. Amien dikenal sebagai orang yang selalu berseberangan dengan kebijakan SBY. Bahkan sesepuh PAN ini pernah menyebutkan bahwa SBY itu seperti orang yang disuruh mengambilkan sepatu; ia bukan hanya akan mengambilkan bahkan akan sekaligus menyemirnya. Begitulah gambaran yang ia berikan ketika menyebutkan kaitan SBY dengan Amerika. Hal itu pun dipertegas oleh Amien ketika mendapatkan kesempatan untuk kembali mengomentari SBY pada acara Forum PPP Mendengar 22 Desember 2008 lalu di Jakarta. Saat itu ia menyatakan bersedia dicalonkan menjadi presiden oleh PPP. Pasalnya pimpinan nasional yang ada sekarang ini pada dasarnya hanya menawarkan keberlanjutan dan pengawetan keadaan. Negara kita patuh, taat penuh khidmat pada Konsensus Washington, pada tuan-tuan IMF, WB, dan WTO. Indonesia tetap menjadi subordinat kepentingan Kapitalisme Barat. Kita akan tetap menjadi <em>economic backyard</em> alias halaman belakang tempat melempar kotoran dari ekonomi neoliberal Barat. Tidak lebih tidak kurang, simpulnya.</p>
<p>Amien pun menjelaskan lebih lanjut; lihatlah seluruh kebijakan Indonesia di bidang keuangan, perbankan, pertambangan, perdagangan, perkebunan, pelayaran dan pertelekomuni-kasian, yang semuanya ditopang dengan perundang-undangan dan keputusan presiden/pemerintah. Sayang, semua itu menelikung kepentingan bangsa sendiri demi keuntungan sebesar-besarnya korporasi asing. Kepentingan rakyat dihancurkan supaya dapat lebih meladeni kepentingan korporasi asing. “Bangsa Indonesia dirugikan ribuan triliun rupiah lewat kebijakan-kebijakan super koruptif pemerintah,” bebernya.</p>
<p>Namun, ketika diketahui perolehan suara parpolnya sangat kecil, Ketua Majelis Pertimbangan PAN Amien Rais turun gunung menggelar pertemuan di Yogyakarta dengan para pengurus wilayah, tanpa menghadirkan DPP PAN. Kesepakatan Yogyakarta menyeru agar PAN merapat ke SBY. Sikap itu tadinya bertentangan dengan DPP PAN yang masih menjajaki kemungkinan koalisi dengan bukan SBY. PAN pun berada di ambang perpecahan. Namun akhirnya, Ketua Umum PAN Sutrisno Bachir mengalah. Sebab, sesuai dengan yang diamanatkan oleh orangtuanya, pengusaha batik sukses ini harus menuruti kemauan Amien Rais, yang notabene adalah Bapak Reformasi dan pendiri PAN. Pada Rabu (29/4/2009) malam <em>TVOne</em> mempertanyakan apakah Amien Rais sekarang sudah pragmatis? Tanpa malu-malu Amien pun menjawab, “Saya juga kalah oleh kenyataan bahwa orang tidak lagi berbicara masalah Kapitalisme atau Sosialisme. Itu sudah kuno. Itu tiba-tiba menjadi kurang relevan. Ini dilihat oleh jutaan pemirsa. Berkali-kali saya sudah katakan, Pak Yudhoyono, Ibu Megawati, Pak Yusuf Kalla, mazhab ekonominya itu kurang lebih sama. Kita tinggal memilih, kira-kira yang bisa berubah lebih bagus yang mana? Kemudian yang kedua, kira-kira siapa yang akan menang. Menurut saya kira-kira Pak SBY itu mempunyai peluang menang.”</p>
<p>Pragmatisme politik tersebut muncul setidaknya bisa disebabkan oleh 3 hal: <em>Pertama</em>, keputusasaan menghadapi realita; keputusasaan ketika perjuangan yang dilakukan tidak kunjung menampakkan hasil.  Keputusasaan ini timbul karena tidak ada kesabaran dalam perjuangan. <em>Kedua</em>, sikap terlalu fokus pada hasil dan menilai perjuangan semata dari sisi hasil. <em>Ketiga</em>, tidak tahan terhadap iming-iming kekuasaan dan materi.  Hal ini terjadi ketika kepentingan individual atau kelompok menjadi sesuatu yang utama.  Karena itu, ketika perjuangan yang ada berbenturan dengan kepentingan ini, akhirnya perjuangan pun dikorbankan, dengan alasan, ‘kita harus realistis’.</p>
