Komentar Tentang IMF

•Juni 8, 2009 • & Komentar

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengeluh lembaga internasional seperti IMF sering salah membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi RI. Kini IMF pun memperbaikinya dari 2,5% menjadi 3-4% pada tahun 2009. (sumber: detik.com 8/6/09)

Komentar:

1) IMF bukan hanya salah dalam membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi melainkan malah menjadi biang kerok segala krisis ekonomi yang terjadi di dunia saat ini.

2) Mengeluh saja tentunya tidak cukup. Harus ada sebuah langkah riil, yakni dengan membuang semua “resep” IMF dan ekonomi Liberalnya karena terbukti telah menyengsarakan rakyat.

3) Saatnya kembali kepada sistem ekonomi yang menyejahterakan rakyat yakni sistem ekonomi Islam!

FACEBOOK, Sebuah Perbincangan

•Juni 1, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Karya Ilmiah tentang Facebook, Jurnal tentang Facebooks …  itulah “wangsit” yang terus saya cari selama beberapa pekan ini. Saya ingin tahu, apakah di Indonesia sudah ada penelitian tentang Facebook.  Saya membutuhkan bahan untuk menyelesaikan karaya ilmiah saya yang berjudul “PEMANFAATAN FACEBOOK SEBAGAI PRODUK TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PERSPEKTIF PERADABAN ISLAM”. Karya ilmiah tersebut rencananya saya ikutkan dalam Musabaqoh Tilawatil Qur’an Mahasiswa tahun ini. Setelah nyuwun pirso ke mbah Google dengan berbagai percobaan kata kunci, eh ternyata saya tidak menemukannya. Saya baru menemukan karya ilmiah atau jurnal tentang Facebook bukan dari “laman” Indonesia, namun dari belahan bumi lain. Kebanyakan berasal dari Amerika. Salah satunya yang langsung saya gunakan sebagai referensi adalah:

Ellison, Nicole, dkk. The Benefits of Facebook ‘‘Friends:’’ Social Capital and College Students’ Use of Online Social Network Sites. Department of Telecommunication, Information Studies, and Media, Michigan State University, Michigan: 2007

Ada beberapa jurnal yang lain yang isinya juga kurang lebih sama dengan jurnal diatas. Kok sama? Lha wong jurnal yang lain juga menjadikan jurnal tersebut sebagai referensinya. Tapi itu tidak akan terjadi pada karya ilmiah yang saya buat. Isi karya ilmiah saya jauh berbeda dengan jurnal-jurnal tersebut. Minimal, karya ilmiah saya pake bahasa Indonesia.hehehe.

Setelah bekerja bermalam-malam, bahkan H-1 sebelum pengumpulan saya nggak tidur untuk menyelesaikan karya ilmiah tersebut, akhirnya karya ilmiah saya selesai tepat waktu. Alhamdulillah…. Langsung saja hari Ahad sore (31 Mei 2009) saya kumpulkan ke Fresa, sahabat saya yang menjadi panitia seleksi tingkat ITS. Berikut cuplikan kata pengantar karya tulis saya:

“Facebook telah menjadi sebuah trend yang mencakup berbagai belahan dunia. Ratusan juta orang telah terdaftar menjadi anggota dari situs jejaring sosial tersebut. Diperkirakan jumlah tersebut akan terus bertambah dan meluas penggunaannya di seluruh dunia.

Namun, muncul beberapa pertanyaan mengenai kebolehan umat Islam menggunakan dan memanfaatkan facebook. Sejumlah kontroversi pun bergulir disana sini. Penulis berharap agar karya tulis ini dapat membantu dan memberikan konsep praktis bagi semua kalangan tentang bagaimana pandangan Islam mengenai pemanfaatan dan penggunaan facebook sebagai suatu produk teknologi informasi agar mampu memberikan kemashlahatan, kejayaan, dan kemakmuran umat Islam sebagaimana yang terjadi pada masa kekhilafahan Islam.”

Ingin tahu lengkapnya? Silakan download disini

NB: Inilah posting pertama saya semenjak blog ini saya rekonstruksi. pembelaislam bangkit lagi! Allahu Akbar!