<p>‘Kita harus realistis’ lalu menjadi argumentasi dalam setiap tindakan politik, yang kemudian menimbulkan sikap pragmatis dalam kancah politik. Hal yang menonjol dalam sikap pragmatis ini adalah:</p>
<p>(1)      Ketundukan pada realita (kenyataan). Kenyataan ini tampak, misalnya, pada pernyataan, “Demokrasi memang bukan berdasarkan Islam, tapi kenyataannya <em>kan</em> kita hidup dalam sistem demokrasi,”—seakan-akan sistem demokrasi adalah realita yang tidak bisa  diubah.</p>
<p>(2)      Kemanfaatan. Pragmatisme sering mengacu pada kemanfaatan (kepentingan) sesaat, tidak peduli bahwa hal itu bertentangan dengan idealisme awal. Dengan alasan kemanfaatan, yang salah kemudian dibenarkan. Contoh, muncul pernyataan, “Presiden wanita memang dilarang dalam Islam. Akan tetapi, itu lebih baik daripada dipimpin oleh si A yang berbahaya.” Muncul pula koalisi tanpa memandang apakah yang diajak berkoalisi seideologi atau tidak. Alasannya juga kemanfaataan.</p>
<p><strong>Partai Terbuka sebagai Salah Satu Bentuk Pragmatisme: Berbahaya!</strong></p>
<p>Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, pergeseran sebuah partai Islam menjadi partai terbuka yang menerima keanggotaan orang-orang kafir adalah sebuah bentuk pragmatisme politik. Pragmatisme tersebut merupakan sesuatu hal yang berbahaya dan patut diwaspadai. Pragmatisme politik yang ditempuh sebuah partai Islam setidaknya menimbulkan bahaya (<em>dharar</em>) bagi 3 (tiga) pihak.</p>
<p><em>Pertama</em>: bagi partai Islam yang mengamalkannya. Partai itu akan terancam oleh bahaya ideologi (<em>al-khathr al-mabda’i</em>). Maknanya, ideologi partai, baik <em>fikrah</em> (pemikiran) maupun <em>tharîqah</em> (metode)-nya, akan mengalami erosi dan pendangkalan, dan bahkan dapat mengalami degradasi atau kehancuran. Ide dasar pragmatisme yang menekankan semata-mata pada realita dan kemanfaatan sesaat menimbulkan sikap inkonsistensi pada penganutnya.  Sikap pragmatis cenderung menggunakan segala macam cara untuk mewujudkan suatu kepentingan dengan mengabaikan prinsip-prinsip kebenaran, kebaikan, dan kepantasan. Walhasil, sikap pragmatis ini tidak akan pernah menyelesaikan persoalan secara menyeluruh karena pengusung-pengusungnya hanya melihat kepentingan jangka pendek yang menguntungkan diri atau kelompoknya. Bermanfaat dan menguntungkan bukan berarti benar, tetapi hanya sekadar memuaskan naluriahnya. Di sinilah sikap plin-plan dan tidak punya pendirian sangat kentara. Begitu kemanfaatan jangka pendek hilang, mereka akan mencari kemanfaatan yang lain.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Kedua</em>: bagi masyarakat pada umumnya. Ini karena pragmatisme politik adalah edukasi yang buruk kepada masyarakat, dapat menyesatkan masyarakat. Yang lebih buruk lagi, pragmatisme politik partai-partai Islam bisa menimbulkan citra <em>(image</em>) buruk pada Islam itu sendiri dan pada partai Islam hakiki yang benar-benar memperjuangkan Islam. Bukan tidak mungkin masyarakat akan semakin skeptis terhadap partai/politik Islam dengan menganggap politik Islam itu  kotor, buruk, menipu, penuh manipulasi, dan penuh siasat. Kalau ini terjadi, sungguh hal itu sangat berbahaya bagi upaya menegakkan kembali Islam di muka bumi ini.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Ketiga</em>: bagi konstituen partai Islam itu. Bahaya ini muncul karena konstituen partai Islam umumnya adalah orang-orang yang ikhlas, lugu dan patuh kepada pimpinan partai (<em>qiyâdah</em>). Dengan menempuh pragmatisme politik, berarti partai Islam itu telah menipu konstituennya. Konstituen mengira partainya adalah partai Islam sejati, padahal sejatinya adalah partai yang menyimpang dari Islam, yang telah terjerumus ke dalam langkah-langkah pragmatis tanpa mempedulikan halal-haram.</p>
<p>Terlebih lagi, Syara’ melarang orang kafir untuk menjadi anggota partai Islam. Dalilnya ada dua. <em>Pertama</em>, terdapat dalil khusus yang mewajibkan keanggotaan partai Islam hanya dari muslim, yaitu firman Allah SWT (artinya) : <em>&#8220;Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan (Islam), menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang munkar.&#8221;</em> (QS Ali &#8216;Imran : 104). Terkait ayat ini, Syaikh Abdul Hamid Al-Ja&#8217;bah berkata<em>,&#8221;Kata &#8220;minkum&#8221; [di antara kamu] pada ayat di atas melarang sebuah kelompok atau partai dari keanggotaan non Islam, dan membatasi keanggotaannya pada muslim saja.&#8221;</em> (Lihat Abdul Hamid Al-Ja&#8217;bah, <em>Al-Ahzab fi Al-Islam</em>, hal. 120; lihat juga Yasin bin Ali, <em>Min Ahkam Al-Amr bi al-Ma’ruf wa An-Nahyu ‘an Al-Munkar</em>, hal. 64; M. Abdullah al-Mas’ari, <em>Muhasabah al-Hukkam</em>, hal. 33).</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Kedua</em>, banyak dalil menegaskan amar ma’ruf nahi munkar adalah ciri khas umat Islam, bukan umat non muslim. Misalnya QS Ali &#8216;Imran : 110 dan QS At-Taubah : 71. Sebaliknya orang non Islam, khususnya Yahudi, tidak saling melarang berbuat munkar di antara mereka (QS Al-Ma`idah : 78-79), dan orang munafik bahkan menyuruh yang munkar dan mencegah dari yang ma&#8217;ruf (QS At-Taubah : 67). Jadi amar ma&#8217;ruf dan nahi munkar tak akan mampu dilaksanakan sempurna, kecuali oleh umat Islam. Berdasarkan ayat-ayat ini, Syaikh Ziyad Ghazzal menyatakan anggota partai Islam wajib orang muslim. Sebab misi partai Islam &#8211;yaitu amar ma’ruf nahi munkar— telah mengharuskan keIslaman anggotanya. (Ziyad Ghazzal, <em>Masyru&#8217; Qanun Al-Ahzab fi Daulah Al-Khilafah</em>, hal. 46).</p>
<p>Berdasarkan penjelasan di atas, partai Islam tidak selayaknya membuka pintu bagi bergabungnya orang kafir dengan alasan apapun. Apabila hal tersebut dilakukan, bukan saja menimbulkan <em>dharar </em>(bahaya), tetapi juga menjerumuskan anggota partai dan konstituennya ke dalam jurang kemungkaran.</p>
<p><strong>Umat Butuh Parpol Islam Ideologis</strong></p>
<p>Partai merupakan sekumpulan ide-ide dan orang-orang yang meyakininya dan berjuang agar ide-ide tersebut eksis diterapkan secara real di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, parpol Islam merupakan sekumpulan ide-ide Islam dan orang-orang yang meyakininya dan berjuang agar ide-ide Islam itu eksis diterapkan secara real di tengah-tengah masyarakat.  Ide-ide Islam yang hendak diwujudkan itu adalah ide-ide Islam sebagai sebuah sistem kehidupan yang meliputi sekumpulan konsep dan metode implementasinya. Ideologi Islam inilah yang diperjuangkan oleh parpol Islam.</p>
<p>Eksisnya ideologi Islam dalam kehidupan sama artinya dengan mewujudkan kehidupan Islam itu sendiri. Dulu, kehidupan Islam pernah berlangsung sejak dibentuk oleh Rasul saw. di Madinah hingga Khilafah Utsmaniyah runtuh 1924, dan kemudian terhenti hingga sekarang. Dengan demikian, yang diperjuangkan parpol Islam ini bukanlah mewujudkan<em> </em>kehidupan Islam dari ketiadaan, melainkan hanya melanjutkan kembali kehidupan Islam yang terhenti.</p>
<p>Oleh karena itu, parpol Islam haruslah parpol Islam yang bersifat ideologis.  Parpol Islam yang bersifat ideologis ini harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Memiliki pemahaman yang paripurna tentang ideologi Islam, yang terdiri dari <em>fikrah</em> (konsep/ide) dan <em>tharîqah </em>(metode implementasi)-nya.</li>