“Tragedi” Jum’at

•November 28, 2008 • & Komentar

Jum’at, 14 November 2008. Sejak pagi, saya tidak beranjak sedikitpun dari kos saya, tepatnya di Gebang Kidul Puskesmas no. 14, Sukolilo, Surabaya. Kalaupun keluar dari kos paling hanya untuk mencari sesuap nasi (baca: sarapan) di warung HaLim yang terletak di ujung gang, di seberang jalan utama Gebang Putih. Bukan karena tidak ingin menghirup udara luar atau karena malas, keputusan saya untuk tidak keluyuran lebih karena kondisi kesehatan yang tidak mendukung. Yups, sejak kamis sore saya merasakan badan saya capek semua plus keluarnya ingus dari hidung saya. So disturbing, sangat mengganggu, pikir saya. Waktu sholat, terutama pas ruku’ atau sujud, ingus menetes-netes ke tempat sujud dan ke baju saya. Uff, disgusting, menjijikkan, gak usah terlalu detil ah ceritanya. Hmm, ini adalah flu fase awal! Walaupun bukan mahasiswa kedokteran gigi ataupun kedokteran hewan (gak nyambung!) saya langsung bisa menyimpulkan demikian. Yah, belajar dari pengalaman selama ini. Solusinya, yah banyak-banyak istirahat, banyak makan, plus minum obat, bukan diapet atau kalpanax tentunya. Untunglah si Bayu, teman saya satu kos punya cadangan obat flu dan dia mau memberi saya beberapa tablet. Semoga Allah segera memberi kesembuhan pada saya…gumam saya dalam hati.

Selama di dalam kamar kos-kosan saya hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan. Baca tabloid, install dan uninstall aplikasi di PC saya, tidur-tiduran seperti kebanyakan orang sakit lainnya (kecuali sakit jiwa, malah hyperaktif dan banyak actionnya), baca buku dan ebook Java, coba-coba buat GUI (Graphical User Interface) di netbeans (nah, untuk yang satu ini bikin saya pusing, habisnya saya lupa di mana tempat untuk naruh codingnya!), dan seterusnya sampai baca buku Peraturan Hidup dalam Islam. Dan waktu pun cepat berlalu hingga tanpa sadar sudah jam 11.20, mendekati waktu dhuhur. Ingat, hari ini hari Jum’at, jadi harus berangkat Jum’atan ke masjid, gumam saya. Saya pun segera bersiap, ambil wudhu, pake peci, minyak wanginya…saya gak punya. Biasanya sih minta ke kamar-kamar sebelah, tapi hari itu temen satu kos lagi pada kuliah semua sehingga gak ada yang bisa dimintai minyak wangi. Ya udah deh, berangkat apa adanya, yang penting rapi dan suci dari hadats dan najis! Begitulah yang saya ketahui. Akhirnya siaplah saya untuk berangkat ke masjid Ibrahim, masjid terbesar dan terdekat dari kos saya, jaraknya sekitar 400 meteran dari kos. Ugh, pertama menginjakkan kaki di luar kos, panas begitu menyengat, matahari begitu terik. Belum apa-apa peluh keringat sudah bermancuran eh bercucuran di tubuh saya. Maklum, Surabaya, apalagi ini Surabaya Timur, dekat pesisir pantai. Wah, padahal saya harus jalan kaki untuk ke masjid tadi. Okelah, Bismillah, berangkat…

aya-sophia076Sesampainya di masjid saya mengambil selembar buletin Al-Islam di halaman masjid, menyapa seorang sahabat lama saya (entah namanya siapa saya sudah lupa) dan kemudian langsung masuk ke ruang utama masjid dan mengambil shaf ke 4 dari depan. Belum terlalu ramai, karena memang belum adzan. Yang saya ketahui, masjid ini mengikuti pendapat khalifah Umar RA yaitu mengumandangkan adzan dua kali saat sholat Jum’at. Adzan yang Lanjutkan membaca ‘“Tragedi” Jum’at’

Layakkah Berharap pada Bahan Bakar dan Energi Alternatif?