<li>Keahlian (kapabilitas) para aktivis partai, khususnya pimpinan partai.  Pimpinan partai haruslah orang yang paling memahami dan menyadari <em>fikrah</em> yang diperjuangkan partai dan <em>tharîqah</em> untuk mewujudkannya, paling sempurna penginderaannya terhadap realitas buruk masyarakat, paling menyadari pentingnya perubahan terhadap realita buruk itu, dan paling kuat keimanannya terhadap ideologi Islam dan pentingnya perubahan.</li>
<li>Memiliki pemahaman sempurna mengenai metode yang sahih dalam mengikat antaranggota partai. Asas yang harus digunakan dalam menerima dan mengikat anggota adalah: (a) keimanan, keikhlasan, dan pemahaman terhadap ideologi partai dan tujuannya; (b) kesanggupan untuk melaksanakan dan mengemban tugas-tugas partai sekalipun bersifat minimal.</li>
<li>Memiliki pemahaman dan kesadaran politik terhadap dunia dan peristiwa-peristiwa yang terjadi.(Ahmad Athiyat, <em>ath-Tharîq</em>, 1996, hlm. 243-257).</li>
</ol>
<p>Demikianlah sekelumit gambaran partai Islam yang dibutuhkan oleh umat saat ini. Dalam setiap langkahnya, baik berupa program, agenda, rencana strategis, atau yang semacamnya, partai Islam wajib menggunakan cara-cara Islam. Tidak dibenarkan menghalalkan segala macam cara, termasuk dengan bertransformasi menjadi partai terbuka. Kaidah fikih menyebutkan : <em>al-ghayah laa tubarrir al-wasilah</em>. (Tujuan tidak membolehkan segala macam cara). (Ahmad al-Mahmud, Ad-Da’wah Ila al-Islam, hal. 288). Maka partai Islam tidak boleh menggunakan cara-cara yang diharamkan oleh Allah untuk mencapai tujuannya, seperti dengan menerima keanggotaan orang-orang kafir dan bekerja sama dengan agen-agen kufur.</p>
<p>Semua itu bukanlah cara partai Islam, sebab partai Islam wajib berpegang dengan kaidah halal haram. Jika ada partai Islam yang tidak lagi peduli lagi halal-haram, itu berarti suatu pengumuman bahwa dia bukan lagi partai Islam, tapi sudah berubah menjadi partai sekular. Partai seperti ini jelas wajib dijauhi umat Islam. Haram hukumnya umat Islam mendukung partai oportunis dan pragmatis seperti ini. <em>Wallahu a’lam bi ash-showaab</em>. <strong>[pembelaislam]</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembelaislam.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembelaislam.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembelaislam.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembelaislam.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembelaislam.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembelaislam.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembelaislam.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembelaislam.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembelaislam.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembelaislam.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembelaislam.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembelaislam.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembelaislam.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembelaislam.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=118&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembelaislam.wordpress.com/2010/08/18/bahaya-partai-terbuka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/310996edb80f23e6f9c3dae3d9625a10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pembelaislam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2010/08/koalisi-pragmatis.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Koalisi Pragmatis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2010/08/hasil-pemilu-2004.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">hasil pemilu 2004</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mahasiswa, Mau ke Mana?</title>
		<link>http://pembelaislam.wordpress.com/2010/07/07/mahasiswa-mau-ke-mana/</link>
		<comments>http://pembelaislam.wordpress.com/2010/07/07/mahasiswa-mau-ke-mana/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 12:26:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pembelaislam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran]]></category>
		<category><![CDATA[gerakan]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[kampus]]></category>
		<category><![CDATA[kebangkitan]]></category>
		<category><![CDATA[korban]]></category>
		<category><![CDATA[mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[plagiarisme]]></category>
		<category><![CDATA[tawuran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembelaislam.wordpress.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[19 Juni 2010. Harian Tribun Timur memuat sebuah berita yang memprihatinkan. Dodo Risaldi (20), mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (UNM) yang dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Bhayangkara, Jl Mappaodang Makassar akibat luka tebasan senjata tajam akhirnya menghembuskan nafas &#8230; <a href="http://pembelaislam.wordpress.com/2010/07/07/mahasiswa-mau-ke-mana/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=112&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><a href="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2010/07/031108-bentrok-mahasiswa-45-1_vidayyub-ahmad.jpg"><img class="size-medium wp-image-113    alignnone" style="border:1px solid black;margin:5px;" title="031108-Bentrok Mahasiswa 45-1_Vidayyub Ahmad" src="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2010/07/031108-bentrok-mahasiswa-45-1_vidayyub-ahmad.jpg?w=300&#038;h=178" alt="bentrok mahasiswa" width="300" height="178" /></a></p>
<p style="text-align:left;">19 Juni 2010. Harian Tribun Timur memuat sebuah berita yang memprihatinkan. Dodo Risaldi (20), mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar (UNM) yang dirawat di ruang ICU Rumah Sakit Bhayangkara, Jl Mappaodang Makassar akibat luka tebasan senjata tajam akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Luka tersebut didapatnya ketika terjadi aksi tawuran antara mahasiswa Teknik dengan mahasiswa jurusan Seni dan Desain beberapa hari lalu. Meninggalnya Dodo tentunya semakin memperpanjang daftar korban tewas akibat tawuran mahasiswa. Sebelumnya pada bulan maret, seorang mahasiswa di Kupang juga tewas akibat tawuran. Sebagaimana yang diberitakan oleh tempointeraktif.com (16 Maret 2010), mahasiswa yang tewas tersebut terluka parah akibat terkena panah sehingga nyawanya tidak terselamatkan. Jauh hari sebelumnya, pada 6 November 2008, nasional.kompas.com juga memuat berita yang serupa. Tawuran mahasiswa yang terjadi di dalam kampus UMI Makassar telah mengakibatkan jatuhnya korban. Seorang mahasiswa teknik elektro bernama Fajar dikabarkan tewas setelah mengalami tebasan cukup parah di bagian leher.</p>