•Juli 15, 2008 • & Komentar

Pasca kenaikan harga BBM pada bulan Mei 2008, masyarakat secara umum mulai berpikir untuk berhemat dan mengalihkan perhatiannya pada bahan bakar atau energi alternatif. Hal tersebut didukung oleh gencarnya pemerintah dan media massa dalam mengkampanyekan penghematan BBM dan penggunaan energi alternatif. Para ilmuwan, akademisi, dan bahkan masyarakat awam berlomba-lomba untuk “berkreasi” dalam menciptakan bahan bakar alternatif. Sebut saja “Banyu Geni” yang dikembangkan oleh Pusat Studi Pengembangan Energi Regional (Pusper) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), atau kompor ethanol yang dikembangkan oleh Ir. Sri Nurhatika MP dari jurusan biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, dan yang lebih spektakuler lagi Djoko Suprapto dengan “Blue Energy”-nya yang konon bisa mengubah air menjadi bahan bakar. Media massa mengekspos habis setiap ada “penemuan” bahan bakar alternatif yang baru. Pemerintah mendukung penuh kampanye bahan bakar alternatif tersebut. Misalkan saja mengenai bahan bakar alternatif yang ditemukan oleh Joko Suprapto. Seperti yang diberitakan oleh detik.com pada 26 Mei 2008, temuan Joko tersebut bahkan sudah diterapkan dalam ekspedisi Jakarta-Bali menjelang United Nation Framework Conference on Climate Change (UNFCCC) Desember 2007 di Bali. Mobil yang digunakan uji coba dalam ekspedisi waktu itu adalah 2 Ford Ranger 2500 CC, 1 Isuzu Panther 2500 CC Diesel, 1 Mazda Familia 1800 CC dan 1 Bus Mitsubishi 4000 CC. Ekspedisi ini diberangkatkan Presiden SBY dari kediaman pribadi Presiden di Puri Cikeas Indah tanggal 26 November 2007, dan sukses tiba di Bali pada 3 Desember 2007. Ekspedisi rombongan tersebut diketuai Heru Lelono yang juga staf khusus Presiden SBY. Temuan Joko rencananya akan Lanjutkan membaca ‘Layakkah Berharap pada Bahan Bakar dan Energi Alternatif?’

Negara Tidak Boleh Kalah?

•Juli 14, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Dalam kesempatan jumpa pers Senin 2 Juni 2008 sehari setelah insiden Monas 1 Juni 2008 , dengan mimik serius dan nada tinggi, presiden menyatakan, “Negara tidak boleh kalah dengan perilaku kekerasan. Negara harus menegakkan tatanan yang berlaku untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia.”Negara tidak boleh kalah menjadi pesan penting presiden SBY saat itu.

Memang terbukti negara saat itu menunjukkan kekuataan dan kegagahannya. Polisi yang menjadi alat negara segera menggelar jumpa pers. Munarwan ’sang panglima’ diultimatum untuk menyerahkan diri. Ribuan polisi dengan puluhan truk dan bus beratribut lengkap dikerahkan . ‘Para terdakwa’ insiden monas diambil dari Petamburan, markas FPI bagaikan teroris kelas kakap. Habib Riziq yang sengaja dengan baik hati mengantar anggotanya pun turut ditangkap. Padahal pada mulanya Habib ke Mapolda bukan untuk ditahan, karena memang tidak ada bukti. Namun memang harus ada yang dikorbankan oleh negara . Lagi-lagi, negara memang harus membuktikan dirinya tidak kalah menghadapi aktivis Islam yang memperjuangkan dan membela aqidah Islam .

Baca lanjut disini

PERGAULAN ISLAMI

•Juli 14, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kita sering menggembor-gemborkan jangan bergaul bebas, no freesex no gaul bebas, gaul bebas budaya setan dan gemboran-gemboran yang senada dengan itu. Tapi gemboran tinggalah gemboran. Mengapa? Banyak manusia-manusia yang sok tahu menggembor-gemborkannya tapi tidak tahu apa sih pergaulan bebas itu sebenarnya. Mereka bilang ‘bergaul asal jangan keterlaluan’ tapi standar keterlaluanya masing ngambang. Mereka bilang ‘ bergaul asal bisa jaga diri’ tapi bagaimana cara bisa jaga diri pun juga masih seperti nelayan yang tak tahu arah di tengah lautan bebas.

Baca lanjutannya di sini

Beirut Centre: Penjajahan Berkedok Pendidikan dan Lembaga Ilmu Pengetahuan

•Mei 6, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Berabad-abad sebelum Khilafah runtuh, kaum kuffar telah melakukan berbagai macam serangan fisik terhadap Daulah Khilafah. Tujuannya tidak lain adalah untuk melenyapkan eksistensi Daulah Khilafah yang menjadi tameng umat Islam saat itu. Apa yang telah dilakukan oleh Inggris dan Prancis saat itu sudah cukup untuk membuktikannya. Prancis, secara terang-terangan dan terbuka memberikan berbagai macam bentuk dukungan terhadap agennya yang menjadi wali Mesir, Mohammad Ali, untuk memisahkan diri dari wilayah Khilafah dan mendeklarasikan perang melawan Khilafah. Pada 1831, Mohammed Ali dan pasukannya, dengan bantuan Prancis, bergerak menuju Al-Sham untuk menaklukan wilayah tersebut. Mereka berhasil merebut Palestina, Lebanon, dan Syiria dan juga bermaksud merebut Anatolia. Namun, khalifah tidak tinggal diam dan mengirim pasukan yang kuat untuk memadamkan tindakan makar tersebut. Pada akhirnya, seluruh serangan fisik yang ditujukan kepada Daulah Khilafah menemui jalan buntu.

Usaha Negara-negara eropa, khususnya Inggris, Prancis, dan Russia untuk melenyapkan eksistensi Daulah Khilafah terus berlanjut. Setelah kegagalan mereka untuk menghancurkan Daulah lewat serangan-serangan fisik, mereka mulai memikirkan cara-cara lain. Salah satunya adalah dengan membangkitkan jiwa nasionalisme dan separatisme ke seluruh wilayah Daulah Khilafah. Harapannya, wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Daulah lepas satu demi satu ke pangkuan mereka. Mereka memulai strategi tersebut dan memfokuskan pekerjaannya pada wilayah Arab dan Turki. Untuk menjalankan misi tersebut, mereka membangun dua pusat misi: di Istambul (Turki), untuk menyerang Daulah tepat pada pusat pemerintahannya, dan di Beirut (Lebanon), untuk menyerang Daulah melalui salah satu propinsinya.

Pusat misi Beirut, Beirut Centre, didesain untuk bekerja dalam jangka waktu yang cukup lama dan untuk memenuhi target-target jangka panjang. Sebaliknya, pusat misi di Istambul, Istambul centre, didesain untuk bekerja dalam jangka waktu yang pendek untuk mencapai target-target yang direncanakan dengan cepat, sehingga berdampak luas terhadap seluruh wilayah Khilafah. Selanjutnya, keberadaan Beirut Centre, yang berhasil merubah Lanjutkan membaca ‘Beirut Centre: Penjajahan Berkedok Pendidikan dan Lembaga Ilmu Pengetahuan’

DBD, oh noo!

•April 29, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Alhamdulillah…Sungguh, itulah kata yang sangat tepat untuk mengawali tulisan saya kali ini. Inilah pertamakali-nya saya menerbitkan tulisan setelah sekian lama tidak menulis atau bahkan tidak menerbitkan tulisan atau artikel dalam blog saya. Yah, banyak sekali hambatan dan tantangan yang harus saya hadapi beberapa minggu belakangan ini. Salah satunya adalah penyakit demam berdarah yang menyerang tubuh saya sejak akhir bulan Maret kemarin. Singkat cerita (kalau sempat akan saya ceritakan di artikel lain:p), saya terpaksa menjalani rawat inap di rumah sakit selama hampir 9 hari. Setelah keluar dari rumah sakit, saya masih harus menjalani recovery di rumah saya, di Malang. Namun itu pun tidak bisa lama karena saya harus segera mempersiapkan diri untuk ujian tengah semester (duhh…). Praktis, saya hanya 2 hari saja recovery di rumah. Selanjutnya saya merawat dan merecovery diri sendiri di kos-kosan.

Terlepas dari segala kesulitan tersebut, saya tetep bersyukur karena beberapa hal. Yang pertama adalah karena kesembuhan saya. Terus terang, ketika masuk rumah sakit pertamakali trombosit saya sudah tinggal 42.000 padahal normalnya 150.000! Wah, bersyukur sekali saya tidak terlambat masuk rumah sakit. Telat dikit lagi, mungkin selamanya saya tidak lagi menerbitkan tulisan di blog ini… Hal kedua yang patut disyukuri adalah saya sembuh tepat waktu! Seandainya saya masih belum sembuh pada minggu-minggu awal april, maka bisa dipastikan, semester ini kondisi akademik saya bakalan terpuruk karena minggu-minggu tersebut adalah minggu-minggu ujian tengah semester genap. Benar-benar patut disyukuri karena saya tetap bisa berjuang saat UTS walaupun lumayan belepotan juga. Apa boleh buat, selama sakit hanya bisa tidur saja, gak bisa belajar plus ketinggalan materi kuliah jauuhh… (yups, harus ngejar neeh)

Banyak hikmah yang saya dapatkan selama saya sakit. Rupanya penyakit tersebut telah kembali mengingatkan saya bahwa nikmat kesehatan merupakan sebuah nikmat yang luar biasa. Kesehatan itu sangat mahal dan bisa dikatakan tidak bisa dinilai dengan uang. Untuk pengobatan, seseorang bisa menghabiskan ratusan juta bahkan milyaran. Contoh kecilnya adalah Lanjutkan membaca ‘DBD, oh noo!’