<p style="text-align:left;">Jumlah korban tewas yang disebutkan tadi hanyalah segelintir dari jumlah korban secara keseluruhan. Belum termasuk korban luka, ringan ataupun parah, yang tidak pernah dapat dipastikan jumlahnya. Salah seorang alumni sebuah perguruan tinggi di Makassar pernah mengungkapkannya di kolom opini sosbud.kompasiana.com. Dia menyebutkan bahwa jumlah korban terluka, biasanya yang tercatat hanya yang sempat dirawat di Rumah Sakit Wahidin (RS dekat kampusnya), padahal jumlahnya bisa lebih dari itu karena tidak semua korban memilih ke RS, sebagian cukup dirawat oleh teman dengan obat seadanya.  Beberapa tahun belakangan, kasus tawuran yang melibatkan mahasiswa semakin meningkat.  Media Indonesia edisi 6 November 2008 mencatat, setidaknya di Makassar saja pada tahun tersebut telah terjadi 15 kali tawuran antar-mahasiswa. Belum lagi yang terjadi diluar Makassar, tentu akan lebih banyak lagi.</p>
<p>Tawuran hanyalah sedikit dari sekian banyak permasalahan yang menimpa dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Masalah-masalah lainnya seperti mahalnya biaya pendidikan, plagiarisme dengan menjiplak karya orang lain, demonstrasi yang berujung bentrok/kerusuhan, ataupun meningkatnya seks bebas di kalangan mahasiswa, senantiasa mewarnai ruang kehidupan kita. Masalah-masalah tersebut tak ayal mempengaruhi cara pandang masyarakat, juga birokrat terhadap aktifitas mahasiswa. Misalkan saja, <span id="more-112"></span>demonstrasi atau unjuk rasa. Demonstrasi merupakan salah satu cara untuk menyampaikan aspirasi dan melakukan edukasi politik di tengah masyarakat. Namun pandangan tersebut mulai berubah ketika demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa selalu berujung bentrok atau kontak fisik. Para orang tua kemudian banyak yang melarang anaknya untuk ikut demonstrasi, atau hanya sekedar terlibat dalam pergerakan mahasiswa. Belakangan, beberapa kompetisi karya tulis diselenggarakan oleh Dikti, konon sebagai wadah penyaluran aspirasi mahasiswa dengan cara yang “elegan”, yakni dengan tidak turun ke jalan alias demonstrasi. Kemudian setiap aktifitas mahasiswa senantiasa dihadapi dengan berbagai <em>prejudice</em> dan kecurigaan yang berlebihan. Di atas itu semua, mahasiswa telah kehilangan identitasnya sebagai agen intelektual ataupun agen perubahan.</p>
<p><strong>Akar Permasalahan</strong></p>
<p>Setidaknya ada satu faktor fundamental yang menyebabkan semua hal di atas terjadi, yakni bercokolnya pemikiran-pemikiran asing di tengah masyarakat. Pemikiran-pemikiran asing tersebut pada awalnya dihembuskan oleh negara-negara penjajah ke setiap jengkal negeri kaum muslimin, termasuk Indonesia. Sebagaimana yang telah kita ketahui, masyarakat kita memiliki sejarah yang panjang dibawah penjajahan fisik, sejak era penjajahan Portugis, Hindia Belanda, juga Jepang. Ketika kemerdekaan diproklamasikan, masyarakat menyambutnya dengan penuh suka cita dan menganggap bahwa penjajahan telah berakhir. Padahal, yang sebenarnya terjadi hanyalah transformasi (perpindahan) dari penjajahan yang awalnya bersifat fisik dengan menggunakan kekuatan militer menuju penjajahan pemikiran dan ideologi oleh negara-negara  penjajah. Barat, dengan ideologi dan pemikiran yang dimilikinya selalu berusaha untuk tetap melanggengkan penjajahan, salah satunya dengan mengintervensi sistem pendidikan di negeri jajahannya agar tegak di atas dasar falsafah tertentu yang merupakan pandangan hidup mereka, yakni pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Mereka juga menjadikan peradaban, persepsi (cara pandang) , struktur negara, sejarah dan lingkungan mereka sebagai sumber asal pemikiran yang mengisi akal kita.  Tidak cukup sampai disitu, mereka bahkan memutarbalikkan gambaran mengenai penjajahan sedemikian rupa agar kita anggap mulia, sehingga layak untuk diikuti, dengan menyembunyikan tampang penjajahan yang sebenarnya dengan cara-cara yang kotor. Pembunuhan massal dikatakan sebagai “peta jalan damai”, kapitalisme yang nyata-nyata menyengsarakan rakyat dikatakan sebagai “pendorong pertumbuhan ekonomi”, penjualan aset negara kepada swasta dikatakan sebagai sebuah “langkah yang progressif”, dan lain sebagainya.</p>
<p>Maka akibatnya sungguh fatal. Kita terdidik dengan pemikiran yang merusak, yang memisahkan agama, yakni Islam, dari kehidupan. Secara alami, kita telah mempelajari cara orang lain, yakni penjajah, dalam berpikir. Kepribadian kita, sejarah kita, tidak lagi bersandar pada ideologi yang shahih, yakni Islam. Kaum terpelajar, termasuk mahasiswa, lebih bangga ketika mengemban demokrasi, sosialisme, atau komunisme ketimbang mengemban syariah Islam. Mahasiswa lebih mudah tergerak oleh sentimen patriotisme, nasionalisme, ataupun kepentingan sesaat ketimbang tergerak oleh aqidah Islam beserta segala pemecahan masalah kehidupan yang terpancar darinya. Padahal emosi tersebut adalah emosi yang keliru karena sifatnya yang temporal (sementara). Dengan demikian mahasiswa tidak akan berjuang  demi negerinya dengan benar, dan ia tidak berkorban untuk kepentingan rakyat secara sempurna. Karena perasaannya, dalam melihat situasi negerinya, tidak dilandasi oleh pemikiran Islam, dan ia juga tidak akan bisa menangkap kebutuhan-kebutuhan rakyatnya dengan perasaan yang dilandasi pemikiran Islam.</p>
<p>Kalaupun kita memaksakan diri untuk mengatakan bahwa gerakan mahasiswa berjuang menuntut suatu kebangkitan, maka sesungguhnya perjuangannya itu lahir dari pertarungan untuk suatu kepentingan khusus atau suatu perjuangan yang meniru-niru perjuangan bangsa lain.  Oleh karena itu perjuangannya tak akan bertahan lama, hanya sampai halangan-halangan untuk merebut kepentingannya sudah tak ada lagi. Hal inilah yang nampak pasca reformasi tahun 1998. Tokoh-tokoh pergerakan mahasiswa yang dulu begitu getol menentang pemerintahan Soeharto, ketika sudah diangkat menjadi anggota dewan, pejabat, atau menteri menjadi diam seribu bahasa, kehilangan sikap kritisnya. Pada akhirnya, gerakan kaum terpelajar yakni mahasiswa, menemui kegagalan. Mahasiswa tidak mampu memberikan konsep-konsep yang cemerlang untuk memecahkan berbagai problem yang dialami masyarakat. Aksi-aksi yang dilakukannya tidak lagi edukatif, mendidik masyarakat, namun justru cenderung merusak dan mempertontonkan tingkah laku orang-orang yang tidak terdidik, juga tidak intelek.</p>
<p><strong>Solusi Islam</strong></p>
<p>Hanya ada satu jalan untuk menyelesaikan segala permasalahan di atas, yakni dengan mencabut pemikiran-pemikiran asing yang bercokol ditengah masyarakat ke akar-akarnya. Kita memiliki kewajiban untuk melawan segala bentuk penjajahan ideologi yang terjadi saat ini dan menggantinya dengan penerapan Islam. Hal yang demikian tidak akan bisa dilakukan kecuali dengan terbentuknya gerakan mahasiswa ideologis (Islam) yang kuat. Gerakan semacam itu telah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat ketika berusaha merubah masyarakat dari kejahiliahan dan kebodohan menuju cahaya kegemilangan. Rasulullah dan para sahabat membentuk sebuah <em>kutlah</em>/kelompok yang berpijak pada suatu aqidah yang kokoh, yakni Islam, dan segala pemecahan masalah kehidupan yang terpancar dari aqidah tersebut. Rasulullah dan para sahabat, dalam perjuangannya, tidak pernah terjebak dalam ikatan-ikatan emosional yang keliru semacam ikatan kesukuan ataupun kebangsaan (nasionalisme). Dalam hal ini, Allah mengingatkan kita,kaum terpelajar, untuk senantiasa menjadikan aqidah Islam sebagai satu-satunya ikatan dalam bergerak. Allah berfirman dalam QS Ali Imran ayat 103: <em>“Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai.”