Too Much…

•Maret 12, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Satu kata untuk mengawali tulisan ini: Astaghfirullaahal’adzim… Melihat kondisi negeri ini, Indonesia, kita patut prihatin dan miris (atau mungkin ada kata-kata lain?) Saya katakan, negeri kita semakin lama semakin tenggelam dalam chaos, kekacauan dalam segala aspek kehidupan. Maksud saya membuat tulisan singkat ini adalah untuk menunjukkan betapa banyak persoalan yang tidak terselesaikan di negeri ini. Marilah kita buat list persoalan-persoalan yang membutuhkan solusi dan pemecahan. Mulai dari KKN yang sudah menjadi ’adat kebiasaan’ di negeri ini (jaksa agung juga korup tuh!), krisis listrik yang mengancam seluruh negeri, kenaikan dan kelangkaan segala jenis BBM di berbagai daerah, kelaparan dan gizi buruk sampai menelan korban jiwa, kemiskinan terus meningkat tajam, hingga isu susu berbakteri sakazakii (kabarnya membahayakan kesehatan balita!). Segala macam krisis tadi masih ditambah dengan bencana alam yang melanda secara bergantian (kalau tidak mau dikatakan simultaneous). Sebut saja gempa di Sumatera beberapa waktu yang lalu, ganasnya ombak yang menyebabkan nelayan tidak bisa melaut, angin puting beliung yang ”jalan-jalan” ke sana kemari, tanah longsor di beberapa daerah, banjir bandang di berbagai daerah dan perkotaan (Bengawan Solo ”nangis” lagi) dan segala bencana lain yang tidak mungkin dapat kita prediksi secara tepat kapan datangnya.

images.jpgPertanyaan terbesarnya adalah: What’s wrong? Apa yang salah dari negeri ini? Apakah karena elit politiknya opportunis? Ataukah karena negeri kita sudah ”ditakdirkan” miskin SDA dan miskin segalanya (yah, udah nasibnya mas….pasrah…)? Atau ada kesalahan sistem di negeri ini? Atau memang Allah SWT murka terhadap penduduk negeri ini (na’udzubillahimindzalik)? Semua jawaban pertanyaan di atas sangatlah bergantung kepada paradigma atau cara pandang yang digunakan oleh seseorang. Lebih ekstrim lagi dapat kita katakan tergantung dari ideologi dan kepemimpinan berpikir seseorang dalam menyikapi berbagai permasalahan di negeri ini. Saya sebagai seorang muslim tentunya memandang segala persoalan tersebut dalam tinjauan Islam. Islam ya’lu wa laa yu’la ’alaih. Islam tinggi (mulia) dan tidak ada yang lebih tinggi daripada Islam! Islam adalah satu-satunya ideologi, agama, yang diridhoi Tuhan Pencipta alam semesta ini, Allah Ta’ala. Sehingga tidak perlu heran, setiap tulisan yang saya buat menyangkut berbagai persoalan negeri ini tidak akan lepas dari point of view yang saya miliki, yaitu Islam! InsyaAllah akan saya tulis secara bertahap tiap minggu, kalo tiap hari ya gak mungkin lah, lihat tulisan saya beberapa waktu yang lalu tentang semester 4. OK, just a preface, hanya pengantar menuju tulisan-tulisan saya berikutnya. Proud to be Muslim!

Semester 4, I’m lovin it?

•Maret 2, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mungkin setelah seseorang melihat judul tulisan ini, dia tidak terlalu tertarik untuk meneruskan membaca tulisan saya ini sampai akhir. Lain ceritanya kalau yang membaca itu adalah teman-teman saya satu jurusan, apalagi satu angkatan. Mengapa saya berpikir begitu? Tak lain, karena tulisan ini akan “memproyeksikan” apa yang ada dalam batok kelapa kepala saya mengenai suasana semester 4 perkuliahan saya di Informatika ITS, yang juga ”menyelimuti” teman-teman saya satu angkatan. (Ngomong-ngomong soal “memproyeksikan”, saya jadi inget uang saya yg dipinjem buat sewa proyektor LCD Rp 40.000. Jumlah yang lumayan bwt mahasiswa… Sampai sekarang belum dikembalikan, hiks, hiks) Ok lah, layaknya sebuah tulisan, sudah saatnya nih masuk ke bagian isi, prolognya cukup separagraf ini aja, sekedar buat pancingan. Hehehe…

Perkuliahan semester ini sebenarnya sudah berjalan selama 2 minggu lebih. Dari waktu yang cukup singkat itu saja sudah banyak suka duka yang saya alami bersama teman-teman. Yang paling awal tentu saja pas ”FRS-an”. Ini adalah sebuah istilah yang populer di ITS yang menunjuk pada sebuah aktifitas Lanjutkan membaca ‘Semester 4, I’m lovin it?’