</em> Rasulullah juga tidak pernah terjebak oleh pragmatisme (kepentingan sesaat) dalam perjuangannya untuk merubah masyarakat. Ketika kaum kafir quraisy menawarkan harta, tahta, dan wanita kepada beliau, dengan harapan agar beliau mengurangi atau bahkan meninggalkan perjuangannya, dengan tegas beliau menolak. Beliau mengatakan: <em>“Demi Allah! Sekalipun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, maka aku tak akan meninggalkan da’wah ini hingga agama ini tegak atau aku mati karenanya”</em> (HR. Ibn Hisyam).</p>
<p>Wahai saudaraku, mahasiswa Islam! Sudah saatnya kita bersatu dan bergerak di atas ideologi Islam. Sudah saatnya kita mencabut dan membuang segala pemikiran dan ideologi asing dari kehidupan kita dan menggantinya dengan aqidah sekaligus ideologi yang shahih, yakni Islam. Mahasiswa adalah agen intelektual, kaum terpelajar, juga agen perubahan (agent of change) yang sudah selayaknya turut berjuang dalam mengkreasi sebuah perubahan, perubahan menuju kehidupan Islam. Laa rohata ba’dal yaum, tidak ada istirahat setelah hari ini! Tidak layak bagi mahasiswa untuk meletakkan nilai mata kuliahnya, egoismenya, hobinya, kenyamanannya, atau kepentingan pribadinya yang lain di atas kepentingan rakyat atau pun kepentingan umat. Tidak layak bagi kita untuk diam, tidak bergerak, berleha-leha, bahkan tidak peduli terhadap berbagai macam urusan umat. Ingat, Rasulullah telah mengingatkan kita: <em>“Barang siapa yang tidur nyenyak dan tidak peduli dengan urusan umat Islam maka ia bukan dari golongan mereka”</em>. (Hadits riwayat al-Baihaqi dalam “Shuab al-Iman”, at-Tabari, Abu Nua’im dalam “Hilyah” dan al-Hakim.). Apabila kita benar-benar seorang muslim mahasiswa, apakah kita rela dianggap bukan dari golongan kaum muslimin akibat ketidak-pedulian kita? Mari bergerak di atas kekuatan ideologi yang kita miliki: Islam! <em>Wallahua’lam bi ash-showab.</em><strong>[pembelaislam]</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembelaislam.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembelaislam.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembelaislam.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembelaislam.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembelaislam.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembelaislam.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembelaislam.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembelaislam.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembelaislam.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembelaislam.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembelaislam.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembelaislam.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembelaislam.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembelaislam.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembelaislam.wordpress.com&amp;blog=2871313&amp;post=112&amp;subd=pembelaislam&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembelaislam.wordpress.com/2010/07/07/mahasiswa-mau-ke-mana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/310996edb80f23e6f9c3dae3d9625a10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pembelaislam</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pembelaislam.files.wordpress.com/2010/07/031108-bentrok-mahasiswa-45-1_vidayyub-ahmad.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">031108-Bentrok Mahasiswa 45-1_Vidayyub Ahmad</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
